BAB 16

2967 Kata
Pukul 14.30 Aline dan Adila sudah tiba menjemput Nara. Aline dan Adila bergantian mencium sebelah pipi Angga yang tak peduli kedatangan 2 sepupunya. "Where is she,kak?" tanya Aline sambil menyomot pisang goreng dan duduk di sebelah Angga. Sedangkan tanpa suara Adila sudah mengunyah tahu isi. "Dressing up" jawab Angga yang sekarang bermain PS, dan tentu saja sudah di ijinkan oleh sang permaisuri. Nara keluar kamar dengan menggunakan bathrobe. Dia ingin melihat Aline dan Adila pake baju apa, dia ga mau saltum lagi. "Mas, kok ga diambilkan minum?!" ucap Nara sambil berjalan menuju lemari pendingin. Dia mengambil 2 botol air mineral. Lalu meletakkan di meja sebelah sofa. "Mereka uda tau tempatnya, sayang. Ga usa diladeni." jawab Angga yang tetap memandang layar kaca. Nara memasuki kamar lagi, tak lama keluar dengan kaos ketat dan denim mini skirt. Aline dan Adila bangkit dari sofa. "Kak, ntar berangkat karaoke, jemput Naresh dan Feri di rumah ya! Jangan lama-lama!" Teriak Adila sambil melangkah keluar rumah. "Hm" jawab Angga. "Mas, aku berangkat." pamit Nara, Angga menghentikan senam jarinya. Pria itu berdiri dan melihat penampilan istrinya. Nara mencium punggung tangan suaminya, Angga menarik pinggang Nara lalu mencium kening dan mengecup sekilas bibir istrinya. "Jangan tebar pesona, jangan ngeliatin cowok." pesan Angga, tangannya masih melingkar di pinggang Nara. "Kalo cowoknya yang ngeliatin aku gimana?" goda Nara dengan senyum genitnya dan mengedipkan sebelah matanya. "Byaaaannnn..." Angga mengeratkan pelukannya. Aline membunyikan klaksonnya. "Mas....Uda di tunggu!" "Janji dulu ga bakal lirik-lirik!" "Mau ngelirik sapa lagi kalo sudah ada pria tampan yang membangunkan aku tiap subuh?" Nara mengecup ringan bibir Angga dan mengusap bekas lipstick yang menempel di bibir suaminya. Hati Angga terasa adem mendengar ucapan si istri. "I love you Byanara" pelukan Angga makin erat. Nara mengecup lagi bibir Angga dengan singkat. Terdengar bunyi klakson lagi. Akhirnya Angga melepaskan pelukannya, Nara meninggalkan Angga sendiri di rumah. Angga termenung sendiri, dia tak berniat melanjutkan permainan PS nya. Dia langsung mandi dan pergi ke rumah Aline, disana ada Feri dan Naresh yang juga bermain PS. "Sepi kan kalo ga ada bini?! Nich gantiin aku!" Naresh memberikan stick games nya. 3 pria itu pun tenggelam dalam permainan. Kini Nara dan para sepupu wanita Angga duduk di foodcourt disalah satu Plaza. "Kebetulan sekarang ini jadwal kita ngumpul, Ra" ucap Aline. "Soalnya kalo Sabtu Minggu kebanyakan sibuk sendiri sama keluarganya. Ini uda kita rencanakan beberapa bulan yang lalu, sebelum kamu nikah." sahut Venna. "Terus ngapain?" tanya Nara yang belum mengerti faedah atau manfaat mengumpul sekarang ini. "Kalo mau curhat silahkan, biasanya sich ga ada yang mengawali curhat ya...tapi ntar lama-lama, tanpa sadar juga nyeletuk sendiri." jawab Lisa. Mereka pun berbincang santai, tentang dunia wanita, tempat kuliner, diskon, dan tentu saja novel. Lambat laun Nara bisa beradaptasi dengan saudara yang lain, ternyata yang mereka bicarakan cukup bisa dicerna oleh Nara. Kadang mereka mengejek dan menggoda Adila serta Nara, karena 2 wanita ini baru saja menikah, dengan jarak yang cukup dekat. Tak jarang mereka menarik perhatian pengunjung karena suara tawa Lisa dan Amira yang susah dikontrol. Para suami menempatkan mobilnya di parkir plaza, lalu mereka keluar plaza, berkumpul dan menikmati kopi di warung pinggiran serta jajanan khas jalanan. Mereka sama-sama menyukai suasana warung pinggir jalan, suara deru mobil, klakson yang bersahutan, suara tawa atau pembicaraan orang saat melintas didepan mereka. Tentunya mereka juga membicarakan hal yang disukai pria, seperti sepak bola kemarin malam. Kadang mereka tertawa lepas tanpa beban. Hingga ponsel Arya menghentikan keseruan cerita mereka. "Ya?" sambut Arya hangat. "..." "Iya sayang" Arya mengakhiri percakapan. "Uda waktunya menjadi suami." celetuk Arta seraya mengetahui siapa yang baru saja menghubungi Arya, tentu saja istrinya. Pria yang lain pun juga paham. "Ok, kita ke sana." balas Arya sambil menjatuhkan puntung rokok dan menginjaknya. Mereka berjalan beriringan menuju dimana para wanita menghabiskan waktu bersama. Tak jarang beberapa wanita yang berpapasan sedikit memperhatikan para lelaki itu, karena aroma tubuh mereka yang maskulin dan lembut. Dari kejauhan para pria itu bisa melihat dimana wanitanya, mereka menghampiri dan tak lupa memberikan cipika-cipiki ke semua saudara wanita dan kecupan mesra di bibir untuk istrinya. Tentunya kedatangan mereka yang berkelompok sempat mencuri perhatian. "Haruskan kalian mencium istriku juga?" tanya Angga saat melihat sepupu lelakinya beruntun mencium pipi Nara. "Kamu tadi cium istriku, aku ga masalah!" ucap Arta. "Jangan cemburu, percaya sama istrinya!" balas Aji yang kini mencium pipi Nara. Angga tak dapat membantah, sedangkan Nara hanya menggelengkan kepala mendengar ucapan suaminya yang cenderung posesif. "Kamu apain sich Ra?! kenapa dia jadi cemburuan? dulu ga gini-gini amat." tanya Aline. "Sejak di kekepin Nara 2 malam, jadinya gini." celetuk Abimana. Mereka tertawa, sedangkan Nara tertunduk malu. Angga menarik tangan istrinya dan mengajak menjauh dari sepupunya. "Kemana?" teriak Aksa. "Laper! Ayok kalo mau!" balas Angga dengan berteriak pula. Aksa, Akmal dan Amar mengikuti pasangan itu. "Kamu pasti belum makan ya?" tanya Angga sambil berjalan dan menggenggam tangan Nara. Nara tak menjawab. "Tadi makan apa aja?" tanya Angga lagi. "Aku beli kebab, tahu crispy sama jamur. Yang lain beli macem-macem." jawab Nara. "Sayang, pengen maem apa? Mereka ga usah ditanya, di belikan ga boleh protes! " kata Angga berdiri sambil melihat beberapa depot di foodcourt. Nara melihat 3 jomblo yang sedang cengar-cengir di belakang suaminya. Akhirnya mereka sepakat membeli nasi goreng. Angga juga membeli beberapa cemilan untuk didalam karaoke. "Nich! Masukkan ke tas!" pinta Angga ke Akmal yang sedang membawa tas cukup besar untuk menampung makanan. Si pemilik tas hanya pasrah dan mencebikkan bibir. Sebenarnya uang mereka cukup banyak untuk membeli cemilan di karaoke, tapi mereka ingin merasakan adrenalin saat berjalan di depan petugas dan menyembunyikan sesuatu. Mereka sangat lega ketika lolos dari penjaga. Tak hanya di karaoke, mereka kadang melakukan di bioskop. Saat mereka masuk, tanpa sungkan Linda menagih cemilan. Akmal mengeluarkan beberapa kantung cemilan dari tasnya. "Mau copot jantungku!" Celetuk Amar. "Harusnya aku, Dodol! Kan aku yang bawa." Balas Akmal. Amar hanya cengengesan. Bergantian mereka bernyanyi, yang lain berjoged riang, termasuk Nara. Angga belum ingin mengeluarkan suara indahnya, dia masih duduk dan melihat istrinya yang asik bergoyang. "Kak Angga! Nyanyi donk!" panggil Aline. Akhirnya Angga bernyanyi, dia memilih lagu dangdut Cuma Kamu. Dia memejamkan matanya saat bernyanyi atau melihat layar. Terdengar Angga beberapa kali bernyanyi dengan nada sumbang. "Byan! Please........!" seru Angga dengan memelas saat interlude. Nara berhenti berjoged lalu melihat Angga dengan heran seolah berkata 'ada apa?'. "kenapa ?!" tanya Abimana selaku teman duetnya. "Dia ganggu konsentrasi. Dia bikin aku ga fokus." ucap Angga pasrah sambil menunjuk Nara. "Ya ga usah di liat!" balas Abimana. "Tutup matamu!" seru Arta yang tak jauh dari mereka. "Byan duduk!" pinta Angga. Dengan cemberut dan mengibaskan rambutnya dia kembali ke sofa, duduk bersebelahan dengan Amira. Angga tersenyum menang lalu melanjutkan lagunya. Usai bernyanyi, Angga menuju istrinya, dia mendaratkan pantatnya secara paksa di antara Nara dan Amira. "Astaga nich orang mepet mulu ke istrinya!" ucap Amira menggeserkan tubuh nya, memberi ruang untuk Angga. "Kamu selalu menarik perhatianku dan membuatku hilang akal, Byanara." bisik Angga dan menggenggam tangan Nara. Nara tak menjawab, dia tersenyum lalu menyandarkan kepalanya di lengan atas suaminya. Mereka menikmati lagu yang dinyanyikan saudara yang lain. "Ra! Duet yuk!" ajak Aksa sambil mengulurkan tangannya. Nara melihat suaminya, tanda meminta persetujuannya. "Nyanyi aja," jawab Angga. Nara pun berdiri. "Tapi ga usah gandengan." lanjut Angga lagi. "Elah! Uda di hak paten, masih aja cemburu. Taruh dompet aja sekalian!" ucap Aksa sambil berlalu. Angga tetap menunjukkan wajah datar dan tak peduli ucapan sepupunya. Nara dan Aksa bernyanyi berdua, mereka tampak kompak. Mereka kadang saling melihat dan tersenyum, namun beda dengan Angga yang wajahnya cemberut. Dia menatap tajam Aksa seolah mangsa yang siap diterkam. Tentu saja tatapan itu membuat Aksa tak nyaman. Usai reffrain, Aksa langsung menghentikan nyanyiannya. Dia melambaikan tangan, dan menggelengkan kepala. "Kok berhenti?" tanya Nara heran dengan mikrophone masih ditangannya. "Aku menyerah.....Bolong d**a ku!" "Kenapa?" "Suami mu tuch! " jawab Aksa mengangkat dagunya menunjuk ke arah Angga yang masih menatap tajam bagai laser. "Suamiku? Bukannya dia kakak mu?" sangkal Nara menggoda suaminya yang cemburu buta. Obrolan mereka terdengar sepupu yang lain termasuk Angga, membuat beberapa diantaranya terkekeh. "Byaaaaaannn!" Angga bersuara. Nara menoleh dan meringis ke arah suaminya saat Angga memanggil namanya. "Tuch kan! Ngamuk! Balik sono!" Nara pun memberikan mikrophonenya ke Aksa, dan kembali duduk di sebelah suaminya. Nara mencium lengan atas Angga seolah menenangkan suasana hatinya. "Sori kalo terlalu cemburu..." ucap Angga lirih dan mengambil sebelah tangan Nara, dan menciumnya beberapa kali. Angga merasa tenang saat tangan Nara di genggamannnya, begitu juga sebaliknya. Suara sumbang, telat masuk, salah ucap dan sebagainya menjadi bahan candaan, sehingga momen ini tidak membosankan Saat lagu cinta, Nara melihat sepupu Angga dan pasangan halalnya bermesraan, sesekali mencumbu pasangannya. Nara merasa kikuk dan malu saat melihatnya. Terlebih saat Nara melihat Aline dan Naresh, tanpa segan Aline duduk di atas pangkuan suaminya. "Ga usah heran, Ra." ucap Amar yang tak jauh dari tempat duduk Nara, seolah tau pola pikir Nara. "Kalo mengumbar mesra di depan umum ya jangan, Ra. Kalo di sekitar kita boleh-boleh aja. Kadang suami atau kita sendiri butuh pengakuan. Atau mungkin terbuai dengan lagu dan suasana" ujar Venna. Nara hanya mengangguk. "Jadi ingat waktu kita liat konser ya By ..." bisik Angga dan Nara membalas dengan senyuman. "Malah kita sering liat bokep bareng, dan tak lama mereka gelut sendiri." sahut Akmal. "Kita nggak perlu ikut melakukannya kalo kamu ga mau." bisik Angga yang tepat disebelahnya. Amar memaksa Angga dan Nara untuk bernyanyi duet juga, mereka pun bersedia bernyanyi. Angga memperlakukan Nara cukup sopan, tidak ada pelukan atau skinship yang terlalu berlebihan. Mereka saling menggenggam tangan, menatap hangat dengan mata berbinar dan mengumbar senyum. 'Mas Angga kok ga mesra sama sekali?! Biasanya nyosor sembarangan.' Nara membatin disela-sela bernyanyi dengan memberikan senyum dan lirikan yang menggoda. 'Kamu mesti godain mas. Ntar kalo di tanggepin beneran kamu keluarin sabda ancaman. Jangan di apa-apain, daripada ntar malam ga bisa ngadon.' Angga berusaha menahan tidak menyentuh istrinya secara berlebihan. 'Mas Angga ga seru! Uda di kode-kode masih ga ngerti ! Ga peka banget sich!' batin Nara yang tangannya kini melingkar ke pinggang belakang Angga. Sontak tubuh Angga menegang. 'Aaaarrrrggghhhhh....Bocah ini.....' Angga membatin dan berusaha fokus bernyanyi. 'Dasar pria!kalo di luar sok cool, kalo dikamar buasnya bukan main! Awas ya!' batin Nara dengan menuntaskan lagu. 'Byan, kalo kamu godain lagi_' tiba-tiba Nara mengecup basah pipi Angga, membuat si suami cukup surprised. Dan tentu saja Angga tak mau melewatkan kesempatan ini. Angga menarik pinggang Nara, tanpa malu dia melumat bibir Nara dengan lembut. Mulanya Nara terkejut, dia berharap Angga akan memberikan kecupan dikening, puncak kepala atau pelipisnya, tapi ternyata dia mendapat di bibirnya. Nara membalas lumatan suaminya, Angga semakin merapatkan tubuh Nara didadanya, mereka tak peduli para sepupunya yang sempat terkejut melihat aksi mereka. Mereka saling melumat beberapa saat dengan lidah saling bergumul. "Go get your room!" teriakan Amar menghentikan pergulatan bibir mereka. Nara menunduk malu karena beberapa pasang mata melihatnya dengan senyum yang susah di artikan. Angga merangkul pundak istrinya dan berjalan bersama menuju sofa. "Ga usah malu,Ra. Uda sah kok!" ujar Abimana disusul tawa yang lain saat mereka melewati Abimana dan Venna. "Pulang Ra, kayaknya adikku yang ganteng uda ga tahan." celetuk Arta. "Masih bisa di tahan, Kak" bela Angga. "Ntar di rumah meledak ya? Banyak minum vitamin, Ra. Siapkan stamina." ledek Feri suami Adila. "Alah..kayak kamu enggak aja. Kita cuma selisih 2 bulan." sahut Angga. Para sepupu Angga terus meledeknya, Nara hanya diam dan jengah karena Angga selalu menanggapi dengan serius. "Mas..." Nara berbisik ke Angga dan mengusap lembut sekitar lutut suaminya. "Kadang suami kita balik ke anak kecil lagi, Ra. Lupa sama usianya." ujar Isti yang duduk di sebelah Nara dan didengar oleh Angga. Pria itu hanya memberikan senyuman ke istrinya dan mencium samping kepala Nara. Setelah merasa cukup dengan kebersamaannya, mereka pun kembali ke habitat masing-masing. Nara duduk di sofa depan TV, menunggu suaminya memerikas pintu dan mematikan lampu di beberapa ruangan ini. "Mas pikir kamu dikamar." ucap Angga setelah mematikan lampu ruang tamu, lalu ikutan duduk di sebelah Nara. "Tunggu suami....." jawab Nara santai. "Byan..." panggil Angga lirih bersamaan dengan badannya menghadap ke arah istrinya. "Ya?" "Mas pengen bercinta sekarang, kamu mau?" Nara terkekeh sebentar. "Kenapa ada ijin segala? kemarin ga ngomong, mas langsung grepe-grepe." ucap Nara dengan senyuman. "Mas merasa beberapa kali bercinta, cuma mas aja yang pengen. Kayak searah, sepihak aja." "Mas kok punya penilaian seperti itu? Aku ga menolak saat kita bercinta, aku ikhlas. Aku juga kulum-kulum punya mas." seketika milik Angga bereaksi ketika mendengar ucapan kulum-kulum punya mas. "Tapi selalu mas kan yang memulai? mas masih merasa kamu belum menginginkan mas." "Jadi mau mas gimana?" tanya Nara. "Sekarang ini, mas mau kamu yang memulai." "Dimulai seperti ini?!" Nara mencium rahang Angga. "Uda biasa di godain seperti itu...nggak bakal bereaksi..." timpal Angga berusaha mengontrol birahinya yang mulai timbul. Angga mengingkari, padahal tiap bersentuhan dengan Nara, birahinya langsung meningkat. "Jadi Nara mesti gimana?" tanya Nara lagi dengan nada putus asa. "Berdiri di depan mas!" pinta Angga. Nara pun menurut, dia beranjak dari sofa dengan santai lalu berdiri di depan suaminya. Nara bersedekap tangan, hingga d**a kenyalnya tampak terangkat. "Lepas yang menempel di tubuh kamu, satu per satu!" Angga memerintah lagi. "Hah?!" tanya Nara heran. 'Ih..ngapain suamiku minta aneh-aneh gini?! Langsung aja kenapa? Itu seperti....' "Buruan!" pinta Angga menatap istrinya yang berdiri di depannya. "Mas, itu seperti ...wanita penggoda" ucap Nara lirih. "Kamu memang wanita penggodanya mas, cuma kamu yang bisa menggoda mas dengan segala tingkahmu, Byan." "Itu aneh Mas..." kata Nara. "Aneh apanya? kamu tinggal buka baju dan seterusnya, toh mas juga uda tau tubuh polosmu." ucap Angga dengan wajah serius dan datar. "Kalo aku ga mau, konsekuensinya apa?" Angga menghela nafas. "Ga ada konsekuensinya, Byanara. Mas cuma kecewa aja. Mas anggap cuma mas aja yang pengen." ucap Angga dengan nada putus asa. "Aku juga pengen kok bercinta sama mas." "Kamu mau ngelakuin atau ga?! Kalo ga mau ga pa pa!" Nara tampak berpikir, Angga beranjak dari sofa dan hendak meninggalkan istrinya. "OK! Ok! I'll do it!" ucap Nara lantang meyakinkan suaminya. Angga tersenyum dengan licik, lalu berbalik dan menunjukkan wajah datarnya lagi. Dia kembali duduk di sofa. "Apa aku harus meliukkan tubuh juga?" tanya Nara mengusir kegugupannya. "Terserah!" jawab Angga datar. "Biar sekalian rendahnya." "Rendah apa?" "Aku ga pernah buka baju secara sengaja didepan orang, ini seperti merendahkan diri aku sendiri. Kalo sambil goyang ...seperti penari streptease ..jadi sekalian rendah banget." Nara masih tetap mengoceh dan berdiri. Dia mengoceh untuk menutupi rasa gugupnya. "Aku tidak pernah memandang kamu seperti itu, sweety! Silahkan!" ucap Angga sambil membuka kaosnya sendiri. Tubuhnya mulai berkeringat dan gerah. Nara menguncir rambutnya yang sedari tadi tergerai. Jantung mereka berpicu lebih kencang dari sebelumnya. Jantung Angga berdetak kencang karena hasratnya mulai timbul, dia kuatir tidak bisa menahan dan menerkam istrinya. Sedangkan Nara, dia gugup karena menel*njangi dirinya sendiri. Nara mulai menyilangkan tangannya, memegang ujung kaos, mencoba membuka bagian atasnya. Tapi gagal. Pria itu membungkam mulutnya dengan tangannya sendiri. Angga rasanya ingin tertawa terbahak-bahak melihat istrinya, namun dia berusaha menahan. Akhirnya dia tak sanggup lagi, dia terkekeh melihat sang istri menggoyang badannnya serta pinggulnya. Nara kesulitan melepas kaos yang sekarang ini menutupi wajahnya. "Mas ngapain ketawa?" tanya Nara yang tak berhasil membuka kaosnya, menurunkan lagi dan memperlihatkan wajahnya. 'Tadi bisa masuk, sekarang ga bisa dilepas. Gimana sich?! Kaos Kampret!' batin Nara kesal sendiri dengan wajah merengut. "Makanya kalo pake kaos ga usah ketat-ketat gitu." "Tadi Adila sama Aline juga pake kaos ketat gini." Bela Nara dengan cemberut dan masih berusaha membuka dengan cara lain, namun tetap saja gagal. "Uda aku bilang, kalo urusan baju jangan ikut mereka. Harusnya kamu punya style sendiri, ga usah ikut orang." "Entar salah kostum lagi." gerutu Nara lirih. Setelah Nara beberapa kali mencoba membuka kaosnya dengan berbagai cara, akhirnya dia menyerah. Rasa gugup, malu dan canggungnya sudah berganti kesal dan lelah. Walaupun menunjukkan mulut manyunnya, Angga merasa wajah Nara lebih menggemaskan. Kni dia beralih membuka kancing mini skirtnya, lalu resliting, tak lama rok itu terlepas dari pinggulnya. Angga kembali menarik nafas, dan mengeluarkan secara perlahan. Underwear merah yang menutupi milik istrinya sempat mengganggu konsentrasinya. Nara mencoba lagi membuka kaosnya, dan tetap saja tidak bisa lepas dari tubuhnya. Angga merasa kasihan, lalu berdiri dan mendekati istrinya yang terus berusaha. "Butuh bantuan, nyonya?!" bisik Angga yang sudah di depan Nara, sambil mengusap ringan pinggang Nara yang sudah berkeringat. "Capek..." rengek Nara. Dia tampak pasrah dengan tatapan mengiba. "Biar aku yang melanjutkan....." Angga berbisik dan meloloskan tubuh istrinya dari kaos laknat, dan melemparnya asal. Nara berdiri dengan tubuh menegang. Dia berharap tubuhnya tidak gugup lagi, malam pertama juga sudah dilewati, dan mereka sudah beberpa kali bercinta. Tapi entah kenapa, setiap berada didekat suaminya, rasa canggung, gugup masih saja dirasakannya. "Now What Will You Do? Just say it, i'll do it." bisik Angga sambil menempelkan bibir dan hidungnya samar-samar di telinga Nara. Mereka bisa merasakan hembusan yang satu dengan yang lain. Telunjuk Angga mengusap ringan lengan atau bagian samping tubuh Nara dengan lembut dan ringan. 'God!She's so cute!' Angga membatin melihat Nara terdiam, kaku dan tampak tak berdaya. Angga menatap Nara, hidung mancungnya menggesek hidung Nara yang tak terlalu mancung. "I want you, mas" bisik Nara dengan bibir yang saling berdekatan. "What should i do, sweety?!" balas Angga dengan suara seraknya. Nara mencium lembut bibir suaminya, Angga hanya membalas pasif. Nara kembali melumat bibir suaminya, tangannya kini meraba dan mengusap d**a Angga. "Ehhmmmmm" Angga mengeram saat merasakan usapan didadanya, kini dia mulai mendominasi lumatan. Tangan Angga tak hanya diam, kini bergerak ke belakang tubuh istrinya, membuka kaitan bra, lalu melemparkan. "Ehhhhmmmmm" berganti Nara yang mengeram ketika tangan Angga menyentuh punggungnya. Angga pun menaikkan ritme lumatan seolah ingin menyantap bibir istrinya. Angga melepaskan lumatan, dan _ "MAS!" pekik Nara, yang tubuhnya sudah dipundak suaminya. "Kita tuntaskan di kamar." ucap Angga membopong istrinya lalu_ Krek! "CELANAKU.....!"jerit Nara sambil mencubit kulit punggung Angga. Lagi-lagi Angga merobek celana dalam istrinya. Angga tak peduli dengan teriakan istrinya, dia memukul bagian belakang Nara yang terlihat menggemaskan. Mereka pun lanjut pergulatan di kamar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN