Part 15

1883 Kata
"Gue kira lo bakal iyain waktu si perempuan tua bangka itu jelekin gue kemarin. Ya, lo tau sendiri, kita baru aja berdebat. Gak menutup kemungkinan kalau lo juga ikut dendam ke gue," ujarku ragu-ragu. "Ya kali. Ogah gue. Apalagi sekongkolnya sama dia." Aku mangut-mangut, "Mana tau ya kan. Secara lo sendirikan anaknya dendaman banget." "Gue gak dendaman, Al. Gue cuma gak suka aja lihat orang-orang yang pernah nyakitin gue, malah bahagia. Sedangkan gue terpuruk," balasnya. Kedua tangannya masih sibuk mengaduk-ngaduk adonan tepung yang sudah tercampur oleh beberapa pewarna makan. Hari ini temanya masak-masak bersama Dyra. Hanya berdua, Lara dan Jovita tidak ikut. Agenda ini sudah dapat persetujuan dari kedua belah pihak, sehingga tak ada yang terlihat dianak tirikan karena aku dan Dyra lebih lama menjalin hubungan pertemanan. "Terus maksud lo ngajak gue bikim beginian itu apa? Gak gue banget, Al. Mending gue tidur," protesnya tak terima. "Pengen aja." "Pengen lo, bikin susah gue, Al. Ini gue ngerjainya setengah hari. Kalau gak enak, jangan salahin gue." Aku mengedikkan bahu. Aku juga tak tau visi-misiku apa. Pastinya, lagi pengen aja. "Jawab, Al. Kalau gak, gue cabut ni." Aku menatapnya tajam, pura-pura menggertakkan gigi agar dirinya takut. Alih-alih takut, perempuan ular itu malah memukul kepalaku dengan sendok besi yang ada. "WOI!" Pekikku kesakitan. "Gak sekalian pakai piso aja? Cucuk gue, bunuh. Supaya lo puas. Tanggung banget kalau cuma mukul gitu aja." Dyra terkikik geli, "Kalau boleh, uda dari dulu gue lakuin. Untung kewarasan gue masih mendominasi. Jadi lo masih bisa selamat, sehat wal-afiat sampai setua ini." Tatapan ku melunak, "Dyr, kemarin gue termaksud orang-orang yang uda nyakitin lo gak?" Lirih ku. Merasa bersalah juga. Baru kali ini aku membentaknya. Walaupun kami sering berantam dan berdebat, tidak sekalipun sampai adu urat. Untung tidak adu otot. Kacau pasti. "Kemarin sih iya. Tapi setelah gue pikir, gak juga. Lo ada benernya. Mungkin kemarin gue emang lagi sensian aja, atau kecapekan. Makanya waktu lo senggol, gue langsung naik pitam," akunya. "Tapi gue masih bisa bahagia kan? Dan lo terima kan?" Dyra mengetuk-ngetuk sisi kepalaku, "Gak ada yang berhak buat lo bersedih, Al. Lo harus bahagia terus. Begitu pula gue. Asal lo tau aja, gue sama mantan gue, uda gak ada hubungan apa-apa lagi. Gue cuma kasihan aja. Hidup dia sekarang lebih melarat dari pada gue yang dulu dihancurkan sama dia. Dia itu pernah mengisi ruang kosong dihati gue. Kita pernah saling cinta, kita juga pernah saling sayang. Kita berdua pernah mengucapkan janji, bukan sehidup semati, melainkan indahnya masa depan. Sayangnya harus berhenti begitu saja." Dyra membalikkan badannya, berdiri saling berlawanan dengan ku. Nafasnya terasa berhembus berat. "Gue uda coba maafin, tapi gue gak bisa. Apa yang dilakukan dia itu membuat gue trauma berhubungan dengan laki-laki. Itulah sebab mengapa gue belum bisa nerima Pak Afif. Apalagi kelakuan Pak Afif begitu, makin gak terima gue." "Lo masih cinta sama mantan lo?" Tanyaku pelan. "Uda gak lagi, Al. Kayak yang gue bilang tadi, gue cuma kasihan. Dia bukan penghambat jalan gue untuk mulai belajar membalas perasaan Pak Afif. Gue cuma belum mau, atau lebih tepatnya buat siap. Luka itu masih menganga lebar, mengharapkan seseorang sebagai obat, tetapi belum menemuka yang tepat." Apa yang dikatakan Dyra mampu membuat perasaan ku terusik. Kami sama-sama hampir belum selesai dengan masa lalu. Untuk memulai hubungan baru rasanya akan sangat sulit. Tanpa terasa, aku dan Dyra menghabiskan hampir setengah hari didapur. Setelah kue yang ku inginkan selesai, Dyra lebih dulu pamit mengundurkan diri sebelum malam lebih larut. Sekarang posisinya sudah tergantikan oleh Pak Bagas. Duda ganteng itu sedang duduk manis digazebo taman belakang rumah. Entah apa yang membawanya berkunjung kesini, tetapi aku yang sedang sendiri bersama sepi, menerimanya dengan senang hati. "Enak gak?" "Menurutmu?" Malah nanya balik. "Kurang." "Apanya yang kurang?" "Kurang manis." Aku mengerutkan dahi. Biasanya Pak Bagas tak suka makanan manis, kenapa hari ini seleranya sudah berganti? "Mungkin kalau begini, tambah manis." Pak Bagas memajukan badannya, menyebarangi meja hingga mampu mengambil satu kecupan manis disudut bibirku. "Bener, tambah manis." Aku mengerjap kaget. Diserang sebelum bersiap nyatanya merobohkan pertahanan kuat yang sudah kubangun tinggi-tinggi dihatiku. Apalagi ketika melihatnya melipat kemejanya sampai siku, memperlihatkan otot lengannya yang besar dan kekar. Membuat perasaanku ketar-ketir sendiri. "Pak!" Protesku. Padahal sudah beberapa menit berlalu, tetapi baru sekarang aku memprotesnya. Aku menepuk bibirku, "Gak pernah izin dulu. Selalu main nyerobot gitu aja. Bapak gak mikirin jantung saya? Bapak mau saya mati muda? Bener-bener kurang asem." Dengan berani Pak Bagas kembali mengecup bibirku. Meninggalkan sebuah hisapan disana. "Lebih baik minta maaf dari pada minta izin." Tidak berani menyangkal lagi, aku terdiam. Menikmati wajahnya yang rupawan yang sesekali tersenyum padaku. Gelenyar aneh itu muncul kembali. Selalu disaat-saat seperti ini. Kenapa sih aku itu selalu lemah dihadapannya? Sedangkan ia, selalu bertindak lebih mendominasi pada diriku. Dibawah meja, kedua tanganku tergepal kuat, menahan hasrat yang sudah menggebu untuk melumat bibirnya ketika lidahnya muncul dibalik bibirnya. Menyapu permukaannya yang kotor akibat sisa remahan kue. Tidak, Alana. Jangan seperti ini. Kamu itu bukan siapa-siapanya. Jangan bertindak seakan-akan kamu sudah lupa, bahwa yang dihadapanmu ini hanya laki-laki asing dihidup mu. Aku menutup mataku. Jantungku berdebar kencang. Aku berani bersumpah, aku sudah tidak tahan lagi. Sepertinya hormonku sedang lepas kontrol. Tidak bisa dikendalikan lagi. Aku bangkit dari dudukku. Memberanikan diri, aku merangkak mendekat padanya. Menyingkirkan sebelah tangannya, lalu duduk menyamping dipangkuannya. Aroma keringat dan parfume tercium olehku. Pelan tapi pasti, aku mengikis jarak. Semakin dekat, hingga hidung ku mampu mengendus-ngendus lehernya. "Al, ada apa?" Pertanyaan itu ku abaikan. Lebih memilih menjamah lehernya yang ternyata lebih nikmat, dibanding jika dipandang begitu saja. "Geli, Al..." ujarnya. Tangannya sudah melilit pinggangku. Kepala miring kekiri, memberiku lebih banyak akses untuk semakin dalam menghidu aromanya. "Bapak wangi banget. Walapun ada keringatnya, tapi suka," ungkapku kelewat jujur. Pak Bagas memberi jarak. Membuka tiga kancing teratas pada kemejanya. "Kok gak pake dalaman?" "Saya kira kamu gak sadar." "Bisanya pake kan?" Pak Bagas tersenyum, "Mau lagi dong," godanya. Kedua bola mataku berbinar. Melihat otot-otot dadanya yang lebih menggiurkan untuk dicicipi dari pada kue buatanku dan Dyra. "Kamu uda rasain kuenya?" Aku menggeleng. "Masih Papa sama Mama aja yang rasain. Saya belum." "Terus gak mau dirasain?" Aku terdiam sejenak, menimang-nimang apakah yang kulakukan selanjutnya adalah keinginanku atau hanya segedar hasrat yang sudah tak bisa terbendung lagi. Aku mencoba meyakinkan diri. Aku tersenyim tipis, kepalaku mendongak saat tangannya sudah berada ditengkukku. Aku ingin mencoba kue tersebut lewat bibirnya. "Mau apa hm?" Aku bergetar. "Mau cium," cicitku. Kedua alisnya menyatu. Menatapku heran. "Tumben, biasanya gak mau." Aku mengerucutkan bibir. "Pengen cobain kuenya dari situ aja." Tak ada lagi yang perlu dipertimbangkan. Semuanya sudah jelas bahwa ini bukan hasrat tetapi keinginan. "Dari mana? Sini?" Tunjuknya pada bibirnya. "He'eh," aku mengangguk dengan sorotan mata yang sayu. "Kasih saya asalan, kenapa harus dari bibir saya?" "Gak tau, pengen aja." "Kalau saya gak mau gimana?" Bahuku menunduk lemas, walaupun kecewa, aku tak mungkin memaksanya. "Gak pa-pa. Nanti saya rasain langsung dari kue nya." Hendak bangkit dari pangkuannya, namun gerakanku terhenti saat tangannya kembali menarik tengkukku. Mengarahkanku untuk tetap dihadapannya. Bibirnya yang merah, sengaja ia lap dengan lidahnya. Meninggalkan basah yang mampu membuatku merinding. "Mau ini?" Ragu aku mengangguk. "Ada syaratnya." "Apa?" "Panggil Mas," ujarnya. "Mas?" "Iya. Mas Bagas." Tak ada yang salah, Mas juga cukup menggemaskan. Tetapi risih, karena aku sudah sangat nyaman dengan kata Bapak. Untuk kali ini, aku harus mengalah. Keinginanku harus tercapai. Aku tak ingin tidur dalam kondisi kabut penasaran yang menghantuiku hingga pagi datang. "Mas Bagas," ucapku pelan. Pak Bagas pura-pura menulikan pendengarannya. Padahal jelas-jelas aku mengucapkannya. "Gak denger." "Mas Bagas." Bibirnya berkedut menahan senyum. "Ya?" "Mau cium..." adalah dua kata terakhir yang mampu kulontarkan sebelum bibirku dilahap abis olehnya. Tidak terlalu cepat, tidak juga menuntut. Ciuman kami terasa lembut dan manis. Aku yang amatir, dibimbing sebaik mungkin agar bisa mengimbanginya. Bibirnya mencicip bibirku sedangkan lidahnya menerobos masuk penuh percaya diri. Menggodaku agar mempertemukan lidahku juga lidahnya. Aku merapatkan paha saat tangan kanannya masuk menelusup diantar pahaku. Walaupun bawahankj masih tertutup oleh celana tidur, kulit-kulitnya yang kasar terasa seperti langsung bertemu pada kulitku yang lembut. Mulutku lebih terbuka, menerima lidahnya membelit lidahku. Menyusuri rongga-rongga yang selama ini kusembunyikan. Manisnya kue dan sisa-sisa tepung, terasa ketika kami sudah saling bertukar saliva. Dunia seakan milik kami berdua. Tak ada yang boleh mengganggu selain suara cecapan juga lenguhan yang sesekali terdengar. Pak Bagas tidak memaksa tetapi tangannya sudah berhasil naik menuju pangkal pahaku. Nafasku tersengal, buluku merinding. Aku baru tau, kalau ia sehebat ini dalam memancing gairahku. Setelah beberapa menit, aku mendorong badannya. "H-habis nafasnya," ujarku. Pak Bagas tertawa, menyeka bulir-bulir saliva yang tertinggal dibirku. "Mana bisa nafas habis." "Tapi ini buktinya." Pak Bagas mengerling jahil. Kini tangannya yang tadi dipahaku, naik menyentuh perut rataku. Memberi gerakan se-sensual mungkin, sampai membuatku mabuk kepayang. Aku menahan nafas, jejak demi jejak yang ia tinggalkan lewat sentuhannya, membuatku merutuki diri sendiri sebab tidak bisa menahan nafsu. Ciuman kami terlepas. Bibirnya kini aktif berjelajah dileherku. Memberi kecupan-kecupan seringan buru. Dan tangannya semakin naik, menyentuh dua bukit yang pucuknya sudah mencuat indah dibalik sana. Remasannya terasa. Awalnya terasa sakit, tetapi lama-kelamaan menimbulkan nikmat yang sejatinya selama ini tidak pernah temukan. Ini sangat asing, selama aku hidup, untuk pertama kalinya aku merasakan mabuk semabuk-mabuknya. Sialnya ini bukan karena alkohol, melainkan sentuhannya. Kedua pahaku kembali merapat saat kedutan itu muncul tanpa diundang pada milikku. Aku mengacak-ngacak rambutnya, menyalurkan rasa demi rasa yang terjadi masuk menyelinap kedalam badanku. Desahanku terdengar, kala jemarinya sudah mencapit puncak tersebut. Memilinnya, menariknya juga menggesek-gesekkanya pada telapak tangannya yang kasar. Benar-benar gila. PAK BAGAS GILA DAN AKU PUN GILA. Tidak ada kata lain yang mampu ku keluarkan selain nikmat. "Apa ini yang pertama untukmu?" Bisiknya, menggigit daun telingaku hanya untuk menambah hasratku. "Hm, Mas yang pertama," jawabku. Pak Bagas mangut-mangut, "Dadamu kenyal, terasa pas ditangan ku. Maaf, kalau awalnya bikin sakit. Tapi aku sedang berusaha untuk membuatnya menjadi nikmat." Ujarnya, sembari meremas-remas dadaku secara bergantian. "Tadi memang sakit, tapi sekarang enggak kok. Mungkin karena ini yang pertama untuk saya. Jadi ya..." Aku menggantungkan ucapanku. "Jadi ya... cukup nikmat," sambung Pak Bagas. "Saya gak ada bilang nikmat, hanya saja-" "Hanya saja kamu menyukainya. Pipimu sudah merah merona. Kamu sungguh menggemaskan kalau lagi salang tingkah. Bisa-bisa saya bakal cium kamu lagi, dari malam hingga pagi, dan itu gak baik untuk kita berdua." Setelah mengatakannya, Pak Bagas langsung merapikan letak braku. Menarik baju tidurku kebawah untuk menutup perutku. Tangan kanannya menepuk-nepuk pelan pantatku dan tangan kirinya menghapus jejak saliva yang tertinggal dileherku. "Sudah bengkak bibirmu, makin merah juga makin sexy." Sudah kukatakan, malam ini hormonku sedang meledak-ledak. Dikatakan makin sexy saja, puncak itu kembali berkedut, meminta sentuh lagi, mungkin bisa jadi lebih dari itu. "Kerjaan, Mas..." "Bibir saya gak bengkak emang?" "Bengkak. Merah juga. Mas juga kelihatan tambah sexy." Pak Bagas mengecupi permukaan kulit pipiku, "Sepertinya kita cukup sampai disini. Kita gak boleh seperti ini, apalagi ditempat sesepi ini. Udara yang dingin, dengan kamu yang masih terlihat menggoda, akan menguji mental saya." Aku mengerti maksud ucapannya. Ada benarnya juga. "Papa dan Mamamu sebentar lagi pulang. Saya gak mau ketahuan sedang mempermainkan anak gadisnya." Sebelum benar-benar melepasnya, aku mengecupi rahangnya, "Saya gak tau kenapa malam ini bertingkah seperti ini. Mungkin karena hari ini, hari pertama saya kedatangan tamu makanya jadi menggebu-gebu." "Gak pa-pa. Saya puas, kamu senang." Aku tertawa, lalu berpindah tempat disampingnya. Mencicipi kue yang sudah kami anggurkan. "Ternyata rasanya masih sama, persis seperti saat saya mencicipinya lewat bibir Mas."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN