Bab 1. Gugatan Hak Asuh Anak
"Kamu tidak akan bisa mengambilnya dariku, Rafka!" Suara Nina bergetar, penuh dengan amarah yang selama ini dia pendam di meja hijau itu.
Rafka tidak segera menjawab. Ia hanya melirik sekilas ke arahnya, kemudian mengalihkan pandangan ke pengacaranya.
"Saya memiliki bukti bahwa saya adalah ayah kandung dari anak itu," kata Rafka dengan suara tenang namun penuh otoritas, "Saya memiliki hak untuk mengenalnya, membesarkannya, dan memberinya kehidupan yang lebih baik."
Dada Nina terasa sesak hingga tenggorokannya tercekat, namun mata hakim kini mengarah kepadanya, menunggunya berbicara.
"Kau tidak tahu apa pun tentangnya," ujar Nina lirih, suaranya terdengar lebih lemah dari yang ia harapkan. "Kau bahkan tidak tahu bahwa dia ada sampai beberapa bulan lalu. Dan sekarang, kau ingin merebutnya dariku? Kau ingin membangun hubungan dengan paksaan?"
Rafka menghela napas panjang, lalu berdiri dari kursinya.
"Aku tidak ingin merebutnya," ucapnya lebih pelan, kali ini matanya menatap langsung ke dalam mata Nina, "Aku hanya ingin mendapatkan kesempatan untuk menjadi ayahnya."
Nina tertawa sinis, meski air mata mulai menggenang di sudut matanya.
"Kau ingin menjadi ayahnya? Setelah bertahun-tahun kau biarkan aku menderita, sendirian? Setelah aku harus bekerja siang malam untuk membesarkannya? Setelah aku harus menjawab pertanyaannya setiap malam tentang siapa ayahnya? Kau pikir hanya dengan mengajukan gugatan, kau bisa mendapatkan tempat dalam hidupnya?" cecar Nina.
Rafka terdiam.
Untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang retak di balik ekspresi dinginnya karena ucapan Nina, nyatanya ucapan Nina menyayat hatinya.
Namun luka di hati Nina terlalu dalam untuk sekadar tersentuh oleh ekspresi menyesal itu.
Hakim mengetuk palunya, mengisyaratkan sidang diskors sementara karena keadaan mulai tidak kondusif. Nina berjalan keluar dengan langkah cepat, mengabaikan panggilan pengacaranya. Napasnya berat, dadanya sesak, dan matanya mulai memanas.
Di luar, hujan masih turun. Nina berdiri di bawah teras pengadilan, meremas jemarinya sendiri untuk menenangkan diri. Namun ketenangan itu hancur ketika suara langkah berat terdengar mendekat.
"Nina."
Dia tahu suara itu, suara yang dulu pernah ia rindukan, tetapi kini hanya membawa luka.
"Apa yang kau inginkan, Rafka?" Nina menoleh dengan mata berkaca-kaca. "Belum puas kau menyakitiku? Kau ingin menang, begitu?"
Rafka diam sejenak, menatapnya dengan ekspresi yang sulit diterjemahkan, "Aku hanya ingin berada di hidupnya juga hidupmu."
"Dan kau pikir, dengan cara ini kau bisa masuk dalam hidupnya?" suara Nina meninggi, "Aku sudah memberikan yang terbaik untuknya! Aku sudah memastikan dia tumbuh tanpa kekurangan cinta, tanpa perlu merasa tidak diinginkan oleh ayahnya! Tapi sekarang kau datang, dengan kekuasaanmu, dan mencoba merebutnya dariku!"
Nina menarik napas gemetar. "Kau ingin mendapatkan kembali sesuatu yang kau buang dulu, tapi kau tidak ingin berusaha. Kau hanya ingin menang. Tapi dengar baik-baik, Rafka—ini bukan permainan bisnis yang bisa kau menangkan dengan uang dan pengacaramu!"
Rafka tidak segera menjawab, matanya kian berkabut dan rahangnya mengeras.
"Aku tidak ingin menang, Nina," suaranya serak, "Aku hanya ingin dia tahu… bahwa aku menyesal."
Nina tergelak pahit "Menyesal?" liriknya kemudian melangkah mendekat, menatap langsung ke mata Rafka, "Di mana kau saat aku menangis sendirian di rumah sakit, Rafka? Saat aku bertaruh nyawa melahirkannya? Kau pikir hamil seorang diri itu, mudah? Dengan semua pikiran negatif orang-orang memandang sebelah mata ke arahku? Di mana kau saat aku harus bekerja siang malam hanya untuk memastikan dia bisa sekolah dan makan untuk tumbuh kembangnya? Di mana kau saat dia bertanya tentang ayahnya dan aku harus berpura-pura tersenyum, mengatakan bahwa ayahnya pasti punya alasan untuk tidak menemui, kami?"
Rafka tidak bisa menjawab.
"Kau tidak berhak menyesal sekarang, Rafa! Kau tidak berhak datang kembali dan meminta bagian dalam hidupnya seolah-olah kau tidak pernah menghancurkan hidupku!" sinis Nina menghantam telak d**a Rafka.
Untuk pertama kalinya, ketakutan muncul di mata Rafka. Ketakutan karena ia tahu—tidak peduli seberapa keras Rafka berusaha, Nina mungkin tidak akan pernah memaafkannya.
Keduanya hanya saling mengincar mata satu sama lain penuh ketegangan, sesaat hingga sebuah suara kecil tiba-tiba terdengar dari belakang.
"Ibu…?"
Nina tersentak. Di depan mereka, seorang bocah lelaki berdiri dengan wajah bingung dan mata polos. Dia adalah Sagara, anak mereka.
Nina langsung berjongkok dan meraih tangan putranya, berusaha menenangkan detak jantungnya yang menggila. Tapi di saat yang sama, ia melihat Rafka terpaku, wajahnya berubah sepucat kertas, karena ini pertama kalinya, Rafka melihat anaknya dengan mata kepala sendiri.
Bocah itu menatap Rafka dengan ekspresi bingung. "Siapa Om itu, Ibu?"
Nina menelan ludah. Sebelum ia bisa menjawab, air mata Rafka telah jatuh. CEO berkuasa dan terkenal kejam itu untuk pertama kalinya meneteskan air mata di depan orang lain.
Dan itu untuk putranya, sambil berusaha menggapai Saga, namun Saga justru mundur sedikit dan bersembunyi di belakang Nina.
"Aku nggak mau pergi sama Om ini, Bu. Aku mau tetap sama Ibu!"
Dunia Rafka seakan berhenti. Laki-laki kecil yang sangat mirip dengannya itu takut dan menolaknya.
Nina bisa melihat tangan Rafka mengepal, rahangnya mengeras, dan matanya berkabut. Tetapi untuk pertama kalinya, kesombongan itu runtuh sepenuhnya.
Perlahan, Rafka berlutut di depan putranya. Bukan sebagai CEO, bukan sebagai pria berkuasa, tetapi sebagai ayah yang menyesal.
"Aku bukan Om," suaranya bergetar, "Aku—" Rafka menelan ludah, lalu mengulanginya dengan lebih lirih. "Aku ayahmu, Nak!"
Anak itu mengernyit, lalu menatap Nina, seolah mencari kebenaran dalam kata-kata itu.
Nina merasakan hatinya hancur melihat adegan itu. Tapi ia juga tahu—meskipun luka di antara mereka begitu dalam, cinta seorang ayah tetaplah ada.
Dan untuk pertama kalinya, Rafka terlihat seperti pria yang benar-benar kalah.
"Ibu… dia benar ayahku?" suaranya kecil, nyaris tenggelam oleh gemuruh air yang jatuh dari atap gedung pengadilan.
Nina terdiam. Bibirnya terbuka, tapi kata-kata seolah tertahan di tenggorokannya. Ia bisa merasakan tubuh kecil putranya sedikit gemetar, takut pada pria asing yang tiba-tiba mengaku sebagai ayahnya.
Di sisi lain, Rafka tampak seperti pria yang baru saja kehilangan seluruh dunianya. Dia menundukkan kepalanya, lalu berbisik dengan suara yang nyaris tak terdengar,
"Aku mengerti kalau kamu membenciku, Nina… Tapi tolong, jangan ajarkan anak kita untuk membenciku juga!" lirih Rafka mrmbuat Nina menegangmenegang, "Kau tau pasti Nina, aku melakukan ini karena masih mencintaimu!"
Kata-kata itu menusuknya seperti belati.
"Jadi begini caramu mencintaiku? Dengan memaksaku menyerah dan kau mengambil putraku? Cinta penuh paksaan seperti ini?"
Rafka cukup tepukul dengan ucapan Nina, dia tahu sekarang—cinta tidak bisa dipaksakan. Tidak dengan cara menuntut hak asuh anaknya untuk memaksa Nina menerimanya kembali.
Rafka sejujurnya tidak ingin menang, dia hanya ingin diberi kesempatan untuk menebus kesalahannya.