Part 19

1917 Kata
"Pacarmu itu kok gak singgah lagi, Al? Biasanya kalau gak ketemu Papa ya jemput kamu." Mama menyunggingkan senyum miringnya, matanya berkedip jahil. "Aku masih jomblo kalau Mama lupa." jawabku cuek. "Jadi ceritanya Pak Bagas gak dianggap nih?" Goda Mama, yang mampu membuatku menghembuskan nafas kesal. "Kan emang gak pacarku, terus ngapain aku tanggepin? Aku sama Pak Bagas itu cuma rekan kerja, Ma, gak lebih." "Masa sih? Apa rekan kerja namanya kalau saling video call sampe tengah malam? Apa rekan kerja namanya kalau mau-mau aja ngirimin makanan? Apa rekan kerja namanya kalau fotonya dipasang diwallpaper hpnya?" senyumnya semakin mengembang, hingga rasanya hampir robek, "Kalau rekan kerjanya yang modelan gitu, Mama sih mau, Al." "Gak foto aku, Ma. Itu dicomot dari Pinterest. Mamu pasti gak tau Pinterest kan? Pantesan aja." Mama menghentikan kunyahannya, "Emang yang maksud Mama foto kamu?" Lalu menandaskan satu gelas air putih. "Y-ya mana Alana tau." "Masa sih Alana gak tau?" Aku dijebak ternyata. Susah emang kalau uda bicara sama emak-emak komplek, ada aja gitu bahan yang mau digibahin. "Ck ah, Ma! Masih pagi, jangan mancing-mancing deh." Aku memutar bola mataku malas. Aku tau ini akan terkesan tak sopan, tetapi Mama itu kalau tak digituin, pasti ada aja. Baru aja aku ingin fokus dengan roti beserta teman-temannya, harus gagal ketika sang pengganggu berikutnya sudah datang mengantre dikursi terdepan untuk membantu Mama. Buru-buru ku selesaikan sarapanku. Aku tak boleh berlama-lama berada didekat duo sejoli tersebut. Bisa-bisa keos aku. "Eh, calm down, baby girl. Your Papa gak akan culik makanan kamu." Calm down enggak, nge-down iya aku tuh. "Kerjaan aku kasih banyak, Pa. Aku harus buru-buru," elakku. "Perasaan kerjaan terus, kamu nya kapan?" "Aku? Kenapa aku?" "Kamunya kapan diurus sama Pak Bagas? Keburu gagal move on tuh," kata Papa. Mama menimbrung kembali, "Buru-buru, Pa. Uda ada yang jemput didepan." Cepat keteguk s**u putih baru yang saja disediakan Mama. "Euforia anak muda emang gini ya, Pa. Bawaannya pengen ketemu terus? Apa rindu gak bisa dilawan, Al? Sampe makan aja kayak ladi dikejar setan." "Jangan mulai deh, Ma." "Padahal Mama serius loh ini. Jadi kangen masa-masa Mama pacaran sama Papa dulu. Tiap hari bawaannya pengen ketemu terus. Kalau satu menit gak dengar kabarnya, pasti merana." "Itu namanya Mama lebay! Lagian zaman dulu sama zaman sekarang itu beda," jawabku jutek. Paling gak bisa aku tuh di roasting begini, apalagi sama Mama. "Tumben clacksonnya gak kedengeran? Hilang, Al?" pertanyaan Papa bikin aku pusing. "Ya gak hilang juga dong, Pa." Akhirnya aku dalat menyesalikan sesi sarapanku dengan tenang. "Tenang, Tuan. Yang punya clakson belum sampai." ucap Pak Mugi -supir pribadi Papa- tiba-tiba. Setelah berbicara seperti itu, beliau dihadiahi dua jempol dari Papa. "Thanks, Bro. Kalau sudah ada, suruh tunggu bentar. Pacarnya lagi makan. Takut keselek." "Siap, Tuan." Pak Mugi memberi gerakan hormat dengan mata yang mengerling jahil terhadapku, tentu saja kubalas dengan mengenggam pisau, mendekatkannya kearah leherku lalu menggerakkannya. Memperlihatkan sebuah gerakan menyayat. Sepeninggalnya Pak Mugi, aku dibuat berpikir keras, mencoba mencari cara untuk menghindari topik-topik atau bahan pembicaraan yang bersangkutan dengan Pak Bagas. Maka yang kukatakan selanjutnya adalah, "Ma, aku pengen nanya sesuatu ke Mama tentang temenku," usulku. Semoga saja topik ini bisa membangun kembali sebuah hubungan harmonis. Setidaknya untuk saat ini. "Biasanya sih kalau uda katanya tentang teman ku itu, pasti ujung-ujungnya merujuk diri sendiri," seru Papa menekankan kata katanya. Susah memang kalau punya Papa cenayang. "Kali ini beneran tentang teman aku, Pa." "Lanjut, Al, jangan dengerin Papa kamu." Kali ini dengan senang hati aku mendengarkan ucapan Mama. "Teman aku nih ya, teman aku," ujarku dengan penekanan, berusaha meyakinkan bahwa cerita ini memang tentang temenku, "Gimana pendapat Mama tentang seorang anak gadis yang berpacaran sama duda?" "Kayak yang Mama bilang kemarin, oke-oke aja, gak ada masalah." Ini jawaban Mama. "Tergantung, dudanya kenapa dulu? Kalau dudanya-duda ecek-ecek sih bahaya, tapi kalau beneran duda, tergantung lagi, dia dudanya kenapa, karena perceraian atau karena meninggal." Dan ini jawaban Papa. Lihatlah Papa dengan segala keribetannya. Dengan perasaan setengah kesal, aku menjawab ucapan Papa, "Dudanya karena istrinya meninggal. Katanya uda tiga tahun yang lalu, meninggalnya karena sakit." "Terus masalahnya dimana, Al?" tanya Mama, beliau uda ikutan duduk disamping Papa. "Menurut Papa sama Mama nih ya, yang setau Alana punya pemikirin open minded. Pacaran sama duda itu gimana? Pasti Papa Mama pernah denger dong kalau pacaran sama duda itu sering banget diomongin orang, dikatain yang buruk-buruk. Di cap yang gak baik." Dua pasangan yang usianya hampir menginjak lima puluhan namun sialnya masih terlihat segar dan menawan itu saling berpandang. Bukan itu saja, mereka juga terlihat saling menaikkan alis, seperti sudah mengerti satu sama lain. Papa berdehem, "Menurut Papa sih gak masalah. Memang ada aja yang gak suka, tapi menurut Papa dan Mama fine-fine aja kok. Malahan banyak positifnya, kayak misalnya, kalau ada konflik nih, mereka yang lebih dewasa cenderung lebih menghargai pasangannya, entah itu untuk saling bertukar pendapat ataupun saling meredam ego masing-masing ketika menghadapinya." "Mereka itu kayak uda pernah melewati masa-masa tersulitnya, jadi kalaupun itu terjadi kembali, pasti bakal lebih dewasa menghadapinya. Mereka juga lebih bisa mengerti kemauan dari pasangannya dan memperlakukannya sebaik mungkin." Sambung Mama. "Selain itu, Al, mereka memiliki komitmen yang tinggi akan sebuah hubungan. Gak membutuhkan waktu lama untuk bermain-main, karena yang mereka cari adalah keseriusan dalam sebuah ikatan pernikahan," tambah Papa lagi. "Setahu Mama juga sih, mereka cenderung mempunyai jalinan komunikasi yang lebih terbuka. Mungkin karena gagal ya, jadi mereka mencoba memperbaikinya. Ditambah lagi mereka gak akan segan mengungkapkan perasaannya, sehingga hubungan menjadi lebih terbuka tanpa rasa curiga satu sama lain." Lanjut Mama. Setelah selesai mengatakannya, mereka berdua saling berpandangan dan mengangguk. Kemudian tersenyum dan kembali mentapku. "Ini Papa sama Mama lagi mencoba memperomosikan duda apa gimana sih? Penjabarannya lengkap banget." INI GIMANA SIH??? MEREKA LAGI NGE-COPY PASTE YA???? MASALAHNYA, JAWABAN MEREKA ITU SAMA KAYAK APA YANG DIBILANG DYRA, LARA DAN JOVITA. APA JANGAN-JANGAN SEKONGKOL YA? "Emang siapa, Al, temenmu yang pacaran sama duda?" Siapa nih? Lara gak mungkin, anaknya baru-baru ini jadi doyan berondong, Mama tau itu. Kalau Jovita, katanya kemarin mau dijodohin sama temen Kakaknya, Mama juga tau. Jadi memang yang bener, "Dyra, Ma. Dengernya aku terkejut, bisa-bisanya jadian sama duda padahal dulu demennya sama yang sebaya atau lebih tua darinya dua atau tiga tahun. Baru jadian, satu bulan deh kayaknya." Aku pikir mereka bakal enggeh-enggeh aja, ternyata aku salah. "Maaf nih kalau Papa salah, tapi kayaknya Papa gak bakal salah sih. Lara baru-baru ini uda ngubah tipe jadi berondong, karena sama yang sebaya takut diselingkuhin lagi. Kalau Jovita, kata Pak Mugi dijodohin sama Tio temen Kakaknya. Dyra... kemarin baru putus sama mantannya yang kemarin kamu bilang suka main tangan. Kemarin kan Lara kerumah, nangis-nangis, diselingkuhin, trauma katanya. Jadi gak mau pacaran dulu." Wow... Papa hapal dong. "Jadi menurut Papa gak masalah, Al, kalau kamu mau pacaran sama duda. Kalau dia berpisahnya karena bercerai, coba pastikan, dia dengan mantannya istri sudah benar-benar selesai apa tidak. Dan kalaupun berpisahnya karena meninggal, ucapan kasarnya, mereka gak bakal saling bertemu kembali. Jadi kamu pun gak punya ketertakutan atas intensitas mereka bertemu, kan sudah beda alam." Aku melongo mendengarnya, KONSEPNYA GAK KEK GITU PAPA!!! Inikan ceritanya temenku, bukan aku. Bener-bener tak bisa di lanjutin, takut melebar kemana-mana. Bukan bermaksud jahat dengan tak mau jujur, tapi emang belum waktunya aja. Apalagi kami baru menjalaninya, takut kedepannya gagal, kan jadi malu karena sudah diumbar-umbar. By the way, tapi kenapa ya, saat bersamanya aku bisa melakukan hal-hal yang dulunya sangat tidak ingin kulakukan? Dan hari ini terjadi lagi, bahkan lebih dari itu. "Ihhh gak bakal hipotermia. Apa susahnya sih tinggal naikin suhunya? Ada selimut juga. Gak usah peluk-peluk, sesak," protesku. Mencoba mendorong badannya yang kini sudah melingkupiku. "Sesak ya? Sini saya kasih nafas buatan. Dengan senang hati. Dan tentu saja, gratis." Bibirnya hendak maju, mengincar bibirku. Untung dengan cepat aku menghindar. "Gak ada gitu kerjaan lain selain ciuman? Itu terus. Gak capek apa yah?" Ini kedua kalinya aku menginjakkan kaki dirumah ini. Selesainya jam kerja, kami langsung terdampar dirumahnya. Tadi sih rencanya mau jalan-jalan gitu, berhubung hujan datang dengan sangat deras, si Bapak jadi mager. Entah itu cuma alasan atau memang beneran, tapi dia berhasil bikin aku terjebak lagi disini, bersamanya. Yaiyalah, masa orang lain. Kan ini rumahnya. "Hipotermia bisa bikin mati rasa. Bukan cuma itu aja, gak bisa bicara, pemahaman menurun, kaki, sulit bergerak, sesak nafas juga. Sebelum itu terjadi, ada baiknya kita saling memanaskan satu sama lain. Berciuman adalah salah satunya." Manaskan apa? Kompor kali ah. "Ck itu mah akal-akalan Bapak aja. Siniin remote AC nya, supaya saya naikin suhunya." Aku berusaha mengambil remote tersebut dari genggaman besarnya. "Hipotermia bisa bikin denyut jantung melambat, Al. Serem ih, sini deket. Jangan jauh-jauh." Drama banget! Kami itu lagi berada dikamarnya. Sengaja emang, suhu AC dibuat serendah mungkin, pintu kamar gak ditutup, jendela apalagi, dibiarkan terbuka begitu saja. Gak tak motivasinya aja. Mana hujan lagi. "Anak kecil kayak kamu gini mudah banget kenanga. Jadi untuk menghindarinya, kita harus bersembunyi didalam selimut. Berdua," ujarnya kembali. Aku menggeleng. Tak masuk akal. Tentu saja tidak semudah itu. Pak Bagas menarikku, yang tadinya terlentang kini menjadi terduduk. Lalu dengan mudahnya duda ganteng tersebut menarik kemeja longgarku, meloloskannya dari badanku. "Skin to skin its a good idea," sarannya. Lalu Pak Bagas juga membuka kemejanya, membuangnya kesembarang tempat. Pengen membantah tetapk ini otakku seperti sudah dicuci sama ia. Bawaannya ngikut aja apa yang dibilang olehnya. "Recharge time," serunya ringan sambil membaringkan tubuh tegapnya. "Mau apa sih? Awas aja kalau m***m," ancamku. "Gak dimesumin paling dienakin dikit." Tuhkan, aku uda ikutan berbaring disampingnya. Ini hati atau apa sih? Lembek amat. Mau-mau aja dikibulin sama ni orang. "Jangan macem-macem, Pak." Pak Bagas tak langsung menjawab, melainkan menyelipkan kaki kirinya diantara kedua kaki ku, menarik selimutnya keatas hingga menyembunyikan badan kami berdua. Skin to skin, ku sentuh kulitnya. Kuraba d**a bidangnya. Ku usap perut berkotakmya. Bukan bermaksud menggoda, penasaran saja, gimana sih sensi menyentuh badan seorang Bagas Dirgantara, yang kalau sudah memakai kemeja itu bentukannya pasti bagus banget. Gagah dan kokoh. Enak dipeluk, enak disayang. Yang kemarin, aku sudah lupa rasanya. Jadi tak mengapa jika harus diulang kembali. Ternyata eh ternyata, sensasinya lebih dari enak. "Bapak hipnotis saya ya, makanya saya mau-mau aja diginiin sama Bapak," kataku. "Gak cuma saya hipnotis, kamu saya pelet, jampi-jampi, didoain, disayangin, dicintai." Pak Bagas tertunduk, mencari wajahku yang tersembunyi, setelah dapat, Pak Bagas langsung menciumi seluruh kulit wajahku. "GAK NYAMBUNG AAAA!!!" racauku, ku dorong wajahnya, "IHHHHH GAK MAU DICIUMIN!" Bukannya berhenti, Pak Bagas semakin gentar menyerangku. Menangkup pipiku, kemudian menciuminya lama dan dalam hingga menghasilkan suara mwahh. "Sayang banget sama anak kecil satu ini." ucapnya disela-sela ciumannya. "Jangan pisahin ya Tuhan, uda terlanjur nyaman." Anak kecil gimanaaaa? Saya itu sudah bisa menghasilkan anak kecil juga loh, Bapak. Jangan macem-macem. "Saya yang gak nyaman!" "Gak nyaman? Dibagian mana? Kasih tau saya, mana tau saya bisa bantu." Aku menatapnya kesal, "Tangannya bikin gak nyaman, kakinya juga. Tangannya jangan masuk ihhh, geli." Didalam selimut, aku menggeliat. "Perasaan tangan saya dari tadi disini terus deh," ucapnya serasa meremas d**a sebelah kananku. "Gak kemana-mana." "Mending Bapak tutup pintu dulu, jendela juga. Dingin banget ini, pelukan Bapak gak ampuh. Lemah." Pak Bagas menaikkan sebelah alisnya, "Masa sih?" "Iyalah!" "Anak kecil gak usah sok tau!" Pak Bagas bangkit, menuruti perintah ku. Menutup pintu juga jendela. "Saya bukan anak kecil!" Sarkasku tidak suka. "Anak kecil. Anak kecil saya." Pak Bagas kembali mendekat, "Anak kecil yang paling saya sayangin dan cintain selain Raya. Anak kecil yang saya doain bisa membuat anak kecil lainnya bersama saya. Mau kan, cil?" Aku memberenggut, "Gak!" "Masa sih?" Sok-sokan bilang enggak, tapi desahannya keluar juga saat Pak Bagas mulai menyesap dan menggigit leherku. Dasar aku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN