Part 23

2043 Kata
"Al, Bagas mana?" Aku mengedikkan bahu, memandangnya tak berminat. "Saya mencium aroma-aroma tidak sedap. Apa yang sedang terjadi? Apa saya sudah melewatkan sesuatu? Wah... jangan-jangan," laki-laki itu menutup mulutnya dengan telapak tangannya. "Jangan-jangan kalian udah... WOW! ASTAGA! SAYA GAK NYANGKA." Ia masih saja meracau. Mencoba menarik perhatianku. Aku tak memperdulikannya sama sekali. Tampilan menu yang menampilkan beberapa jenis makanan dan minuman terlihat lebih menggoda dari pada meladeni ucapannya. "Al, saya gak nyangka..." "Hm." Aku berdehem. "Kok bisa?" Langkahku terhenti, menunjuk salah satu gambar kopi yang tengah menggepulkan asapnya. "Saya mau yang itu, Mbak." "Bu Alana mau disini saja atau nanti saya bawain ke mejanya?" Sejenak aku terdiam. Dijam-jam seperti ini, kantin masih sunyi. Hanya ada beberapa orang yang sedang mengerjakan sesuatu atau hanya segedar menumpang makan dan minum. Tidak ada salahnya juga, dari pada di ruangan terus, sendirian, lebih baik disini. Sekalian menikmati udara segar. "Disini aja, Mbak. Saya dimeja pojok ya," tunjukku pada salah satu meja yang jauh dari jangkauan banyak orang. "Nasi merah ya, Mbak. Kuahnya sedikit. Pakai telur balado. Sayurnya terserah Mbak aja. Sekalian saya minta tolong bawain cuci tangannya ya, Mbak." Perempuan yang usianya tidah terlalu jauh diatasku itu lantas mengangguk sambil tersenyum. Sedangkan laki-laki yang sedari tadi mengekoriku tanpa henti, masih setia ditempatnya. Sepertinya ia sedang tidak ada kerjaan. "Baik, Bu," kini tatapannya pindah ke Pak Afif. "Kalau Pak Afif mau makan apa?" Pak Afif menahan tanganku yang hendak pergi meninggalkannya. "Saya es kopi s**u. Gak usah terlalu manis. Rotinya tolong di toast ya, jangan terlalu lama. Selainya pakai srikaya aja. Dua pasang, atas bawah." Setelah mengatakannya, laki-laki itu pergi berlalu begitu saja. Mentang-mentang bos, bisa aja berlalu sesukanya. Setelah sampai di meja tersebut, Pak Afif lebih dulu menarik kursi untukku. Kemudian miliknya yang posisinya bersebrangan dengan ku. "Ini kalian putus atau gimana? Tumben Bagas gak sama kamu. Biasanya nemplok terus kayak tokek," ujarnya. "Mana saya tau, emang saya Ibunya?" Pak Afif membulatkan matanya, mulutnya maju membentuk huruf O. "Upsi... ada yang sedang berantem nich. Hmmm, enaknya dipanas-panasin kali ya, supaya tambah seru." Aku memandangnya nyalang. Mengambil tisu sebanyak mungkin, meremasnya lalu melemparkannya. "Heh! Ini saya boleh marah gak sih? Saya bos loh, saya juga lebih tua dari kamu. Jangan mentang-mentang kamu pacar temen saya, kamu jadi seenaknya." Ujarnya setelah berhasil menangkap lemparanku. Aku mengedikkan bahu, terserah dirinya mau mengatakan apa. "Buset, gak terdistrak juga?" "Alana gemoy, jangan letih lesu lunglai gini dong." Pak Afif tersenyum lebar, memperlihatkan giginya yang putih dan rapi. Ganteng. Defenisi ganteng yang tidak perlu diapa-apain. Sama seperti Pak Bagas. Huh, bagaimana bisa orang-orang yang ada di sekitar Pak Bagas begitu menawan? Apa dari dulu sudah janjian? "Saya letih lesu lunglai lihat Bapak. Bapak bisa gak sih pindah meja. Tuh masih banyak yang kosong. Jangan disini sama saya. Saya lagi pengen sendiri." Pak Afif melipat tangannya kedepan d**a. Menaikkan kedua alisnya. "Ini kalau saya laporin, ntar saya yang dilaporin balik. Tapi kamu uda gak sopan-sopannya sama saya. Kamu mau ikut Dyra kemusuhan sama saya? Emangnya saya ada salah apa, Al, sama kamu?" Aku memutar bola mata jengah. Mulai deh dramanya. "Saya gak berantem, Pak. Pak Bagasnya emang masih diluar kota sama Papanya. Belum pulang," ujarku akhirnya. "Bukannya semalam seharusnya sudah pulang ya?" Sama sepertinya, aku pun tidak tau mengapa kepulangannya harus diundur. "Gak tau. Pak Afif beneran deh, pindah sana." "Kenapa saya-ehh... terimakasih ya, geulis..." Pak Afif langsung bangkit, membantu Mbak tadi menata pesanan kami diatas meja. Benar-benar playboy cap paku payung. Bisa-bisanya modus. "Geulis pisan euy. Sudah punya pacar, Neng?" Yang ditanya menggeleng. "Aduhai... maaf-maaf aja nih, Neng, sekarang hatinya Mas sudah diisi Neng Dyra. Tempat untuk Neng gak ada lagi. Coba cek toko sebelah aja ya, Neng. Mana tau masih ada lowongan." Dasar orang gila! "Pak Afif bisa saja," ujarnya lembut. Aku menatap Pak Afif jengah. Pantas saja Dyra tidak mau padanya. Ternyata begini bentukan aslinya. Setelahnya, kami berdua terhanyut dalam makanan masing-masing. Tidak ada yang besuara bahkan sedikitpun. Nasi merah yang sudah tercampur kuah, masih saja terasa hambar. Entah apa yang salah. Sayur dan telurnya pun begitu. Aku menghela nafas berat, menyesap kopiku pelan. Menikmati aroma yang biasanya membuatku tenang, kini ternyata tidak berguna sama sekali. Pak Afif terlihat lahap. Ia memakan rotinya dengan porsi besar. Mungkin karena rasanya yang enak. Lihat saja wajahnya, berseri-seri begitu. Sangat kontras saat menghadapi Dyra, keruh, kusut dan lesu. "Apa lihat-lihat!" Sarkasnya membuat aku mendengus geli. "Jangan terpesona, Al. Nanti Bagas marah." "Saya lagi bingung, Pak." Dengan sigap laki-laki itu memakan habis rotinya. "Bentar-bentar. Saya minum dulu. Takut keselek." Sesuai perintahnya. Aku menunggunya. Menunggu sampa ia benar-benar siap mendengar kebingunganku. "Tapi Bapak jangan bilang siapa-siapa ya, ini antara kita berdua aja." Pak Afif semakin memajukan badannya, "Waduh, Dyra juga gak boleh?" Aku menggeleng. "Dyra kalau pengen tau sesuatu itu pasti imut banget, Al. Saya gak bisa. Terlena saya." "Yaudah kalau gitu. Gak jadi," ujarku. "Eh! Jangan-jangan. Bercanda saya. Saya gak bakal kasih tau siapapun. Sesuai amanat." Aku melipat tangan diatas meja, begitu pula Pak Afif. Tatapanku terkunci padanya. Seperti sedang menghipnotisnya. Tetapi tiba-tiba... "Aduh sialaannnn jantung gueee!!! Cantik bangettt. Mana uda punya temen gue lagi! Maaf Dyra, Mas berpaling sebentar!" Serunya lantas membuat ku menyemburkan tawa. "Beneran saya secantik itu, Pak?" Pak Afif mengangguk, "Kamu gak sadar?" "Soalnya Pak Bagas sering bilang juga. Tapi karena saya pikir dia cuma pengen nyenengin saya saja, yaudah, saya iyain aja. Syukur deh kalau cantiknya emang beneran." Tanpa diduga Pak Afif menepuk tangannya. Ia tertawa, sekuat mungkin. Sampai-sampai kami menjadi bahan perbincangan orang-orang. "WOW!!!!" Sangkin lucunya, ia sampai hampir terjungkal. Aku dengan cepat menahan kursinya. "Santai woi!" Seruku. Tawanya terhenti. Yang tersisa hanya deru nafas yang tersengal-sengal. Sejenak ia terdiam. Lihat aja, wajahnya sudah berubah merah padam. "Kamu serius gak sadar? Gila! Seumur-umur, Bagas itu gak pernah bilang perempuan cantik selain Sarah. Bahkan Alena aja gak pernah. Tapi saya gak tau ya pas mereka lagi berdua gimana. Dan ini sekarang kamu? Jarang-jarang. Apalagi mujinya didepan orang rame." Seketika memori-memori tentang bagaimana ia memujiku didepan klien-kliennya berkeliaran di otakku. "Iya cantik. Asisten saya." "Emang cantik banget. Asisten saya ini." "Namanya? Jubaidah. Cantik kan. Asisten saya." Bayangin saja. Pernah suatu hari, aku tak begitu ingat siapa yang sedang dihadapi olehnya. Tetapi aku hanya sedikit mendengar, bahwa laki-laki itu anak dari salah satu klien Pak Bagas. Umurnya satu tahun diatasku. Saat ia bertanya nama ku siapa, Pak Bagas langsung sewot. Manatapnya nyalang. Jubaidah, dan ya... Pak Bagas mengatakan namaku Jubaidah. Aku meremas tangannya, sesaat ia hanya tersenyum miring, lalu tertawa. Sudah bagus-bagus namaku dibuat Alana, bisa-bisanya ia mengubahnya menjadi Jubaidah hanya karena satu hal, yaitu cemburu. "Bagas pernah cerita tentang Sarah gak sih, Al?" "Gak pernah. Tapi saya pernah sesekali mendengar gosip tentang Sarah dan Pak Bagas." "Oke. Berarti saya harus simpen itu rapat-rapat." Setelahnya, kami kembali terdiam. Hanya beberapa saat. "Andre, namanya Andre. Mantan saya. Putusnya karena selingkuh sama teman baik saya. Sudah lama saya tidak bertemu dengannya, sejak terakhir kali kami memutuskan untuk berpisah. Mungkin sudah dua atau tiga tahun yang lalu. Minggu kemarin saya kembali bertemu dengannya. Di Mall, ada Pak Bagas juga. Sedangkan Andre bersama Sandra, pacarnya, teman baik saya. Untuk pertama kalinya, setelah sekian lama memendam rasa sakit, saya tersenyum melihatnya. Entah mensyukuri karena mereka telah kehilangan anak pertamanya atau karena Andre cukup membuat teman baik saya bahagia. Saya tersenyum, saya tertawa. Saya mengenyahkan segala rasa benci, marah, sedih dan kecewa yang selama ini terpenjara didalam hari saya. Saya hanya melihat yang ada dihadapan saya adalah Andre, seorang laki-laki yang pernah membuat saya bahagai. Tetapi tidak dengan sakitnya." Aku menjeda kalimatku. Lagi-lagi harus menghembuskan nafasku dalam. "Semalam, secara tidak langsung, saya kembali lagi bertemu dengannya. Ditengah macetnya jalan, saya menemukannya sedang tertawa bersama Sandra. Entah apa yang mereka tertawakan, saya pun tidak tau. Tetapi saya marah. Kenapa mereka bisa sebahagia itu sedangkan saya pernah dibuat sesakit itu? Apa mereka tidak sekalipun mikir bagaiamana perasaan saya? Apa mereka kira saya selalu baik-baik saja setelah apa yang mereka lakukan ke saya?" Aku mengeluarkan unek-unekku. Walaupun aku tidak mengenal baik Pak Afif, tetapi aku yakin, Pak Afif bisa menyimpan keluhku ini rapat-rapat. "Setelah apa yang saya lakukan dengan Pak Bagas. Setelah apa yang telah kami janjikan untuk bersama. Semuanya seakan hilang dalam satu waktu. Sosok Pak Bagas tidak lagi terlihat. Yang ada hanya Andre, dan tentu saja aku sebagai Sandra yang sedang dibuatnya tertawa. Apa saya salah jika saya kembali mendendam?" Satu malaman aku bergelut dengan pikiranku sendiri. Aku mengabaikan Pak Bagas. Melewatkan makan malam, hanya untuk menerka-nerka, apa yang telah terjadi padaku. Tidak satupun jawaban itu ku temukan. Walaupun aku sudah berusaha untuk tetap mengingat wajah Pak Bagas, mengukir kembali namanya di hatiku, tetap saja, Andre kembali menjadi pemenangnya. "Saya rasa kamu sedang memikirkan hal yang dama dengan saya," balasnya. Setelah sekian lama hanya terdiam. "Maksudnya?" Tentu saja ada. Tetapi aku belum yakin. Tetapi jika memang jawaban Pak Afif selanjutnya persis seperti milikku, maka dengan berat hati, aku mengatakan iya. "Perasaanmu padanya belum selesai." Seperti bom yang dilemparkan tepat dibadanku. Aku melemas. Bahu ku merosot mendengarnya. Jawabannya, persis seperti milikku. Perasaanku dengannya belum selesai. "Saya gak akan menuduh kamu dengan sebuah tuduhan yang terdengar aneh, bahwa kamu menjadikan Bagas sebagai pelarian mu. Tentu saja itu sakit. Saya juga akan berbicara bukan sebagai teman Bagas ataupun atasanmu. Disini, yang sedang duduk ini adalah temanmu. Dengerin saya, Al..." Kami terlihat seperti dua orang manusia yang tengah membicarakan sesuatu yang penting. "Gue rasa lo perlu ruang untuk ngobrolin ini sama mereka. Pasti ada alasan kenapa dia selingkuh dari lo. Pasti ada alasan juga kenapa Sandra ngekhianatin lo. Semua ada alasan, Al. Gak serta merta karena itu aja. Coba lo inget-inget, apa kesalahan yang uda lo perbuat sampek mereka tega ngelakuin ini ke lo. Kalau memang lo sendiri gak nemu jawabannya, tanya ke mereka. Supaya tau. Jangan biarin kesalahan itu merubah lo menjadi pendendam. Syukur Tuhan ngasih tau lo dari awal, kalau gak. Alamat lo masih terjebak sama dia." "Jangan kasih tau Pak Bagas ya, Pak?" Cicitku malu-malu. "Kenapa? Lo uda pacaran sama dia?" "Belum. Jaga-jaga aja. Saya gak mau buat hatinya patah." "Kenapa gak mau? Sedangkan dia belum punya lo. Kesannya lo egois banget." Janji adalah janji. Walaupun Pak Afif teman baik Pak Bagas, aku tidak akan membeberkan rahasia bahwa kami sudah pacaran. "Saya gak yakin bakal tahan, Pak. Saya takutnya saya malah semakin tersudutkan." "Kalau merasa gak ada yang salah dari diri lo, kenapa harus takut? Seharusnya yang takut itu mereka bukan lo. Lo tinggal diem, duduk anteng, dengerin mereka. Lo sendiri bilang mereka uda kehilangan anaknya. Anggap saja itu sebagai karma. Tuhan sedang memberi mereka pelajaran. Lo harus bersyukur banget, Al, putusnya hubungan lo sama Andre, sakitnya lo cuma patah hati. Jauhnya lo sama Sandra, cuma karena pengkhianatan. Lo duduk didepan gue sekarang, jauh terlihat lebih cemerlang. Cantik, baik, lembut, ramah. Andre dan Sandra nyesel ngelakuin itu ke lo. Dan lo disini semakin menyerupai matahari, bersinar cerah. Disisi kanan lo ada Bagas, disisi kiri lo ada sahabat-sahabat lo. Didepan ada orangtua lo. Dibelakang ada pendukung-pendukung yang secara tidak langsung berada didekat lo, termaksud gue. Lo pasti bisa. Tuhan tidak akan menguji hambanya melewati batas kemampuannya. Lo percaya itu kan?" Setelah mengatakannya, Pak Afif bangkit. Merapikan jas dan dasinya. "Muka gue masih cakep kan, Al?" "Masih. Mau kemana, Pak?" "Meeting. Gue cabut duluan ya. Gue tunggu kabar baiknya gimana." Dan akhirnya Pak Afif meninggalkanku seorang diri. Aku termenung cukup lama. Hanya sedikit bercerita dengannya, seakan-akan beban yang beratus-ratus kilo berada dipundakku, hilang begitu saja. Ternyata seluar biasa ini efeknya. Aku tidak menyangka. Selama ini aku hanya menyimpannya sendiri. Yang kucerita pada orangtua dan sahabat-sahabatku, hanya kasarnya saja. Namun, tidak dengan saat ini. Rasanya jauh lebih menenangkan. Ada rasa haru dan senang terselip begitu saja. Padahal tadi aku sempat tidak menginginkan keberadaannya. Untung saja Pak Afif memaksa agar duduk disini. Kalau tidak, sudah pasti aku masih berdiam diri melawan keributan yang ada dipikiranku sendiri. Diam-diam aku berdoa. Menyebutkan nama Pak Afif diantaranya. Semoga saja kelak, laki-laki itu disandingkan dengan perempuan yang baik, sama sepertinyanya. Jika memang perempuan itu bukan Dyra, tak apa. Tetapi alangkah baiknya itu Dyra. Diam-diam juga aku berharap bahwa ini hanya rasa yang singgah. Bukan rasa yang menetap. Sebab menginginkan kisah yang kembali terulang seperti sediakala. Diam-diam aku juga merutuki Pak Afif. Bisa-bisanya ia pergi begitu saja tanpa meninggal uang sepeser pun untuk membayar roti dan kopinya. Kurang asem.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN