Di depan jendela apartemen dengan tirai yang masih terbuka, seseorang mematung di tempat. Memandang lekat area perkotaan dari apartemennya. Dari sini dia bisa melihat kepadatan kota. lampu-lampu dari rumah warga terlihat seperti kunang-kunang. Indah, bulan besar pun ikut merestuinya. Namun hatinya sama sekali tidak merestui keindahan ini. Gelisah dan bingung, perasaan yang tidak bisa dia deskripsikan. Semenjak pulang dari rumah Dhita, pikirannya hanya tertuju pada seorang wanita. Sahabatnya .... Tidak! Cintanya. Pengakuan yang cukup menyakitkan. Menganggap Gisel sebagai perantara sakit hatinya. Selama ini Agam menyembunyikan kebenaran. Sebuah kebenaran bahwa dia mencintai sahabatnya sendiri. Ditatapnya sebuah foto bingkai yang baru saja dia ambil di dalam nakas. Itu fotonya bersama Dh

