Part 21

2509 Kata
"Amy!" "Lebih seneng ketemu kamu sekarang, dari pada saya." "Raya tau teman sebayanya yang mana." "Dih, cantik kamu kayak gitu?" Pak Bagas mematikan mesin mobilnya. "YA IYALAH CANTIK BANGET! PACAR SAYA INI!" Teriaknya. Lalu menarik lenganku dan memelukku. Aku tergelak. "PACAR SAMA INI WOI! JANGAN DEKET-DEKET!" Walaupun ia tau, tidak akan ada yang mendengarnya. "Amy Amy Amy!" Mendengar suara cemprengnya, buru-buru aku turun dari mobil. Melepas dengan cepat seatbelt juga membuka asal pintu mobil, akibatnya, aku hampir saja terjatuh. Saat sebuah batu besar tidak sengaja tersandung oleh ku. "Pelan-pelan, Al..." bisik Pak Bagas lembut. Saat badanku sudah sepenuhnya dilindungi olehnya. "Jangan kebiasan begini. Untung saya tangkap, kalau gak, muka kamu bisa terbentur ke tanah." Aku bergidik ngeri membayangkannya. "Jangan di doain dong!" "Saya gak mendoakan. Saya cuma mengatakan akibatnya. Raya gak bakal kemana-mana dan kamu gak perlu buru-buru begitu." Pak Bagas mengusap-ngusap dahiku yang berkerut. Sedang bibir ku mencebik. "Saya gak ngomel loh ini, seriusan. Jangan gitu bibirnya. Nanti saya cium, tau rasa kamu." Aku berusaha kuat agar terlepas dari sentuhnya. Pak Bagas dan keseriusan memang nyatanya tidak bisa terpisahkan sedikitpun. Ketika ia mangatakan, bahwa nanti mencium ku, maka itu bukan hanya segedar nanti, melainkan akan. Sebelum benar-benar terjatuh terlalu dalam, aku menghindar. Lebih baik, dari pada harus kembali terjerat dalam ciumannya yang menggairahkan. "Amy Amy Amy Amy Amy!" "Apa apa apa apa apa apa?" Jawabku sesuai berapa kata Amy yang gadis kecil itu ungkapkan. "Buset, cil. Santai. Amy-nya gak akan kemana-mana." Aku tertawa mendengar celetukan asal Raga. Dimana, seharusnya sebagai orang tua, Raga lebih bisa memilih kata-kata yang baik untuk di dengar oleh si kecil. Tetapi sangat berbeda jauh dengan Raga. Laki-laki itu akan berbicara seadanya, tidak perduli siapa lawan bicaranya. Raya menggoyang-goyangkan badannya yang mungil. Meronta, meminta dilepas dari gendongan Papanya. Setelah berhasil, kakinya yang pendek cepat berlari kearahku. Membuatku harus berjongkok, merentangkan kedua tangan lalu menangkapnya. "Amy, kangen..." bisiknya. Aku bangkit, mengeratkan lilitan tanganku agar Raya tidak terjatuh. "Didalam Oma dan Mama sudah masakin makanan enak." Bagaimana bisa anak seusia 3 tahun sangat fasih berbicara seperti dirinya? Apa ada resep khusunya? Benar-benar mengagumkan. Aku tersenyum ketika Raga menundukkan badannya. "Dari kantor langsung kemari, Mbak?" Aku mengangguk, menepuk-nepuk pelan punggung Raya. "Iya. Diajakin sama Pak Bagas." Raga mangut-mangut. Mempersilahkan aku masuk. "Gak ngantor, Ga?" Tanya Pak Bagas. "Gak dibolehin Kayyisa. Mas bayangin aja aku harus disini sendirian, sambil jagain Raya. Kalau jagain Mamanya sih sanggup. Ini... bocilnya. Menyerah Mas..." Raga memelas. Terlihat tersiksa menjaga Raya hanya seorang diri. Pak Bagas memeluk bahuku yang sempit. "Tumben, kenapa?" "Gak tau, Mas. Ngidam kali." "Istrimu hamil lagi?" Pak Bagas berseru senang. "Kenapa jadi Mas yang seneng? Kan aku suaminya. Aku yang hamilin." Tuhkan... Aku hampir menyemburkan tawa saat melihat wajah bingung Raga. Iya juga ya. Kenapa Pak Bagas yang kesenengan? "Hasil produkmu sama Kayyisa gak ada yang gagal. Jadi ya, seneng-seneng aja punya ponakan cantik dan menggemaskan kaya dia," Pak Bagas menunjuk Raya dengan dagunya. "Baru satu, Mas." Raga tersenyum terpaksa. "Tapi mau tambah satu lagi." Seiring dengan mengatakannya, Raga melangkah lebih cepat. Meninggalkan kami yang berjalan lebih lama sebab sedang mencerna ucapannya. "Ini maksudnya gimana, Al? Saya gak ngerti?" Tanya Pak Bagas padaku. "Kayyisa hamil, Pak," jawabku. "Kok bisa?" Kok bisa katanya? Mana aku tau. Ya kali aku perlu menjelaskan kenapa Kayyisa hamil. Ya kali aku perlu menjelaskan apa saja yang mereka lakukan sampai bisa membuat Kayyisa hamil. Ngapain di jelaskan? Apa tidak bisa direalisasikan secara langusng? Wait... otakku... kotor banget. Rasanya jarak dari pintu utama ke dapur sangatlah jauh. Kami hampir bisa menghabiskan beberapa topik obrolan hingga tak terasa bisa sampai disini. Namun, sebanyak apapun kamu berbicara, tetap saja, yang menjadi tujuan utama Pak Bagas adalah... "Kayyisa, kamu hamil?" Tanyanya kembali seakan tidak puas dengan jawabanku. Kayyisa membalikkan badannya, menatap kaget kami berdua. "Kenapa, Mas?" Ulang Kayyisa. "Kamu hamil?" Kayyisa mengangguk. "Kok aku gak tau?" "Ngapain tau? Untuk apa?" Tanya Raga cuek. "Kan seharusnya aku bisa request maunya yang gimana, bentuknya apa. Mana tau bisa!" Aku menyatukan dahiku dengan dahi Raya. Tidak mengerti sekaligus percaya atas ucapannya yang terlalu aneh. "Emang Mas maunya yang gimana?" Kini seorang perempuan paruh baya ikut nimbrung. Sosoknya yang terlihat masih cantik dan segar, sangat indah bila harus dipuja. "Mana tau Kak Raga dan Kayyisa bisa mewujudkannya. Betul gak, Mas?" Aku mendadak bisu, tidak berani mengatakan apapun selain badanku yang tiba-tiba menegang. "Mas Bagas sudah bisa buat sendiri, Ma. Gak perlu repot-repot harus request dulu." Kan bener. Raga benar-benar asal ceplos. "Masa aku sama Kayyisa yang capek bergelut ditempat tidur sampe pagi, tapi hasilnya sesuai requestnya Mas Bagas? Enak aja. Mending Mas buat sendiri, sana!" Tepat ketika Raga menyelesaikan ucapannya. Tatapanku jatuh pada sorotan matanya yang teduh. Nafasku rasanya tercekat. Lututku melemas seperti tak bisa menahan bobot badanku. Bisa-bisanya aku setuju sewaktu Pak Bagas mengajakku kemari. Bisa-bisanya aku tidak menaruh curiga, saat ia mengatakan akan membawaku kerumah Raga dan Kayyisa karena Raya sudah sangat rewel meminta bertemu dengan ku. Nyatanya, aku disini. Berpijak di rumah yang tak kala megahnya dari ruma Pak Bagas. Memperlihatkan perempuan paruh baya yang sudah tersenyum lebar padaku. Perempuan itu mendekat, mengambil ahli Raya. Seperti tidak ada tenaga lagi, aku menyerahkan Raya begitu saja. "Halo, Mbak Alena..." aku kira sosoknya akan berlalu begitu saja, ternyata tidak. "Mbak Alana sudah makan? Tadi belum diajak Mas Bagas singgah dirumah makan kan? Tadi Tante dibantu Kayyisa, masak-masakan kesukaan Mas Bagas. Ayam gulai, pakai telur balado, kentang dan tempe sambel." Paparnya. Tangan Pak Bagas yang berada dipinggangku bergerak kecil. Disana ibu jarinya mengusap pinggangku. Memberi syarat, bahwa aku tidak perlu setegang ini. Buktinya saja Pak Bagas berbisik, "Santai. Mama gak akan gigit kamu." "Belum, Tante. Ajakan saya ditolak. Malah saya dibawa kesini alih-alih ke warung ayam biasa langganan kita," jawabku. "Mau kan makan siang disini?" Tawarnya. "Jangan tegang gitu, sayang. Tante gak akan makan kamu." Persis seperti apa yang diucapkan Pak Bagas. Gak akan gigit kamu. Bukan bermaksud jual mahal, hanya saja bukan kah akan terlihat tidak sopan jika disini aku tinggal makan sedangkan aku sama sekali tidak membantunya memasak? "T-tapi, Tante, saya