BAB 15

1396 Kata
Nara kadang menahan senyum ketika membaca rayuan yang ditujukan untuk suaminya. Dia juga melihat list pertemanan suaminya. Selain keluarga, kebanyakan yang Nara temui adalah akun olahraga dan otomotif Capek dengan posisi duduk, Nara hendak berbaring di kasur yang tanpa ranjang. "Jangan bobok dulu!" Angga mencekal lengan Nara yang hendak merangkak. "Cuma baring." "Disini!" Angga menarik tubuh Nara, dia merentangkan sebelah lengannya. Nara terpaksa duduk lagi di sebelah suaminya. Dia merebahkan kepalanya di d**a Angga.  Wanita itu bisa mendengar detak jantung suaminya, sambil terus melihat chat dari para wanita. Mereka konsentrasi dengan dunia nya masing-masing. Nara tenggelam dengan rasa ingin tahunya, sedangkan Angga dengan acara olahraga yanga ada di televisi. "Pelanggaran itu!" Seru Angga. Angga kembali berkomentar. Nara tak peduli dengan ocehan suaminya, dia masih asyik membaca chat suaminya. "Aaaaaa.....Gemes liat wasitnya!" Ucap Angga bersamaan tangannya meraba kasar punggung istrinya. Walaupun tertutup dengan bathrobe, tapi Angga bisa merasakan, "Byan, kamu ga pake dalaman?" Angga lanjut bertanya sambil menelan paksa ludahnya. Dia menoleh sekilas ke istrinya. Jantungnya mulai berdetak kencang. "Belum." Jawab Nara singkat tanpa melihat suaminya. Nara mendengar detak jantung Angga makin cepat. Angga berusaha menikmati sisa pertandingan bola yang kurang beberapa menit lagi. Wanita itu menggulung asal rambutnya yang sempat terlepas, memperlihatkan leher yang ada tanda cinta. Tanpa sengaja pergerakannya membuat suaminya merasakan sensasi yang berbeda. "Sayang...." bisik serak suara Angga dan mencium pipi Nara. Dengan santainya, wanita itu mendongak dan mencium lembut bibir suaminya, Angga pun membalas dengan lumatan yang lembut pula. Jemari Nara menggores samar kulit tubuh suaminya, membuat darah Angga makin panas. "Byan!" bisik Angga disela-sela lumatannya sambil memegang pinggang Nara. 'Bocah ini sungguh-sungguh....' batin Angga dengan membebaskan si istri menggodanya. Tak butuh lama, Nara berhasil merusak konsentrasi suaminya. Keduanya terbaring kelelahan di kasur Nara setelah bergumul. Angga yang kini bersikap manja, merebahkan kepalanya di sebelah d**a Nara, sambil menikmati aroma tubuh istrinya. Nara mengusap lengan Angga yang menindih perutnya. "Jadi ga ngerti dech skor terakhirnya berapa?" ucap Angga. "Skor apa?" tanya Nara yang ada di pelukan suaminya. "Yang tadi." "Sepak bola tadi? bukannya mas liat?!" "Nggak sampe akhir. Soalnya kamu gangguin." "Itu salah mas sendiri, ngapain Nara di godain?" Angga terkekeh. "Mas..... " Nara memanggil suaminya. "Iya By.... " "Kata mas tadi, setelah liat konser, mas kangen aku.... kok nggak ngabarin aku?" tanya Nara. Dia butuh jawaban. Apakah Angga juga pernah menyimpan rasa? Sama seperti dirinya. "Aku takut Byan..... " jawab Angga. "Takut apa?" Tanya Nara yang belum puas dengan jawaban suaminya. "Waktu itu masih pertimbangan usia kita yang beda jauh. Kamu dengan kesenangan mu. Dan aku sudah mikir ke ikatan. Soalnya aku liat kalo seumuran kamu, pacaran mulu tapi nggak nikah. Mas takutnya disitu. Terlanjur pacaran, tapi nggak nikah-nikah. Kalo berakhir nikah sich nggak papa, kalo putus?! Ngulang lagi dari awal.... capek... bosen By.... " ucap Angga mengungkapkan isi hatinya. "Tapi mas sempat dekat sama cewek kan? Yang reuni kecil itu.... " Angga menghela nafas, jangan sampe dia salah ucap dan istrinya lari lagi. "Benar. Tapi setelah dekat, mas nggak yakin dia bisa jadi pendamping mas." "Kenapa nggak yakin?" tanya Nara. "Dia nggak suka sama anak kecil. Dan ini kebalikan dari mas. Mas sayang banget sama ponakan." "Mas tau darimana?" Nara tak berhenti bertanya. "Waktu ke rumah Aji, dia cuek banget sama Nesa. Padahal, siapapun orang yang ketemu Nesa, pasti pengen nyubit. Orang asing aja, sampe pengen gendong sama ciumin Nesa." Mendengar cerita dari suaminya, Nara berpikir pasti suaminya menginginkan keturunan. "Emang mas pengen anak berapa?" "Terserah kamu kuatnya berapa? Mas sich pengen 3." "cewek atau cowok?" "Apa aja aku terima. karena kita nggak bisa memilih cewek atau cowok. Di kasih aja uda Alhamdulillah banget." Mereka pun berbincang ringan tentang masa depan mereka. Senin  Pagi ini Nara terbangun lebih dulu karena keramaian di kamar kos lainnya. Wanita itu terkejut saat melihat Angga tertidur di karpet, bukan di ranjang bersama dirinya. Masih dalam balutan selimut, Nara memaksa menyusup ke sisi tubuh suaminya, dan membaringkan kepalanya di sebelah d**a Angga. "Mas, uda mau shubuh." Nara mengecup pipi Angga, tak lama pria itu membuka matanya dan tersenyum. "Kok mas bobok dibawah?" tanya Nara. Angga terkekeh dan menarik lembut hidung istrinya. "Kasurnya terlalu sempit By. Mas takut gangguin kamu, ntar kamunya ga bisa tidur." "Gangguin apa?" tanya Nara menggoda suaminya. "Yuk! Ga usah mancing, kita lakuin sekarang." ucap Angga bersamaan membuka selimut mereka. "Tapi_" Nara tak percaya suaminya sudah menginginkan lagi. "Makanya ga usah sok sokan godain mas" bisik Angga yang sudah mulai mencium Nara yang mengikik. 'Kamu itu agresif depannya aja, kalo uda diginiin diem kan?!' batin Angga dengan senyum licik. Dan pagi itu mereka hanya b******u. Usai sarapan dengan masakan kampung, mereka kembali ke rumah Angga. Nara juga menyempatkan belanja yang tak jauh dari kosnya. "Mas, nanti sore di ajak Aline sama lainnya ke Plaza." ucap Nara sambil memasak, sedangkan suaminya asyik dengan 3 burung perliharaanya. "Ada acara apa? Mereka ga kerja?" "Katanya cuti semua, hari kejepit . Ga tau acara apa. Katanya lanjut ntar malam di karaoke." "Yang nikah sapa...yang cuti sapa..." "Boleh ya mas?" "Sama siapa?" Angga belum memberikan jawaban. "Dijemput Aline sama Adila." "Hmm...duo itu" "Kenapa sama mereka?" "Kalo belanja baju pokoknya jangan sama mereka." "Iya mas. Jadi boleh ya?" "Iya, rambutnya di gerai aja. masih ada merah-merahnya tuch dibelakang." "Beneran?!"tanya Nara meyakinkan. "Ya uda kalo ga percaya, iket aja rambutnya, biar malu." "Makanya mas lain kali jangan di situ." "Dimana?" "Ya agak bawahan dikit, yang ga keliatan." Angga sudah mendaratkan dagunya di pundak Nara, wanita itu sedikit terkejut lalu tersenyum. "Katakan dimana?! Mas mau buatin yang banyak." Angga mencium pipi Nara. "Maaaaasss, ini di dapur lho!" "Emang kenapa? Ga ada salahnya kita bercinta di dapur kan?!" Angga menyusupkan tangannya ke dalam kaos longgar yang dipakai Nara. Pria itu mengelus ringan, mengusap lembut perut Nara sambil menciumi pundaknya. "Em... burung nya uda beres semua?" tanya Nara mencoba mengalihkan. "Uda, sisa 1 burung yang belum, dan hanya istriku yang bisa membereskan." Bisik Angga, tangan pria itu terus bermain di balik kaos istrinya. Nafas Nara sudah mulai berat. "Mas, aku lanjutin ini dulu ya..ntar lagi mendidih." "Ok, Mas tunggu di kasur ya?!" "Ngapain di kasur?" "Main dakon.... " jawab Angga asal. Nara tau kemana arah suaminya, pasti minta jatah. Tapi sebelumnya Nara sudah di ingatkan oleh sepupu Angga. 'Sebulan pertama, kita nggak bakal tidur nyenyak. Dan dia nggak bisa liat kita nganggur. Jadi kamu harus siap. Apalagi Angga yang sudah nikah. Bisa di bilang dia akan balas dendam, soalnya udah di tahan beberapa tahun.'  intinya begitu kata sepupu Angga yang wanita. Dan ternyata benar, Angga minta jatah lagi. "Ini belum tengah hari, tapi kamu uda 2 kali mas..." kata Nara sambil memakai bajunya. "Dan kamu berteriak nikmat beberapa kali." Balas Angga dengan senyuman nakal. "Ih mas Anggaaaaa" rengek Nara malu dan memukul lengan suaminya. "Ga papa, sayang. Kan mas suami Byan, kalo bukan dari mas, Byan mau minta siapa lagi kalo urusan ranjang? " "Aku tidur bentar ya Mas?' Nara meminta ijin. "Aku main PS ya?!" "Mas Angga, kita kan_" "Aku main PS atau aku mainin kamu?!" potong Angga dengan memainkan alisnya. Nara langsung terbangun dan berdiri. Bugh!  Tanpa ucap wanita itu melempar bantal ke wajah tampan suaminya dan melenggang ke kamar. Angga terkekeh senang saat menggoda istrinya. 'Akhirnyaaaa......' batin Angga riang saat istri meninggalkannya sendiri. Dia menyalakan PS, menyiapkan memory card yang sudah terisi beberapa jenis games dan mengurai kabel yang mengikat stick PS.  "MAS KALO MAIN PS, 2 MALAM GA USAH BOBOK SAMA AKU!" teriak Nara dalam kamar sambil tertawa cekikikkan. Angga menghela napas lalu menggulung lagi stick PS yang sudah siap ia mainkan, mematikan PS dan merapikan seperti semula. Pria itu tak bisa berkutik saat mendapat ancaman ranjang dari istrinya.  Angga menyusul ke kamarnya, dia menaiki ranjang, lalu memeluk tubuh istrinya. "Byan, mas tau kamu belum tidur. Kalo mas main sama kamu, mas dapat ancaman apa?" Nara membalikkan tubuhnya, menatap wajah suaminya yang tampan, lalu dia menghela napas. "Mas, Nara capek. Ntar jam 3 dijemput, lanjut ke karaoke sama mas juga. Nanti malam pasti mas minta ngadoN, bikin anak lagi. Nara boleh istirahat?" tanya Nara dengan wajah memelas. Angga pun merasa iba, dan dia menyadari kegiatan percintaan mereka yang memang susah di kendalikan.  "Iya, sayang. Kamu bobok. Kamu harus sehat demi anak-anak kita." Angga mengecup kening istrinya. Nara tersenyum, dan... "Ga usah cium mas! Atau kamu ga bisa tidur!" lanjut Angga saat melihat Nara hendak menciumnya. Dengan merengut Nara membalik tubuhnya, dan memunggungi Angga yang masih memeluknya dan tersenyum.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN