Part 22

2370 Kata
"Terus sekarang sayang ini dimana?" "Masih di kamar, rebahan, males bangkit. Lengket banget badannya ketempat tidur. Mana hujan lagi. Mendukung banget buat nge-drakor." Pak Bagas terbahak, "Emang sudah berapa pama gak nge-drakor?" Aku menjeda jawaban ku. Berpikir sejenak, "Lama banget, sebulanan kayaknya. Episodenya uda bertumpuk banget, ketinggalan deh pasti. Apalagi ada yang baru lagi." Aku menghembuskan nafas lelah. Sudah 4 minggu aku melewatkan hari tanpa menonton drama. Maka sudah 4 minggu pula aku melewatkan 8 episode dari drama tersebut. Yang dimana 1 minggu hanya mengeluarkan 2 episode. Bukan hanya itu saja, aku juga melewatkan beberapa drama yang berjudul baru. Sungguh menyesakkan. "Ya sudah, batalin aja janjinya sama Mama. Besok-besok kan masih bisa." Batalin katanya? Gak mungkin lah. "Enak aja, gak mau ah. Bisa-bisa Tante Lina menghapus saya dari list calon mantunya. Serem." Ini hari Sabtu. Sabtu yang biasanya aku habiskan dengan berleha-leha kini berubah menjadi penepatan sebuah janji masak-masak dengan Tante Lina--- Mama Pak Bagas." Pak Bagas lagi ke Malang, menyusul Papanya. Sudah tiga hari semenjak hari terakhir aku bertemu dengannya. "Bukan karena saya gak ada disana kan, makanya sayang jadi males gini?" Sayang... mendengarnya aku tersenyum geli. Panggilan darinya berubah total, dari kamu menjadi sayang. Cukup mengagetkan saat mendengarnya. Tetapi aku harus memahaminya. Mungkin ia hanya ingin mengingatkan dirinya, bahwa ketika ia sedang berhadapan denganku, maka ia akan selalu merasa terjerat oleh seseorang yang selalu ia sayangi. "Ih pede banget! Ya enggak lah. Ada atau enggak adanya Bapak, saya harus menepati janji saya. Janji itu utang." Cukup panggilan kamu yang berubah, saya dan Bapak tak boleh ikutan. Aku sudah terlanjur menyukai dua kata tersebut. Ada makna tersendiri dibaliknya. "Janjinya jam berapa?" "Jam sepuluh, dan ini masih jam delapan. Masih ada dua jam lagi," ujarku. Memindah posisi ponsel ditelinga satunya lagi. "Rebahan aja dulu. Kalau masih ngantuk, tidur aja. Jam sembilan saya bangunin lagi." "Saya tidurnya kayak orang mati. Gak bakal denger kalau bukan karena Mama yang gedor-gedor pintu kamar. Minta tolong Mama, malas banget. Pasti ngomel." "Sayang maunya gimana dong?" Pasrahnya. Terdengar suara grasak-grusuk disana. Entah apa yang sedang ia lakukan, aku pun tak tau. "Rusuh banget, lagi ngapain sih?" "Lagi ngantuk aja. Pengen tidur lagi, tapi pacar saya sepertinya sedang tidak mau ditinggal." Ye... bisa ae duda. "Bilang aja kangen," godaku. "Yaiyalah, kangen. Masa bisa saya menghalau pikiran saya kalau didalamnya itu terdapat pacar saya yang cantik ini?" Tidak ada yang perlu dijelaskan kembali. Semakin hari rasanya semakin menyenangkan. Ibarat taman yang setiap hari di siram juga di beri pupuk, bunga-bunga yang hidup di taman tersebut semakin tumbuh dengan mekar. Tidak satupun bunga yang rusak atau patah, tidak satupun hama atau hewan datang mengganggunya. Pak Bagas sepertinya merawat bunga tersebut dengan baik dan benar. Kata cantik yang selalu tersemat jika bersamaku, tidak sekalipun ia lupakan. Sepertinya itu kata wajib yang ia lontarkan. Entah karena aku beneran cantik atau hanya ingin membuat perasaan ku menjadi lebih senang. "Duda ganteng, lagi cosplay jadi anak abg nih ceritanya?" Walaupun aku tau Pak Bagas tidak akan bisa melihat kerlingan jahil ku, tetapi aku tetap memasangnya. "Saya harus mampu mengimbangi pacar saya, agar tidak terlihat tua. Saya selip sedikit, pasti ada aja yang nikung. Karena emang pacar saya secantik itu, seindah itu, seistimewa itu. Saya aja sampe pengen tiap hari bersamanya. Melihat senyumnya, mendengar tawanya, menatap matanya, menyentuh kulitnya, menggandeng tangannya, juga sampai memiliki dirinya seutuhnya. Saya pengen." Lihatlah, pujian tidak akan terhenti sampai sesi teleponan ini berakhir. Siapa yang bisa menolak, jika ia saja selalu seperti ini? "Mau makan aja ah. Laper. Cacing diperut saya sudah meronta minta dikasih asupan." "Nanti kalau urusannya sudah selesai, saya telepon lagi ya? Hari ini kegiatan saya gak begitu banyak, tapi memungkinkan memakan waktu yang banyak. Nanti kabarin lagi ya, sayang." Aku mengangguk. Setelah ucapan salam dan beberapa kata untuknya, membuat sesi telepon ini berakhir. Dan tentu saja, Pak Bagas tidak akan pernah mau memutuskan hubungannya terlebih dahulu, jika bukan aku yang melakukannya. Sama seperti jika ia ingin meneleponku. Pak Bagas akan bertanya lebih dahulu, apakah aku bisa atau tidak. Jika aku mengatakan bisa, ia akan langsung meneleponnya. Jika aku masih belum membalasnya, Pak Bagas tidak akan memilih menunggu. Dan jika aku mengatakan tidak, Pak Bagas tidak akan marah, merajuk atau sebagainya. Pak Bagas selalu memahamiku, melebihi aku memahami diriku sendiri. "Mama, nanti Alana mau ketemu sama Tante Lina-" "Mamanya Bagas?" Aku berdehem. Baru selesai mencuci tangan, aku berbalik, menenggak habis jus kuini dengan cepat. "Ngapain?" "Cooking cooking, Ma..." Aku menaikkan sebelah alisku, dan ya... Mama memandangku tak percaya. "Takut banget dapur mereka kebakar." Mama bergidik ngiri. "Kamu gak pernah masuk dapur, sekalinya masuk, malah dapur orang. Bagaimana Mama tidak terkejut, Maemunah." Aku terkikik geli. Mama pasti tidak percaya kalau kemarin aku sudah makan dirumah Tante Lina. "Besok-besok Mama tagih penjelasan ke kamu. Jangan sampai lupa." Aku mangut-mangur meng-iakan. Lagian kalau sekarang waktunya, tidak akan sempat. Aku harus bergegas pergi. Sudah setengah sepuluh. Aku gak boleh telat. Aku harus meninggalkan kesan baik untuknya. Masalah berjodoh atau tidak dengan anaknya, lihat nanti. Kalau semesta menginzinkan, ya Alhamdulillah. Kalau tidak, ya harus apa. "Kalau Raya tau Mbak mau kesini, pasti anaknya heboh. Baru aja dibawa pergi sama Papa Mamanya. Raga cuma nitipin soto dua porsi. Pengen coba katanya." Begitu memarkirkan mobil dihalaman rumah Tante Lina, dan memperlihatkan batang hidungku, Tante Lina langsung merangkulku. Senyuman sudah terpatri manis dibibirnya. Hanya menggunakan celana kulot berwarna hitam dengan atasan kemeja berwarna krem, memperlihatkan betapa cantiknya Tante Lina. Rambutnya digulung keatas, memperlihatkan kulit-kulitnya yang terlihat jauh dari keriput. Pantas saja Pak Bagas dan Raga seganteng itu, ternyata Mamanya saja seluar biasa ini. Apa lagi Papanya, ah... aku tidak sabar bertemu beliau. Pasti tidak kalah ganteng dari Pak Bagas. "Raya sering nginap disini, Tante?" "Semenjak Kayyisa hamil, lumayan sering. Mbak tau cerita tentang keluarga Kayyisa?" Tau-tau Tante Lina bertanya seperti itu. Aku ragu mengangguk. "Selain Tante, Om, Mas Bagas dan Kak Raga, gak ada lagi yang bisa jagain Kayyisa. Mama tirinya gak pernah mau bertemu denganya. Kakaknya pergi, memilih menetap diluar negeri setelah Papanya meninggal. Kayyisa itu selalu dianak tirikan, sedangkan anak kandung dari Mama tirinya, selalu dianak kandungkan. Padahal mereka semua tau, penyebab Mamanya meninggal bukan karena melahirkan dia. Tapi emang sudah saatnya saja." "Mereka menutup matanya rapat-rapat. Mereka gak mau mendekat dan mengenal Kayyisa semestinya. Saya saja bangga loh punya menantu seperti dirinya. Kenapa mereka enggak?" Aku tersenyum simpul, pasti susah menjadi Kayyisa. Sungguh hebat, perempuan itu bisa bertahan sampai saat ini. "Maaf, Tante, tapi kenapa Tante mau menerima Kayyisa setelah Tante tau semua kekurangannya dia?" Tante Lina mengeluarkan satu persatu bahan masakan dari dalam kulkas. "Mbak ada alergi apa? Supaya Tante tau mau masak apa." "Seafood, Tante." "Bantu Tante masak soto ya, Mbak?" Emangnya aku bisa apa selain mengangguk? "Tante hanya ingin memperlakukan mereka selayaknya anak Tante ingin diperlakukan dengan baik. Kalau nanti Tante sinisin, Tante gak sukain, pasti berbalik lagi ke anak-anak Tante. Mas Bagas dan Kak Raga itu jarang banget bawa teman ceweknya kerumah. Mas Bagas 2. Satu namanya Sarah, mantannya. Satu lagi Mbak Alana. Kak Raga juga 1. Kayyisa saja. Lainnya dipacarin tapi gak pernah dibawa kerumah. Alena bukan teman ceweknya Mas Bagas, Om dan Tante yang jodohin, jadi otomatis kami yang bawa." Dengusan geliku keluar saat Tante Lina menyebutkan bahwa Raga cuma membawa 1 perempuan kerumah ini. Aku kira bakal banyak banget, sebab Pak Bagas mengatakan kalau Raga itu paling doyan gonta-ganti pacar. Ternyata yang ingin di ajak menetap cuma satu, Kayyisa. Lainnya numpang lewat. "Jujur saja, Tante nerima Kayyisa karena saat itu Tante merasa kasihan. Dia seperti anak yang kehilangan arah, tidak tau jalan pulang, tida ada tempat untuk tinggal. Waktu Raga ceritain semuanya, baru Tante mengerti, dibalik senyum dan tawanya, ada luka yang hebat didalamnya. Tante tau, untuk mendapatkan Kayyisa, tidak semudah itu. Raga harus terseok-seok menerjang kerasnya hati Kayyisa, yang pada saat itu tidak ingin dimiliki oleh siapapun. Kehancuran yang diciptakan dirumahnya, membuatnya menjadi es yang keras juga batu yang pembangkang. Sampai pada saat itu, Alena ikut turun tangan, dengan sabar dia mencoba melelehkan es tersebut. Dan jadilah seperti ini. Dia berubah menjadi sosok perempuan yang hebat, istri yang pinter juga ibu yang menakjubkan. Gak cuma Raga dan Raya, kami semua sangat bangga memilikinya." Tidak heran juga jika anak-anaknya sebaik itu. Ternyata Mamanya juga seperti ini. "Tante bukan bermaksud membanggakan Kayyisa didepan Mbak. Waktu Mas Bagas dan Kak Raga bertanya, Tante mau menantu seperti apa setelah Alena meninggal, Tante bilang, Tante gak mau muluk-muluk. Gak perlu dari keluarga terpandang, karir yang bagus, harta yang berlimpah, rupa yang cantik dan badan yang bagus. Karena semua itu bisa hilang dalam satu kedipan mata. Tante cuma mau mereka ikut membantu Tante menjaga, merawat, mencintai dan menyayangi anak-anak Tante, persis seperti yang Tante lakukan. Kalau dikasih seperti tadi, Tante mau, tapi itu hanya bonus bagi Tante." "Kalau gak pande masak, Tante tetap mau?" Setelah selesai memasukkan bumbu dan santan kedalam panci. Tante Lina mengaduknya, saat ku tanya kenapa harus sering di aduk, Tante Lina menjawab agar santannya tidak pecah. Tak lupa pula beberapa ayam goreng yang sudah di cuil. Tomat, daun bawang, bawang goreng sudah tersedih diatas meja. Tinggal mie putih, aku sedang merendamnya. Om, Pak Bagas, Raga dan Kayyisa lebih suka memakai mie putih. Hebat sekali, bahkan Tante Lina memasak makanan yang mampu dilahap oleh semua anggota keluarganya. "Mbak lagi menanyakan tentang diri Mbak, ya?" Ketahuan, aku meringis. "Kalau Tante gak mau, pasti hari ini Mbak sudah tidak disini. Tante itu mencari menantu, bukan tukang masak, Mbak." Soto Ayam berkuah Santan, hari ini menjadi menu utama. Tak lupa, ada beberapa butir telur rebus sebagai pelengkapnya. "Om dan Mas Bagas pulangnya besok. Hari minggu Tante gak masak. Jadi mereka bisa merasakannya besok. Tinggal dipanaskan saja." Masakan Mama rasanya tidak ada duanya. Masakan Mama selalu terasa pas di lihat. Apapun itu. Walaupun terkadang rasanya kurang pas karena Mama sempat mengikuti resep dari internet, tapi tetap aku memakannya selahap mungkin. Aku dan Papa sepakat untuk tidak berkomentar apapun yang di masak Mama. Cara Mama mengetahuinya adalah, saat Mama sendiri yang merasakannya. Kemudian Mama akan menyadarinya bahwa kurangnya ini, lebihnya ini. "Mama pengen banget ketemu Raya, Tante." "Tante tau. Kemarin waktu ketemu, langsung bicarain tentang Raya. Si gembul itu memang terkenal banget, Mbak. Bukan cuma disini aja, tapi diluar sana juga." Pesona Raya yang tidak main-main memang sangat susah buat di lewati begitu saja. EMANG BENER DEH, SATU KELUARGA PADA CAKEP-CAKEP SEMUA. BIBIT UNGGUL SEMUA. Hadeh.... Tepat pukul 2 siang, setelah makan, ikut membersihkan piring-piring kotor. Aku pamit undur diri. "Mbak, kalau punya waktu luang lagi, singgah ya, Mbak. Semoga gak kapok sama Tante." Aku tertawa, menggelengkan kepala. "Salah banget kalau Tante yang bilang gitu. Seharusnya aku. Semoga Tante gak kapok ngundang aku." "Gak dong, Mbak. Tante seneng-seneng aja malahan, jadi ada temennya. Hati-hati ya, Mbak. Jangan ngebut. Titip salam sama Mama dan Papa. Mas-nya juga dikabarin, Mbak." Aku tak akan lupa, Tante. Tenang aja. Apala lagi yang terakhir, sudah diingatkan lebih dulu. Setelahnya tidak ada jadwal tertentu, Mama dan Papa sedang pergi ke pernikahan anak temennya. Dyra, Lara dan Jovita sibuk tak tau kemana. Jadilah aku sendirian begini. Tidak begitu sepi, hanya menikmati hari tanpa siapapun disisiku. Mungkin aku sedang disuruh quality time bersama diriku sendiri. Lantas aku cukup menikmatinya. Perut sudah terisi penuh. Bensin juga penuh. Apa yang perlu dipusingkan? Aku berkeliling kota, menikmati jalanan yang kulewati dengan penuh takjub. Bagaimana bisa para pengendara motor berlalu lalang begitu saja tanpa memakai jaket atau helm? Sedangkan matahari sedang terik-teriknya. Bagaimana bisa para pengemudi mobil sabar menanti melewati macet? Padahal disini, dibalik kemudi, aku mulai merasa jengah sebab satu sentipun, mobil ku tidak bergerak sama sekali. Huft... Aku mengganti lagu yang sedang terputar. Terdengar lebih slow dari sebelumnya. Lirik demi lirik ku nyayikan dengan fasih. Kepalaku bergoyang menikmati musiknya. Seakan menghalau rasa jengah. Lagu berikutnya juga begitu. Dan ketika lagu dari Mahalini yang berjudul Sisa Rasa terpasang. Aku terkesiap, sebab saat lantuan pertama terdengar, saat itu pula aku kembali melihat sepasang manusia yang sedang saling tertawa diatas motor. Melihatmu bahagia, satu hal yang terindah Anugerah cinta yang pernah kupunya Kau buatku percaya ketulusan cinta Seakan kisah sempurna kan tiba Tidak terlalu jauh dariku, Andre dan Sandra datang menyapa tatapanku. Keduanya terlihat saling melempar lelucon. Sampai-sampai Andre menahan perutnya karena tawa. Masih jelas teringat pelukanmu yang hangat Seakan semua tak mungkin menghilang Kini hanya kenangan yang telah kau tinggalkan Tak tersisa lagi waktu bersama Aku menerawang jauh. Mengorek kembali memori tentang kebersamaan ku dan Andre. Pelukan, genggaman dan kecupan didahi. Aku memegang tangan kanan. Tangan yang selalu Andre genggam erat saat ingin menyebrang. Tangan yang selalu Andre genggam saat berjalan bersama. Bagaimana aku bisa melupakannya? Sedang ia begitu banyak memberi warna dihari-hariku yang monoton. Mengapa masih ada Sisa rasa di dada Di saat kau pergi begitu saja? Mampukah ku bertahan Tanpa hadirmu, sayang? Tuhan, sampaikan rindu untuknya Aku memukul-mukul d**a, saat sesak itu datang kala Andre dengan mudahnya membuat Sandra tersenyum lebar. Seakan memberi tau dunia, bahwa laki-laki itu yang Sandra pilih sebagai pemenangnya. Sudah lama berlalu, tetapi kenapa sakitnya masih terasa? Seperti baru saja terjadi. Padahal kemarin, aku sudah meyakinkan diri bahwa pertemuan itu adalah pertemuan yang tidak menyimpan dendam. Ternyata aku salah, aku egois. Ada sepercik rasa marah, sedih dan kecewa bercampur aduk menjadi satu. Bagaimana bisa mereka sebahagia itu, sedangkan aku menderita dalam luka yang teramat dalam? Bagaiamana bisa mereka tertawa selebar itu, sedangkan aku terjatuh didasar jurang yang terdalam? Bukankah mereka juga harus merasakan hal yang sama? Sakit harus dibayar dengan sakit. Begitu pula nyawa harus dibayar dengan nyawa. Walaupun sakitku sampai tidak menghilangkan nyawaku, tetapi sama saja. Perasaan ini masih terus mencekamku. Aku mencengkram stir mobil dengan kuat. Mencoba meluapkan rasa sakit. Tetapi yang ada malah semakin sakit. Aku membenturkan kepalaku berulang kali, hingga terhenti saat mendengar suara notifikasi daei ponselku. Aku membukanya, Pak Bagas mengirim gambar dirinya yang tengah duduk berduaan dengan Papanya. Tiba-tiba saja air mataku mengalir begitu saja. Tidak sanggup membaca pesan yang ia kirimkan. Sayang, saya lagi di pantai sama Papa. Pantainya cantik, kayak kamu. Waktu saya berdoa menyebut nama kamu, tau-tau mendung. Matahari seperti menyembunyikan dirinya. Sebab kenapa? Ternyata matahari masih kalah jauh cantiknya dari kamu. Dia insecure. Kamu memang seluar biasa itu. Bagaimana bisa saya tidak memperjuangkan kamu? Sedang hati saya selalu terukir nama kamu. Sedang dipikiran saya selalu terselip wajahmu. Sejenak aku melupakannya. Melupakan sosok yang sedang sayang-sayangnya padaku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN