BAB 17

2035 Kata
Selasa Pagi "Sayang...uda Subuh. Katanya mau belanja." bisik Angga sambil mengusap kaki Nara yang menindih perutnya. "Mas pengen maem apa?" tanya Nara yang masih menutup matanya. Angga terkekeh melihat kelakuan istrinya, dia mencium puncak kepala Nara. "Kamu ngigau?" "Enggak..... Mas jawab aja! Nara denger kok." ucap Nara sambil mengeratkan pelukannya di tubuh suaminya. "Byan, kalo kamu gini terus_" "Iya! Iya! Nara bangun daripada ntar ditindih lagi!" ucap Nara merenggangkan pelukan dan beranjak dari ranjang. "JANGAN IKUTI NARA!" teriak Nara saat melihat dari pantulan cermin suaminya akan bangkit dari ranjang. Angga tertawa terbaha-bahak mendengar pinta istrinya. Pria itu menghempaskan tubuhnya lagi di ranjang. 'Kamu gemesin, By.' Angga membatin sambil memeluk guling dan senyum-senyum sendiri. Beberapa tahun terakhir, pria ini tidur sendiri. Dan sudah sekarang malamnya tak sendiri lagi. Nara keluar dari kamar mandi dan sudah memakai daster rumahan dengan corak batik. "Katanya mau belanja?!" tanya Angga sambil menopang sebelah tangannya menghadap ke arah istrinya yang sekarang duduk di depan meja rias. "Iya! Mas pengen maem apa?" "Sayur asem, ikan laut, tahu, tempe. Jangan lupa sambal!" "OK!" "Kamu keluar pake daster gitu?" tanya Angga meyakinkan. "Emang ga boleh?!" "Ya boleh aja, sayang..." Nara menghampiri suaminya yang sedang malas-malasan di ranjang. "Mas ga olahraga?" tanya Nara "Boleh?" "Kalo ada aku, boleh!" Nara mengulurkan tangannya, dan disambut oleh Angga. Terdengar keramaian di depan rumah Angga. Nara menghampiri dan menanyakan beberapa hal ke penjual sayur yang kebetulan lelaki. "Pembantu baru mbak?" tanya seorang Ibu. Nara mengangkat alisnya seolah tak percaya yang diucapkan Ibu tadi. "Mbak pembantunya pak Angga ya?" tanya Ibu yang lain. "Bukan." Jawab Nara singkat sambil tersenyum paksa. 'Emang tampilan aku gimana sich kok bisa dibilang pembantu?' Nara mengernyitkan dahinya. "Mas! Minta tolong ambilkan dompet!" teriak Nara saat melihat Angga baru keluar dan menutup pintu utama. Pria itu pun masuk lagi, dan setelah beberapa menit dia keluar sambil membawa dompet Nara. Nara menghampiri suaminya. "Terimakasih suami." Ucap Nara genit sambil mengusap rahang Angga. Para ibu yang berkumpul pun melihat adegan mesra itu dan lanjut berbisik. "Adiknya pak Angga ya mbak?" Tanya Ibu itu lagi. "Bukan." jawab Nara pendek. Usai dengan keperluannya, Nara meninggalkan tukang sayur serta ibu-ibu yang masih berbisik. "Masuk yuk Mas!" ajak Nara. "Kan mas mau olahraga." balas Angga yang sedang bersiap mengayunkan tali skipping. "Jangan disini! Di belakang aja!" ucap Nara dengan sinis dan tatapan tajam. "Baik, ndoro!" ucap Angga patuh dan mengekori istrinya. "Ibu-ibu itu kepo banget." ucap Nara sambil membuka barang belanjaan. "Kenapa?" tanya Angga menuju taman belakang. "Awalnya mereka bilang aku pembantunya mas. Kenapa mereka punya pikiran gitu ya?" "Kamu pake daster kali. Terus kamu jawab apa? Kamu bilang aja kalo kita suami istri" "Aku jawab Bukan. Biar aja mereka dengan asumsinya sendiri, ntar lama-lama juga tahu sendiri." Angga tak menjawab, dia lanjut berolahraga sedangkan Nara larut dengan barang belanjaan. Nara memasak di dapur sambil melihat suaminya beraktivitas di taman belakang. Bulir dan tetesan keringat Angga yang membasahi wajah serta tubuh atasnya semakin menambah tingkat ketampanan. Pemandangan tubuh suaminya membuat Nara giat memasak. Angga merasa hidupnya sempurna. Angga tidak menuntut istrinya memasak. Tapi Nara berinisiatif membuat makanan dan cemilan sendiri, mungkin karena ia menyadari yang mudah lapar. Sesekali mata mereka bertabrakan dan saling melempar senyum. 1 jam berlalu, menu yang diminta Angga sudah tersedia di meja makan. "Mas! Sarapan yuk!" teriak Nara sambil memberikan senyum hangat. "Uda kelar?!" tanya Angga memasuki dapur usai membersihkan sangkar 3 burungnya "Uda, tinggal buat jus buah. Mas mandi dulu!" "Tadi subuh mas uda mandi." "Lagi donk! Bau keringat!" "Bau keringat apa?! kamu juga seneng jilat-jilat keringat mas." sahut Angga dengan senyuman menggoda. Nara tersenyum malu mengingat momem percintaan mereka. "Kalo ga mandi, ga ada sarapan!" ancam Nara. "Baik, nyonyaku!" ucap Angga melewati Nara dengan mencuri ciuman di pipi Nara. "BASAH! LUNTUR BEDAKNYA!" ucap Nara lantang dan mengusap kasar pipi bekas ciuman suaminya yang berkeringat, lalu di susul suara tawa Angga. Tak lama, Angga keluar dari kamar dengan wajah yang lebih segar. Mereka sarapan dengan obrolan yang ringan, dan tentu saja Angga menggoda istrinya hingga wanita itu tertunduk tersenyum malu dengan semu diwajahnya atau dengan rengekan manjanya. Nara melihat suaminya menyantap masakannya dengan lahap. Angga masih mengunyah tempe atau tahu secara bergantian dengan colekan sambal. "Dihabisin tahu tempenya?" tanya Nara masih duduk disebelah Angga yang belum beranjak dari meja makan. "Kalo berhenti pahit, jadi diterusin aja." balas Angga enteng dan terus mengunyah. "Kalo gitu mas sendiri aja yang bersihkan rumah." "Emang kamu mau kemana?" tanya Angga "Masak lagi. Itu nasi yang harusnya bisa sampe siang, tapi uda mas habiskan. Tahu, tempe, sambal abis semua. Bahannya sich banyak, tapi waktu dan tenaganya ini lho......kalo tau mas maem banyak gini, aku banyakin tadi sekalian" Angga hanya menyengir mendengar celotehan istrinya, dia menyadari porsi makan kali ini berkali-kali lipat dari biasanya, entah karena masakan istrinya atau suasananya. "Ya uda, abis masak, kamu bobok aja. Ntar sore kita jalan-jalan." ucap Angga yang kini menyeruput jus buah. Nara bersorak lirih dan mencium pipi suaminya, Angga pun membalas mencium pipi Nara berkali-kali. "Geli, Mas!" Nara menaikkan bahunya dan terkekeh lirih. Bulu halus yang ada di sekitar pipi dan rahang Angga mulai tumbuh, sehingga Nara merasa geli. "Mas uda berapa lama ga cukur?" tanya Nara sambil mengusap rahang suaminya. "Kapan ya? Lupa! Soalnya ngurus kerjaan supaya ga numpuk pas cuti nikah. Setelah nikah ga sempet, sibuk sama kamu." "Coba dibiarin! Nara pengen tau kalo mas ada bulu-bulunya." Angga merespon dengan anggukan dan senyuman. Mereka menyelesaikan tanggung jawabnya masing-masing. Orang yang biasa membantu Angga membersihkan rumah, untuk sementara diliburkan, Angga ingin menikmati hari liburnya hanya dengan Nara. Sore hari mereka ke Plaza terdekat hanya untuk melihat-lihat, dan tentunya kuliner untuk Nara yang mudah lapar. Mereka berjalan dengan jemari Angga mengisi jari Nara. "Mas ada diskon tuh!" tunjuk Nara di salah satu etalase baju. "Ntar uda beberapa jam muter ga cocok lagi." Angga mengingatkan peristiwa itu. "Terus kita kemana?" tanya Nara. "Cari kaos mas. Sekalian kaos kamu......" ucap Angga. "kaosku?" "Iya, kaosmu uda kekecilan semua. Kemarin kamu beli ukuran anak-anak? Kamu ga tersiksa pake kaos ketat?" tanya Angga dengan sedikit ceramah. Nara memajukan bibirnya membuat suaminya tersenyum. Setelah beberapa saat, akhirnya sepasang suami istri itu keluar dari toko olahraga yang cukup terkenal dengan brand internasional. Angga membawa 2 kantong paper bag, dan sebelah tangannya menggandeng istrinya. 1 kantong untuk Angga, dan 1 kantong untuk Nara sendiri. "Kenapa mukanya gitu?" tanya Angga melihat istrinya yang manyun. "Mas pelit!" "Kok pelit?!" "Kenapa Nara dibelikan yang diskonan semua?!" "Bukannya kamu sendiri yang cari barang diskonan?!" Balas Angga. "Kenapa mas ga beli yang diskonan juga?" Nara menyahuti tak mau kalah. "Mas suka yang ini, dan barang ini sedang tidak diskon." "Ini namanya pembodohan pasangan!" "Kok pembodohan? Yang bayari belanja siapa?! kan mas semua...." ujar Angga "Mas beli 1 kaos. Kamu belanja 4 kaos, walaupun harga diskon, totalnya melebihi 2 kaos mas." Tambah Angga. Nara menyengir. "Mas, belikan Nara celana dalam ya?! Baru berapa hari jadi istri uda abis 2." ucap Nara. "Iya" "Beli 2 lusin sekalian ya Mas?" "Eh? Kok banyak banget? Emang mas robek berapa?" "2! Kalo banyak dapat diskon..." bela Nara "Pinter cari kesempatan" balas Angga dan mencium samping kepala istrinya. Nara tertawa kecil lalu membalas mencium lengan atas suaminya. "Mas disini atau ikut?" tanya Nara saat akan melangkah ke counter pakaian dalam. "Ikut!" jawab Angga tegas mengikuti Nara "Tapi mas ga usah ikut pilih, biar aku sendiri yang pilih." "Iya." Angga berdiri di depan manekin yang menggunakan pakaian dalam. Sembari menunggu, dia mengeluarkan ponselnya dan tenggelam dengan keasyikannya. Sesekali dia melihat sosok istrinya. "Pak Angga!" panggil suara wanita terdengar lantang. "Hai, sama sapa?" tanya Angga berusaha ramah. "Sama teman saya Pak. Bapak kok di sini?" "Emang ga boleh?" tanya Angga. "Ini kan untuk perempuan Pak" Angga baru sadar dia berada di counter pakaian dalam wanita. "Saya kebetulan lewat aja, lalu ada WA yang harus segera dibalas. Nggak nyadar berhenti disini." Angga berusaha mencari alasan yang logis. Nara yang berdiri di kejauhan tertawa sambil menutup mulutnya. Angga menatap sinis wajah si istri yang seolah mengejeknya. "Kalo mau beli ga pa pa kok Pak. Walau Bapak sendiri, setidaknya Bapak masih normal." "Maksudnya apa ya?" tanya Angga heran. "Untuk fantasi kalo lagi sendiri Pak" ujar wanita itu mengikik lalu meninggalkan Angga yang berdiri dengan terbengong, dia belum menyadari kalimat yang dimaksud. "ASEM!" lanjut Angga baru menyadari. "Ngapain fantasi?! Kalo tiap malam ada guling hidup! " gerutu Angga. "Kenapa mas?" tanya Nara. "Seneng kan suaminya diledekin?!" Nara mengikik lalu melingkarkan tangannya dipinggang suaminya dan menggiringnya ke kasir. "Butuh apalagi?" tanya Angga sambil membawa semua tentengan. Sebelah tangan Nara berada digenggaman suaminya, tangan yang lain memegang roti yang sedang disantapnya. "Mas mau belikan aku apalagi?" Nara bertanya balik. "Enak ya kalo belanja sama mas? rasanya kartu yang kemarin mas kasih belum kepake sama sekali." Angga mengingatkan 2 kartu yang sudah ada di tangan istrinya. "Jaga harga diri lelaki! Nara gandeng suami, masak dikasir keluarin dari dompet istri. Ya dari dompet cowok donk, ntar dikira mas ga punya uang." ucap Nara dengan wajah tak berdosa. "Pinter ngeles!" Angga mencium tangan istrinya berkali-kali lalu sisi samping kepalanya. Angga masih membelikan 1 buah dress untuk istrinya, dan mereka kembali ke rumah saat Plaza akan tutup. Mereka sama-sama lelah. Walaupun tanpa kata, mereka sama-sama berharap hari ini tidak ada penyatuan tubuh, karena besok hari pertama mereka bekerja dengan status suami-istri, mereka ingin tampil prima. "Aku tidur ya Mas." pamit Nara ke suaminya yang akan memasuki kamar mandi. "Iya ...." jawab Angga. Nara pun memejamkan matanya. Tak berselang lama Angga mengikuti merebahkan tubuhnya diranjang, disamping si istri. Sejak Sabtu malam mereka tidur bersama dengan memeluk pasangan, kali ini mereka tidur saling memunggungi. 'Besok uda kerja. Aku ga mau dia lelah, kasian.....' Angga membatin saat hidungnya mencium aroma tubuh Nara. Pria itu ingin sekali memeluk istrinya, tapi dia menahan sekuat mungkin, karena sekali dia memeluk, akan berakhir dengan erangan istrinya. Nara yang biasa dipeluk pun merasa aneh saat tidak ada lengan kokoh yang mengusap perutnya, dia berusaha memejamkan mata, tapi gagal. 'Mas Angga kayaknya capek, abis jalan seharian.' batin Nara merapatkan matanya dan merasakan kamar tanpa suara. Nara mendengar Angga berdehem. "Mas?" "Ya?" 'Kirain dia uda tidur' Angga bermonolog. "Lampu ruangan lain uda dimatikan?" tanya Nara. "Uda." Suasana kembali hening. "Byan...." "Ya?" "Barang belanjaannya uda kamu turunkan semua?" "Uda mas" Hening lagi.... "Mas besok pengen dimasakin apa?" Nara bersuara. 'Kamu kok ga tidur-tidur?!' batin Angga. "yang simple, makan untuk sarapan aja kan?!" jawab Angga "Nasi goreng?" "Boleh." "Ikannya apa?" "Telur aja." "OK!" jawab Nara. Lagi lagi hening..... "Kalo jusnya?" Nara bersuara lagi. 'Byan, bisa ga kamu tidur sekarang?!' Angga berucap dalam hati. "Yang tersedia di kulkas aja." jawab Angga. "OK!" Tubuh Nara merindukan usapan lembut dari tangan Angga. 3 malam mereka tidur dengan tubuh berdekatan. Akhirnya Nara membalikkan badannya, mendekatkan tubuhnya ke tubuh suaminya dan memberanikan diri memeluk Angga dari belakang, lalu mencium punggung suaminya yang polos. "Belum bobok?" tanya Angga bersamaan dia membalikkan tubuh lalu memeluk tubuh istrinya. "Pengen peluk....." rengek Nara dengan manja dan merebahkan kepalanya di sebelah d**a Angga. "Maaf, harusnya mas tau, istri mas yang manja ini ga bisa bobok tanpa pelukan suaminya." ucap Angga menggoda istrinya dan mencium puncak kepalanya berkali-kali. Nara membalas mencium sekilas bibir suaminya. "Byan....jangan godain mas terus, atau kamu_" ucap Angga dan melihat istrinya menganggukan kepala sambil menggigit bawah istrinya. Angga pun tersenyum, lalu menghujani ciuman kecil di leher Nara, membuat istrinya geli dan mengikik. "Nara tau kalo suami Nara ga bisa bobok sebelum ngadon" ucap Nara disela tawanya. "Jadi kamu ngerjain mas?!" ucap Angga dengan memberi ciuman makin gencar di leher istrinya. "Geli mas!" ucap Nara sedikit berteriak. Bulu halus di rahang Angga menggelitik leher Nara membuat wanita itu merasa geli dan sedikit b*******h. "Sengaja menyiksa mas dulu?!" Angga terus menciumi wajah serta leher istrinya. "Ampun! Ampun mas!" teriak Nara sambil terus tertawa. Angga mengecup bibir istrinya. "Berani-beraninya ngerjain orang tua!" ucap Angga dan mencubit gemas dagu istrinya. Telapak Nara menangkup sebelah rahang Angga yang sedikit berbulu lalu menciumnya dengan lembut, Angga membalas ciuman istrinya dengan lembut. Dan makin lama ciuman mereka menjadi ciuman yang saling menuntut. Sesekali Angga mengerang saat Nara mengulum lidahnya. Perlahan namun pasti biji kancing daster Nara sudah terlepas. Malam ini Nara merasakan sensasi yang berbeda saat Angga menyusuri tubuh istrinya. Bulu halus yang mulai tumbuh menggelitik hampir disetiap tubuh yang disinggahi wajah Angga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN