Bab 3. Pusara Masa Lalu

1066 Kata
Apa ini berarti Nina sudah mengkhianatinya lebih dulu? Rafka tidak bisa tidur malam itu karena sangat gelisah dan memikirkan Nina. Dia menatap langit-langit apartemennya yang gelap, pikirannya terus berputar, mengulang kembali semua kenangan tentang Nina. Mungkinkah ia telah dibodohi selama ini? Mungkinkah Nina benar-benar mengkhianatinya bahkan sebelum dia pergi? Ataukah ini hanya permainan seseorang yang ingin menghancurkannya lebih dalam? Tak bisa menahan diri lagi, dia bangkit, mengambil ponselnya, dan menghubungi seseorang yang bisa memberinya jawaban, yaitu sekretaris pribadinya. "Tuan Rafka? Ada yang bisa saya bantu?" suara di seberang terdengar sedikit mengantuk. "Aku ingin kau mencari tahu sesuatu." Rafka menarik napas dalam, "Tentang pria itu, kapan dia mulai dekat dengan Nina." Ada jeda di seberang, seakan lawan bicaranya ragu. "Baik, Tuan. Saya akan menghubungi Anda secepatnya setelah saya mendapatkan informasi." Keesokan harinya, Rafka menunggu dengan gelisah di kantornya. Tangannya terus mengetuk meja, pikirannya penuh dengan kemungkinan-kemungkinan buruk. Hingga akhirnya, telepon berdering, dengan cepat, ida mengangkatnya, "Tuan Rafka, saya sudah mendapatkan informasi yang Anda minta." "Katakan!" jawab Rafka dengan jantung yang mulai berdebar kuat. "Pria itu… sudah berada di sekitar Bu Nina bahkan sebelum Anda meninggalkannya sepuluh tahun lalu!" Rafka menggenggam ponselnya erat, "Maksudmu?" "Dia adalah teman dekat Bu Nina sejak lama, Pak ... Bahkan, berdasarkan beberapa sumber, dia adalah seseorang yang selalu diam-diam menyukai Bu Nina, tapi tidak pernah berani mengungkapkannya karena Bu Nina sudah bersama, Anda!" Kepala Rafka terasa berat, informasi ini membuatnya tidak percaya, dia masih ingin tetap menyakini istrinya bukan wanita peselingkuh. "Jadi kau ingin bilang, mereka punya hubungan sebelum aku pergi?" tanya Rafka kembali dengan ragu-ragu. "Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa mereka menjalin hubungan sebelum Anda pergi, Tuan. Tapi… ada sesuatu yang mungkin ingin Anda ketahui." Rafka mengernyit. "Apa?" "Anak itu, Tuan… Ada kemungkinan bahwa dia bukan anak kandung Anda." Rafka terduduk di kursinya, matanya membelalak, kalimat itu membuatnya meradang dan sakit yang lebih dalam, lebih dari saat melihat Nina bersama laki-laki itu, Naka. Rafka mengenal Naka dulu dengan baik, maka dari itu Rafka tak menyangka saat Naka mengajak bertemu tentang Nina. "Apa maksudmu?!" pekik Rafka meninggi, dadanya naik-turun dengan napas yang tersengal. "Saya belum bisa memastikan, tapi ada rumor yang beredar di sekitar lingkungan Nina saat itu. Beberapa orang mengatakan bahwa pria itu sudah terlalu dekat dengan Nina bahkan sebelum Anda berpisah!" Rafka menelan salivanya dengan berat, tangannya gemetar dan tak ingin mempercayai informasi ini. Tidak mungkin! Tidak mungkin Saga, bukan darah dagingnya, wajahnya saja sangat mirip dengannya. Rafka kembali mengingat pertemuan dengan putranya, saat ketakutannya melihatnya, meneri jarak agar tidak me mendekatinya. Apakah ini sebabnya? Apakah selama ini Rafka mengejar sesuatu yang bahkan bukan miliknya? Lalu, tiba-tiba ponselnya kembali bergetar saat keadaan Rafka masih terpukul. Kali ini, sebuah pesan masuk dari nomor anonim yang sama. "Sekarang kau sudah tahu, tapi jika kau masih menginginkan kebenaran, temui aku di alamat ini." Di bawahnya, sebuah alamat tertera. Rafka menatapnya lama dengan tangan terkepal. Sesaat Rafka meletakkan kembali ponselnya, dan menangkupkan wajah di meja kebesarannya, mencoba menguasai semua informasi yang masuk, karena Nina yang dia kenal dulu bukan wanita yang seperti itu. Bahkan saat dirinya begitu b******k bermain wanita dan pulang pergi semaunya, menjadikannya pelampiasan naf su kapanpun dia inginkan, Nina masih berdiri di tempat yang sama. Rafka muda yang masih yang memberontak karena perjodohan yang dilakukan keluarga mereka, dan merasa tak mencintaimu Nina, mencoba memukul mundur Nina agak menyerah dengan rumah tangga itu dengan melakukan be jat nya, namun Nina masih berdiri di tempat yang sama, menyambut kepulangannya dengan binar cinta. Melupakan dan terus memaafkan kesalahannya, membuat Rafka yakin, Nina akan terus menunggu dan mencintainya. Rafka kemudian mencengangkan rambutnya kuat-kuat, saat kenangan demi kenangan mulai memenuhi kepalanya, menyeretnya kembali ke masa itu. Masa dimana dia terus menyia-nyiakan wanita sebaik dan setulus Nina, dengan perpisahan yang menyakitkan. Rafka ingat betul, malam itu dia pulang dengan banyak rencana menceraikan Nina, namun dia tergiur dengan Nina yang tersenyum teduh dengan dress mini yang dia kenakan. Mematik gai rah yang ada di dalam dirinya, dan menyeret Nina ke ranjang untuk menggapai nirwana bersama. Malam itu terasa berbeda dari malam-malam sebelumnya, entah kenapa Rafka begitu membawa layaknya api tersiram bensin, hingga Rafka melakukannya berkali-kali dengan pikiran mengambil haknya untuk yang terakhir kali. Rafka akui, Nina tidak ada kurangnya sebagai istri bahkan setelah 2 tahun pernikahan, hanya cinta tak ada dalam hatinya. Nina terlalu monoton untuk kenakalannya saat remaja. Nina terlalu baik, membuatnya tak merasa pantas menjadi suaminya. Dia begitu sabar selama empat tahun menghadapi Rafka. Semua kebutuhan Rafka dia penuhi, dari urusan mata, perut hingga bawah perutnya, semua selalu terpu as kan. Rafka akui, ser vice Nina makin hari juga makin membuatnya melayang. Suara liarnya kini juga makin terasah dan membuatnya melambung. Namun, hal itu semua tak bisa membuat cinta di hati Rafka tumbuh untuk Nina. Selepas penyatuan dah syat malam itu, Rafka terduduk di ujung ranjang dengan kedua jari menjapit rok ok dan menyulutnya. Nina masih tergolek tanpa pakaian di bawah selimut mereka, sesekali Rafka menoleh dan menatap punggung putih itu yang penuh dengan kissm ark darinya dengan sudut bibir terangkat. Cukup lama, hingga Rafka sudah menghabiskan banyak batang rok ok, dan terdengar leng guhan Nina pertanda dia terbangun. "Mas!" lirihnya hanya dijawab deheman oleh Rafka. "Sudah rapi mau kemana, Mas? Ini masih malam!" ucapnya lagi beringsut mendekati Rafka dan memeluknya dari belakang. Rafka hanya melirik sekilas, saat tubuh pol os itu menempel padanya, "Aku akan pergi, Nina!" "Iya, Pergi kemana? Tengah malam ini, Mas! Apa kamu tidak lelah?" tanya Nina pelan, karena pergumulan mereka yang cukup panjang pasti membuatnya lelah, Nina saja rasanya patah pinggang. "Pergi jauh! Aku tak bisa melanjutkan pernikahan tanpa cinta ini, kita sudahi sampai di sini!" "Apa maksudmu, Mas? Kita baik-baik saja! Aku menerima semuanya, tidak apa jika kamu masih suka bermain wanita diluar sana, asal kamu tau jalan pulang! Aku tidak masalah!" jawab Nina keberatan. "Tidak, Nina, aku tidak mencintaimu! Aku tertekan menikah denganmu!" "Tertekan? Aku tidak menuntutmu apapun, Mas! Apa aku ada salah?" tanyanya. "Tidak, kita hanya tidak bisa bersama!" Sontak Rafka mendengar suara ia akan mulai terdengar dari belakang tubuhnya, membuatnya sontak berdiri. "Urusan perceraian akan aku urus, agar kau masih mendapatkan uang iddah dan gono gini! Rumah ini akan menjadi milikmu!" ucap Rafka. "Teganya kamu, Mas! Kamu menceraikan aku setelah menikmati tub uhku! Bahkan, tub uhku masih polos!" pilu Nina. Mendengar itu, Rafka kamudian mulai berjalan pergi tanpa berniat mendebat Nina, karena keputusannya sudah bulat. Meninggalkan Nina yang menangis tergugu di atas ranjang mereka tanpa menoleh sedikitpun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN