Part 20

2129 Kata
"Gue gak yakin sih, Pak Bagas sama Alana cuma sebatas partner kerja doang. Lihat aja, berangkat kerja, bareng. Makan siang, bareng. Pulang juga, bareng. Apalagi kalau bukan pacaran." "Iya sih, gue juga mikirnya gitu. Kemarin aja pas Alana sakit, gak pakek surat izin atau apa gitu. Terus gue iseng nanya nih Pak Bagas mau makan apa, sekalian sama kita-kita juga kebetulan mau lunch diluar. Eh dijawab gak usah, makasih, gitu. Terus gue ditinggalin. Gak langsung pergi dong gue. Gue iseng lihatin mejanya, mana tau ada bahan gibah nih, ehhh gue lihat lockscreen hp-nya dia foto Alana. Lagi duduk disofa ruangan dia. Bajunya juga baju kerja." Mana yang bener sih? Wallpaper atau lockscreen? Aku aja gak tau. "Lo masih percaya kalau cuma partner kerja? Bullshit." Kok marah? "Pacaran gak sih? Atau diam-diam uda nikah? Sebenarnya sih cocok juga, cantik dan ganteng, tapi gimana ya masa Alana mau-mau aja sama duda. Gak takut apa digosipin banyak orang? Doi kan lumayan terkenal. Bisa aja dia dapatnya yang lebih." tanya sirambut pendek sedari tadi diam mendengarkan kedua temannya. "Nikah sih kayaknya belum. Tapi kalau pacaran... mungkin. Soalnya deket banget. Pak Bagas itu apa-apa selalu Alana. Kayak gak bisa lepas, uda ketergantungan gitu." "Kebayang gak sih kalau mereka emang beneran menikah. Perusahaan ini kan punya mantan istrinya, semuanya. Gue denger-denger rumah yang sekarang ditempati Pak Bagas juga punya istrinya. Gak malu apa bawa-bawa Alana kesana, kesannya gak bermodal," ucap si rambut panjang yang tadi memulai pembicaraan. "Gak tau diri banget. Apalagi kalau tinggalnya dirumah Pak Bagas sekarang, behhhh gak ngerti. Mending sama gue aja deh, hidupnya pasti aman, masa depan terjamin. Secara nyokap bokap gue kan.... aahhh lo tau sendiri lah ya. Sebelas-dua belash lah sama keluarga Alana." Kali ini giliran sipirang. Nampak emang, stylenya beda sendiri, lebih highclass tapi sayangnya omongannya tidak berkelas. Aku bergidik ngeri mendengarnya. Mon maap nih, lo kalah saing dari gue. Jadi shut up your f*****g mouth. "Gue sih kalau jadi Alana mending gak usah deh. Hidupnya jadi benalu, numpang dirumah orang. Bikin susah aja." "Bener banget. Mending cari yang lain, yang lebih hot, pasti banyak deh. Bukan Pak Bagas aja, walapun gue cukup mengakui sih kalau pesonanya Pak Bagas itu gak main-main. Gue aja demen apalagi Alana yang tiap hari deketan." "Pingsan sih kalau gue." Gak mati aja sekalian? Merasa jengah, aku yang hendak meninggalkan mereka terkaget saat melihat pacarku ehhh ... pacarku kan sekarang posisinya? melewatiku begitu saja, ikut nimbrung dengan mereka bertiga. "Hi, saya boleh gabung? Seru ni kayaknya." Dih! Alay. "Ngapain, Al? Sini masuk, lumayan juga nih, saya uda lama gak denger gosip." Pak Bagas dengan santainya duduk, tanpa memperdulikan para stafnya yang sudah pucat pasih. "E-eh Pak Bagas, kita pamit dulu ya. Masih ada yang mau diselesain," kata si pirang. Aku melangkah dengan canggung, lalu duduk disamping Pak Bagas. Posisinya kita lagi duduk diruangan gitu, aku juga kurang tau ini ruangan gunanya apa, tapi sering juga dijadiin tempat kumpul sama yang lain. Aku dan Pak Bagas duduk disofa panjang. Sipirang duduk disebelah kiri Pak Bagas, si rambut panjang disebelah kananku dan sirambut pendek disebrang kami, hanya dibatasi oleh sebuah meja bulat. Aku duduk dengan kaki menyilang, mencoba mengikuti gesture santai dari laki-laki menawan yang ada disampingku. "Coba, Al, kalau seandainya saya tanya kamu, kamu mau gak jadi... siapa nama kamu?" tanya Pak Bagas pada si pirang. "Ella, Pak." "Coba, Al, kalau saya tanya kamu, kamu mau gak jadi Ella?" Keningku berkerut mendengar pertanyaannya, aku menggeleng. "Kalau jadi... nama kamu siapa?" kini beralih pada si rambut panjang. "Dwisti, Pak." "Kalau jadi Dwisti, mau gak, Al?" Kembali aku menggeleng. "Kalau ka-" "Saya Ivi, Pak," potong si rambut pendek. "Saya gak nanyak, by the way." jawab Pak Bagas, aku mendengus geli. Bisa-bisanya bikin anak orang greget sendiri. "Saya baru tau, selain hobi bikin saya gak suka, kalian bertiga juga hobi membicarakan Alana dibelakangnya. Mau saya sama Alana itu pacaran, menikah ataupun hanya segedar bos dan asisten, urusannya sama kalian itu apa? Apa kalian merasa dirugikan atas apa yang kami lakukan?" Tanya Pak Bagas tegas. "Eng-gak kok, Pak. Kita malahan mendukung, ya kan girls?" Ella menajawab ragu, melirik kedua temannya untuk meminta dukungan. "Betul. Apalagi Pak Bagas ganteng dan Buk Alana cantik, makin cocok. Couple goals banget." Dwisti berseru senang. "Atau Alana dan saya punya kesalahan?" mereka tertegun. Serentak Ella dan Dwisti menggeleng. Pak Bagas melipat tangannya didepan d**a. LAlana saya cuma satu, jadi kalian gak perlu berusaha keras untuk menjadi dirinya. Kalau pun suatu saat kalian berubah menjadi Alana saya, saya mungkin gak akan pernah memilih kalian, karena saya gak suka sama perempuan yang membagikan quotes menyindir dimedia sosail, suka bergosip dan banyak drama." Ngerti tidak sih, Pak Bagas itu bicaranya kelewat santai, tetapi bisa meruntuhkan sang lawan. Buktinya Ella dan Dwisti sudah menunduk, tak berani membalas. Perlahan-lahan Ella menaikkan kepalanya, dan berkata, "K-kami minta maaf, Pak. Kami tidak bermaksua-" "Keluar, sekarang. Kali ini saya maafin kalian, tapi lain kali jangan berharap, apalagi sudah menyangkut almarhumah istri saya." Potong Pak Bagas. Mereka bertiga langsung berdiri, membungkukkan badannya sambil berucap maaf. Perginya mereka meninggalkan lelucon untukku. Kekita melihat betapa berapi-apinya mereka saat tadi membicarakanku, berbanding tebalik sama barusan. Pengen ngetawain, tapi takutnya tak sopan. Ketika sudah berdua, Pak Bagas beringsut, memiringkan duduknya menghadapku. Senyumnya mengembang, tak ada lagi ekspresi marah. "Subhanallah, Assalamualikum, cantik." Sebelah tangannya bergerak menopang dagunya dengan siku bertumpu pada punggung sofa. Astaga jantungku. Kamu harus banyak-banyak bersabar ya, aku tau ini berat. "Subhanallah, Waalaikumsalam, ganteng." Aku mengulum bibirku menahan senyum. Ganteng sekali beliau ini, tidak ada cela sedikitpun. Bagaiman bisa aku melewatkannya? "Tidur nyenyak tadi malam?" "Nyanyak banget. Kalau Bapak?" "Nyenyak juga." Tatapan kali saling mengunci. Tak ada sentuhan sedikitpun, tetapi entah mengapa suasanya jadi terasa sangat intim. Seperti ada percikan-percikan asmara yang sangat menggelora, seakan menyuruh kami untuk semakin mendekat antara satu sama lain. "Sarapan apa tadi?" "Nasi goreng." "Tumben, biasanya roti." "Papa sekalian mau keluar kota, disuruh Mama makan nasi aja, supaya dijalan gak kelaperan. Walaupun ujung-ujungnya tetap dibekalian sama Mama." Pak Bagas tersenyum simpul. "Kalau saya... seperti yang kamu lihat saat ini." "Sudah sarapan?" "Kalau kamu yang dijadiin sarapan boleh?" Aku tertawa mendengar celetukannya. Pak Bagas dan segala kemesumannya memang tak bisa dipisahkan. "Menu untuk sarapan lagi tidak tersedia, adanya dinner doang." Pak Bagas memiringkan kepalanya, menatapku lekap. Namun kini engah mengapa ada percikan kesedihan dan kekecewaan terpancar darinya. "Saya lagi insecure, Al." "Kenapa?" "Apa kamu mempunyai pemikiran yang sama dengan mereka?" "Dibagian mana?" "Dibagian saya dan kehidupan saya. Saya itu duda, Al. Saya gak mau munafik kalau perusahaan yang sedang saya ambil ahli punya Alena. Rumah yang sedang saya tempati juga punya Alena. Saya seperti ini karena Alena. Kalau gak ada dia, mungkin saya masih menjadi anak yang gak berguna sebab kerjaannya keluyuran terus. Masih berlutut dibawah naungan orangtua saya. Tidak sehebat sekarang." Lucu banget. Ketika kamu melihat seseorang yang selama ini bawaannya cuek, dingin, irit berbicara, namun tiba-tiba mengeluh atas dasar ketidak percayaan dirinya. Padahal ia sendiri pun tau, banyak orang-orang diluar sama yang ingin menjadi dirinya. Pak Bagas itu paket komplit, ganteng, baik, tajir melintir. Aku tau mungkin dulu sikapnya terhadap mantan istrinya sangat tidak pantas untuk ditiru. Namun sayangnya ketika ia berusaha berubah menjadi sesosok suami sekaligus seorang ayah yang siap siaga, Pak Bagas kehilangan istrinya. Aku mengerti, itu bukan kemuannya. Tapi kalau sudah Tuhan berkehendak lain, kita sebagai umatnya hanya bisa bersabar, berusaha sekuat mungkin dan mengikhlaskannya. "Kamu gak malu, Al, pacaran sama saya?" tanyanya lesu. Bukannya kasihan, ia makin terlihat menggemaskan. "Saya duda, sudah tua. Sedangkan kamu masih secantik ini." "Gak dong. Saya malahan bangga bisa pacaran sama siganteng satu ini," kucolek hidung mancungnya, "Gak ada manusia yang sempurna, Pak, adanya manusia yang mencoba untuk mencari kesempurnaan. Bapak itu sedang menjalankan sebuah amanah, bukan hanya segedar asal-aslan mengambil ahli cuma karena sebuah kekuasaan. Maaf kalau saya salah. Saya pernah denger dari Mama kalau Mbak Alena itu anak satu-satunya. Orangtuanya juga uda lebih dulu pergi, terus kalau bukan Bapak yang nerusin, siapa lagi?" Pak Bagas mengambil sebelah tanganku, menaruh dipipinya, memberi gerakan menepuk-nepuk pelan. "Ya walaupun pacaran sama saya termaksud salah satu kecurangan, gapapa dong. Demi kehidupan yang tentram dan nyaman," goda ku. Yaps, kecurangan. Macarin asistennya sendiri. "Gak malu pacaran sama duda?" "Mereka gak tau aja sensasinya pacaran sama duda gimana." "Apa sensasinya kalau boleh saya tau?" "Aman, kuat dan tahan lama." Sebuah penggalan kata dari iklan yang tiba-tiba melintas diotakku. Aku bersenandung, membuat senyumnya perlahan-lahan mengembang. "Al, seperti yang kamu bilang tad, gak ada manusia yang sempurna adanya manusia yang mencoba mencari kesempurnaan. Ini lah saya, Bagas Dirgantara, seorang duda yang ditinggal pergi oleh istrinya. Hidup saya gak sesempurna itu, Al, hidup saya juga gak semenarik itu. Perjalanan saya berliku-liku, pernah jatuh-bangun, sedih-senang, dan puncak dari segala-galanya adalah ketika saya kehilangannya. Kamu pasti sudah mendengar, saya pernah memperlakukannya sejahat itu, menyakitinya separah itu, dan sekarang saatnya saya diberi hukuman. Saya berduka atas masa lalu, dan saya ingin bersuka atas masa depan." "Saya mau kamu bukan karena ada sesuatu yang ingin saya gapai. Rasanya semuanya sudah cukup. Saya gak mau apa-apa lagi selain kamu. Selain cintamu, sayangmu juga perhatianmu." Aku deg-degkan, bukan bermaksud geer, setiap mendengar kata demi kata keluar mulutnya, setiap itu pula bunga-bunga semakin bermerakan didalam perutku. "Kamu tau, Al, yang dipegang dari seorang laki-laki itu bukan hanya segedar omongan, melainkan janjinya. Dan ketika dia ingkar, berarti dia telah melukai dua hal, yang pertama adalah wanitanya, yang kedua adalah harga dirinya. Saya gak mau itu terjadi. Saya gak muluk-muluk, Al, malah saya sangat berterimakasih karena kamu telah menerima saya dengan segala kekurangan saya." Pak Bagas terdiam beberapa saat. Menjauhkan tanganku darinya, meletakkannya diatas pahaku. "Alana Queenera Gantari, kekasih saya, pujaan hati saya. Bersediakah kamu berjalan bersama saya, menemani sekaligus mengajarkan saya bahwa setiap pertemuan tidak akan selalu berakhir dengan perpisahan?" Aku berdehem, jari-jari tanganku saling bertautan. Perasaan senang, bahagia, terharu menyatu menjadi satu. Kalau dibilang bahwa jatuh cinta bisa membuat seseorang menjadi bodoh, aku akan menjadi orang pertama berteriak bahwa aku menyetujuinya. Ketika kamu jatuh cinta, kamu akan melakukan hal-hal yang tidak masuk akal atau terkesan bodoh. Ketika seseorang sedang dimabuk asmara, otak yang biasa aktif, tiba-tiba berhenti bekerja selama beberapa hari. Menyebabkan, orang yang sedang jatuh cinta cenderung sulit melihat kesalahan ataupun kukurangan kekasihnya. Buktinya sekarang, aku bisa tersenyum-senyum tidak jelas, padahal Pak Bagas cuma diem, menanti jawaban dari ku. Bukti selanjutnya adalah, beberapa hari yang lalu aku nekat menciumnya, melakukan skin to skin, mengikuti perkataannya tanpa bantahan sedikitpun. Pak Bagas bebas menciumku, wajah juga leher ku. Untungnya Pak Bagas masih tau batas, berhenti disitu saja. Walaupun bonusnya sudah sampai meremas dadaku. Bodoh? Tentu saja. Kami kenal baru beberapa bulan, kemarin meresmikannya, dan aku langsung terjerat dalam jeratannya. "Saya sedang dilamar, Pak?" jawabku, melupakan penjabaran panjang tentang jatuh cinta itu bisa membuat bodoh. "Mau?" Tuhan, tolong, bermurah hati lah padaku kali ini saja. Biarkan aku menikmati waktuku bersamanya, menemaninya hingga akhir hayatku. "Mau gak ya???" Ya Tuhan, kalau dia memang jodohku, dekatkanlah. Tapi kalau bukan, kalau bisa, jodohkanlah. Karena aku maunya cuma dia, gak mau yang lain. "Kalau saya iyain, kita gak langsung nikah kan? Soalnya saya belum siap nih, gelarnya ditambah Dirgantara." Kerutan didahinya hilang, "Sekarang juga gelarmu uda ditambah otomatis. Jadi kemungkinan menolak itu sangat tipis." Alana Queenera Gantari Dirgantara, keren sekali tapi... panjang juga ya. Setelah mengumpulkan keberanian, aku berdiri, setengah berlari kearah pintu. Kepalaku keluar, memastikan tidak ada yang melihat kami. Ketika aman, aku menguncinya dari dalam. Men-swicth kaca jendela, dari yang bening menjadi buram. Aku mendekat padanya, mendaratkan bokongku diatas pangkuannya. Pak Bagas sedikit terkejut, namun cepat ia merubah posisinya. Tanganku mengalung dilehernya sedangkan kakiku bermain dikakinya. Kami saling berhadapan, d**a kami saling bersentuhan. Ada desiran kehangatan terasa saat tangannya ikut merangkul pinggangku, seperti biasa. "Ada apa ni? Kok tiba-tiba berubah jadi agresif." Aku mengcupi rahangnya, menikmati sensasi geli saat merasakan tusukan-tusukan tajam bulu halusnya dibibirku. "Saya gak bisa nolak kalau yang ngajak bentuknya begini." Kupeluk tubuh besarnya, membenamkan wajahku diperpotongan lehernya. Menikmati aroma maskulinnya yang tentu saja sudah kuhafal luar kepala. "Gini nih, salah satu sensasi pacaran sama duda. Punggungnya suami-able banget, enak kalau ditempelin. Jago, sudah berpengalaman. Apalagi ciumannya, saya aja sampe jiper kalau ngeladeninya." Tawa beratnya terdengar, "Gitu banget, sayang..." "Iya. Seriusan deh. Punggungnya kayak uda berpengalaman gitu. Besar dan kokoh. Rela deh dipelukin tiap hari." Aku meraba-raba dadanya, menggoda puncak kecil yang masih tersembunyi didalam kemejanya. "Andre juga bagus, anak gym kan dia?" Aku mengangguk, "Yups, tapi Andre masih noob. Beda sama Mas-Mas satu ini, gak cuma punggung aja, tapi semua sudah berpengalaman." Pak Bagas menarik wajahku, merangkum pipiku lalu mengecupi seluruh kulit leherku. Sudah kukatakan, Pak Bagas itu ada aja akal-akalan yang bisa bikin aku pusing sendiri. "Engh! Jangan digigit, Pak, ntar membekas." Aku mendongak, memberinya lebih banyak akses. Emang sekarang gak digigit. Tapi dijilat, sama aja Pak Bagas. Huft, lagi-lagi perbedaan itu datang. Baik status dan umur, ternyata masih saja selalu dipertanyakan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN