CYT 05

1121 Kata
“Kita udah sampe! Tapi anak-anak tidur!” ucap Riond. “Iyaudah jangan di bangunin kasian! Gak tega juga banguninnya!” ujar Putri. “Yaudah kalau gitu pulang aja! Mainnya nanti lagi aja! Udah tidur masa mau di bangunin!” gumam Riond. “Yaudah kalau gitu! Gua turun di sini aja!!” papar Putri sambil meletakan Reuz dengan penuh hati-hati agar tidak terbangun. Riond yang membiarkan begitu saja putri turun, Bahkan Riond tidak berusaha menghentikan Putri yang ingin pulang sendiri. Begitu Putri turun dari mobil, Riond langsung membelokan mobilnya dan memulai perjalanan pulang kerumah bersama anaknya yang tertidur. Sedangkan putri yang masih merasa kesal dan juga canggung kepada Riond memilih untuk masuk ke dalam mall untuk hanya sekedar memesan minuman dan mencoba mencerna apa yang terjadi dengan dirinya sekarang. “Apa yang terjadi hari ini sungguh benar-benar tidak masuk akal! Bagaimana bisa niat hati ingin bekerja untuk mencari uang tambahan malah justru terjebak di pernikahan seperti ini! Yang lebih parahnya lagi dia adalah dosen kampus gua! Sekaligus orang yang paling gua hindarin selama ini! Namun mengapa semesta seakan selalu bertentangan dengan gua!” ujar Putri lelah dengan menghela nafas panjang. Putri duduk dengan lesu sambil bersandar di kursi yang di dudukinnya juga dengan tatapan kosongnya, namun tanpa Putri sadari ternyata sedari tadi ada seseorang yang memperhatikannya dari jauh. Setelah cukup lama memperhatikan Putri akhirnya Ujang mencoba untuk menghampiri putri yang terlihat sedang kebinggungan. Putri yang tersadar jika ada seseorang yang berdiri di sebelahnya langsung membenarkan duduknya dan langsung menyapa kakak tingkatnya yang memang putri kenal. “Eh kak Ujang! Sendiri aja kak?” tanya Putri. “Iya nih, kamu ngapain disini sendirian, tumben gak sama Tria! Kemana dia?” Tanya ujang sambil menyeruput minuman. “Iya tadi kebetulan aja sih lewat sini kak! Terus mampir dulu deh pengen me time hehe!” papar Putri. “Oh gitu ya! Kebetulan banget ya kalau gitu! Gimana kuliah kamu aman?” tanya Ujang berbasa-basi. “Ya gitu-gitu aja kak! Sejauh ini masih aman kok!” jawab putri tak nyaman. Putri yang merasa tidak nyaman berada dekat dengan Ujang memandangi jam di tanganya saja dan memutuskan untuk pulang, daripada harus meladenin kakak tingkatnya yang memang menyimpan perasaan kepada Putri. Bukan Putri sombong hanya saja Putri tidak ingin membuat ujang merasa salah paham dengan sikapnya, Putri tidak ingin membuat Ujang merasa di beri harapan olehnya. “Hmm, kak kalau gitu Putri pamit dulu ya! Udah sore kak!” ungkap Putri lembut. “Hmm yaudah bareng aja! Kakak juga mau pulang! Kakak anterin ya!” jawab Ujang penuh semangat. “A ..., gausah kak, Putri pulang sendiri aja!” tolak Putri halus. “Hmm, yakin gamau di anterin! Gapapa kok beneran! Kan jarang-jarang! Gak tiap hari juga kan!” bujuk Ujang. “Hehe iya kak beneran gapapa kok! Putri pulang sendiri aja!” ujar Putri kekeh. Karena Putri menolak ajakan Ujang, Ujang tidak bisa memaksa dan mereka pulang secara terpisah meskipun rasanya Ujang sangat ingin mengantar Putri, Namun tidak ada yang bisa di perbuat olehnya. Putri pulang dengan kendaraan umum karena motornya di tinggalkan di kampus, berbeda dengan Riond yang memang sudah sampai dari tadi, Kini Riond melanjutkan pekerjaan di ruang kerja Riond. Hari semakin malam hingga kini sudah menunjukan pukul 21.00 WIB, Riond yang masih sibuk di ruang kerja di hampiri oleh wanita yang sangat di cintainya. Wanita tersebut langsung duduk di sofa yang berada di ruang kerja Riond dan langsung berbicara mengenai pernikahan Riond yang akan di adakan minggu depan. “Kamu tuh jangab sibuk terus coba! Mulai besok kamu harus nyempetin waktu untuk ke butik! Kamu sama Putri harus feeting baru buat nikah! Ets ini perintah tidak menerima alasan apapun!” ucap Elysa tegas. “Ah Mah, ngapain sih cepet-cepet kan masih lama! Masih ada waktu sebulan lagi kan!” jawab Riond mengelak. “Eh siapa yang bilang itu! Pernikahan kamu minggu depan! Waktunya udah sangat mepet!” kata Elysa. Mendengar pernyatan Elysa membuat Riond terkejut bagaimana bisa pernikahan diadakan sangat mendadak seperti ini, bahkan aku dan Putri pun baru pertama kali bertemu. “Mamah!” bentak Riond. “Kenapa mamah berbuat kayak gini sama Riond sih! Mamah coba di fikir lagi deh! Riond aja baru ketemu sama Putri tadi! Begitu pula dengan Putri bagaimana bisa mamah asal ngerencain secepat itu! Mamah coba pikirin perasaan Putri dan Riond!” tutur Riond. “Nak, apa salahnya, lebih cepat lebih baik bukan! Terus apa yang jadi masalahnya! Toh kalian sudah saling bersedia tadi! Apa yang harus di fikirkan lagi!” jawab Elysa. “Ya allah mamah! Tau lah terserah mamah aja! Atur aja sama mamah semua! Sekalian mamah aja yang bilang sama Putri!” ujar Riond tak ingin mendebat. Setelah mengatakan sesuatu Riond langsung pergi meninggalkan ruang kerja dan mamahnya yang berada di sana, Riond masuk ke dalam kamar anaknya untuk menenangkan diri. Bagi Riond melihat anak-anaknya adalah obat untuk dirinya, Riond memandangi saja raut wajah kedua anaknya tersebut. Riond merasa bersalah kapada anaknya, karena ke egoisan dirinya yang terlalu sibuk bekerja sehingga menyebabkan kedua anaknya harus kehilangan sosok ibu yang tidak seharusnya di alami oleh manusia mungil ini. “Nak maafin papah ya! Karena papah terlalu sibuk! Kalian harus mengalami kesulitan ini!” ucap Riond sambil mengelus kepala Inaya. “Jagaan papah yang satu ini juga harus kuat oke! Papah janji kedepanya papah bakal sering-sering luangin waktu buat kalian!” ujar Riond sambil mencium kening Reuz. Setelah mencium Reuz, Riond pergi dari kamar kedua anaknya dan kembali ke kamarnya, Riond menjatuhkan tubuhnya di kasur empuk dan matanya melihat ke langit-langit atap rumahnya. “Begini kah akhirnya kisahku, setelah menikah dengan orang yang sangat aku cintai dan akhirnya harus berpisah karena keegoisan masing-masing! Kini harus menikahi wanita pilihan orang tua! Yang sma sekali tidak aku kenal! Bahkan wanita itu terlihat sangat menyebalkan! Huh!” gumam Riond. Entah hal apa lagi yang akan terjadi selanjutnya, Riond hanya berharap jalannya lebih nudah untuk kedepannya. Sambil merenungi ucapan mamahnya membuat Riond tertidur pulas, hingga kini sudah menunjukan pukul 06.00 WIB dimana dirinya harus bersiap-siap untuk bekerja dan mengantar Inaya pergi ke sekolahnya. Inaya sudah selesai mandi dan sedang memakai pakaian sekolahnya di bantu oleh omahnya sedangkan Riond yang sibuk mempersiapkan dirinya sendiri. Inaya, Riond dan Elysa bertemu kembali di meja makan untuk sarapan, lagi-lagi wanita paruh baya itu mengigatkan Riond untuk mampir ke butik bersama Putri setelah dan juga meminta Riond untuk mengajak Inaya pergi bersamanya. “Nak, nanti jangan lupa oke! Sekalian jemput Inaya ya, mamah hari ini sibuk gak bisa jemput Inaya! Sekalian aja ajak Inaya ke butik!” ucap Elysa. Tidak ada jawaban apapun dari Riond, Riond mendengar ucapan mamahnya namun engan untuk menjawabnya dan memilih fokus menyantap sarapan saja. Inaya yang merasa papahnya tidak setuju dengan ucapan omahnya, merajuk kepada papahnya agar menuruti permintaan omahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN