“Hmm, lu mah enak tinggal ngomong doang! Lah gua yang jalaninnya berat!” gumam Putri.
“Yah put! Terus mau gimana lagi! Apa yang harus gua lakuin coba! Ya gak ada pilihan kan selain coba ngejalanin! Emang lu mau apa! Kabur?” tanya Tria.
“Iya emang gak ada pilihan! Dah lah gatau gua! Terlalu pusing buat mikirin ini! Kenapa sih hidup gua gini banget! Gak pernah aja sejalan dengan apa yang gua mau! Mulai dari sekolah, kuliah, sampai ke pernikahanpun begini!” ungkap Putri dengan tatapan kosongnya.
Tria yang memahami emosi Putri tidak stabil hanya diam saja, Tria pergi untuk membeli minuman untuk Putri.
“Put, gua beli minuman dulu ya haus!” ucap Tria.
“Iya sok sana! Cepet jangan lama!” gumam Putri.
Tanpa menjawab ucapan Putri, Tria langsung bangun dari duduknya dan melangkah menuju kantin untuk membeli air putih namun di tengah-tengah perjalanan Tria bertemu dengam Riond.
Melihat Riond dengan spontan Tria menundukan kepalanya namun langkahnya di hentikan oleh Riond yang dengan sengaja memanggilnya dengan tegas.
“Tria!” panggil Riond.
“Iya kenapa ya pak?” tanya Tria.
“Kamu liat Putri dimana?” tanya balik Riond.
“Oh putri di taman pak!” jawab Tria.
Setelah mendapat jawaban dari Tria, Riond langsung melangkahkan kakinua menuju taman tempat Putri berada, dan Tria yang di tinggal begitu saja mengerutu tentang sikap Riond.
“Set dah, emang orangnya ngeselin sih! Asal nyelonong-ngelonong aja! Wajar aja kalau Putri kesel sama itu orang!” gumam Tria.
“Tapi dia mau ngapain nyariin sih Putri! Putrikan lagi badmood! Belum aja dia kena semprot!” ucap Tria dalam hati.
Tria melanjutkan perjalananya untuk membeli minum sedangkan Riond sudah sampai di taman tempat keberadaan Putri.
Putri terlihat sedang melamun, entah apa yang di fikirkannya, namun Riond tidak memperdulikan Putri apa yang di fikirkannya atau apa yang di rasakan olehnya, Riond langsung menyampaikan saja apa yang di perintahkan oleh Elysa.
“Putri!” panggil Riond.
Melihat Riond mendatanginya dengan arogannya, membuatnya kesal dan hanya melirik ke arah Riond hatinya bergumam.
“Aduh ini orang mau ngapain lagi sih! Kenapa sih dunia seakan gak pernah berpihak sama gua! Gak bisa apa gua tenang sebentar aja!” ucap putri dalam hati.
Riond yang melihat Putri seperti itu langsung saja menyampaikan niat maksud Riond mendatangi Putri.
“Luangin waktu makan siang! Jam 12! Lu harus ikut gua! Jemput Inaya, sekaligus ke butik!” ucap Riond tegas.
“Hah! Apan sih lu! Gak bisa gua sibuk!” tolak Putri.
“Ya gua gamau tau! Itu resiko lu! Pokoknya gua tunggu lu jam 12 di parkiran mobil! Lu tau kan mobil gua!” tutur Riond tak peduli tentang Putri.
“Eh lu belum jadi suami aja udah kayak gini ya! Suka-suka gua dong! Toh gua berhak buat menolak!” ujar Putri semakin emosi.
“Ya emang lu bisa nolak! Tapi gua ini calon suami lu! Lu belum jadi istri aja gak nurut! Gimana udah jadi istri! Mau membangkang lu!” ucap Riond menyudutkan.
“Lah ya bukan salah gua dong! Siapa suruh lu dadakan! Terus lu fikir hidup gua cuman ngurusin lu aja! Gua juga punya kehidupan sendiri! Gak bisa dong lu asal main nentuin waktu tanpa berdiskusi sama gua dulu!” papar Putri mmenjelaska.
“Udahlah Put, lu gak bisa apa gak ribut kayak gini! Gua cape kerjaan gua banyak! Gak ngurusin lu aja!” tutur Riond.
“Lah lu kira kerjaan gua gak ada gitu! Gua juga punya kehidupan gua sendiri! Dan lu dengan enaknya masuk terus langsung ngatur-ngatur gua! Lu siapa?” balas Putri.
“Lah lu lupa! Gua calon suami lu!” tegas Riond.
Tria sudah membeli minuman dan menghampiri Putri yang tentunya ada Riond disana, benar dugaan Tria mereka akan berdebat entah apa yang mereka ributkan.
Sebenarnya Tria tidak ingin ikut campur urusan Riond dan Putri namun Tria tidak punya tempat tujuan lagi kalau tidak menghampiri Putri.
Begitu Tria datang pembicaraan antara Putri dan Riond terhenti, dan Riond pergi begitu saja tanpa pamit.
“Dah lah gua gak mau tau! Terserah lu mau ngamuk kek gimana! Yang penting gua tunggu! Kalau gak dateng ya gua cari lu!” ucap Riond tegas.
Riond tanpa izin mengambil ponsel yang di pegang Putri dan memgambil nomor Putri agar Riond lebih mudah menghubungi Putri tidak harus mencari-carinya kesana-kemari yang sudah jelas memakan waktu.
Tria yang melihat ini tidak bisa berpendapat apa-apa hanya menunggu mereka selesai, kemudian setelah Riond mengambil nomor ponsel Putri, Riond pergi meninggalkan Putri dan Tria.
Setelah Riond pergi, wajah Putri terlihat masih kesal, melihat ini Tria membuka tutup botol untuk Putri.
“Nih minum dulu!” kata Tria sambil menyerahkan air minum.
“Kenapa sih? Kek kesel gitu!” tanya Tria.
“Ya gimana gak kesel! Coba lu fikir dah, dia tiba-tiba dateng terus ngatur-ngatur gua! Apa coba maksudnya!” ucap Putri emosional.
“udah sabar dulu sabar!” sahut Tria sambil mengelus punggung Putri.
“Ya mungkin dia ada perlu sama lu! Jadi kayak gitu!” jawab Tria menenangkan.
“Ya ada perlu sih boleh aja! Tapi kan gua juga punya kehidupan gua sendiri! Gua juga gak bisa dadakan kayak gitu!” ujar Putri sambil mengehela nafas.
“Yaudah turutin aja toh bentar lagi lu bakal jadi istri dia! Ya gua ngerti kalau sekarang lu kesel, emosi! Secara lu gak biasakan! Tapi nanti lu bakal terbiasa kok! Semangat bestie! Maaf gua gak bisa bantu lu! Tapi gua bakal jadi orang pertama yang ada buat lu!” ucap Tria sambil memeluk Putri.
Putri yang di peluk oleh Tria tidak mengatakan hal apapun, Putri hanya merasakan dekapan Tria sebagai sumber kekuatan untuk Putri.
“Makasih! Udah selalu ada buat gua! Meskipun gua suka buat lu marah!” papar Putri.
“Udah gapapa! Wajar kok! Yaudah sekarang kita masuk yuk!” ajak Tria.
Putri dan Tria masuk ke kampus dan mulai pelajaran mereka, sedangkan di sisi lain ada Elysa dan Reuz yang pergi untuk memesan hotel untuk pernikahan Riond dan Putri.
Elysa pergi ke salah satu hotel berbintang 5 untuk melihat-lihat keadaan sekitar dan kemudian memesan tempat.
Elysa membawa Reuz yang di gandengnya, namun saat Elysa mengobrol dengan salah satu staff untuk membicarakan tentang detail yang di dapat dan dekorasi Reuz bermain dengan sendiri dan menghilang entah kemana.
“Tempat ini oke, yaudah kalau gitu saya minta nanti dekorasinya yang elegant gitu ya! Pokoknya desainnya yang terlihat mewah dan elegant gitu! Saya pesen untuk minggu depan!” kata Elysa.
“Oh iya semua udah di atur di sini kan! Mulai dari gaun, catering dan lain sebagainya!” ucap Elysa memastikan.