BAB 18

2218 Kata
"Mas...kita ke dokter aja yuk!" ucap Nara dengan nada memelas. "Ini uda tengah malam, sayangku..Dokter mana yang buka tengah malam gini?" jawab Angga dengan sabar dan hangat. "ke Rumah sakit! kan ada UGD..." "Terus bilang apa? Karena di cakar istrinya saat bercinta?" Angga menggoda istrinya yang mengoles punggungnya dengan kapas. Malam ini dimana mereka berusaha menahan gairah agar esok hari tidak lelah, malah berakhir dengan persetubuhan yang lebih liar dari sebelumnya. "Abisnya mas ga punya betadine, ga punya minyak tawon, terus ini di apain?" tanya Nara merasa bersalah karena melukai punggung suaminya. "Di kasih Alkohol itu uda cukup untuk antiseptik.....sekarang bobok aja ya!" Angga merubah duduknya. Yang tadi membelakangi, kini dia menghadap istrinya dan menatap lembut. "Lho kok nangis?" Angga mengusap airmata istrinya yang meleleh dipipinya. "Gara-gara aku jadinya mas luka....." ucap Nara menunduk karena merasa bersalah. "Tapi mas suka, jadi gimana donk?" tanya Angga meraih dagu Nara lalu mencium lembut bibirnya. Nara tetap diam tak merespon suaminya. "Coba kamu liat pundakmu! Uda ga semulus waktu kamu datang kesini...." ucap Angga lagi. Nara melihat pundaknya yang sudah ada bekas gigitan suaminya. "Tapi ga sesakit punggung mas Angga...." Angga menangkup kedua pipi istrinya dan menatap hangat wajah Nara. "Byanara.....rasa sakit ini ga sebanding dengan rasa bahagia mas. Malam ini kita bener-bener berkeringat. Mas mau melakukannya lagi. Sekarang kita tidur ya...." Akhirnya Nara bisa tertidur setelah Angga merayu dan menenangkan hatinya. Esok Pagi (Rabu pagi) Angga sedang memasak sosis, tiba-tiba Nara memeluk tubuhnya dari belakang dan mencium punggung suaminya. "Kok mas ga bangunkan Nara?" ucap Nara. "Hei....uda mandi?!" Angga merasakan gelengan, dia mengecilkan kompor dan berbalik memeluk istrinya yang manja. "Ngapain mas masak?"tanya Nara merasakan pelukan hangat suaminya. Angga mencium puncak kepala istrinya dan mengusap punggung Nara. "Mas uda biasa..." "Tapi ini tugas istri! Nara merasa jadi istri nggak berguna....." balas Nara dengan nada kecewa. "Byan, kamu istriku, bukan Assisten Rumah Tangga . Dan kamu sangat berguna di lain hal...Do you know what i mean? " Angga merasa anggukan di dadanya dan guncangan bahu istrinya pertanda tertawa kecil. "Mandi dulu sana!" Angga mengurai pelukan dan mencium kening Nara. "Atau minta di mandiin?" tanya Angga menggoda saat Nara belum beranjak. Nara langsung menjauh dari tubuh suaminya dan meninggalkan sambil berkata, "Bisa keluar tengah hari kalo mandi bareng." Angga terkekeh dan melanjutkan memasak. "Byan, kaos kakiku dimana?!" teriak Angga. "Lemari plastik merah, laci nomor 2 dari atas!" Nara juga berteriak dari dalam kamar mandi. Angga menemukan kaos kaki yang dicarinya. "Dasinya dimana, sayang?!" teriak Angga lagi. "Lemari gantungan, pintu kiri." balas Nara dengan berteriak. Tak lama Nara keluar kamar mandi, dia menghampiri suaminya. "Kemarin waktu Nara rapikan baju kayaknya Nara uda kasih tau tempatnya itu semua..." ucap Nara sambil memasang dasi di leher suaminya. "Lebih cepet nanya." jawab Angga enteng dengan melingkarkan tangannya di pinggang Nara. "Jadi percuma donk kemarin Nara ngomong panjang lebar." "Rumah ini lebih hidup kalo ada teriakan dan ocehan istri." Angga membela diri. "Alasan!" sahut Nara dan melepaskan dirinya paksa dari pelukan suaminya. Usai sarapan seadanya, mereka melanjutkan aktifitas ke kantor. Angga menghentikan mobilnya di tepi jalan. Nara mencium punggung tangan suaminya, Angga pun juga mencium punggung tangan istrinya. Pria itu menangkup kedua pipi istrinya, lalu mengecup lembut keningnya. Tak cukup dengan kening istrinya, Angga mencium ringan wajah istrinya bertubi-tubi. "Mas...ntar mas telat!" rengek Nara. Angga menghentikan ciumannya dan melepas tangannya dari wajah Nara. Si Wanita mengambil bedak dan menyempurnakan dandanannya. "Byan, kita pulang yuk!" Angga pun ikut merengek menatap wajah istrinya yang sedang menepuk bedak diwajahnya. "Ngapain?! Ada yang ketinggalan?" tanya Nara melihat sekilas ke suaminya. "Bolos! Senin depan aja masuknya........" Angga tampak lesu tak bersemangat, dia menunduk dan meletakkan keningnya di kemudi. Dia ingin menghabiskan waktu bersama istrinya, rasanya dia belum puas. Nara tersenyum melihat suaminya yang terlihat kekanakan. "Ini bener suaminya Nara? kok jadi manja gini?" Nara menggoda Angga dan mencium samping kepalanya beberapa kali sambil megusap punggung suaminya. Akhirnya sebuah senyuman tersungging di bibir Angga, dia mengangkat kepalanya dan melihat wajah Nara. "Jangan lupa telpon mas!" ucap Angga dan mengusap rambut Nara. Nara mengucapkan salam dan keluar dengan hati yang tenang. Angga melajukan mobilnya menuju tempat dia bekerja setelah melihat istrinya melewati pos secutiry. 'Miss you already, Byanara.' batin Angga sambil menggelengkan kepalanya. 1 jam berlalu. Angga merasa hari ini sangat berat, dia ingin memutar waktu lebih cepat. Dia sudah merindukan Nara. Saat Nara menerima sambungan telepon sebagai pekerjaannya sebagai recepstionist. Nara : Makmur Abadi Selamat Pagi. Dengan Nara ada yang bisa dibantu? Angga : Kok genit gitu sich ?! Nara : Mas Angga?! Angga (bernada sewot dan manja) : iya, ini suaminya Byanara Pramesti! Kemana Byanara? dari tadi di WA ga dibales. Telpon di ponselnya ga diangkat. Nara (tersenyum): kan kerja. Ponselnya di tas. Mas ngapain telpon? Angga : Kangen istri.... Ambil ponsel dan charger sekalian! Mas mau Video Call! Taruh ponselnya yang bener, biar mas bisa liat Byan. Nara : Baik suaminya Nara. Angga : ya uda...ambil dulu ponselnya! Nyalakan! Nara meletakkan gagang telpon dan mengambil ponselnya, lalu meletakkan di mejanya. Angga menghubungi melalui jaringan video call. Angga : tutup telpon kantor! Yang ini biarin nyala. Nara : Baik suaminya Nara. Dalam kondisi tertentu Angga berubah manja dan Nara harus bersikap dewasa dan mengalah. Angga melihat Nara dari saluran VC. Dia memantau kegiatan istrinya, begitu juga sebaliknya. Tak lebih 15 menit, Angga mengakhiri VC nya karena panggilan Direktur. Akhirnya keduanya tenggelam dengan tanggung jawab pekerjaan masing-masing. Jam telah berlalu, tak terasa jam pulang telah tiba. Dengan senyum sumringah, Angga menunggu Nara di dalam mobil dengan memilih lahan parkir barisan paling ujung. Senyumnya makin lebar saat dia melihat istrinya melangkah menuju ke arahnya. Nara melenggang dengan tenang dan santai. Angga kesal, rasanya dia ingin keluar dari mobil lalu menggendong istrinya. Hati Angga lebih tenang saat istrinya memasuki mobil. Wanita itu melihat suaminya yang tersenyum hangat, dia mengucap salam dan mencium punggung tangan suaminya. Angga pun membalas salam dan mencium punggung tangan Nara, tak lupa Angga juga mencium kening Nara. Perlakuan Angga membuat Nara merasa menjadi wanita yang sangat beruntung. Angga memanjakannya dengan materi dan perbuatannya. **************************** Jumat usai makan malam. "Mas, jangan lupa besok hari Sabtu, waktunya belanja. Banyak bahan yang abis...." Nara berbicara saat mendampingi suaminya bermain PS. Dia sendiri asyik dengan ponselnya dan menyandarkan kepala di lengan suaminya. "Astaga!" Angga menepuk keningnya sesaat lalu meneruskan lagi games nya. "Kenapa?" tanya Nara dengan menoleh sekilas. "Mas besok harus masuk, ada karyawan yang ketahuan korup." "Mas pulang jam berapa?" "Belum tau, sayang." "Ya uda..... Nara berangkat sendiri aja. Boleh kan?" "Pokoknya kabari mas! Berangkat jam berapa, pulang jam berapa!" pinta Angga. "Siap Ndan!" Sabtu pagi seperti biasa Nara menyiapkan segala hal untuk suaminya. Nara mengantar Angga hingga teras, dimana ibu-ibu masih mengumpul, entah belanja atau sekedar bergosip. Usai berpamitan dengan ritual seperti biasanya, kali ini Angga memberikan kecupan ringan di bibir Nara, dan moment itu jelas terlihat oleh sekumpulan ibu-ibu. Angga memasuki mobil, dan melajukan mobilnya perlahan. "Mari Bu, titip istri saya ya...." Angga menyapa ibu-ibu melalui jendela. Nara melangkah menghampiri tukang sayur dan ibu-ibu yang beberapa diantaranya masih melongo dengan ucapan Angga tentang status istri. "Ikan pindang masih ada Pak?' tanya Nara. "Mbak istrinya pak Angga ya?" tanya tukang sayur yang ikut tertular kepo. "Iya, saya istri nya Angga Laksono. Pindang masih ada?" Nara mengulang pertanyaan. "Sudah berapa lama mbak?" tanya ibu yang lain. "Baru seminggu.." jawab Nara singkat. Beberapa pertanyaan Nara jawab seadanya, namun ada beberapa hal yang tak harus di jawab, dia hanya memberikan senyuman. Pukul 10 Nara mengirimkan pesan ke suaminya. Nara : Mas, Nara ke supermarket dulu ya...mas nggak perlu balas, Nara tau mas sibuk. Bye. ? Nara mengirimkan pesan lagi. Nara : Eh iya...Nara lupa...tadi uda Nara coba.? Nara mengirimkan fotonya saat memakai lingerie dengan berbagai macam pose, lalu di akhiri foto yang terakhir Nara hanya menggunakan celana d*lam tanpa atasan. Setelah beberapa menit Nara mengirimkan pesan. Disela rapat, Angga menyempatkan diri membuka aplikasi pesan. Dia cukup terkejut, menggelengkan kepala dan mengeratkan rahangnya. Sesuatu di pusat tubuhnya membuatnya tak nyaman. 'Liar! Awas ya!' batin Angga dan melempar ponselnya sehingga menimbulkan bunyi yang menarik perhatian peserta rapat lainnya. "Ya pak Angga?" tanya Direktur Personalia yang saat berdiri memberikan paparan. Angga pun terkejut mendengar teguran dari atasannya. "Oh?! Hmmmmmm.... Tentunya saya kecewa dan merasa malu karena sempat lolos dari penilaian saya. Kita harus tahu penyebab dia korup karena apa? Income kurang? atau bagaimana?" Angga berusaha mencari jawaban. "Ya , benar juga Pak Angga....." atasannya melanjutkan diskusi. 'Hampir aja, Byan.......' batin Angga dan mengelus dadanya. Tepat pukul 13.00 Angga keluar dari kantor, dengan gembira dia menuju rumah. Dia menerima pesan istrinya telah tiba dari supermarket sejak pukul 12. Dia tak sabara ingin bermain dengan istrinya. 30 Menit kemudian Angga tiba dirumah. Tapi wajahnya berubah masam saat melihat beberapa mobil terparkir didepan rumahnya, dan beberapa motor yang mengisi garasinya. Dengan langkah gontai dan lemas dia memasuki rumah yang terdengar ramai dengan suara tawa yang tak asing. Angga mengucapkan salam, dan dibalas penghuni yang didalamnya. Nara bangkit dari kursi meja makan dan menyambut suaminya. "Mas uda maem?" tanya Nara saat mencium tangan suaminya. "Belum!" jawab Angga sambil mencium tangan Nara. Angga merangkul pundak istrinya, Nara melingkarkan lengannya di pinggang suaminya, mereka berjalan bersama memasuki rumah yang rame dengan suara wanita. Angga pun mencium pipi sepupu wanitanya dan istri dari sepupunya. "Kenapa mukanya gitu?" tanya Linda mleihat wakah Angga yang tak bersahabat. "Capek...masalah dikantor" jawab Angga. 'Masalah tegang sejak dikantor tadi, benernya bisa dituntaskan kalo ga ada kalian' lanjut Angga dalam hati. Nara berpamitan untuk melayani suaminya makan siang. Kini Angga duduk ditemani istrinya dan melihat beberapa wanita yang terlihat sibuk didapur. Dapur rumah Angga kini tampak kelihatan sempit karena kehadiran saudaranya. "Emang kalian ngapain ke sini?Tumben!" tanya Angga sambil menyuapkan makanan ke mulutnya. "Tadi aku ketemu Nara di supermarket, aku liat bawaannya lumayan banyak, dia beli bahan buat makanan enak. Aku minta ajarin. Sekalian aku panggil mereka, kita sama-sama praktek."jawab Venna mewakili suara yang lain. "Emang buat kue apa?" tanya Angga lagi. "Makanan favorit suaminya, kata Nara." sahut Amira. "Dia masak buat aku? Atau kalian bawa pulang?" tanya Angga. "Buat kita lah! Kakak uda sering dibuatin Nara." balas Isti. "Kalian bawa bahan sendiri?" "Enggak!" jawab para wanita kompak. "Perampok!" ujar Angga dan menggelengkan kepalanya. Para wanita itupun tertawa tanpa beban. "Mas kalo uda kelar maemnya, main PS aja ya....supaya masaknya cepet selesai."pinta Nara yang duduk disebelah Angga menemaninya makan siang. "Jadi mas di usir?" tanya Angga dengan lirikan sinis. "Ntar Nara buatin yang special buat mas." "Seperti yang kamu kirim foto tadi?" Angga mengingatkan keusilan istrinya dan tersenyum. "MAS!" bisik Nara dengan tekanan, matanya melotot. Angga terkekeh lalu berbisik, "punya mas uda tegang dari tadi, rasanya mas pengen ngusir mereka." "ntar mereka malah curiga" balas Nara ikut berbisik dan tersenyum. "ya uda, mas mandi aja, terus tidur ...." ucap Angga yang bangkit dari kursinya, mencium puncak kepala Nara lalu meninggalkannya bersama saudara yang lain. Nara pun kembali melanjutkan kegiatannya bersama yang lain. 1,5 jam berlalu. Angga terbangun, melihat istrinya sudah tidur pulas di sebelahnya, dia pun memeluknya secara perlahan. Pukul 16.00 "Istrinya Angga kayaknya capek banget ya?" bisik Angga sambil mencium tengkuk istrinya. Nara menaikkan bahunya, reaksi geli dari bulu halus suaminya. "Mereka pulang jam berapa?" tanya Angga lagi. "Jam 2an" Nara mengulet tubuhnya lalu menghadap Angga dan merebahkan kepalanya di sebelah d**a suaminya. Sebelah kaki Nara menindih paha Angga. "Ga ada sisa buat aku?" Angga mencium kening Nara dan mengusap kaki yang menindihnya. "Ada, tapi yang sedang. Yang besar buat Bunda, nanti ke Bunda kan?!" jawab Nara masih memejamkan matanya. "Kapan foto pake lingerie tadi?" Nara merapatkan bibirnya dan menahan senyum, dia menenggelamkan wajahnya lebih dalam ke d**a suaminya. Dia merasa malu betapa binal tingkahya untuk menggoda suaminya. Angga tersenyum melihat Nara saat ini yang malu, manja dan kekanakan. "Mas tanya, kok ga dijawab?" Angga merasa gelengan kepala istrinya didadanya. "Kok diem mulu?! Atau Mas buat teriak aja ya?!" tanya Angga dengan menyusupkan tangannya ke dalam kaos Nara. Angga mengusap lembut punggung istrinya lalu membuka kaitan bra istrinya. Dan selanjutnya Angga berhasil membuat Nara mendesah dan mengerang. Usai mandi mereka kerumah Bunda. "Bunda....Papa...." Nara menyapa lalu mencium tangan Bunda dan Papa. Angga menyusul di belakang istrinya sambil membawa sebuah kotak. Disana sudah ada Aji beserta istri dan ketiga anaknya. "Angga keliahatan lebih berisi ya Bun?" ucap Papa. Bunda mengangguk dan tersenyum. "Berarti susunya cocok Pa.." jawab Aji dengan kekehan. "Bunda denger tadi ada yang masak-masakan, kok Bunda ga dikasih?" sahut Bunda. "Itu apa?!" bela Angga sambil menunjuk meja samping Papa. Bunda pun berdiri dan membuka bungkusan. "Wah pastel tutup! Pantesan kamu ga pernah kerumah Bunda lagi. Nara manjain kamu ...." ujar Bunda ketika tahu isi bungkusan. Angga tertawa kecil dan mengelus rambut Nara yang panjang. "Mas Angga ngapain kesini, Bun?" tanya Nara. "Laper, tapi dia bingung mau makan apa...Jadi dia keliling ke rumah sodara yang sekitaran sini." jawab Isti. "Sekarang urusan perut uda dijamin Nara. Tapi kenapa jadi brewokan gitu?" tanya Bunda. "Dia yang minta, Bunda." balas Angga dan menyenggol Nara dengan bahunya. "Geli-geli nikmat gimanaaaaaa gitu....Iya kan, Ra?!" Isti menggoda Nara. "Nara ga tau kalo mas Angga bisa brewokan, biarin aja tumbuh, jadinya gimana...." Nara berkilah. "Tapi kalo dicium-cium geli enak kan?" Isti masih menggoda Nara. "Apaan sich mbak?!" Nara menahan senyum yang berlebihan. "Bilang I-YA aja susah amat, By!" Angga mengompori. "Mas Angga!" bisik Nara dan mencubit paha suaminya. Angga pun mencium pelipis Nara beberapa kali yang tersudut malu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN