CYT 04

1038 Kata
Namun meskipun putri sangat ingin sekali mengomel, Putri tidak ingin membuat Reuz dan Inaya mendengarkan perdebatan antara Riond dan Putri karena akan sangat berpengaruh buruk untuk kesehatan mental dua adik mungil tersebut. Setelah mendengar omelan Riond, Putri menghela nafas pelan untuk menahan amarahnya kemudian dengan lembut meletakan Reuz yang berada di pangkuanya menjadi duduk di kursi yang di duduki oleh Putri. Dan putri turun ke bawah menjongkok menyetarakan dirinya dengan Inaya berbicara dengan lembut kepada Inaya. “Inaya anak cantik, Inaya duduk di sini dulu ya sebentar aja, jagain Reuz jangan kemana-mana ya! Bantu kakak ya, kakak mau ngomong penting sama papah Inaya boleh?” ucap Putri dengan lembut sambil mengelus-ngelus kepala Inaya dengan penuh kasih sayang. Inaya yang merasa sangat di sayangi oleh Putri merasa senang, dan juga dengan senyuman wajah yang terukir di sudut bibirnya membuatnya semakin terlihat manis. “Iya kak, siap! Inaya gak akan kemana-mana kok! Dan Inaya juga bakal jagain Reuz!” jawab Inaya sambil merangkul Reuz. “Pinter banget sih kamu!” ujar Putri sambil mencubit pipi Inaya tanda sayang. Setelah berbicara dengan Inaya, Putri bangun dan langsung menarik tangan Riond untuk pergi ke suatu tempat yang agak jauh dari Inaya tapi masih terlihat oleh Inaya agar Putri dan Riond masih bisa mengawasi Inaya dan Reuz. Riond yang di tarik oleh Putri merasa tidak suka dengan tingkah putri yang terlihat asal saja, padahal mereka baru kenal, bagaimana bisa Putri melakukan hal seperti ini. “Lepasin! Gua bisa jalan sendiri! Gausah di tarik-tarik!” ucap Riond tegas. Mendengar ucapan Riond membuat Putri dengan spontan langsung melepaskan tanganya yang memang menarik Riond. Sesampai di tempat yang agak jauh dari Inaya dan Reuz mereka berdua langsung memulai perdebatan mereka tidak ada yang ingin mengalah satu sama lain, mereka berdua merasa benar dan tidak ada yang ingin mengalah. “Sini biar gua kasih paham ya lu! Tadi lu bilang apa? Bilang gua sibuk dengan dunia gua sendiri! Dan gak merhatiin anak-anak! Lu gak salah ngomong kayak gitu hah! Secara yang ada hubungan darah dengan mereka itu lu! Dan bukan gua! Sedangkan lu! Apa yang lu lakuin hah! Apa pernah lu nyempetin waktu lu buat mereka! Pernah gak? Gak kan! Jadi siapa disini yang sibuk dengan dunianya sendiri! Lagian ya ini itu tugas lu sebagai bapaknya! Lu punya hak penuh atas anak-anak lu! Dan bukan gua!” murka Putri. Mendengar ucapan putri yang sangat serius membuat Riond berfikir dan ada benarnya juga apa yang di ucapkan oleh putri! Bahkan mantan istrinya sendiri meninggalkan Riond karena Riond yang selalu sibuk dengan dunianya. Namun meskipun apa yang di ucapkan oleh Putri benar Riond merasa ogah untuk mengakui kesalahanya, dan tetap saja mencari-cari alasan untuk memenangkan perdebatan di antara mereka. “Hah! Apa lu bilang? Lu lupa ya kalau lu itu calon istri gua! Lupa? Menjaga anak-anak itu bagian dari tugas lu! Jangan lupa! Jangan mentang-mentang dia bukam darah daging lu, lu gak mau ngurusin dia! Inget ya gua nikahin lu itu buat ngurusin anak gua!” jawab Riond tak ingin kalah. “Iya gua tau! Tapi tolong ucapan lu itu di jaga! Apa yang lu ucapin tadi di depan anak-anak itu nyakitin gua! Lu ngomong kayak gitu! Seakan-akan gua gak bener ngurusin mereka! Lagian apa masalahnya sih hah? Gua cuman lagi ngehubungin temen gua doang! Apa yamg ngebuat lu semarah itu hah?” tutur Putri. “Ya emang bener kan nyatanya kayak gitu! Yaudah sih ngaku aja! Lagian udah tau lagi jagain anak-anak kenapa malah repot nyariin temen!” ucap Riond. Putri yang malas dengan perdebatan antara dirinya dengan Riond membuatnya pergi begitu saja meninggalkan Riond yang masih berdiri di tempatnya. Putri berjalan mendekati Inaya dan Reuz yang sudah menunggunya sejak tadi, namum langkah Putri di ikuti dengan Riond di belakangnya. Putri yang tentu saja masih merasa kesal di hatinya belum hilang berusaha menetralisirkan amarahnya dan bersikap seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Dan Riond yang berusaha mengerti perasaan dirinya sendiri, jika di fikir-fikir kembali apa yang di lakukan dirinya kepada Putri memang sangat keterlaluan, mengapa dirinya begitu kesal kepada Putri yang jelas-jelas tidak melakukan kesalahan apapun. Riond masih saja termenung memikirkan hal itu, dan Putri yang mulai mengandeng Inaya dan Reuz untuk segera pergi dari sini menuju tempat bermain. “Eh mau kemana?” tanya Riond mengikuti langkah kaki Putri, Reuz dan Inaya. “Mau jalan-jalan pah! Inaya mau main timezone!” jawab Inaya dengan senang. “Iya pah, Reuz juga mau main! Ayo papah ikut!” ucap Reuz melepaskan gandengan tangan dengan Putri kemudian berjalan dengan pelan-pelan ke arah Riond. Riond yang baru saja tertampar oleh perkataan Putri barusan membuatnya merasa harus memberi waktu untuk putra dan putrinya yang sangat mengemaskan ini. “Ayo papah ikut ya!” renggek Reuz. “Iyaudah ayo hari ini papah ikut kalian!” jawab Riond sambil mengangkat tubuh mungir Reuz. Putri yang mendengar perkataan Riond yang juga ingin ikut dengannya merasa sangat kesal, bagaimana bisa dirinya harus bersamaan lagi dengan manusia menyebalkan seperti Riond. Putri dan Riond berjalan terpisah dan sangat berjarak sambil membawa satu anak masing-masing, hingga sampai di depan mobil Riond dan menunggu Riond membuka kunci mobilnya. Putri membuka pintu mobil penumpang di depan dan meletakan Inaya di sana, kemudian dirinya duduk di kursi penumpang di belakang, tentunya hal ini membuat Inaya protes kok dirinya sendirian duduk di depan. “Kok Inaya sendiran kak? Inaya gamau sendirian!” ujar Inaya. “Kaka kam jagain Reuz di sini! Masa Reuz sendirian di belakang! Kasian dong!” ucap Putri memberi pengertian kepada Inaya. “Hmm yaudah deh, Inaya di depan nemenin papah!” ungkap Inaya dengan berat hati. “Siniin Reuznya biar gua yang jaga di belakang!” ucap Putri. Tanpa menjawab ucapan Putri, Riond langsung memberikan Reuz ke putri dan Riond langsung masuk mobil dan menyalakan mesin mobilnya kemudian menjalankan mobilnya. Tidak ada pembicaraan di dalam mobil, karena memang Putri masih menyimpan amarah kepada Riond dan tidak ada yang harus di bahasnya dengan manusia yang menyebalkan juga. Sedangkan karena kelelahan Reuz tertidur di pangkuan Putri begitu juga dengan Inaya yang tertidur di bangku depan, suasana menjadi sangat hening dan mencekam. Tidak membutuhkan waktu yang lama karena kini mereka sudah sampai di mall tempat Reuz dan Inaya akan bermain, namun melihat mereka yang tertidur pulas membuat Putri dan Riond engan untuk membangunkannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN