Part 28

1226 Kata
"Lo pada melewatkan banyak hal dalam kurun waktu satu minggu. Pokoknya sekarang gue mau menyombongkan diri aja. Jangan iri yaaaa kawan-kawan.... iri tanda tak mampu." Aku bergerak sok keren di hadapan Dyra, Lara dan Jovita. Ketika mendapati mereka hanya menatapku tajam dan penuh tanda tanya. "Kagak perduli gue," ujar Lara, mencomot sepotong cheese cake yang tadi sengaja Jovita bawa untuk menjadi teman kami. "Ini gue sebenarnya penasaran. Tapi kalau gue tanya kenapa, pasti tu anak kepedean. Jadi mending gue diem aja." Kata Jovita. Mengunyah satu bungkus chips, yang isinya tinggal setengah. Aku tergelak, terpingkal-pingkal sampai hampir jatuh dari sofa kalau tidak Dyra menahan lalu menarik kakiku. "Apa kita buang aja yang di ke laut? Lumayan nih 3:1 pasti kalah dia." Aku berpura-pura bergidik ngeri. "Mau deh, coba dong. Mana tau bisa. Kan lumayan..." Dyra bangkit dari duduknya. Menggulung lengan kemejanya sampai siku. "Nantangin lo? Lo kira gue gak berani?" "Emang lo berani?" "Ya enggak lah." "Lah, terus lo mau ngapain?" Tanya Jovita. "Dapur. Ngambil minum. Seret nih." Lara dan Jovita kompak melempar bantal kearah Dyra. "Yeee!!! Dasar manusia ular." Sisa-sisa tawaku menguar diudara. Rasanya begitu menggelitik mengingat semalam, di dalam mobil, aku dan Pak Bagas tidak hanya berciuman. Melainkan sudah tahap saling membuka baju. Untung saja, dari awah berlawanan terlihat cahaya mobil mengagetkan kami berdua. Maka buru-buru kami memakai baju. Kembali duduk dikursi depan, menganggap tidak terjadi apa-apa. "Kamu yang buat saya begini, Al," ucapnya kala itu. Memperlihatkan wajahnya semerah tomat. Apalagi kabutan gairah dari matanya. "Bapak juga yang bikin saya begini. Saya masih polos loh ini. Jangan macem-macem," balasku gak terima. "Polos apaan? Sini saya cium lagi. Pembuktian, kamu beneran masih polos apa gak." "Itu namanya modus!" Aku menggigit lengannya membuatnya mengerang frustasi. "Mobil sialan," gumamnya. Tetapi aku masih dapat mendengarnya. "Hah? Apa? Bapak bilang apa?" Pak Bagas pura-pura memasang ekspresi kagetnya. "Hah? Apa? Emang saya bilang apa?" "Bapak bilang mobil sialan. Mobil siapa? Mobil yang tadi hampir nge-gep kita?" Godaku. "Perasaan mu aja. Jangan ajak saya bicara dulu. Bibir saya masih sakit. Kamu gigitnya kuat banget." Bisa-bisanya si duda ganteng ini bersilat lidah. "Yaudah, besok kalau Bapak cium saya, saya bakal diem aja deh. Gak balas saya balas." Aku mencebibikkan bibir. Pura-pura terlihat sedih. "Eh gak gitu!" Panik kan, ganteng.... "Boleh kok. Boleh gigitin bibir saya sepuasnya." Yeu, tadi aja sok-sokan nolak. Padahal sendirinya keenakan. Mengingatnya membuat ku meremang. Jadi, lebih baik kita balik ketopik semula. Dimana trio ubur-ubur tersebut sudah duduk berdempetan dengan ku. Dyra di sayap kanan, Lara di sayang kiri sedangkan Jovita di depan sebagai pertahanan agar aku tidak bisa kabur. "Jadi gimana? Cerita please, atau lo bener-bener gue lempar ke laut." "Awalnya itu 3 minggu yang lalu, gue dijebak sama Pak Bagas. Doi nawarin diri untuk nemenin gue makan siang. Tentu saja dengan iming-iming gue bakal ditraktir, ya gue mau-mau aja dong, lumayan. Tapi namanya juga Alana, bisanya cuma berharap dan tentu saja yang berkehendak Pak Bagas. Gue dibawa kerumah orangtuanya, nyet. Gue di masakin makanan yang super duper banyak. Kalau cuma ketemu Raga dan Kayyisa aja, mungkin gue bakal biasa aja. Ini Mamanyaa, buset dah.... cantik banget, putih banget. Mulus. Pantas aja anaknya cakep-cakep. Papanya Pak Bagas gak ada, lagi keluar kota. Rumahnya besar. Yang bikin gue terkejut, dari awal gue datang sampe mau pulang, para pekerja dirumahnya memperlakukan gue kayak mereka memperlakukan Kayyisa. Lo bayangin, derajarnya aja uda banget. Kayyisa itu menantu, lah gue cuma asisten majikannya. Gue sama Kayyisa bener-bener gak dibedain. Sama rata. Gue sampe ngira, gue bakal bener-bener jadi menantunya." DASAR JOMBLO! Denger aku cerita gitu aja, mereka uda senyum-senyum sendiri. Lihat tuh Dyra, pipinya sampai memerah. "Terus-terus?" "Sebelum makan, Pak Bagas iseng jahilin Raya, anaknya Raga sama Kayyisa. Rayanya nangis, Kayyisa sih gak kelihatan kesusahan ya buat nenangin anaknya. Tapi gue ikut menawarkan diri untuk membantu menenangkan Raya, mana anaknya gemes banget lagi waktu nangis. Gak tahan gue. Eh... waktu Rayanya uda tenang, kita bertiga ketawak tu. Mamanya tiba-tiba nimbrung, meluk bahu gue. s**t, baper gue." Lara memeluk lengannya sendiri. "Terus yang bikin lo anjlok banget moodnya apa? Gak mungkin dong itu." Aku mengulur waktu. Menenggak habis minuman soda milik Jovita. "Gue ditawarin lagi masak bareng sama Mamanya, hari minggu kemarin. Pagi tuh, jam-jam 10 gitu. Karena yang ada disana cuma gue sama Mamanya, gue gak banyak memalukan apapun. Gue cuma ngobrol seadanya, makan juga. Habis itu gue balik. Jam dua siang, lagi terik-teriknya matahari, macet juga. Dilampu merah, f**k, gue lihat Andre sama Sandra ketawa-ketawa di atas motor. Ngerti gak sih, gue selama ini sakit karena mereka, sedangkan mereka enak-enaknya bahagia diatas penderitaan gue. Sebelumnya gue juga pernah ketemu sama mereka. Di Mall, ada Pak Bagas juga. Disitu gue baik-baik aja, gue kayak bakal memaafkan apa yang uda mereka lakuin ke gue. Gue juga menawarkan diri untuk bisa kembali menjadi teman Sandra dan mau dihubungi kalau Sandra lahiran. Tapi pas lihat mereka dilampu merah itu, gue gak terima. Gue ngerasa bodoh banget. Bisa-bisanya gue memaafkan mereka semudah itu. Bermalam-malam gue galau, anjir. Sampek besoknya gue ketemu Pak Afif, gue cuma memberitahu kasarnya saja. Dia nyuruh gue ngomong baik-baik sama Sandra dan Andre. Tentu aja, galau gue gak langsung hilang. Dan kemarin waktu gue inisiatif ni Mall sendiri, gue ketemu lagi sama Sandra. Asli, gue kayak kerasukan setan. Gue semprot dia didepan umum. Gue gak perduli mau dia lagi hamil atau gimana, gue bentak dia. Gue kata-katain gimana hebatnya dia rebut Andre dari gue. Gimana hebatnya dia tidur bareng Andre. Gue buta banget. Gue sampek gak ngira ternyata marah ke dia bikin energi gue tersedot habis. Gue hampir jatuh, Buk. Untung ada Nanta, dia yang akhirnya nganterin gue balik." Waktu menyebut nama Pak Afif, alis Dyra menukik. Seperti enggan mendengarnya, tetapi ingin tau kelanjutannya. "Gak mungkin cuma anterin balik doang. Pasti ritual lainnya masih ada," selidik Dyra, mengingat perempuan itu adalah sepupu Nanta. "Kita berdua keliling kota. Dia beliin gue jajan untuk mengembalikan mood gue. Dia juga bawa gue ke tempat langganan dia beli nasi uduk. Asli, anaknya sabar banget ngehadepin gue. Salut gue." Dyra menepuk tangannya. Cengiran jahilnya keluar. "Tuh, Lar, gue uda bilang, sepupu gue itu naksir berat sama dia. Gak mungkin Nanta rela ngehabisin waktunya gitu aja kalau cuma buat nenangin Alana. Pasti ada udang dibalik batu." "Gue juga sependapat sama lo, Dyr. Kalau temenan pasti gak sampek segitunya. Setelah gue pikir-pikir, Nanta anaknya lumayan juga. Ganteng, baik, ramah, gak kayak Pak Bagas, cuek. Kalau memang lo sama Pak Bagas gak ada hubungan apa-apa, Nanta lo gas ajalah, Al, sayang kalau modelan begitu lo sia-siain." Sahut Jovita yang membuat aku mengerjap kaget. "Apaan, waktu gue nanya dia naksir gue apa gak, dia jawabnya enggak, nyet. Malah naksirnya sama Pak Bagas. Dua kali gue pastiin. Tetap aja jawabannya Pak Bagas." "Dan lo percaya?" "Percaya, Lar. Didepan gue dia gak ada malu-malunya. Kayak gue itu bukan orang yang lagi dia taksir. Makan sesukanya. Nyerocos semaunya. Bener-bener kita berdua uda kayak temen deket." Dyra, Lara dan Jovita serentak menepuk jidat. Emang aku salah? Kan biasanya memang seperti itu. Kita akan berubah menjadi lebih kalem dan diam kalau sudah menghadapi seseorang yang kita suka. Kita juga akan malu-malu melakukan sesuatu dihadapannya. Kalau bisa kabur, mending kabur aja. Dari pada ketahuan salah tingkah. Faktanya Nanta tidak seperti itu. Nanta gak naksir aku. Tapi Nanta naksirnya sama Pak Bagas. Mungkin naksir dalam artian karena Pak Bagas orangnya pekerja keras, berwibawa, disegani banyak orang. Dan itu wajar, bukan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN