"Bisa diem gak sih? Jangan putar-putar terus, pusing saya lihatnya," omelku. Masih pagi, sudah mencari perkara.
"Siapa suruh lihatin saya?"
Satu minggu berlalu setelah malam yang hampir panas kemarin, bertepatan dengan Pak Bagas yang harus melakukan perjalanan bisnisnya keluar kota, jadi lah kami tak bertemu. Hanya bertukar kabar lewat w******p, atau sesekali melakukan video call hanya demi menemaninya makan malam atau Pak Bagas yang ingin mengatahui kondisi kesehatanku.
Kami berkomunikasi sudah seperti layaknya sepasang kekasih. Memang tak terlalu intens, namun cukup mengagumkan ketika di pagi-siang-sore kami memilih untuk tak saling memberi kabar. Namun ketika malam datang, tepat di jam delapan, kami akan memulai sesi tanya jawab. Tentu saja melalui tetapi video call, supaya lebih leluasa.
Saling memberi tahu hari ini ngapain aja, ketemu siapa, ada yang bikin badmood atau tidak, dan lainnya.
It was fun, i really enjoyed it.
Dimalam kedua waktu aku sakit kemarin, Pak Bagas yang kepo dengan kondisi wajahku, langsung sibuk meminta jatah video callnya.
"Kamu makan angin, Al? Gembung gitu pipinya." candanya padaku.
Aku yang memang sudah merasa gabut dan bosan akibat satu harian dikurung dikamar sama Mama jadinya agak sewot ketika menjawabnya.
"Emang. Kenapa, gak senang?"
Pak Bagas membulatkan matanya, mungkin kaget mendengarku. Aku meletakkan asal ponsel ku, dengan guling sebagai penyangganya agar masih bisa melihat jelas wajah gantengnya.
"Eh... santai buk... saya gak bermaksud menyinggung. Cuma ngatain aja." Kemudian ia tertawa dengan entengnya.
Dikira lucu? Maka aku memilih memutuskannya sesi video call tersebut secara sepihak.
Aku kira Pak Bagas akan menghubungiku sekaligus mengatakan maaf atas candaannya, ternyata tidak. Walaupun kesal, tetapi aku tak mau munafik. Aku tetap berharap, walaupun hanya sebatas pesan singkat, yang penting aku mendengar kabar darinya untuk penutup hariku.
Mungkin ada satu jam aku menunggu, bertepatan dengan Mama mengetuk pintu kamarku, mengatakan bahwa ada dua box pizza, camilan kesukaanku. Meat Lovers dan Super Supreme dengan pinggiran spesial yaitu keju mozarella. Ditambah sebuah kertas bertuliskan kata-kata manis terselip diantar box-boxnya. Meluruhkan segala rasa kesal yang tadinya meluap-luap padanya.
Im so sorry kalau uda bikin kamu ngambek. Saya lagi dijalan, nanti saya kabarin lagi kalau sudah sampai hotel. I missing you, already, Alana...
Tulisanya.
Laki-laki itu memang tak pernah salah dalam memperlakukanku. Selalu saja berhasil membuatku terjerat dalam setiap kemanisannya. Tak pernah sekalipun aku diperlakukan seistimewa ini. Bersama dengan Andre aku memang diagung-agungkan, mempertontonkan oleh banyak orang bahwa Andre merasa sangat bangga memiliki aku. Namun dibalik itu semua ada Andre yang egois, selalu menang sendiri.
Setiap kali ada perdebatan yang menyebabkan kata perpisahan Andre akan melayangkan sebuah gertakan bahwa laki-laki itu menyebarkan foto-foto ciumanku bersamanya yang diambilnya secara diam-diam.
"Apasih, Ndre... kamu kok jadi childish gitu? Ini cuma masalah spele, masalah tentang siapa yang mengantar aku pulang. Kok malah diperpanjang sih? Alan cuma nganterin aku pulang jadi gak ada yang perlu dipermasalahin."
Andre menggertakan giginya, "Kamu ngerti gak sih, dengan Alan yang seperti itu, secara tak langsung, kamu uda merendahkan harga diri aku didepan teman aku sendiri. Apa gak bisa kamu mintak supirmu jemput? Apa gak bisa kamu nungguin aku sepuluh menit aja? Pasti dimata mereka saat ini aku uda gak becus lagi karena gak bisa nganterin kamu."
"Alan itu temenmu. Gak akan dia berpikir seperti itu."
Andre dengan segala keegoisannya. Tak pernah mau terlihat kalah dan lemah dimata orang lain khususnya teman-temannya.
"Lagian supir Mama lagi sakit dan kamu jelas-jelas gak bisa dihubungi terus kamu nyuruh aku nunggu? Mau sampe kapan? Lebaran monyet?"
Aku tak habis pikir, Andre dengan segala kerumitannya masih bisa kucintai sebesar dan seluas itu. Namun kenapa ia tak bisa melakukan hal yang sama? Hanya karena aku belum mau diajak berhubungan yang lain, sampai ia harus memilih bermain dengan perempuan lain.
Lamunanku buyar ketika jentikannya mendarat didahiku, "Aaa sakit..." kuusap dengan kasar, sedangkan si tersangka tersebut sudag duduk tenang sambil menyeruput teh hangat nya.
Tak ada orang yang sempurna, begitu pun Pak Bagas. Mungkin aku menemukan kekurangan dalam dirinya, seperti ia yang selalu kelupaan makan siangnya, tidak perduli terhadap kesehatannya ataupun selalu mengeluh kesepian. Lambat laun aku mengetahui kekurangannya, terlebih setelg mengetahui puluhan kelebihannya.
Lantas ketika kukatakan padanya bahwa akan banyaknya bahaya sewaktu ia masih saja mengkonsumsi rokok dan kopi, Pak Bagas cuma tersenyum dan mengangguk. Bukannya bermaksud menyuruhnya berubah, tetapi aku hanya berusaha memberinya contoh yang baik agar dirinya tetap terlihat sehat dan bugar.
Syukurnya Pak Bagas menerimanya dengan legowo.
Buktinya sekarang ia lebih memilih meminum teh dari pada kopi. Mengurangi rokoknya yang biasanya hampir satu bungkus, menjadi dua batang satu hari, walaupun harus melewati banyak hal seperti eumpp... mencium bibirku seperti yang pernah ia katakan. Tetapi aku menikmatinya bahkan sangat-sangat-sangat menikmatinya.
"Masa semalam saya ketemu laki-laki yang sok akrab sama kamu kemarin. Ternyata dia juga lagi sok akrab sama saya."
Aku mengerjapkan mata mencoba memahaminya.
"Dia mukul bahu saya, Al, otomatis saya terkejut. Pengen sayang pukul balik tapi pake tenaga dalam kalau gak ingat lagi bandara," terangnya.
"Nanta maksudnya?"
"Gak tau saya. juga gak pengen tau. Tapi dianya ngeselin tau, Al. Masa bilang gini kesaya, berhubung ini gak ada sangkut pautnya sama pekerjaan, jadi saya bisa dong lebih santai ke anda? Wah saya gak buang-buang waktu lagi untuk lebih dulu berjarak dengannya."
Aku tertawa, "Seriusan?" Karena setahu ku Nanta memang lumayan tengil. Waktu awal kenalan saja, laki-laki itu tak ada segan-segannya ngajakin aku kencan padahal sebelumnya kita tak pernah kenal sama sekali.
Badannya berhenti berputar dari atas kursi bar, by the way kami lagi ada didapur kantor. Tangannya sigap menganbil jemariku lagi, mempermainkannya diatas pahanya, emang gak bisa diem ni orang, ada aja kelakuannya.
"Iya. Saya sih enggak kesel atau gimana ya, cuma kayak gak sopan gitu. Kenal aja enggak, ketemu baru sekali, tapi uda sok akrab. Gimana gak pengen saya tonjok," geramnya. Lucu sekali.
"Itu mah namanya kesel, Bapak..." balasku kembali meminim tehku.
"Apa iya, ya, Al?" tanyanya polos.
"Iya dong! Seharusnya Bapak gak usah perduliin, kalau dia pukul Bapak, yaudah biarin aja kalau memang itu gak berlebihan, apalagi mukulnya gitu, pasti lagi iseng aja. Terus kalau dia bicara yang menurut Bapak gak sopan, ladenin, tapi seadanya. Jangan kesel yang sampek dipendam sendiri, sakit tau, capek..."
Pak Bagas menggangguk, bibirnya membulat, "Terus saya harus ngapain dong,"
"Ya gak ngapa-ngapain. Kan uda lewat." Permainannya dijemari ku mulai terhenti digantikan dengan pijatan-pijatan ringan yang diberinya pada penggung tangan dan telapak tanganku.
"Terus kalau dia yang naksir kamu itu beneran, Al?"
Aku memikirkan jawaban apa yang akan kuberi padanya. Sebab aku tak mau setelah mendengarnya, Pak Bagas akan berubah haluan, menjadi menjauh dariku. Membiarkan Nanta lebih leluasa mendekatiku.
"Kalau yang itu saya kurang tau dan juga saya gak mau tau," aku nyengir, "Lagian saya disini uda ada yang bikin bahagia, jadi ngapain saya ke yang lain lagi?"
Sejenak Pak Bagas terdiam begitu pula pijatannya, kemudian, "Sebentar, ini maksudnya kamu bahagia sama saya gitu?"
Aish!!! Keceplosan.
"Emang disini yang sama saya Bapak aja? Ada orang tua saya, Dyra, Lara dan Jovita. Jangan kepedean ih," tatapan matanya tak sekalipun terputus dariku membuatku panas dingin sendiri.
"Terus saya gak bikin kamu bahagia?"
"Y-ya bikin tapikan..." ucapanku terhenti, mendadak blank. Maka yang aku lakukan adalah menjatuhkan dahiku tepat dibahunya, mencoba menyembunyikan pipiku yang mulai semakin merona.
"Tapi apa, Al?"
"Gak tau, bingung. Tapi intinya bahagia." balasku cepat ingin mengakhiri pembicaraan ini.
Pak Bagas merangkul bahuku, menunjukkan rasa sayang, akrab, juga sebagai gesture melindungi padaku, "Gemes banget, Al..."
Jika disuruh mendeskripsikan bagaimana perasaanku saat ini, mungkin aku tak akan pernah bisa. Karena ketika bersamanya aku bisa menjadi diriku sendiri, tanpa jaim sedikitpun. Aku bebas berekspresi semauku. Aku bebas berkata sesuka hatiku. Aku juga bebas melakukan apapun. Aku sudah seperti menemukan seseorang yang aku butuhin selama ini.
Terbiasa bekerja bersama, sering berdiskusi, berinteraksi satu sama lain, perlahan-lahan aku mengetahui bahwa aku telah jatuh cinta dengannya. Manisnya, lembutnya, baiknya sudah menyihirku. Tidak ada lagi alasan untukku menolaknya.
"Pak."
"Ya?"
Aku mendongak, "Dulu sewaktu saya nyuruh Bapak untuk gak berada didekat-dekat saya lagi, apa Bapak marah? Sakit hati gitu?"
"Hmmm... gak juga. Karena saya tau diri dan membenarkan bahwa saya memang belum bisa lepas dari masa lalu saya."
Entah dapat keberanian dari mana, aku mulai melingkarkan tanganku dipinggannya, "Terus kenapa nekat mendominasi saya? Maksud saya, seharusnya sebelum Bapak membuat saya overthinking dan berakhir negative thingking, Bapak intropeksi dulu. Jangan main nyosor aja, kan saya gelagapan sendiri menghadapinya."
Pak Bagas mendengus geli, "Kenapa saya mendominasi kamu? Ya karena saya maunya cuma sama kamu. Mungkin karena terbiasa sama kamu, jadi saya kayak ngerasa nyaman aja sama kamu."
Pak Bagas menepuk punggungku dengan pelan, menimbulkan buncahan ketenangan untukku.
"Terus kalau saya tanya saat ini, posisi saya untuk Bapak apa itu? Sebatas asisten kah? Temankah? Sahabatkah?"
"Saya kekamu, perasaannya, gak ada batasnya. Saya suka kamu, saya sayang kamu. Saya juga cinta kamu." ujarnya tanpa memfilter ucapannya sedikitpun. Malu sendiri aku dengernya.
"Seriusan uda cinta?"
Pak Bagas mengangguk tanpa ragu, "Kalau gak, ngapain saya rela bangun pagi-pagi cuma untuk jemput kamu, mana kamu gak ngebolehin ngopi lagi, ngantuk saya. Kamu tau gak, perjalanan kerumah kamu itu melewati tiga outlet Starbucks, gimana cerita saya bisa gak tergoda kalau gak ingat Alana yang cantik ini uda mau repot-repot ngingetin demi kesahatan saya."
Aku menarik diri darinya, lalu melihat dengan jelas kedua bola matanya yang bersih namun sendu.
"Bapak gak lagi menggoda saya kan?"
"Gak lah, ngapain. Kurang kerjaan."
"Bapak beneran cinta saya?" aku berusaha melihat kejujurannya.
"Cinta aja mungkin gak cukup. Tapi saya suka kamu, sayang kamu, mau kamu, untuk saya," Pak Bagas menunjuk dirinya sendiri, "Boleh gak?"
Aku ditembak nih ceritanya?
"Boleh gak ya, hmmm????" Aku mencoba mengulur waktu dan mempertanyakan kembali kepada diriku sendiri apa benar aku juga mencintainya.
"Boleh ya ya ya..."
Aku tersenyum, jawabannya seperti tak perlu diragukan lagi, karena akupun telah jatuh-terlalu-dalam untuk mencintainya.
"Oke."
"Jawabannya cuma boleh atau enggak. Kenapa malah oke?" Protesnya. Aku mengepalkan kedua tanganku, menahan keinginan untuk memeluknya.
"Ribet banget sih," kemudian aku memajukan wajahku, mengikis jarak darinya dan mengecup bibir merahnya, "Boleh." jawabku singkat.
Pak Bagas mengulum bibirnya menahan senyum, sorotan matanya yang tadi sendu kini memancarkan sebuah kerlingan kebahagiaan. Bahkan Pak Bagas tak segan-segan memelukku, sangat erat sambil membisikkan terimakasih untukku.
Baru kusadari, ternyata emang betul, duda lebih menarik. Pantas saja aku terpikat olehnya. Apalagi saat merasakan lengan kekarnya, d**a bidangnya dan perut kerasnya bersentuhan langsung denganku, sayang sekali kalau terlewatkan.