gak ikut bantuin Tante masak. Saya makan dirumah aja deh Tante." Aku menyikut lengan Pak Bagas. Mamanya langsung menerobos masuk diantara aku dan Pak Bagas. Menggandeng lalu menyeretku langsung ke meja makan. "Makan disini aja. Tante sama Kayyisa sudah masak banyak. Walaupun Tante tau Mas Bagas dan Kak Raga bakalan bisa ngabisin. Tapi tetap aja, Tante maunya kamu ada juga. Mereka itu perut karet, semua masuk. Apa aja dimakan. Bila perlu, meja atau kursi, kalau lembek, pasti ditelan juga." Mengingat aku juga sempat menyinggung seperti itu kepada Pak Bagas. Aku mengedarkan pandangan, mencari sosoknya. Ternyata benar sekali, Pak Bagas sedang sibuk berdiri didepan kulkas yang pintunya sudah dibuka. Entah apa yang dicarinya, aku pun tak tau. "Apy culi es klim aku lagi, Oma!" Seru Raya kuat, mengagetkan ku. "Mana ada! Apy cuma ngadem aja. Apy gak ngapa-ngapain." Pak Bagas bahkan lebih memasukkan kepalanya. "Dingin!" "Benelan dingin, Apy?" Pak Bagas mengeluarkan kepalanya, ceringan jahilnya keluar. "Dingin, enak, adem. Mau coba?" Tanya Pak Bagas yang diangguki oleh Raya. "Mau mau mau mau! Mau kayak Apy juga, Mama..." ujarnya pada Mamanya. Kayyisa menggelengkan kepalanya. "Gak, nanti Kakak sakit." "Bental aja, Mama..." Didalam gendongan Omanya, Raya meronta meminta turun. Membuat Raga harus sigap takut Mamanya tidak sanggup menahan badan kecilnya. "Apy gak ngapa-ngapain, Nak. Disini aja, sama Oma dan Amy. Ya, Nak?" Bujuk Raga. Dengan jahil, Pak Bagas mengeluarkan satu bungkus ice cream, membuka plastiknya lalu menjilatnya tanpa rasa bersalah. Aku menggeleng, apa Pak Bagas sejahil ini terhadap Raya? Apa Pak Bagas bertingkah seperti ini hanya didepan orang-orang terdekatnya? Padahal, jika bersama orang lain, ia akan memasang ekspresi secuek mungkin, tidak ingin sentuh, bahkan untuk menatap matanya saja, sudah bikin jiper duluan. "Apy kamu otaknya sudah sengklak, Nak. Jangan ditiru. Lagian semalam Kakak sudah janji kan sama Papa buat gak mau minum ice cream lagi?" Raya menekuk wajahnya, kedua matanya mulai berair. "Kalau sakit lagi kayak kemarin gimana? Katanya sayang sama Mama, gak mau bikin khawatir Mama." Raya merentang tangannya, airmatanya mulai mengalir. "Mama..." cicitnya. Kayyisa yang sedang menata piring, langsung terkesiap. Mungkin terlalu fokus, sehingga tidak sadar apa yang terjadi pada anaknya. "Loh, kenapa, Kak?" Tanya Kayyisa pada Raga. Raga mengedikkan bahu, namun matanya tertuju pada Bagas yang masih melahap ice creamnya hingga kini mau habis. "Lihat itu Mas-mu!" Kata Raga tidak suka. Kayyisa hanya tersenyum geli, mengambil ahli Raya. "Maaf, Mama..." Raya menyembunyikan wajahnya diceruk lehernya. Kayyisa mengusap-ngusap punggung Raya, membawanya duduk terlebih dahulu dimeja makan lalu kami pun ikut menyusulnya. "Gak apa-apa, Kak. Jangan nangis lagi," ucap Kayyisa kelewat lembut. Aku mendudukkan diriku disamping Kayyisa. Sungguh gemas ketika wajah cantik Raya harus dibanjiri air mata. Apalagi hidung merahnya. "Kakak kan baru sembuh. Kalau minum ice cream lagi, terus sakit, Kakak mau?" Aku ikut menyisir rambut Raya, menghalau anak-anak rambut yang mulai menusuk matanya. "Makanya Kakak harus sembuh dulu, supaya bisa makan ice cream lagi kayak Apy," ujarku. Mencoba ikut menenangkan. "Memangnya ini Kakak belum sembuh Amy?" Cicitnya lagi. Aku menyentuh dahinya dengan punggung tangan ku, "Duh, masih panas," kataku pura-pura terkejut. "Belalti kalau panas, masih sakit ya, Amy?" Ucapnya diiringi nafasnya yang tersengal-sengal akibat nangis. Aku mengangguk. Kedua tanganku menyeka pipinya yang masih basah. "Sembuh dulu ya, Kakak. Kalau sudah sembuh, pasti dibolehin makan ice cream lagi sama Mama. Iya kan, Ma?" Kini pandanganku beralih pada Kayyisa. "Iya, Mama?" Tanya Raya untuk memastikan. "Iya, boleh. Tapi jangan sering-sering. Satu minggu, cuma boleh dua kali." Mendengar ucapan Mamanya, Raya akhirnya tersenyum. "Mama sama Amy sama-sama cantik. Laya mau sama Mama sama Amy aja, supaya bisa ketulalan cantiknya." Aku tergelak, "Gemes banget anakmu, Ay." "Buatnya pakai cinta dan kasih sayang, Mbak." "Aku kirain pakai gaya apa gitu..." Kayyisa mengerling jahil, "Kalau masalah itu, aku ikut aja, Mbak. Soalnya banyak. Aku cuma bisa ikut Kak Raga aja." Aku tertawa, begitu pula Kayyisa. Raya yang menatap kami bergantian, sejenak terdiam. Lalu ikut tertawa menyusul kami. Wow! Aku tidak menyangka hanya karena hal sederhana begini, rasanya aku bisa sebahagia ini. Aku juga tidak mengerti, ternyata memilih masuk kedalam hidup Pak Bagas, rasanya sangat menyenangkan. "Wah... seru banget. Oma mau nimbrung dong..." Mama Pak Bagas sudah berdiri dibelakangku. Meletakkan kedua tangannya dibahuku. "Oma boleh ikut, kalena Oma cantik. Yang gak boleh, Papa sama Apy, kalena Papa sama Apy ganteng, bukan cantik." Setelah acara tawa tersebut, kami akhirnya memulai makan siang. Papa Mas Bagas tidak ikut karena harus keluar kota. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Baik Mama dan Para pekerja di rumahnya, tidak sekalipun memandangku asing atau risih. Mereka memperlakukanku layaknya seorang perempuan yang sedang diperjuangkan hatinya oleh majikannya. Mereka menghormatiku, persis seperti mereka menghormati Kayyisa. "Enak, Al?" tanya Mama Pak Bagas. "Enak Tante." "Kayyisa emang sehebat itu. Pantes saja Kak Raga perutnya jadi buncit begitu. Dikasih asupan terus." Aku sangat menyukai ketika mendengar Mamanya memanggil anaknya sendiri dengan sebutan Mas Bagas dan Kak Raga, sangatlah mengagumkan. Aku menyukainya. Apalagi ditambah pujian untuk Kayyisa yang tidak ada habis-habisnya. Wah, apakah rasanya akan sebahagia mendengarnya jika aku pun ikut dipuji seperti itu? "Alana pinter masak?" Aku terdiam. Apakah aku harus jujur atau bohong? Demi menyenangkan hatinya, aku tinggal jawab aja bisa. Tetapi jika meminta pembuktian bagaimana? "Maaf, Tante... Alana gak pinter masak. Tapi Alana bisa masak air kok, masak mi instan juga." Cengiranku keluar. "Terus dirumah yang masak siapa, Mbak?" Tanya Raga. Aku tidak merasa kesal ketika ditanya seperti itu. Mungkin Raga hanya ingin memastikan, apakah Mas-nya akan hidup enak atau tidak, jika kelak bersanding denganku. "Mama sama Ibu yang kerja dirumah. Aku dirumah taunya makan doang. Paling ngerusuhi Papa dikantornya. Kalau weekend bantuin Mama ngebersihin tamannya. Malamnya nge-drakor sampai pagi. Mama selalu bilang, Alana lebih baik gak usah muncul deh didapur, bisa-bisa kebakar dapur Mama karena kamu." "Kok bisa Mamanya bilang gitu?" Tanya Mama Pak Bagas. "Aku pernah disuruh masak air, Tante. Aku tinggal nge-drakor. Biasanya aku pake alarm gitu, taunya aku lupa. Jadi deh, gosong. Sampai tempat masakan airnya penyok," pungkas ku jujur. Aku tak mau menyembunyikan sesuatu. Jika jawabanku tak memuaskan untuk mereka, yah sudah. Aku tak bisa berbuat apa-apa lagi. Aku hanya ingin diterima bagaimana orangtua sekaligus para pekerja dirumah menerimaku. Tanpa ku sangka, balasan selanjutnya yang terdengar olehku dari Mamanya adalah... "Kalau misalnya Tante ajarin masak mau?" Aku melebarkan kedua bola mataku. "Seriusan, Tante?" "Mbaknya sering bawa kesini ya, Mas. Supaya Mama ajarin." Ujar Mamanya pada Pak Bagas. Aku tidak menyangka. Aku kira Mamanya akan memandangku tak suka. "Jangan khawatir, Mbak, Kayyisa dulu juga kayak begitu. Jangankan masak air, ngidupin kompor aja gak bisa. Sampai Mama geleng kepala." "Oh iya?!" Mas Bagas berseru senang, "Iya, Al. Pertama kali dibawa Raga kesini, Kayyisa gak bisa ngapa-ngapain selain ikutin Raga kemanapun Raga pergi. Raga masuk kamar, Kayyisa ikut. Raga main ketaman belakang, Kayyisa juga ikut. Untung Raga lagi gak iseng mau masuk kamar mandi, kalau iya... Wasallam deh..." Kayyisa tersenyum, "Bukan gitu, Mas Bagas. Aku tuh dirumah gak pernah ngapa-ngapain selain tidur, makan, mandi. Sama kayak Mbak Alana, ke dapur juga dilarang sama Mama, bukan karena takut dapurnya kebakar, tapi emang gak mau lihat aku ada dirumah selain dikamar. Selain dikamar, aku gak boleh kemana-mana. Kayak dikurung. Makanya aku gak pernah nginjakkan kaki dimanapun, walaupun itu rumah Papa. Yang notabenenya seharusnya aku boleh berkeliaran kemanapun yang aku mau tanpa takut ketahuan Mama." Kayyisa menunduk, melihat gadis kecilnya yang mulai lahap memakan ayamnya, "Nasinya juga, Kak. Jangan ayamnya terus." Raya mendongak lalu mengangguk. "Waktu Raga bawa kesini, Kayyisa diem aja. Gak kayak kamu gini. Sampe Tante bingung mau ngomong apa lagi selain diem, sama kayak dia." "Jadi lomba diem dong, Ma? Pemenangnya siapa?" Raga terkikik geli. "Istrimu, lah. Mama mana tahan. Tapi sekarang uda banyak omong. Pinter ngelakuin apapun, pinter masak apalagi. Mama bangga. Mantu kesayangan Mama tuh. Awas aja ada yang sakitin. Mama gebukin." Kayyisa tersenyum malu. Saat kulihat, rona merah yah ada dipipinya, sudah menjalah ketelinganya. "Jangan nangis," sarkas Raga. "Aku gak nangis, Kak Raga. Apaan deh, gak jelas." "Tuh beleknya keluar dari kuping!" "Ishh!" Kayyisa memasang wajah seramnya. Suaminya itu tidak takut sama sekali. Duduk bersebarangan dengan kami, membuat Raga harus melemparkan satu kecupan berbentuk angin lewat tangannya. "Papa ngapain Mama?" Ujar Raya kelewat polos. "Kesurupan, Nak. Jangan dilihatin, nanti nular." Bukannya Raga, melainkan Pak Bagas. Perasaanku menghangat kala tatapanku jatuh pada bening bersih penuh binar bahagia dari wajah perempuan paruh baya tersebut. Anaknya memang dua, tetapi kesannya sangat ramai. Tidak ada ruang untuk sepi mengisi. Aku sudah ikut masuk dalam dunia Pak Bagas. Kini tinggal Pak Bagas yang akan ku ajak berkelana didalam duniaku. Bertemu dengan keluarga besarku. Jika memang memungkinkan untuk kami bersama dengan membawa restu yang tergenggam erat, maka dengannya, aku siap melangkah kejenjang yang lebih serius lagi. Jika suatu saat nanti, perbedaan itu masih saja datang menyapa, entah itu dari pihakku atau dari pihak Pak Bagas, maka ada kemungkinan aku harus mempertimbangkannya kembali. Ketika Pak Bagas mau berjalan beriringan denganku, tak sekalipun membiarkan aku merasa sendiri, maka aku harus mengapresiasinya. Ikut berjalan dengannya. Tetapi kalau Pak Bagas memilih mundur dan menyerah, aku tak boleh sakit hati. Sebab aku mengerti, jika disatu hubungan hanya ada satu orang yang berjuang, maka hubungan yang disebut cinta itu akan mati. Membawa kosong dan hampa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN