Kami saling berhadapan. Terlalu sering nangkring disini, membuat Nanta dikenali banyak orang. Mulai dari pemiliknya, pegawainya hingga bapak-bapak tukang parkirnya. Ajaib sekali.
"Eh... Mas Nanta, tumben jam segini? Biasanya jam makan siang atau malam." Mereka saling berjabatan. Ramah, sangat ramah. "Gak mungkin kan Mas Nanta kabur dari kantornya?"
"Ohh... jadi Bapak gak terima saya datangnya jam segini? Supaya saya balik." Nanta hendak menggenggam tanganku, "Yuk, Al, kita diusir." Membuat Bapak-Bapak tadi tertawa geli. "Bapaknya kayaknya uda kebanyakan duit. Makanya gue diusir."
"Bukan begitu. Bapak hanya bertanya, Mas Nanta."
"Jangan bilang Bapak juga pengen tau siapa perempuan yang disamping saya ini?" Ujar Nanta.
"Kalau itu terserah Mas Nanta saja. Bapak hanya mendoakan yang terbaik buat Mas Nanta. Tapi asal jangan istri atau pacar orang deh."
Mendengarnya aku tersenyum kecut.
Nanta merangkul bahu ringkihnya, "Calon saya ini, Pak," pemernya jumawa.
"Calon istri Mas Nanta?"
"Ya bukan! Calon istri nya orang." Lalu mereka tergelak bersama.
Aku berjalan disamping Nanta. Tidak sekalipun ia beranjak dari sampingku. Kami jalannya beriringan, walaupun tidak menggenggam tanganku, tetapi tatapannya selalu mengawasiku. Seperti takut aku diculik orang. Padahal aku sudah besar.
"Bapak yang punya, Al. Gak tau nama Bapaknya siapa. Tapi jangan ditanya deh, nanti beliau kegeeran." Kata Nanta frontal seperti tidak menganggap kehadiran laki-laki paruh baya tersebut.
"Gak apa-apa, Mbak. Jangan dianggap aneh. Mas Nanta sama saya emang begini. Maklum, Mbak, namanya juga temen."
"Prettt.... inget cucu dirumah, Pak." Lalu Nanta menoleh padaku, "Al mau makan apa?"
"Gue ikut lo aja."
Setelah mengatakan apa yang kami pesan, Nanta pamit undur diri. Membawaku duduk dibangku kayu paling pojok. Dibawah pohon besar berdaun lebat. Sejuk, adem. Udaranya seperti belum tercemari oleh asap rokok dan kendaraan. Melihat tempatnya yang jauh dari area kota. Tentu saja, harus menempuh waktu satu jam untuk menuju kesini.
"Lo kalau makan disini sama siapa, Nan? Dyra?" Tanyaku sembari mengelap tangan dengan tisu basah.
Entah sedang memandangiku atau hanya perasaan ku saja, Nanta mengerjap kaget. Berdehem sejenak kemudian menjawab pertanyaanku. "Eh... gue kesini kadang bareng Dyra, kadang temen kantor juga. Tapi lebih sering sendiri. Kayak me time gitu. Soalnya seru. Gue bebas melakukan apapun, tanpa takut dikomentari sama orang. Kalau gue mau beli sesuatu, gue gak perlu buat dia repot-repot nunggu gue. Tapi gue lebih memegang teguh opsi kedua sih. Soalnya gue anaknya kalau lihat sesuatu tuh kayak lamaaaaaa banget. Apalagi buku, sampek berjam-jam, doyan aja gitu. Kan gak enak kalau bikin anak orang nunggu."
Nanta membersihkan sendok dan garpu untukku. Aku menerimanya sambil mengatakan terimakasih.
"Selain kesini, me time dimana lagi terus ngapain aja?"
Pesanan kami datang, cukup banyak dan menggiurkan. Tiga porsi nasi, satu untukku, dua untuk Nanta. Empat potong ayam bakar. Satu piring tahu dan tempe goreng. Kol goreng serta lalapan yang dicampur dalam satu tempat.
Jangan lupakan, kopi s**u dingin kegemaranku. Sedangkan Nanta hanya memesan satu es teh pahit.
"Hidup uda pahit, Nan. Bisa-bisanya lo minumnya kayak gitu."
"Namanya juga hidup, Al."
Hanya itu, tetapi bener juga.
Nanta benar-benar gak bisa diem. Sekarang laki-laki itu sudah melahap tempe dan tahu goreng yang masih menggepulkan asap. Dengan binaran kebahagiaan, Nanta tersenyum padaku. "Gue jawab pertanyaan lo yang tadi. Selain disini, gue itu me timenya keliling kota naik mobil, sambil ngitung lampu merah. Denger musik dengan volume kuat, nonton film, ngegym, berendam air hangat berjam-jam. Paling sering rebahan sih. Kalau lo ngapain?"
Aku menopang dagu, memandangnya penuh minat, "Gue... sama kayak lo, demen banget rebahan. Nonton drama, makan jajan. Uda sih itu aja."
"Kalau weekend lo ngapain?"
"Gangguin nyokap bokap gue. Seru banget. Gue suka denger mereka ngomel. Sehari gak dengerin, kayak ada yang kurang."
"Anjrit," Nanta bersorak senang, "Sama banget. Gue juga. Tapi kalau keterusan, gue malah jadi pusing sendiri."
Aku membelalak mata, "Nanta... gue kira cuma gue sendiri yang begini."
Lalu kami tertawa. Selera humor kami benar-benar sangat rendah. Hanya satu lirikan mata, tiba-tiba kami saling tersenyum. Hanya sedikit senggolan di kaki, tiba-tiba kami sudah mengerti apa yang sedang terjadi.
Jika bersama Pak Bagas aku akan lebih banyak dihibur, maka bersama Nanta aku dan dirinya akan sama-sama saling terhibur. Laki-laki yang usianya lebih muda dari Pak Bagas itu dengan mudahnya memancing tawaku.
"Sumpah, Al, kadar kerecehan lo rendah banget."
"Lo juga."
"Cocok banget kita, Al..."
Bukannya merasa malu, aku semakin tergelak. Bersyukurlah bagi perempuan yang nantinya akan bersanding dengannya. Awet muda pastinya.
"Gue suka, Nan, makan ditempat begini. Dari pada restoran atau kafe gitu. Selain rasanya enak, harganya juga murah. Ramah dikantong."
"Gue kira lo bakal lebih suka restoran. Secara penampilan lo kayak gak anak miris kayak gue."
"Sama aja, Nan. Gue juga miris kayak lo. Santai... Sama bos gue, kita juga sering begini kok."
Nanta memasukkan ayam, nasi dan lalapan sekaligus kedalam mulutnya. Butuh beberapa menit hingga Nanta dapat berucap kembali.
"Pak Bagas maksud lo?"
Aku mengangguk. Ikut memakan potongan ayam yang lembeknya luar biasa. Aromanya apalagi, nikmat. Tentu saja dapat menyamarkan kesakitan hatiku. Mengembalikan mood walau belum seratus persen. Tetapi bisa lah. Panta saja Nanta suka. Kayaknya tempat ini juga akan menjadi destinasiku bersama pacarku, ecieee... uda pacar aja nich.
"Gue jumpa dia, njir. Kapan tau, gue lupa. Galak banget. Serem. Mana badannya besar lagi, kayak bodyguard. Lo bayangin aja, gue cuma sapa, bukannya disenyumin, gue malah disarkasin. Gue gak tau salah gue apa, Al. Gue disinin. Kayaknya dia bakal makan gue hidup-hidup. Untung temen gue datang. Bersyukur gue. Kan gak lucu, tiba-tiba makluk seganteng ini menghilang karena ditelan sama dia."
Aku langsung teringat pada Pak Bagas, bagaimana pacarku itu kesalnya minta ampun setelah diperlakukan layaknya teman dekat oleh Nanta. Wajahnya yang memerah padam menahan emosi terlintas dipikiranku. Astaga, aku jadi rindu.
"Lo pacaran, Al, sama dia? Gue lihat-lihat lo deket banget sama dia."
Akhirnya pertanyaan itu keluar juga.
"Jangan bilang lo ngira dianya lengket ke gue kayak tokek?"
"Damn!!!! Dyra pasti yang bilang?"
"Kemarin si perempuan ular itu juga bilang gitu ke gue."
"Lo sama Pak Bagas kayak bukan segedar bos sama bawahan anjir. Gue juga gak buta, Al, waktu visit proyek kemarin, lo sama dia pelukan kan?"
"Kelilip kali mata lo. Gak ah. Mana mungkin," elakku.
"Kalau beneran, patah hati sih gue."
"Lo naksir gue, Nan?" Tanya ku tepat dibola matanya yang berpendar takjub. Membuatnya harus melemparku dengan satu potong timun.
"Yang bener aja lo. Ya kali gue naksir lo. Ya enggak lah. Gue naksirnya Pak Bagas, bukan lo. Jadi please, jangan ngaku-ngaku."
"Gak percaya. Dyra pernah cepu ke gue. Katanya lo naksir gue."
Lagi, Nanta menggigit ayamnya sebanyak mungkin. Sehingga mulutnya terlihat penuh. Urat malunya benar-benar tidak ada.
"Dia itu tukang tipu, Al. Tukang gosip juga. Jangan percaya. Gue kalau lagi jalan sama dia, gue lihat cewek nih, sekali tatap, dia masih diem. Dua kali, tu anak berubah heboh, bilang gue demen. Namanya juga cewek cantik. Wajar dong. Ya kali gue sia-siakan gitu aja. Sama kayak lo ini, lo cantik banget anjir. Masa satu kali tatap doang? Berkali-kali dong. Gak cuma mood gue aja yang bagus, nafsu makan gue juga meningkat."
"Lo beneran gak naksir gue kan, Nan?"
"Gak percayaan. Gue naksirnya sama bos lo. Bilangin, gue titip salam. Bukan titip duit. Soalnya duit gue kagak ada."
Hari ini rasanya seperti roll coaster, ada baiknya tetapi lebih banyak buruknya. Tidak hanya bertemu dengan Sandra, pasti aku akan dipertemukan kembali dengan Andre.
Saat ini, aku hanya mencari sebuah pelarian. Ingin melenyapkan sisa-sisa rasa yang masih terselip dihatiku. Dan ketika aku menemukan Nanta, laki-laki manis yang selalu membuat ku tertawa, rasanya di luar ekspetasi.
Bagaimana ia menenangkan ku, bagaimana ia mengerti aku dengan tidak terlalu banyak bicara. Bagaimana ia memperlakukan aku seperti seorang teman yang sudah lama bersama.
Bersama Nanta, akan menjadi momen tersendiri untukku. Apabila disuatu hari nanti, Nanta ingin mengulangi momen yang sama, aku akan menurutinya. Sebagai seorang teman tentunya.
Nanta mengantarku pulang. Sudah larut malam. Ponselku mati. Pasti sudah banyak sekali chat dan telepon yang masuk. Terutama Pak Bagas terlihat ia sudah berdiri didepan pagar rumah dengan stelan yang sama seperti tadi pagi aku menemuinya.
Hanya saja kini terlihat sudah berantakan. Rambutnya acak-acakkan. Dua kancing teratas pada kemejanya terbuka. Bagian tangannya digulung hingga siku. Aku dapat melihat kekhawatirannya saat yang pertama kali ia lakukan adalah memelukku erat.
"Al..." lirihnya. Aku berjalan lunglai disusul Nanta dibelakangku. "Dari mana?"
Aku mencebikkan bibir. "Nanta mau izin pulang."
"Eh, Pak, selamat malam, saya sudah mengantarkan kembali Alana dengan sehat dan selamat. Sekarang giliran saya yang mengantarkan diri saya sendiri. Saya permisi, Pak. Atau Bapak mau ikut saya pulang?" Candanya.
Pak Bagas tersenyum kaku. "Yaudah sana. Makasih." Hanya itu. Bahkan Pak Bagas tidak terlalu serius menanggapi Nanta.
Nanta meringis, memaksakan bibirnya tersenyum. "Sama-sama Bapak Bagas dirgantara yang terhormat."
Untung saja Nanta tidak memberi tahu apa yang terjadi hari ini.
Seperginya Nanta, Pak Bagas hanya terdiam, lalu memelukku.
"Are you oke, sayang?" Bisiknya.
Tanganku masuk menelusup diantara lengannya yang kekar. Membalas pelukannya dengan tak kalah erat. "Hp ku mati, Mas. Lupa bawa power bank. Nanta juga. Maaf ya gak kasih kabar."
Pak Bagas mengangguk, dagunya sudah terjatuh diatas kepalaku.
"Gak apa-apa, yang penting kamu sudah disini. Kembali ke saya. Tapi lain kali jangan diulangi ya, sayang? Saya khawatir. Mana temen-temenmu gak ada yang tau kamu dimana."
Aku mendongak, mengecup sejenak rahang Pak Bagas. "Iya, janji." Ujarku untuk menenangkannya. "Janji gak diulangi lagi. Maaf ya, Mas..."
Nyatanya jauh dilubuk hatiku yang terdalam, janji itu seperti hanya sepenggalan kata yang bisa hilang begitu cepat. Seperti yang kukatakan tadi, aku akan mengulangi momen yang sama jika Nanta yang meminta.
Sudah pasti, ketika momen itu terjadi, aku tidak akan memegang restu darinya.