Part 25

1676 Kata
Kami masuk dengan pakaian yang sudah basah. Tidak perduli air menetes dari tiap ujung baju yang kami kenakan. Tidak perduli suara berisik rintik hujan yang saling bersahut-sahutan. Juga tidak perduli suara gemuruh petir datang menggelegar, yang akan siapa menyambar kapan dan siapa saja. Yang kami perdulikan hanya rasa rindu yang beberapa hari ini datang menggebu, akhirnya dapat meluap seiring dengan kaki kami melangkah. "Sepi nih!" Ujarnya. Aku menaikkan sebelah alis. Tidak mendengar ucapannya. "SEPI! OM DAN TANTE KEMANA?!" Teriaknya, semakin mendekat kepadaku. "OOOHHHH! PERGI!" "KEMANA?" "GAK TAU!" Aku hampir saja terjatuh saat tidak sengaja menginjak batu licin. Untung saja tangannya sigap merangkul pinggangku. Takut akan dimarahi, cengiran ku keluar. "GAK SENGAJA!" "SAYANG KEBIASAN!" Dan tanpa di duga, Pak Bagas menggigit daun telingaku. Membuat ku melotot. "JANGAN ANEH-ANEH! ADA PETIR! NANTI KITA KITA KUTUK!" jeritku. Pak Bagas tertawa. "I MISS YOU TOO, ALANA!" Setelahnya ia mengangkat badanku. Layaknya bridal style, ia membawaku menari-nari dibawah derasnya hujan. Aku mendongak, menikmati rintik hujan yang terjatuh ke wajahku. Sedikit sakit tetapi banyak nikmatnya. Aku sampai menutup mata. Tidak menyangka bahwa hal sesederhana ini mampu membuatku tertawa terbagak-bahak. Hanya dengan mengajakku bermain, segala beban yang ada dipundakku lenyap begitu saja, ikut terjatuh menyatu dengan tanah. Tidak ada Andra, tidak ada pula Sandra. Yang ada hanya aku dan Bagas Dirgantara. Bos ku, kekasih ku, pacar ku, pujaan hati ku. Aku maju, mengecupi rahangnya yang kokoh, juga sedikit menggigitnya. Apapun tentangnya terlihat menawan. Dirinya, hatinya, wajahnya, senyumnya, matanya, tawanya. Pokoknya, semua yang ada pada dirinya selalu mampu membuat ku jatuh sejatuh-jatuhnya pada pesonanya. Akhirnya kami berteduh. Masuk lewat garasi, lalu terhenti dihalaman belakang. Pak Bagas menurunkanku disalah satu kursi kayu kesukaan Mama. Mengusap-ngusap wajahku yang masih dipenuhi bulir air hujan. "I miss you too, Alana." Ulangnya. Aku mengangguk. Tidak perlu diulang. Aku dapat mendengarnya dengan jelas. "Kangen banget! Cium lagi!" Rajukku. Bibirku pura-pura mencebik sedangkan jantungku berdebar tak menentu saat tangannya sudah menarik tengkukku. "Mau yang lama atau cepat?" Cepat aku menjawab. "LAMA!" Pak Bagas terkikik geli. Lalu aku menutup mata, merasakan benda kenyal tersebut kembali menyapa bibirku. Pak Bagas memagutku dalam ciuman yang manis, penuh cinta dan kasih sayang. Secara bergantian ia menghisapnya. Meninggkan jejak dengan gigitannya yang terasa nikmat. Saat lidahku keluar terjulur menyapa lidahnya, saat itu lah kami saling beradu dalam ciuman yang dalam dan penuh hasrat. Suara cecapan terdengar. Walaupun samar, tetapi aku masih bisa menangkapnya dengan jelas. Tangan kanannya masih setia ditengkukku dan tangan kirinya mengusap-ngusap punggungku. Lidahnya membelit lidahku, menyapa ku lewat sentuhan yang basah dan lambat. Ia seperti mencoba menghapal apapun yang ada disana, mengabsennya satu-persatu. Aku terbelunggu dalam ciumannya. Tidak ada yang menarik selain didekatnya. Bahkan drama-drama yang tadi sudah bersorak memanggilku, kini tidak ada lagi. Digantikan oleh sosok Pak Bagas yang sudah berdiri tegak dengan hembusan nafas yang tersengal-sengal dihadapanku. Jemarinya menghapus jejak saliva dibirku. Tetapi setelahnya, ibu jarinya masuk kedalam mulutku. Membuatku otomatis menghisapnya layaknya menghisap lollipop. Aku mengulumnya, menikmati guratan kasar dari kulitnya. "Al, astaga! Nikmat!" "Enak banget!" "Oh my god! Ada yang iri sayang," katanya berbisik. Aku menaikkan kedua alisku, tidak mengerti maksud dari ucapannya. "Dibawah sana ada yang iri. Pengen juga." Matanya turun kebawah, menatap miliknya yang masih tersembunyi dibalik celana kainnya. Pak Bagas sampai menengadahkan kepalanya. Dadanya turun naik seiring dengan keluar-masuknya ibu jarinya didalam mulutku. Kenapa? Apa yang sedang terjadi? Apa ada yang salah? Kenapa ia sampai segitunya? Apa senikmati itu rasanya? Beberapa detik kemudian, Pak Bagas menunduk. Kepalanya menggeleng. "Stop, sayang!" Wajahnya merah padam. "Saya gak sanggup!" Menjalar sampai telinganya. "Saya gak nyangka efeknya seluar biasa ini. Saya beneran gak sanggup." Aku menurut. Melepas ibu jarinya. Lantas ia menjilatnya. "Heh! Jorok!" Kagetku. Bisa-bisanya ya ni orang. "Ciuman secara gak langsung ini namanya," balasnya. Lah, gak gitu konsepnya, sayang... Hujan mulai mereda, namun sayangnya tatapannya yang hitam dan pekat semakin nyalang diatasku. Pak Bagas menangkup pipiku. Tidak ada gerakan. Aku mendadak gusar. Gugup tiba-tiba datang. Tangannya semakin turun, melewati leher, bahu, d**a dan berhenti diujung kemeja kerja yang masih kukenakan. Seperti terhipnotis, aku mengangkat kedua tangan, saat ia hendak melepasnya tanpa membuka kancingnya. Hingga kini yang terlihat hanya bra dan sisa-sisa payudaraku yang keluar. Baru kali ini aku menyesali mengapa tidak memakai tangtop. Akibatnya, elusannya sudah sampai diperpotongan payudaraku. Mengikutinya sampai pada tali bra ku. Jantungku semakin berdebar. Kala melihatnya sudah berjongkok, menyeimbangkan tatapannya padaku. "Ada CCTV disini?" Aku mengerjap. "Disini ada CCTV?" Ulangnya. Dan aku berdiri. Seperti tersambar petir. "Ada!" Aku mengambil kemeha tadi, menutup dadaku. Baru ingat, bahwa rumah ini ada CCTV. Bahkan disetiap sudut. Bukan hanya itu saja. Para pekerja akan selalu berlalu-lalang sesuka hati melewati taman ini. "Telat. Kita sudah berciuman, dari pagar hingga sampai disini. Kalau Om dan Tante tau, sayang harus bertanggung jawab," ujarnya. Pak Bagas tersenyum miring. Kembali mendekat padaku yang sudah mengambil ancang-ancang untuk kabur. Bisa-bisanya aku lupa. Mampus. Kalau ketahuan Papa dan Mama gimana? Kalau ketahuan Bapak yang ada di pos satpam depan gimana? Dipos tersebut ada banyak saluran CCTV yang tampil di dalam TV berukuran jumbo. Apa mereka telah menontonnya? Aku merutuki diriku sendiri. "Ck! Tau ah!" "Kok marah? Saya juga gak tau dan sayang gak ngasih tau." "Mana pakai acara buka baju lagi!" "Pakai lagi sayang, jangan cuma gitu aja." "Gimana dong?" Aku memakai kemejanya dengan kasar. "Kalau ketahuan gimana?" "Paling kita dinikahin!" "Ih, kok gitu?" Aku menghentakkan kaki kesal. "Gak mau emang nikah sama saya?" "Ya mau! Cuma jangan karena ini dong." Pak Bagas merentang kedua tangannya. Matanya yang pekat kini sudah hilang. Terganti dengan binaran kelembutan. "Sini peluk. Rumah sayang dari tadi gak ada orang. Sepi. Saya berani jamin, gak bakal ada yang lihat." "Tapi di pos satpam-" "Sini peluk dulu makanya." "Gak mau. Nanti dicium lagi." Mulut sih bilang gak mau. Tapi kaki, tetap saja melangkah. "Jangan dicium lagi." Semakin mendekat. "Nanti ketahuan kalau dicium." Pak Bagas mengangguk. Sekali tarikan saja, aku sudah kembali terjerumus dalam pelukannya yang ternyata penuh damba. Hangat dan tenang. Itulah yang selalu ku dapatkan. Setelah acara senang-senang itu berakhir, kami memutuskan untuk masuk kerumah. Aku sudah selesai mandi. Kini sedang sibuk menyeduh teh hangat dan memotong beberapa kue untuk kami berdua. Tidak didalam kamar, melainkan di ruang tamu. Kami akan melakukan date ala-ala, yaitu menonton film. Saat aku membalikkan badan, senyumku mengembang kala melihatnya sudah terlihat segar dan tentu saja menawan. Ia memakai baju Papa, kaus polo dan celana joger panjang. Terlihat sangat membentuk badannya. Mungkin karena Papa lebih kecil darinya. Aku ditambah terkesima ketika ia tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Ya Tuhan, bagaimana bisa aku tidak mencintainya? Pipiku bersemu merah, gerakan tanganku melambat. Pak Bagas yang merasakan keterdiamanku, berjalan mendekat hingga kini aku dari merasakan aroma vanila darinya. Sabun milikku, yang kini menjelma menjadi aroma paling ku sukai didunia. "Wanginya sama kayak saya," kataku setelah bisa mengusai diri. Pak Bagas mengangguk. "Saya suka." "Harum kamu, Mas..." Kami sudah seperti pasangan suami istri. Apalagi ketika ia memberi handuk kecil tersebut padaku. Mengangkatku hingga terduduk diatas meja makan. "Sayang, tolong keringin," pintanya. Hanya tiga kata, tetapi aku seperti merasa diserang ribuan kupu-kupu yang beterbangan diperutku. Aku dengan telaten melakukannya. Ini perhara hal yang mudah. Tidak mungkin aku menolaknya. "Mas tadi dari bandara langsung kemari?" Pak Bagas berdehem. Sudah menjatuhkan dahinya didadaku. "Gak capek?" "Capeknya hilang lihat sayang." Aku mengulum bibir menahan senyum. "Terus Om bilang apa waktu Mas tau mau kesini? Mas izinkan sama Om?" Aku menarik kepalanya, menangkup pipinya. "Bilang, sayang. Malahan Papa yang ngantarin." "Ih! Kok gak diajak masuk?" "Kangen Mama katanya, jadinya langsung balik." Lenganku mengalung dilehernya, mengendus-ngendusnya. Tampaknya aroma vanila tersebut terasa sangat menyengat bila Pak Bagas yang memakainya. "Kenapa Mas pulangnya diundur? Maaf kalau banyak tanya." Pak Bagas cepat mengecup bibirku. "Padahal kemarin uda pengen banget cobain soto yang kamu dan Mama buatin." Lagi Pak Bagas mengecup bibirku. "Ada masalah dicabang. Saya juga kurang mengerti, karena yang dari awal disana Papa bukan saya. Kalau bukan karena Mama sibuk nyuruh pulang, Papa gak bakal mau. Betah katanya, karena banyak pantai-pantai. Walaupun masalahnya belum kelar." "Terus jadinya gimana?" Jemariku menyisir rambutnya pelan. "Tapi sudah diurus sama anggotanya Papa. Besok katanya dikasih tau." Ku cubit hidungnya. Ku mainkan alisnya yang tebal. "Gak kepincutkan sama cewek lain selama disana?" Pak Bagas mendengus geli. "Seharusnya saya yang bertanya. Pacar saya ini ada kepincut sama cowok lain gak selama saya tinggalin? Secara sayang cantik banget. Pesonanya gak main-main. Saya ngejaganya sampai harus ekstra, supaya gak kecolongan. Kalau bisa saya kantongi, sudah pasti akan saya bawa kemana-mana." "Gombal banget!" "Gak gombal, sayang. Emang kenyataannya begitu." Kedua tangannya sudah mengalung dipinggangku dengan posesif. "Saya gak kepincut dengan siapapun. Papa sudah wanti-wanti, disuruh Mama jagain saya. Mama maunya cuma kamu. Uda cocok kayaknya." "Mas juga ganteng, baik. Tenang aja, saya gak kepincut dengan siapapun. Dihati saya cuma ada Mas Bagas seorang." Pak Bagas memundurkan kepalanya, sepertinya ia ragu akan perkataanku. "Belah d**a saya, cuma ada nama bapak terselip disana," kataku penuh percaya diri. Aku berani bersumpah. Saat ini hanya ada namanya disana. Setelah malam-malam berlalu tanpa dirinya dengan hati yang ditemani ragu, antara Andre dan Pak Bagas. Akhirnya Pak Bagas kembali kedalam pelukanku sehingga nama Andre cepar tersingkirkan. "Kamu apain saya sih, Al? Kok kamu bisa semenakjubkan ini? Kamu pelet saya ya? Kamu gak bisa lepas dari pikiran saya, barang satu detikpun. Kalau saya nikahin, mau? Saya mau sama kamu terus. Saya mau kamu yang saya lihat dibangun dan tidur saya. Berantakin dapur saya. Ributin rumah saya. Gangguin saya kalau malam-malam lembur. Saya rela deh. Kamu mau gak melewati hari demi hari bareng saya?" Aku terdiam. Kerongkonganku seperti tercekat kala mendengar kata pernikahan. Bukannya tidak mau, aku hanya belum siap. Ini terlalu cepat. Kami belum melalui banyak hal. Pak Bagas juga belum ku bawa masuk kedalam duniaku. Aku tidak mau buru-buru. Aku ingin berjalan pelan-pelan agar kami bisa sama-sama menikmatinya. Melihatku yang tidak bergeming, Pak Bagas tersenyum. Selalu saja tersenyum. Kemudian ia melepas lenganku dilehernya. "Kita bicarakan lain kali ya. sayang." Sebelum berlalu, Pak Bagas mencium dahiku lama. Rasanya hangat hingga menjalar disetiap tulang-tulangku. "Mungkin bagi kamu ini terlalu cepat. Saya gak akan memaksa. Kita jalani pelan-pelan. Tetapi kalau kamu sudah siap, katakan pada saya. Saya gak akan pikir dua kali untuk mu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN