Part 18

2134 Kata
"Gula masih ada gak? s**u biasanya minum yang mana? Putih atau cokelat? Kalau minuman kaleng, mau bersoda apa gak? Hmmm... atau yougurt-yougort gitu?" "Terserah kamu. Saya ikut maunya kamu aja." "Apaan? Ini untuk Bapak." "Kalau s**u saya maunya s**u kamu aja. Lebih seger." Dasar otak m***m! Aku dan Pak Bagas sedang berada di Mall. Kemarin Pak Bagas ngeluh kulkasnya kosong melompong karena uda tak pernah diisi lagi sama Bibi yang biasanya kerja rumah. "Seriusan deh. Mau yang mana? s**u saya masih belum ready stock," balas ku cuek. Merasa tak ada jawaban lagi darinya, aku segera berbalik, mendapatinya yang sedang menahan senyum dengan menatapku intens. "Saya nunggu sampe ready stock aja." "Bapak, serius... jawab dong, ini saya bingung mau ngambil yang mana." Tunjukku pada deretan minuman kaleng beserta s**u-s**u kotak. "Minuman kalengnya terserah kamu aja, saya ikut maunya kamu. Kalau susu..." lantas Pak Bagas terdiam yang membuat ku harus kembali berbalik menatapnya, "Kayaknya lebih enakan punya kamu. Serius saya kali ini," ceplosnya begitu saja. Tatapannya terjatuh tepat didadaku, lalu mengedipkan sebalah matanya. "Heh!" aku terkejut, melihat sebelah kanan dan kiri, memastikan bahwa tak ada yang mendengar omongan mesumnya, "Kebiasaan banget." Yang dibalasnya dengan tawa. "Kamu nanya saya, ya saya jawab." Kami memutuskan untuk backstreet. Tak ada yang boleh tau, walaupun itu Dyra, Lara dan Jovita. Aku menyutujuinya sebab akupun belum mau diketahui banyak orang. Masalah keraguannya kemarin, aku masih menyimpannya rapat-rapat didalam hatiku. Aku ingin menikmatinya, membiarkan waktu berjalan sendirinya tanpa takut akan hari esok. "Jauh banget nanti nganternya. Turunin dikantor aja, ya..." ujarku. Saat kami sudah memasuki kawasan per-dagingan. "Saya yang bawa kamu, saya juga yang harus memulangkan kamu." "Jelas-jelas dideket kantor ada Mall, malah milih yang jauh." Pak Bagas mencolek hidungku, "Supaya gak ada yang tau, Al." Tangan kirinya merangkulku sedangkan tangan kanannya mendorong trolly yang sudah hampir penuh. Aku cuma bisa pasrah. Melawan kemuannya sama saja dengan memulai perdebatan yang bisa berlanjut hingga malam nanti. "Emangnya Bapak uda yakin disini gak bakal ada yang kenal kita?" "Yakin. Sudah saya check tadi satu-satu." "Seriusan?" "Iya." "Ada yang cantik gak?" "Hm?" Pak Bagas memiringkan kepalanya lalu memicingkan matanya, "Cuma kamu doang, lainnya enggak." "Masa sih?" Dapat kurasakan jemari tangannya mulai mengusap-ngusap pinggangku. Bibirnya tersenyum manis, "Iya, Sayang." Jiakhhh... dipanggil sayang gak tu. Apa kabar jantung? Pernah aku membaca satu buku berisikan bahwa setiap pasangan itu selalu mempunyai caranya tersendiri untuk membuktikan rasa sayang dan cintanya. Salah satunya adalah love language atau bahasa cinta, merupakan ungkapan cinta yang ingin kita dapatkan dari pasangan, begitu pula sebaliknya. Love language itu sendiri terdiri dari lima, pertama adalah Words of Affirmation, pujian-pujian atau kalimat cinta yang dapat mengekspresikan rasa sayang. Kedua, Quality Time, menikmati waktu bersama orang tercinta, tanpa gadget atau yang lainnya. Ketiga, Receiving Gifts, memberikan sebuah kado, tidak perduli mahal atau murah. Keempat, Acts of Service, -Talk less do more- atau gak usah omong doang, pembuktian kalau kita beneran cinta sama dirinya. Dan tarakhir, Physical Touch, sentuhan fisik, berdekatan dengan dirinya, menggenggam tangannya, sampai memeluk dirinya secara tulus. Pak Bagas termaksud seseorang dengan love language terakhir, yaitu Phsycal Touch, sentuhan fisik. Pak Bagas tidak akan segan-segan merangkulku, menggenggam tanganku, memelukku dari belakang juga membelai rambut. Semua yang dilakukannya seperti mengalir begitu saja, tanpa ada paksaan dari siapapun dan aku menyukainya. Sungguh. Seperti saat ini, kami memang sedang mengobrol, saling bertukar pendapat, tidak perduli walaupun ini ditempat umum, namun aku merasakan tangannya tidak pernah berhenti menyentuhku ataupun jauh dariku. Pasti selalu saja ada yang dilakukannya, entah itu mencubit pipiku, mencolek hidungku dan- "Alana!" tangannya terhenti dipuncak kepalaku. Aku seperti mengenali suara tersebut, tapi siapa ya. "Alana Queenera Gantari," panggilnya dengan menyebut lengkap namku. Oh s**t! Seketika aku membeku. Aku mengenali itu, suara Andre. Mendadak kepalaku pusing, hampir oleng, untung Pak Bagas sigap menahanku. "Kenapa, Al? Pusing? Pucet banget muka kamu." Pak Bagas menyentuh pipiku. "Laper ya? Atau haus?" Aku menggelek, tak tau mau jawab apa. "Kita habis ini makan ya, saya gak mau lihat kamu sakit lagi. Nanti saya-" Ucapannya terhenti saat Andre sudah mendekat padaku. "Finally, i found you," tanpa babibu, Andre menarikku kedalam pelukannya, memberi jarak dari Pak Bagas, "Kangen banget..." bisiknya pelan. Badanku rasanya seperti melayang, seakan tidak berpijak lagi pada bumi. Saat Andre memelukku, ada rasa rindu, sedih dan kecewa bercampur menjadi satu. Tapi entah mengapa lebih dominan rindu, hingga rasanya aku ingin menangis didalam pelukannya yang ternyata masih tidak pernah berubah. Hangat. Bahkan sangat hangat. Ntah dapat kekuatan dari mana, aku membalas pelukannya. Tanganku melingkari badannya yang dulu sempat nerubah menjadi pelindungku. "Kangen banget, Al. Apa kabar?" Tanyanya pelan, Andre menepuk-nepuk punggung ku lalu mengusapnya. "Baik," jawabku seraya melepas pelukan kami. Aku mundur satu langkah, kembali kesamping Pak Bagas yang sedang tersenyum lembut, "Im sorry," ucapku padanya dengan isyarat. "Gak pa-pa, Al." Balasnya tulusnya. "Saya Andre, mantan pacarnya Alana." Ucap Andre, kemudian tangannya terjulur ingin berjabatan tangan dengan Pak Bagas. "Bagas," Pak Bagas melirikku, ntah apa yang dipikirkannya, namun jawaban berikutnya mampu membuatku terkejut, "Bagas Dirgantara, Calon suaminya Alana." Laki-laki itu mengedipkan sebelah matanya, membalas uluran tangan dari Andre. Andre sedikit tersentak, cukup sebentar, beberapa menit kemudian laki-laki itu berhasil menormalkannya kembali, "Maaf, saya gak bermaksud lancang. Saya uda lama gak ketemu, Alana. Jadi pas ngelihat dia, saya rasanya seneng banget. Maaf, Al." Aku mengangguk. Kali ini Andre terlihat sangat berbeda. Laki-laki itu mengenakan celana kargo panjang berwarna hitam, kaus polos putih, sepatu Converse Chuck Taylor All Star OX - Black ditambah topi yang juga Convers berwaran hitam. Style kesukaannya, terlihat biasa saja, namun ketika Andre memakainya akan berubah menjadi sangat mempesona. "Its okey. Sendiri, Ndre?" Menyadari tidak satupun orang yang ada didekatnya. "Sama Sandra. Lagi kebagian frozen good, ngidam katanya. Jadi harus aku turutin. Takut anaknya ileran." Jawabnya diiringi sebuah senyuman manisnya. "Loh bukannya seharusnya-" Andre tersenyum sendu, "Seharusnya iya, tapi keguguran." "Maaf, aku gak bermaksud." perasaan bersalah menyerangku. Walaupun Andre dan Sandra sempat menyakitiku, tetapi aku tak boleh berlarut-larut dalam kebencian. "No, salah ku juga. Karena terlalu membencinya, membuat ku lupa bahwa seharusnya, sudah ada darah ku yang mengalir didalam tubuhnya." Ini kalau aku nanya penyebab kegugurannya, akan terlihat lancang gak sih? Perempuan cantik, berbadan dua itu akhirnya memperlihatkan batang hidungnya, matanya berkaca-kaca. Setengah berlari ia menghampiriku, lalu memelukku erat. "Pelan-pelan, San." Andre memperingatinya, namun Sandrea tak memperdulikkannya, jadilah kami saling berpelukan. "Alana... aku kangen banget. Maaf aku uda bikin kamu kecewa. Aku minta maaf banget..." Pak Bagas berbicara lewat isyarat, "Saya keliling dulu, ya?" Izinnya padaku. Mungkin merasa risih sebab berada ditengah-tengah kami. Aku pun menggeleng, mengatakan disini saja. "Waktu ketahuan itu uda jalan tiga bulan, Al. Ni orang katanya pengen tanggung jawab, ehh pas ditagih malah kabur-kaburan. Stres lah aku, aku cemilin aja obat, makan gak teratur, minum juga males. Jadinya asupan nutrisi gak ada yang masuk. Janjn ku gak bisa berkembang sama sekali." curhat Sandra tanpa diminta. "Pasti banyak yang ngira aku hamil tua kan?" Aku mengangguk. "Salah banget. Gara-gara dia ni," tunjuknya pada Andre menggunakan dagunya. "Kalau gak keponakanmu pasti uda dua." Aku membenarkannya. Tak ada yang salah dari ucapannya. Bagaimana pun, Sandra itu adalah temanku. Walaupun ia sempat menorehkan luka untukku. Tetap saja, kami pernah bersama dalam waktu yang tidak sebentar. "Terus yang ini uda berapa bulan?" aku bertanya sambil menyentuh perutnya yang mulai membuncit. Gemes banget. "Empat bulan." "Wow," senyumku tak henti-hentinya berkembang, mensyukuri nikmat yang telah dikasih Tuhan walaupun itu bukan untukku. "Tapi kita belum nikah, Al. Rencananya setelah sikecil ini lahiran. Aku berharap kamu bisa dateng, sama... mmmm yang itu boleh juga," Sandra melirik Pak Bagas. "Iya, dong. Kalau gak sama yang ini, siapa lagi?" langsung kurangkul Pak Bagas, memperlihatkan kepada sepasang manusia itu bahwa setelah ditinggalkan Andre, hidupku jauh lebih bahagia. Sandra mengangguk. Senyuman teduhnya ia berikan padaku. "Maaf ya, Al, uda ngerebut Andre dari kamu. Setelah mengkhianati kamu, aku rasanya diuji Tuhan. Ketika saat itu aku lebih membutuhkan Andre, Tuhan kayak marah, menjauhkanku dengan Andre dan menghilangkan janinku. Aku terpuruk banget, Al, aku berdosa atas apa yang uda aku lakukan. Aku meminta ampun atas hukuman-Nya. Dan ketika aku mulai mengikhlaskannya, Tuhan malah berbaik hati, mendatangkan Andre dan memberi dia untukku," Sandra mengelus-ngelus perutnya sendiri, "Ngasih pengobat hati ku, lewat si kecil ini. Terus ketemu kamu. Tuhan baik banget, Al, sama aku." "Manusia pasti gak pernah luput dengan yang namanya kesalahan dan dosa, San. Terlepas dari perbuatan yang disengaja maupun tidak disengaja. Aku senang kamu uda menyadari kesalahan kamu dan mencoba memperbaiki diri. Lantas, mengapa aku tidak memaafkanmu? Walaupun aku sempat down banget, ya aku anggap aja itu sebuah pembelajaran. Karena meskipun orang lain kadang membuat sakit hati, sebagai umat yang baik, kita tidak boleh menyimpan dendam kepada seseorang yang telah berbuat salah kepada kita. Tuhan aja pemaaf, masa aku enggak?" Jelasku sok tau. "Keren banget kamu, Al," ucap Sandra bangga, "Bapak gak salah pilih pokoknya." sambungnya terhadap Pak Bagas. Aku tersenyum-senyum sendiri, sekaligus tanganku sibuk menata hasil belanjaan kami tadi. Aku tak menyangka bakal sebanyak ini, apalagi tadi janjinya cuma yang penting-penting saja, tapi Pak Bagas mengingkarinya. "Mau lanjut lagi, Al? Atau sudah selesai? Kelihatannya bumil yang satu ini sudah selesai," kini giliran Andre. "Belum, masih ada yang belum. Kalian kalau mau duluan, yasudah." Sandra kembali memelukku, "Alana, makasih banyak ya uda mau maafin aku. Aku janji, aku gak akan mengulang hal yang sama lagi. Aku juga janji bakal menjadi pribadi yang lebih baik lagi," Sandra melepas pelukannya, memegang kedua bahuku, "Maaf kalau kesannya aku tidak tau diri. Tapi, aku masih bolehkan temenan sama kamu? Pasti anak aku bangga, Mamanya punya teman hebat kayak kamu." Bagaimana bisa aku tidak memaafkannya? Bagaimana bisa aku melarangnya untuk tidak berteman lagi dengan ku? Hidup itu cuma sekali. Jalani, syukuri. Aku tau, Sandra dan Andre itu adalah orang baik. Hanya aja, pada saat itu semesta sedang berpihak padaku, memperlihatkan bagaimana wujud asli mereka berdua. Kembali aku mengangguk. "Tentu saja. Aku masih mau temenan sama kamu. Kamu harus janji, kalau kamu mau lahiran, kamu harus kasih tau aku. Oke? Aku mau lihat, dia mirip kamu atau Andre." Sepeninggal keduanya. Sejenak aku terdiam. Mencoba menghalau rasa sakit yang sedari tadi ku tahan. Ternyata bersikap seakan baik-baik saja itu sangat sulit. Apalagi ketika melihat Sandra dan Andre terlihat bahagia. Selama diperjalanan pulang, aku juga lebih banyak diam. Pak Bagas seperti memahami kondisiku. Maka yang laki-laki itu lakukan hanya menggenggam tanganku seerat mungkin. Menyalurkan kehangatannya. Juga mengatakan, bahwa semua akan baik-baik saja. "Cemilannya taruh disitu aja, Al, supaya kamu juga bisa ngambilnya." tunjuknya pada kitchen set bagian bawah. Aku setuju, tau lah ya resiko orang pendek. "Boleh jujur gak?" Cicitku pelan. "Boleh." "Sebenernya waktu Andre peluk tadi, saya bawaannya pengen nangis. Andre itu pernah buat saya bahagia. Dia yang selalu bikin saya rajin kuliah supaya ketemu dia, dia yang selalu bantu saya ngerjain tugas sampe larut, dia juga rela pasang badan pas saya diserang sama senior, karena mereka pikir saya lagi deket sama salah satu pacar mereka, padahal mareka tau, saya itu pacarnya Andre, tapi masih digas aja. Andre juga yang bikin saya berhasil menyelesaikan skripsi, walaupun sering banget ngeluh, tapi Andre gak pernah komentar, malah terus nyemangatin. Andre itu... perannya sempat gak bisa tergantikan oleh siapapun. Mungkin kalau kemarin kasusnya cuma sebatas selingkuh, saya bakal bisa maafin, tapi dia..." aku tertunduk lesu mengingat semuanya. Selain Dyra, Sandra itu termaksud teman dekatku, ya walaupun tidak sedekat Dyra. Kalau butuh apa-apa, pasti aku minta tolongnya sama Sandra. Ketika aku tau bahwa Sandra lah perempuan itu, aku terkejut. Kenapa mesti Sandra? Apa tak ada lagi perempuan lain selain Sandra? "Dan kamu menyesal?" Aku berbalik badan ketika merasakan Pak Bagas sudah berdiri dibelakangku, badan tegapnya mengukungku, mengunciku dalam jarak dekat. Kedua tangannya bertumpu disetiap sisiku. "Gak. Malah saya bersyukur sama Tuhan karena dikasih taunya dari awal, kalau enggak, bisa gila saya. Karena saya sempat mikir untuk masukin nama Andre dilist orang-orang yang layak masuk kedalam masa depan saya." Pak Bagas mangut-mangut, "Emang yang uda masuk siapa aja? Saya sudah ada belum? Kalau belum, sedih saya," Pak Bagas berbicara sambil bibirnya sibuk mengecupi dahiku. "Banyak. Ada Mama, Papa, Dyra, Lara, Jovita hmmm... Pak Afif..."godaku padaku. "Al... kok Apip? Sialan." Aku mendongak membalas tatapannya. Tanganku sudah dengan entengnya melingkari lehernya, "Kira-kira siapa lagi ya?" "Hapus Apipi, laki-laki sialan itu gak berhak ada dilist masa depan kamu." "Terus penggantinya siapa?" "Saya, Bagas Dirgantara," balasnya penuh percaya diri. Setelahnya, dapat kurasakan aroma mint terasa seiring dengan hembusan nafasnya diwajahku. Segar sekali. Rasanya aku terlena sampai-sampai kini ujung bibirku sudah menyentuh bibirnya. Memberi sentuhan seiring bulu, lalu mengatakan, "Berdoa saja." Bukan kecupan-kecupn manja lagi, tetapi kini kami saling berciuman. Lidahnya dengan lihai bergerak menyapa bibirku, menggodaku hingga aku terle!- dan ikut menemani lidahnya bermain. Ketika sudah berhubungan dengan lidah, prinsip less is more akhirnya tergunakan. Melakukannya dengan perlahan namun pasti. Sudah ku duga. Jika bersamanya, aku pasti terlihat rapuh, lemah dan ringkih. Pantas saja, ketika bersama ku, sosoknya aku lebih sering mendominasi. Buktinya sekarang, tangannya saja sudah sibuk menggeranyangi badanku. Sungguh tidak ada tandingannya sama sekali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN