Part 26

1742 Kata
For the first time, selama hampir 23 tahun aku hidup, akhirnya aku akan menginjakkan kakiku didapur. Hari ini temanya cooking-cooking. Mi goreng, telur dadar dan jus kuini. Hanya itu, tetapi membayangkannya saja sudah bisa membuat nafas ku terengah-engah. Pikiranku berkelana, apa dapur akan beneran kebakaran? Air gosong? Mi terlalu lembek karena kelamaan direbus? Telur dadar yang busuk atau jus kuini yang tidak ada rasanya? Apa sebaiknya aku harus mengurungkan niatku saja? Membeli terlihat lebih baik dari pada membuat sendiri. Tetapi aku ingin mencobanya, memasak untuk Pak Bagas. Aku ingin duda ganteng itu mencicipi masakan ku. Maka disinilah aku sekarang, sepulang kerja tadi, aku langsung melipir ke Mall. Membeli bahan-bahan. Sendiri, tidak ditemani oleh siapapun. Tidak terbiasa ditempat seperti ini, kepalaku celinguk-celinguk, membaca satu bersatu pertanda disetiap lorong tersebut. Jika disuruh berkeliling untuk menjamah satu persatu toko baju, aku akan dengan suka rela melakukannya. Aku bahkan sudah menghapalnya diluar kepala. Tidak sulit bagiku. Pandanganku mengedar, mencoba menemukan letak bahan-bahan yang akan ku masak. Sulit sekali. Dan hampit setengah jam aku berjalan, aku hanya menemukai dua bungkus mi instan. Rasanya kaki sekarang sudap pegal. Hells ini sepertinya akan menghancukan tumitku. Aku berjongkok, melepas trolly yang sedari ku dorong. Memijat tumitku sebelum melanjutkan perjalananku. Pulang aja gak sih? Astaga, ini hanya sebuah Mall, yang tempatnya sudah tertata rapi. Bagaimana jika di pasar? Mungkin tidak hanya tumit, kaki dan mataku akan berpindah tempat sangkin lelahnya mencari. Aku baru menyadari ternyata aku semanja itu. Selama ini yang belanja mengisi dapur itu Ibu yang bekerja dirumah, sesekali juga Mama. Setiap Mama mengajak ku, aku tidak akan pernah mau. Aku lebih memilih rebahan, memakan camilan, berkhayal dan overthingking. Terkutuk lah kamu wahai Alana. Murkaku dalam hati. Saat hendak berdiri, aku terperanjat kaget mendengar suara nyaring yang setelah lama menghilang kini kembali terdengar. Aku terduduk, membuat tawanya terdengar. Lantas ketika badan ku berbalik, ada Sandra sudah tertawa tebahak-bahak dibelakangku. Seperti tidak ada beban. "ALANA!" Ck! Sialan. Aku berdecak kesal. "Lo ngapain ngemper disini?" Ledeknya seraya mendekat padaku. "Sini gue bantu." Sandra lebih dulu meletakkan kebawah keranjang kecilnya, lalu kedua tangannya mengulur kedepan untuk menarik tanganku. "Pelan-pelan, Al." Kenapa sih mesti berjumpa kembali? Walaupun sudah hampir baik-baik saja, ada terbesit dihatiku agar tidak lagi bertemu dengannya. Apa aku harus kembali memasang ekspresi senang dengan penuh kepalsuan di wajahku? Bukankah seharusnya ia membiarku sendiri disini? Aku sedang tidak ingin diganggu oleh siapapun. Kenapa rasanya susah sekali. "Lo sama siapa? Sama yang kemarin? Gue sendirian ni, Andre masih kerja." Sandra sedikit ngos-ngosan. Perutnya semakin membersad. Pipinya yang dulunya tirus, sekarang menjadi tembem. Sandra terlihat lebih cantik dari beberapa tahun yang lalu. Mungkin karena Andre sudah mengurusnya dengan baik. "Gue juga sendiri. Lagian gue uda mau selesai kok," ujarku. Mencoba kembali membentangkan jarak seperti dulu lagi. Sandra menatapku aneh. Ia menatapku gantian antara trolly dan wajahku, "Seriusan? Bahkan trolly lo baru terisi dua bungkus mi instan, Al. Masa uda mau balik? Gue temenin yuk, lo mau beli apa lagi? Gue bantu cariin." Pelan-pelan aku melepas tangannya, "Gue emang cuma mau beli mi aja, Sand. Lo gak perlu repot-repot." "Dan pakai trolly sebesar ini?" Mantap aku mengangguk. "Gue buru-buru ni, ada urusan. Gue duluan ya," pamitku. Sandra kembali menahan tanganku, "Kalau cuma ini aja, kenapa gak beli diwarung? Lo mau beli apa lagi? Supaya gue bantu. Gue punya banyak waktu buat temenin lo. Lo tenang aja. Lagian Andre-" Aku menghentakkan tangannya kasar, "Lo denger gak sih? Gue mau balik! Gue cuma beli mi doang, apa itu salah? Kenapa sih, Sand, balik lagi? Kenapa lo dan Andre muncul lagi dikehidupan gue? Gue capek, gue muak. Apalagi lihat lo berdua, rasanya gue pengen dorong kalian berdua ke dasar jurang." Sandra membeku, air wajahnya yang tadi ramah kini luruh. "Kenapa?" "Kenapa lo gak biarin gue sendiri? Kenapa lo mesti nyamperin gue?" "Karena gue gak punya temen lagi selain lo," cicitnya. "Gue bahkan belum bilang, kalau gue mau apa nggak temenan sama lo." Tiba-tiba emosiku memuncak. Aku tidak perduli lagi, rasa sakit itu kembali menguar hingga sampai diubun-ubun. Ibaratnya diatas kepalaku sudah ada api membara, yang siap meledakkanku kapan saja, dan tentu saja ini waktunya. "Lo gak ngerti, Sand, gimana sakitnya gue, gimana hancurnya gue. Dia itu pacar gue dan lo temen baik gue. Apa lo pikir setelah semuanya terjadi, gue masih bisa baik-baik saja?" Aku tertawa sarkas. "GAK! Gue bahkan harus bertahun-tahun ngilangin rasa sakit gue. Gue menutup diri rapat-rapat. Gue gak mau deket laki-laki manapun kecuali Papa gue. Sedangkan lo sama dia, HAHAHAHA! Kalian bahagia diatas penderitaan gue. Apa kalian pernah sedikit saja mencoba mengerti perasaan gue? Bahkan salah satu dari kalian gak ada yang minta maaf gue." Sendu dan teduh, itu lah yang bisa ku tangkap darinya. "Bahkan kita sudah kehilangan anak kita, Al..." "Terus lo nyalahin gue? Gila ya. Gue kira lo cukup malu buat nunjukin batang hidung lo lagi ke gue. Ternyata enggak, bahkan lo disini, berdiri dihadapan gue, tanpa merasa bersalah sedikitpun. Apa lo kira memperbaiki mental gue yang uda hancur itu perkara yang mudah? Semudah lo membalikkan telapak tangan? Semudah lo mendapatkan Andre? Semudah lo tidur bareng Andre? Apa lo kira mengulang kembali memori-memori indah yang selama ini orangtua gue kasih hanya demi bisa membuat gue tenang itu perkara mudah?" Akhirnya aku melunak. Mataku sudah mengabur, tidak lagi jelas melihatnya. "Gue gak baik, Sand. Gue sakit. Dari dulu, sampai sekarang." Air mataku terjatuh, bibirku bergetar. "Gue cuma pengen denger maaf dari kalian berdua. Apa sesusah itu?" Unek-unek yang selama ini terpendam diruang yang kosong, kini menemukan pelariannya. Aku menyemprot Sandra. Memarahinya atas luka yang ia dan Andre toreh padaku. "Gue kasih cinta dan sayang gue sama dia. Gue kasih apapun yang gue punya untuk dia. Dan lo adalah tempat gue berkeluh kesal tentang Andre. Lo tau semuanya, lo tau gimana perjalanan gue sama Andre. Jahatnya lo ambil dia dari gue." Aku mulai terisak. Tidak terlalu banyak, hanya ada beberapa pasang mata yang memandangi kami. "Gue kira lo baik-baik aja, Al. Gue gak tau lo sehancur ini. Gue minta maaf, Al. Gue gak bermaksud," kata Sandra. Gak bermaksud katanya? Bahkan ia melakukan itu dengan sadar. "Gue akan minta Andre buat minta maaf ke lo. Ralat, kita berdua. Boleh kan?" "Gak perlu lagi. Gue uda mati rasa sama lo berdua. Mending lo pergi, jangan muncul lagi dihadapan gue. Gue uda-" "Gue cuma mau minta maaf seperti yang lo katakan tadi. Boleh kan?" Ulangnya penuh kelembutan. Tulang-tulang yang ada dibadanku rasanya sudah hancur. Lagi, aku hampir terjatuh, saat sepasang lengan melingkar di pinggangku. "Hei!" Yang aku inginkan hanya pergi, menghilang dari hadapannya. "B-bawa gue pergi, Nan. Tolong." Racau ku. Aku tidak memeluknya, aku juga tidak memintanya untuk memeluk ku. Aku hanya memohon, dibawah tatapannya yang khawatir. "Lo uda selesai belanjanya?" Aku mengangguk. "Please..." "Okei, ayo, Al. Gue bantu." Itu Nanta, sepupunya Dyra. Laki-laki yang tidak terduga tengah memapah ku yang tak berdaya. Nanta hanya tersenyum kepada Sandra dan Sandra membalasnya dengan sebuah anggukan. Aku tidak tau dibelakang sana Sandra akan sama sakitnya dengan ku atau bahkan baik-baik saja setelah berhasil menghancurkanku. Perasaan ini terlalu mencekam. Dulu, disetiap malam aku akan menangis meratapi kisaku. Semuanya berubah hanya dalam waktu singkat, setelah banyaknya waktu yang tidak singkat telah kami lewati. Andre adalah laki-laki pertama yang mampu membuatku dimabuk kepayang. Serta Sandra adalah teman pertama yang aku punya selama masa perkuliahan berlangsung. Ketika aku dihancur kan oleh kedua dalam satu waktu, bagaimana caranya aku harus bisa bertahan? Apa alasannya aku harus menetap pada sebuah kisah yang ujungnya saja membuatku sakit. Nanta tak sekalipun mengeluarkan suara. Laki-laki itu hanya diam sambil menggenggam tanganku. Hanan memfokuskan dirinya pada jalanan yang sore ini entah mengapa lenggang, tidak ada kemacetan seperti biasa. Bahkan ketika melewati beberapa lampu pengatur lalu lintas atau traffic light, lampu tersebut tak berubah warna ke merah melainkan hijau hingga membuat mobil Nanta berlalu tanpa hambatan. Setelah beberapa menit menikmati keterdiaman, Nanta memberhentikan mobilnya disalah satu mini market. Tanpa izin atau bertanya, ia turun, hanya untuk beberapa menit, lalu kembali lagi dengan tangan yang sudah menenteng dua kresek besar. "Untuk apa?" Tanyaku. Hanan tersenyum miring, memangku salah satunya. Laki-laki itu mengeluarkan satu botol air minum, "Kalau lo haus," lalu dua batang cokelat kesukaan ku, "Untuk mengembalikan mood lo yang buruk," disusul beberapa bungkus cemilan, "Supaya ada temennya. Jangan diem aja." Terakhir buah-buahan segar. "Terus buahnya untuk apa?" "Ya gak untuk apa-apa. Supaya rame aja." Mendengarnya aku menyemburkan tawa. Walaupun hidungku masih mampet, mataku masih membengkak. "Gak gini juga, Nan. Terus plastik satunya isinya apa kalau boleh tau?" "Adek gue, hari ini hari pertama, biasalah perempuan. Dari tadi sibuk banget chat gue minta beliin cokelat, jadi sekalian aja. Gue gak tau kesukaan dia apa. Biar dia pilih sendiri. Makanya banyak gitu." Aku terkesiap. Perasaan ku menghangat. Akan menyenangkan rasanya jika aku juga mempunyai saudara seperti Nanta. "Lo haus? Mau minum? Atau lo laper? Gue bawa ke tempat langgan nasi uduk gue yuk. Enak, lo gak akan nyesel," cerocosnya. Laki-laki itu bertanya apakah aku haus atau tidak, dan aku belum membalasnya. Tau-tau ia sudah membuka tutupnya, lalu menyodorkannya padaku. "Uda kelihatan. Minum, pelan-pelan. Awas kesedak." Tidak ada alasan untuk menolak. Ia memperhatikanku. Ia memberi sesuatu yang sepertinya sedang tidak kubutuhkan, namun ia berusaha, agar aku menjadi lebih baik. Nanta juga tidak bertanya aku kenapa dan siapa perempuan yang bersama ku tadi di Mall. Ia hanya diam, menemaniku, menenangkanku. Nanta tidak protes waktu kemejanya basah karena air mata. Nanta tidak protes waktu aku menghabiskan lembar-lembar tisu yang ada dimobilnya. Nanta juga tidak protes ketika aku meminta berkeliling kota selama satu jam. Nanta adalah defenisi kebutuhan yang saat ini ku butuhkam. Laki-laki dengan senyumannya yang lebar itu seperti mengetahui cara membalikkan mood ku. "Gue laper, Nan. Makan yuk, tapi kayaknya gue gak cukup kalau satu porsi doang. Dua porsi gak apa-apa ya?" Kataku malu-malu. Ternyata menangis menyedot banyak energiku. Tawaran Nanta tidak terlalu buruk. "Nasi uduk langganan gue kan?" Aku berdehem. "Lets go!" Seruannya terdengar menggema didalam mobil. Ia terlebih dahulu mengambil botol air tersebut dari tanganku, menutupnya dan meletakkannya pada tempat khusus minuman didekat porsneling. "Sini gue pegangin plastiknya," tawarku. "Gak usah, lo tinggal duduk diem dan nikmati waktu-waktu lo bareng gue. Gue orang sibuk dan ini jarang terjadi." Seperti katanya, ia meletakkan plastik tersebut dibangku belakang. "Gue laper, Nan. Cacing diperut gue kayaknya uda demo." Nanta tergelak, tangan kanannya naik disisi kepalanya, memberikan hormat padaku. "Siap ndoro putri. Pegangan, kita akan menuju TKP." Selain Pak Bagas, untuk pertama kalinya aku menggantungkan diriku pada seseorang. Mulai hari ini aku akan selalu berterima kasih padanya atas senyuman dan tawa yang ia beri padaku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN