Entah siapa yang memulai, sejak kejadian kemarin, hubungan ku dan Pak Bagas semakin lengket. Bukan hanya itu saja, kami yang biasanya masih enggan untuk meminta sesuatu prihal mengenai sentuhan, kini sangat mudah terucap seperti air mengalir.
Pak Bagas yang biasanya memulai, belakangan ini hanya sebagai pengikut. Dengan tidak tau malunya aku yang sebagai pemulai, mencicipi bagian atas badannya yang terasa sangat lezat walau hanya disentuh.
Buktinya sekarang, kami masih saling berpelukan. Kemeja kerjaku sudah terlempar entah kemana. Rambutku acak-acakkan. Bibirku sedikit perih akibat gigitannya. Leherku juga dipenuhi oleh hasil karyanya. Sungguh sangat menyenangkan.
Aku mengusap-ngusap dadanya yang terbebas dari kain. Menggoda pucuknya yang seperti meminta untuk segera di pegang.
Aku menatapnya penuh puja.
Bagaimana bisa Pak Bagas menjaga badannya sampai seindah ini? Sedangkan yang ku lihat, Pak Bagas sama sekali tidak memikirkan makanan apa yang akan ia makan. Mau itu berminyak, tepung-tepungan bahkan minuman paling manis sekalipun tetap ia santap.
"Kok bisa ada ototnya? Lengannya juga," aku meraba pahanya, "Keras," lalu naik ke perut sixpacknya, "Bapak kan pemakan segalanya. Apapun masuk, meja dan kursi kalaupun bisa dimakan, pasti Bapak makan."
"Masalahnya?"
"Ya kok bisa gitu loh! Badannya otot semua," aku menaikkan sebelah tanganku keatas, "Lihat, kecil banget..." aku bergidik ngeri. Baru tersadar, bahwa tangannya memang sebesar itu. Pantasnya saja badanku yang mungil ini, bisa dengan mudahnya tenggelam dalam pelukannya.
"Makanya makan banyak!" Pak Bagas mencolek hidungku.
"Sudah. Sampai rasanya, bernafas saja bisa menjadi lemak," jawabku jujur.
Pak Bagas mengubah posisinya menjadi menyamping. Tangan kanannya tertekuk, sebagai penumpu kepalanya. "Kamu beneran mau ngomongin ini?"
Aku mengangguk.
"Kamu gimanapun tetap cantik. Mau kamu gendut, kurus, dekil, hitam, kamu tetap menjadi perempuan favorite saya," jawabnya melebih-lebihkan.
Setelah mengatakannya, bibirnya mendekat, menghujami pipiku dengan kecupan-kecupan manis. "Cantik banget, Al."
Selalu, kalau tidak cantik ya gemas. Dua kata yang tidak akan pernah lepas darinya ketika menghadapiku.
"Karena sekarang saya seperti ini, makanya Bapak mau sama saya. Kalau saja saya gendut, dekil dan hitam, pasti Bapak memilih untuk menutup mata rapat-rapat."
"Gak juga, Al," ujarnya membela diri.
"Saya tau kriteria perempuan idaman untuk laki-laki seperti Bapak. Pasti Bapak mencari yang cantik, putih, bersih, mulus, badannya bagus. Iya kan?"
Pak Bagas menggeleng, "Gak. Saya mencari perempuan yang mau menerima kekurangan saya. Mau belajar bersama saya. Mau jatuh dan bangkit dengan saya. Saya ini sudah pernah gagal, saya gak mau menuntut apapun lagi. Sedikasihnya aja. Kalau dapatnya yang seperti kamu, saya bisa apa?"
Pipiku menggembung, mataku menyipit. "Jadi gak mau istri yang cantik?" Tanyaku memastikan.
"Prihal cantik itu bonus," ujarnya. "Yang penting mau sama saya saja, saya sudah bersyukur."
Ini Pak Bagas lagi merendah? Siapa yang gak mau sama dirinya? Aku juga kalau disuruh, tak bakal pikir dua kali untuk memilihnya.
Lagian bukannya cantik itu kastanya paling tinggi bagi para-para lelaki? Lantas kenapa Pak Bagas mengatakan bahwa itu bonus?
Cantik itu privilagenya luar biasa. Apa-apa pasti dipermudah bagi mereka yang memiliki kecantikan diatas rata-rata. Seperti mudah mendapatkan pekerjaan, dikagumi banyak orang, disukai semua laki-laki, kalau ada masalah pasti banyak yang bantu.
"Saya cantik?" Tanyaku tiba-tiba.
"Cantik."
"Saya putih?"
"Putih."
"Saya pinter?"
"Pinter."
"Pantas Bapak mau sama saya." Aku cukup yakin dengan kata-kataku. Pak Bagas tidak akan pernah bisa menolak pesonaku.
"Gak selamanya jadi orang cantik itu enak, Al. Selalu diremehin dengan iming-iming, pasti karena dia cantik. Contohnya, kalau kamu dapat pekerjaan, pasti banyak yang bilang, karena kamu cantik, coba aja jelek, gak bakal bisa. Kemampuan kamu gak bakal terlihat sedikitpun. Makanya saya bilang, bagi saya cantik itu bonus. Maaf cakapnya, saya lebih suka orang-orang yang jelek tetapi kemampuannya luar biasa, skillnya hebat, bisa diandalkan," jelasnya diiringi dengan senyuman yang sedari tadi masih terpatri diwajah gantengnya.
"Tentu saja saya mau istri yang cantik. Baik, putih, badannya bagus. Saya laki-laki normal, Al. Saya masih belum buta akan hal seperti itu. Saya ingin menikmatinya. Mata saya ingin dimanjakannya. Tetapi, sebagai seseorang yang sudah pernah gagal, saya cukup trauma. Saya mulai berserah diri pada Tuhan, kalau saya dikasihnya seperti itu, saya terima. Lalau saya dikasihnya seperti ini, juga saya terima," sambungnya lagi.
"Jadi, kalau Bapak dikasihnya saya, Bapak terima?" Aku mengerling jahil, mengedipkan sebelah mataku.
"Saya gak ada alasan buat nolak kamu."
"Bapak gak menjawab pertanyaan saya," rajukku. "Jawabannya itu cuma dua, antara terima sama gak terima."
Pak Bagas diam sejenak. Memandangiku mulai dari dahi, mata, pipi hingga bibir. Tidak satupun ia melewatkannya. Ia seperti sedang mencoba merekam setiap sudut wajahku. Senyuman yang tadi ia terbitkan untukku, perlahan menghilang. Tangannya yang tadi mengusap lenganku, kini ia tarik kembali.
Ada apa? Apa Pak Bagas sudah berubah pikiran? Bukankah semalam kami sudah lebih dari baik? Bukankah seharusnya semalam menjadi langkah awal dalam keseriusan hubungan kami? Kenapa sekarang ia mulai meragu?
"Ada apa?" Kataku pelan. "Apa saya melakukan kesalahan?"
Pak Bagas masih diam.
"Pak Bagas kenapa?" Tanyaku memastikan.
"Bapak gak terima ya? Gak pa-pa kok, seriusan. Berarti belum jodoh."
Sok kuat, sok tegar. Padahal dalam hati nangis.
Aku mulai kesal. Didiamkan terlalu lama hanya demi sebuah jawaban, membuat perasaanku memburuk. Apa sesusah itu menjawabnya?
"Seriusan.... Pak Bagas kenapa? Jangan diem gini ih. Serem!"
"Saya minta maaf deh..."
"Pak Bagas?"
Aku berdecak, menggoyang-goyangkan lengannya kuat, "Seriusan, jangan gini. Serem!"
Bibirku mencebik, "Mas Bagas ah, gak seru!"
"Belum juga-juga diapa-apain, uda mendesah."
"Heh!"
Aku kaget saat ia terkikik geli dihadapanku. Bagaimana bisa ia berubah secepat ini?
"Bercandanya gak lucu. Males."
"Saya gak bercanda. Saya cuma nunggu kamu manggil saya Mas aja. Masa cuma karena ada maunya baru pake Mas?"
Ingatan ku kembali berputar. Bagaimana aku yang memanggilnya dengan sebutan Mas hanya karena ingin sebuah ciuman. Malu banget.
"Masa kamu gak ngerti, Al. Saya disini, tidur sama kamu, pelukan sama kamu, ciuman sama kamu, apa lagi kalau bukan karena saya terima kamu. Saya maunya kamu. Berjodoh sama kamu. Walaupun manusia hanya bisa berharap, dan Tuhan yang berkehendak, setidaknya saya bisa berdoa, memohon, meminta. Supaya saya bisa sama kamu," tuturnya.
Namun pertanyaanku selanjutnya, mampu membuatnya terdiam seribu bahasa.
"Berarti Bapak sudah siap dong, bila suatu hari ini, posisi mantan istri Bapak, digantikan oleh saya?"
Bingo! Sudah pasti belum siap. Buktinya Pak Bagas beberapa kali masih ketahuan bengong sambil mandangin foto istrinya yang ada di sudut meja kerjanya. Pak Bagas juga sering mengucapkan hal-hal yang berkaitan dengan mantan istrinya. Seperti makanan, minuman, tempat, barang-barang kesukaan istrinya.
Yang ku tau, Pak Bagas mengerjap, berusaha mencoba mengusai ekspresi wajahnya. "Tentu saja sudah. Kalau belum, saya gak mungkin disini sama kamu."
"Yakin?"
"Seratus persen yakin. Saya maunya cuma sama kamu."
"Masa sih?" Aku masih meragukannya.
"Iya, Al. Seratus persen, saya sudah siap menggantikan posisi Alena dengan kamu. Saya sudah terlalu lelah bila harus belajar menerima orang baru lagi. Sudah ada kamu disini, gak bakal saya sia-siain."
Tidak satupun kata yang terlontar darinya mengubah presepsi ku tentangnya, bahwa Pak Bagas masih meragu.
Itu lah setidaknya saat ini yang dapat kusimpulkan darinya.