"Tuan, Anda butuh payung?"
Seorang satpam gedung pengadilan menatapnya dengan ragu, mungkin mengira Rafka seorang pria patah hati yang siap melakukan hal nekat.
Rafka menoleh, menatap pria itu dalam diam. Lalu, tanpa mengatakan sepatah kata pun, dia berbalik dan mulai melangkah pergi.
Setiap langkah terasa berat. Setiap langkah terasa seperti bagian dari dirinya yang jatuh satu per satu, hancur tanpa bisa diperbaiki.
Begitu sampai di mobilnya, dia masuk tanpa peduli tubuhnya yang basah kuyup. Dia duduk di kursi pengemudi, menggenggam kemudi erat, berusaha meredam guncangan yang melanda dirinya.
Rafka tersenyum getir.
Dia yang dulu meninggalkan Nina dengan mudah, kini harus merasakan bagaimana rasanya ditinggalkan.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Rafka merasa benar-benar sendirian.
Setelah beberapa lama duduk dalam keheningan, Rafka akhirnya menghidupkan mesin mobilnya dan melaju di bawah guyuran hujan.
Dia tidak tahu mau ke mana, karena tidak ada tempat yang terasa seperti rumah. Tapi entah bagaimana, tanpa sadar, dia menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah kecil di pinggiran kota.
Rumah yang pernah dia tinggali bersama Nina. Rumah yang dulu dia tinggalkan tanpa menoleh ke belakang sedikitpun.
Jantungnya berdetak lebih kencang. Tangannya gemetar ketika dia meraih pegangan pintu mobil, tetapi dia tidak keluar. Dia hanya duduk di sana, menatap rumah itu dalam diam.
Lampu ruang tamu menyala. Dari balik jendela, dia bisa melihat bayangan seorang wanita yang sedang mengangkat sesuatu—mungkin sedang membereskan meja makan.
Lalu, sebuah bayangan kecil berlari ke arahnya.
Anaknya! Membuat Rafka menahan napas.
Untuk pertama kalinya, dia melihat dengan matanya sendiri bagaimana kehidupan mereka tanpa dirinya. Tanpa sadar, Rafka mengulurkan tangannya, seolah ingin menyentuh bayangan itu.
Namun pada saat itu juga, bayangan seorang pria muncul dari belakang, merangkul Nina dari belakang dengan lembut.
Jantung Rafka mencelos.
Nina tidak menolak.
Sebaliknya, mereka terlihat sudah biasa melakukan itu dan terlihat saling tersenyum.
Membuat Rafka, akhirnya menyandarkan kepalanya ke kemudi, menutup matanya erat-erat karen da danya sakit.
Bukan karena ego yang terluka.Bukan karena kekalahan. Tapi karena ia sadar bahwa penyesalan ini mungkin sudah terlambat.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar dan Rafka mengambilnya, sesaat terbelak namun tetap dia angkat.
Suara di seberang terdengar familiar, tajam, penuh perhitungan.
"Rafka, kita perlu bicara!"
Sebelum bisa Rafka jawab, suara di seberang melanjutkan, kali ini dengan nada yang lebih dingin, "Tentang Nina dan Saga, aku tau kau di ujung jalan melihat kami!"
Darah Rafka membeku.
Rafka tidak bisa mengabaikan panggilan itu begitu saja. Entah karena harga dirinya atau karena dorongan lain yang lebih dalam, dia akhirnya setuju untuk bertemu.
Mereka bertemu di sebuah kafe sepi di pinggiran kota dengan suasana dingin selepas hujan.
Pria itu sudah duduk di sana ketika Rafka tiba—tenang, berwibawa, seolah tidak tergoyahkan oleh apapun. Dan itu semakin membuat darah Rafka mendidih.
Tanpa banyak basa-basi, Rafka duduk di hadapannya, menatap tajam.
"Katakan! Apa yang ingin kau katakan! Aku tidak akan basa-basi!"
Pria itu menyesap kopinya, "Aku tidak ingin ada drama, Rafka. Aku hanya ingin memastikan satu hal!"
Rafka mengernyit, "Apa?"
"Apa kau benar-benar siap untuk memperjuangkan mereka kembali?"
Sebuah pertanyaan sederhana, tapi menghantam Rafka seperti pukulan telak hingga Jari-jarinya mengepal sempurna.
"Apa maksudmu?"
Pria itu menyandarkan punggungnya, masih dengan ekspresi yang tenang, "Nina sudah cukup menderita karenamu, Rafka. Dia sudah berusaha keras untuk melupakanmu, membangun hidup baru, dan … Aku ada di sana untuknya selama bertahun-tahun. Aku yang menemaninya saat dia menangis. Aku yang melihat bagaimana dia berusaha menjadi ibu yang baik untuk anakmu, Aku yang—" Dia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih tegas, "Aku yang selalu ada saat kau memilih untuk tidak ada!"
Setiap kata yang keluar dari mulut pria itu seperti belati yang menusuk hati Rafka. Tapi yang paling menyakitkan adalah karena semua itu benar.
Rafka meneguk ludah, berusaha menahan emosinya.
"Dan sekarang, setelah kau melihat dia baik-baik saja tanpa dirimu, kau ingin merebutnya kembali?" tajamnya.
"Aku tidak merebut siapapun! Nina adalah istriku!" pekik Rafka.
Namun, pekikan Rafka membuat pria itu tersenyum miring, "Istrimu?" gelengnya pelan, "Tidak, Rafka. Dia mantan istrimu!"
"Dengar," pria itu bersandar ke depan, suaranya lebih rendah tetapi lebih menusuk. "Aku tidak di sini untuk bertengkar denganmu. Aku hanya ingin kau berpikir baik-baik … Apakah kau benar-benar pantas mendapatkan kesempatan kedua? Apakah Nina masih menginginkanmu? Dan yang paling penting—" dia menatap Rafka tajam, "Apakah anak itu masih membutuhkanmu?"
Kata-kata terakhir itu terasa seperti hantaman yang membuat Rafka kehilangan napas, karena untuk pertama kalinya, ia benar-benar meragukan jawabannya sendiri.
Setelah pertemuan itu, Rafka tidak langsung pulang. Dia mengemudi tanpa tujuan, pikirannya kacau.Namun entah bagaimana, tanpa sadar, dia kembali berhenti di depan rumah Nina.
Dari balik kaca mobil, dia melihat Nina dan anak mereka di dalam. Mereka tampak bahagia. Putranya tertawa dalam pelukan pria itu.
Dulu, dia menganggap pernikahannya sebagai sesuatu yang biasa saja. Dia yakin bahwa Nina akan selalu ada untuknya, apa pun yang terjadi.
Dan itu menghancurkannya lebih dari apapun.
Dulu, dia menganggap pernikahannya sebagai sesuatu yang biasa saja. Dia yakin bahwa Nina akan selalu ada untuknya, apa pun yang terjadi. Tapi sekarang, dia menyadari bahwa dunia tidak menunggu orang-orang seperti dirinya.
Tanpa sadar, tangannya merogoh kantong jasnya dan mengeluarkan cincin pernikahannya. Cincin yang tidak pernah dia lepaskan, meskipun mereka sudah lama berpisah.
Ia menatap cincin itu lama, sebelum akhirnya menggenggamnya erat. Sebuah keputusan mulai terbentuk di benaknya. Ia tidak akan menyerah begitu saja.
Tidak peduli berapa lama waktu yang dia butuhkan, dia akan mendapatkan keluarganya kembali. Rafka bersumpah untuk memperjuangkan keluarganya sampai ujung.
Selepas itu, Rafka memilih ke perusahaan karena rumah sangatlah mencekam untuknya, Rafka memilih istirahat di kantor.
Namun, hingga tengah malam, dia tetap tak bisa tidur dan tiba-tiba sebuah pesan masuk.
[Jika kau masih ingin memperjuangkan Nina, kau harus tahu sesuatu. Dia tidak sebaik yang kau kira]
Dahi Rafka berkerut dengan jantungnya berdetak lebih cepat membaca pesan itu, karena terlihat si pengiriman sedang mengetik.
Dan sebuah foto datang.
Foto Nina, bersama pria itu sedang berciuman.
Darah Rafka seketika naik, dia menatap layar ponselnya dengan mata membelalak.
Apa-apaan ini?
Dengan tangannya gemetar, Rafka masih terus membaca pesan selanjutnya.
[Dia bukan wanita sebaik yang kau pikirkan, Rafka. Dia sudah mengkhianatimu jauh sebelum kau meninggalkannya!]
Rafka merasa dunia berputar, tangannya terkepal erat hingga kuku-kuku tangannya memutih dan da danya naik-turun. Apa maksudnya?
Apa ini berarti Nina sudah mengkhianatinya lebih dulu?