Part 24

1232 Kata
"Udah gue duga. Gue itu dari awal uda ngeh, Al, lo gak bakal bisa move on begitu aja. Dari denger cerita lo, betapa hebatnya dia disetiap perjalanan lo, gue bisa nebak. Jangan mentang-mentang gue diemin, lo ngelunjak. Udah syukur-syukur lo dikasih berlian eh... taunya milih cokelat batangan. Gak seimbang." Perempuan cerewet yang bernama Dyra itu asik mengomeli ku. Ada dasar ketidakterimaannya terhadap ku yang tiba-tiba saja datang dengan segala keraguan. Jangan lupakan, Lara dan Jovita. Mereka berdua juga ikut. Namun sedikit lebih santai. Tidak seperti Dyra yang menggebu-gebu. "Sebagai seseorang yang pernah diselingkuhi, menurut lo gue salah, Lar?" Tanyaku pada Lara. Perempuan itu butuh beberapa detik menjawabnya. Setelahnya ia mengatakan, "Konsep kita beda, Al. Gue diselingkuhin karena gue emang gak ada waktu buat dia. Gue juga anaknya susah dihubungi. Lo tau sendiri, ada notif aja gue biarin. Balasnya nanti. Itupun kalau ingat. Kalau gak? Nganggur lah." "Lo itu kebiasaan, Lar. Waktu tau itu alsannya si Kepin putus dari lo. Gue gak nyangkal dih. Kekurangan lo emang itu. Gak semua orang sabar nunggu lo. Jangan gini terus lah. Kita aja chatnya sering banget lo anggurin. Untung kita ngerti lo bentukannya emang suka begitu." Tambah Jovita. Didalam ponselnya, hanya ada beberapa kontak yang akan dengan cepat ia balas. Pertama orangtuanya, kedua Pak Bagas dan ketiga kantor. Hanya itu. Pak Bagas berada di ururan kedua, karena perempun itu tidak sekalipun ingin dimarahi sama Pak Bagas. Ia hanya ingin patuh, menuruti semua permintaannya, menjauhi semua larangannya. Kalau-kalau saja tidak, sudah pasti, Pak Bagas akan memecatnya. Karena Pak Bagas tipikal seseorang yang tidak bisa menunggu. Apalagi menunggu balasan chat dari bawahannya. "Apa gue temuin aja kali yak? Untung-untung bisa bikin hati gue adem," kataku. "Lo gak izin Pak Bagas dulu?" "Gak lah. Ngapain. Masalah gue ini, dia gak perlu tau, Jov. Lagian dia bukan siapa-siapa gue. Santai aja." Santai saja kataku. HAHAHAHAHA! Omong kosong. Sudah pasti kalau laki-laki itu tidak tau, pasti aku disemprot habis-habisan. Pusingkan jadi aku. "Lo yakin dia bukan siapa-siapa lo? Gue sih gak yakin ya." Aku memutar mataku malas. "Gak heran sih, Dyr. Lo emang gak yakin terus sama gue. Mau gue gimanapun, jelasih apa pun, lo tetap gak percaya. Cih!" Aku berdecak kesal. "Lo uda ciuman sama dia, tapi gak lo akuin. Parah banget. Sakit, Al." "Gue yakin sih gak cuma ciuman doang. Pasti uda ada pemanasannya." "Ciuman belum termaksud pemanasan emang?" "Belum dong. Masa lo gak tau?" "Penasan global iya!" Jawabku akhirnya. Sungguh tak ada gunanya. Trio ubur-ubur itu akan mempunyai seribu satu cara untuk lebih mengulik apapun yang sudah terjadi antara ku dan Pak Bagas. Maka satu-satunya cara agar terhindar dari mereka adalah. Pergi. Sejauh mungkin. "Mau kemana, HEH!!!" Teriak Dyra saat aku sudah berancang-ancang kabur darinya. "PERGI! GUE MUAK SAMA LO PADA!" Teriakku juga. Dan berhasil. Setelah harus melewati rintangan-rintangan seperti ditarik oleh Lara, di jegat paksa oleh Jovita dan di lempar sepatu oleh Dyra. Sungguh bar-bara. Bayangkan saja jika laki-laki yang sedang naksir dengan mereka, mengetahui tingkahnya. Bisa-bisa kabur. Sama seperti kemarin, hari ini terasa biasa saja. Aku pulang lebih cepat dari biasanya. Rumah sepi, Papa dan Mama lagi-lagi tidak memperlihatkan batang hidungnya. Para pekerja yang biasanya nagkring dirumah sedang sibuk. Pak Bagas tidak bisa dihubungi. Sementara diluar sana, hujan datang dengan lebatnya. Masih jam dua siang. Setelah sekian lama, akhirnya aku merasakan momen-momen ini lagi. Sendiri dirumah. Nonton drakor. Makan apapun yang kumau. Dan ketika ada orang yang hendak bertamu, alih-alih membukakan pintu, aku akan lebih memilih mengunci mulutku rapat-rapat. Mengecilkan volume dari laptop. Dan kabur kekamar, menenggelamkan diriku didam selimut. Padahal orang tersebut tidak akan bisa masuk. Lantas kenapa aku harus melakukan hal konyol seperti itu? Tatapanku beralih pada benda pipih yang layarnya sudah menyala diatas meja. Dan akhirnya, laki-laki ganteng yang statusnya sudah berubah menjadi pacarku itu muncul kepermukaan bumi. Setelah satu malaman meninggalkanku dalam sunyi. Saya lupa kalau saya sudah ada yang punya. Maaf ya. Tadi malam Hp saya mati. Lupa nge-charger. Untung aja tadi pagi Mama telpon ke Papa, katanya Hp saya gak aktif. Takut sayang kecarian. Aku membacanya dengan kesal. Lupa katanya. Kalau dekat, sudah ku cium dia. Baru aja aku hendak membalas pesannya, nama dan fotonya sudah muncul. "Apa? Lupa? Bisa-bisanya anda, Bapak Bagas Dirgantara yang terhormat. Saya disini nungguin. Chat gak dibalas. Telepon gak di angkat. Bisa-bisanya lupa? Kebiasan!" Serobotku duluan. Nyari masalah ni anak. Pak Bagas tergelak. "Jangan ketawak! Saya beneran kesel ini." Aku bersungut-sungut. "Pasti gemes banget sekarang!" Gemes-gemes your head Pak Bagas! "Saya mau nge-drakor. Uda siap banget ini. Boleh gak teleponnya nanti lagi?" Ujarku lembut. Bukan bermaksud menghindarinya, hanya saja posisiku sudah posisi enak untuk menonton. Pak Bagas dan kesabarannya memang patut diacungi jempol. "Masih jam 2, kok uda bisa pulang? Sayang cabut?" Refleks aku menggeleng. Dan seketika menyadari bahwa laki-laki itu tidak akan pernah bisa melihatku. "Nggak!" "Tumben?" "Tadi diintrogasi sama trio macan. Males. Gak tau juga dikantor mau ngapain. Gak ada kerjaan. Gak ada Mas juga. Gak ada penyemangatnya. Gak ada yang lihatin dari balik kaca. Gak ada yang sibuk keluar masuk dari ruangannya. Gak ada yang--- ah! Kangen!" Rajukku. Minggu kemarin gak jadi pulang. Semalam juga gak jadi. Dan hari ini sudah hari selasa. Sampai kapan lagi aku menunggu? Bukankan ia seharusnya tau, bahwa rindu itu berat? Persis seperti yang dikatakan oleh Dilan. "Mas Bagas..." panggilku. Bagaimana bisa aku masih saja menanggilnya dengan sebutan Bapak, sedangkan hatiku sedang resah karenanya? "Saya sayang banget sama kamu, Al." "Kangen... Gak pulang-pulang, ih!" Aku sudah melupakan drama-drama tersebut. Aku juga sudah tidak perduli seenak apa rasa sedap yang terkuar dari camilan itu. Aku hanya memperdulikan rasa rinduku. Rindu yang berat. Rindu yang menjadi beban. Bukankah seharusnya Pak Bagas tau jika merindu itu berat? Seperti kata Dilan. "Jangan rindu. Berat! Kamu gak akan kuat. Biar aku saja." Ini tidak. Bukannya pemberi penawar, ia malah melupa. "Jangan diem aja. Pulangnya kapan sih? Gak kangen ya sama saya? Atau disana uda menemukan yang baru? Ketahuan sih, kangen saya aja gak dibalas." Pak Bagas masih terdiam. "Mas Bagas..." Jarang-jarang lo aku manggilnya dengan sebutan Mas. "Mas Bagas, where are you? Masih sibuk ya? Yaudah deh, gak apa-apa. Lagian saya hari ini gak ngapa-ngapain. Palingan cuma mau nonton doang. Gak kemana-mana. Mas Bagas jangan lupa makan siang. Jangan sakit. Saya juga sayang. Titip salam sama Om ya. Hati-hati. I miss you," kataku panjang. Harap-harap cemas aku menunggunya. Entah apa yang terjadi disana, akupun tidak tau. Namun hanya butuh beberapa detik, aku mendengar suara gemuruh yang hebat. Bersaut-sautan dengan petir yang menggelegar. Persis seperti yang terjadi ditempatku saat ini. Apa disana juga sedang hujan?" Apa ia tengah kedinginan? "Hujan ya, Mas, disana?" Tanyaku. Dan setelahnya, "Sayang, tolong pagarnya dibukain dong. Saya uda dibawah ini." Aku terperanjat kaget. Buru-buru aku turun dari tempat tidur. Berjalan kejendela, menyingkap tirainya. Bingo! Laki-laki itu sudah berdiri disana. Dibawah rintik hujan. Hanya ada satu payung kecil sebagai penghalangnya. Aku lari terburu-buru. Tidak perlu sudah berapa anak tangga yang hampir membuatku jatuh sangkin senangnya. Aku tidak perlu merapikan rambutku. Aku tidak perlu mendempul make-upku. Aku juga tidak perlu mengganti pakaianku. Sebab aku tau, laki-laki yang kini sosoknya tengah berdiri dengan senyuman terpatri dibibir manisnya, siapa menerimaku dalam kondisi apapun. "Im home, sayang..." katanya lembut. Aku menariknya, memeluknya erat. "Welcome home, sayang..." Bahwasanya aku baru mengerti, ketika kata rindu yang terucap dari jarak jauh, balasan yang keluar seharusnya bukan aku juga merindukanmu. Melainkan mari bertemu. Dan disinilah aku sekarang. Berdiri dibawah derasnya hujan. Menikmati ciumannya yang hangat dan manis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN