“Di ... situ, Tuan?” tanya Celine sambil menunjuk ranjang besar tuannya.
“Iya, kamu dengarkan perintah saya?”
“E ... tapi ... E ...,” tanya Celine kebingungan.
Aksara mendekat ke arah Celine, menarik lengan gadis itu untuk duduk di bibir ranjang miliknya. Ia sedikit berjongkok, menyetarakan tubuh gadis di depannya.
“Tuan, ada apa?” tanya Celine yang semakin gugup. Hari mulai malam, sedangkan rumah begitu sepi. Dia dan lawan jenis berada dalam satu kamar.
“Tuan, Celine ....”
“Diamlah! Biarkan saya berbicara.”
Gadis itu terkejut mendengar nada sedikit meninggi. Ditutupnya kedua telinganya dengan mata yang terpejam.
“Maaf, Celine. Maaf. Saya tidak bermaksud menakutimu.”
Dada gadis berambut panjang itu bagai gemuruh. Jantungnya kembali berdetak dengan cepat, aliran darahnya berdesir lebih kencang membawa pikiran buruk menghantui isi kepalanya. Ia menundukkan pandangan, di mana rambut panjangnya menutupi sebagian wajahnya. Ia tak berani menatap manik mata Tuannya.
Dengan mengumpulkan tekad dan keberanian, Aksara ngin menyatakan perasaannya. Ia tak ingin terus terkatung dengan perasaan yang menyiksa. Entah diterima atau tidak, ia sudah merasa bodoh. Setidaknya, ia tidak lagi dihantui pikiran dengan terus memikirkan babysitter anaknya. Namun, sikap Celine yang ketakutan mmebuat nyalinya turut ciut. Apa mungkin lelaki seumurannya bisa bersasma dengan gadis masih yang belia?
“Tu ... an ....” Nada gemetar terdengar jelas di indra Aksara.
Lelaki yang setengah berjongkok itu menatap gadis di depannya. Ia memegang rambut panjang Celine dan menyelipkan di belakang telinganya.
“Apa yang ingin tuan katakan pada saya? Apa saya melakukan kesalahan lagi, Tuan?”
Aksara menatap Celine dengan teduh. Namun, ia tetap belum berani mengungkap perasaanya. Siapa sangka, lelaki yang dulunya seorang playboy itu justru tak punya nyali sama sekali untuk menyatakan perasaan kepada wanita. Dahinya mulai berkeringat sebesar biji jagung, padahal AC di kamarnya sudah lebih dari cukup.
Aksara menggenggam tangan kecil Celine. Dingin. Ia tersenyum tipis kepada gadis itu.
“Terima kasih banyak telah merawat Denim sangat baik. Terima kasih banyak telah menemani anak saya dengan tulus. Saya ....”
“Itu pekerjaan saya, Tuan.”
“Sial, kenapa harus dijawab dulu? Rentetan kalimat saya langsung buyar, Celine,” umpat lelaki itu dalam batinnya. “Tidak tahukah kalau saya mau menyatakan cinta padamu?” batinnya kembali yang terus berbicara.
“Apa ada lagi yang mau dikatakan, Tuan? Saya sudah mengantuk. Mohon maaf.”
Lelai itu bangkit. Ia menarik nafas yang dari tadi terasa berat, “Besok saya libur kerja. Rencananya saya dan Denim mau liburan di daerah Semarang, dekat kampungmu bukan? Kalau kamu berkenan, kita mampir dan berikan oleh-oleh untuk adikmu. Supaya kamu tidak terus- terusan memikirkan mereka.”
“Beneran, Tuan? Saya tidak salah dengar?” tanya Celine dengan binar mata yang indah. Sekelumit senyum turut menghiasi wajah polos nan cantik berseri.
Aksara mengangguk.
“Celine ingin jujur sesuatu kepada, Tuan.” Gadis tu menundukkan pandangan. Dipilinnya ujung bajunya merasa bersalah.
“Apa? Saya mirip macan? Sudah saya maafkan.”
“Bukan, Tuan. Saya melakukan kesalahan lain.”
“Apa?” tanya Aksara penasaran.
“Sebenarnya, ponsel lama saya belum saya buang, Tuan. Rencananya mau saya berikan kepada adik-adik saya. Maaf ya, Tuan.”
Ekspresi ketakutan dari Celine membuat lelaki bercambang itu terekeh. Disentuhnya dagu cantik wanita tu dengan lembut, didongakkan menatap ke wajahnya. Dua pasang mata kini saling berpandangan.
“Saya sama sekali tidak mempermasalahkan itu. Kalau perlu, saya berikan ponsel baru juga untuk mereka.”
“Tidak, Tuan, tidak usah. Saya tidak mau terbebani angsuran dan potong gaji.”
“Saya memberikannya ikhlas, bukan untuk dibayar. Apalagi diangsur.”
“Saya tidak mau, Tuan. Saya tidak ingin terus merepotkan, Tuan. Selain itu, umur mereka juga belum terlalu dini untuk main ponsel.”
Aksara tersenyum, “Adikmu-adikmu pasti bahagia memiliki kakak sepertimu. Pergilah, segera tidur!”
“Baik, Tuan. Selamat malam. Selamat beristirahat.”
“Ya, kamu juga,” ucap Aksara dengan sudut bibir yang tertarik.
Celine keluar dengan perasaan yang bercampur aduk. Ada rasa bahagia, terharu dan .... Entahlah, ia sendiri tak bisa memaknai rasa yang hadir.
***
“Tuan, kita kenapa berhenti di sini?” tanya Celine ketika kendaraan yang mereka tumpangi berhenti di parkiran swalayan.
“Ya, belilah jajan kesukaan adikmu. Tidak mungkin kan kita kesana dengan tangan kosong. Selain itu saya sudah berjanji kepadamu akan membawa jajan untuk mereka.”
Sudut mata Celine mengembun. Lagi-lagi, ia dibuat terharu dengan kebaikan tuannya.
“Kenapa menangis?” tanya Aksara.
“Maaf, Tuan. Saya hanya terharu. Saya terbayang kebahagiaan adik-adik saya nantinya. Mohon maaf saya belum bisa membalas kebaikan, Tuan. Saya pasti akan lakukan apapun yang Tuan inginkan. Saya berterima kasih banyak. Semoga Tuhan membalas kebaikan, Tuan.”
Aksara terkekeh, “Kamu itu berlebihan.”
Aksara membuka pintu monil untuk babysitter dan anaknya, mengambil Denim ke gendongannya dan membantu gadis kecil itu untu turun.
“Dek Denim ikut tante yuk!” ucap Celine sambil mengangkat kedua tangannya ke arah bocah itu. Ia merasa tak enak hati jika Denim digendong ayahnya. Sedangkan pekerjaanya adalah mengurus lelaki kecil itu. Sama saja seperti makan gaji buta.
“Biar Denim saya gendong saja,” ucap Aksara.
“Tapi, Tuan, nanti saya bedosa.”
Dahi Aksara mengernyit, masih belum paham dengan kalimat Celine.
“Saya makan gaji buta. Nanti, uang saya tidak berkah,” ucap Celine menjelaskan.
Aksara tersenyum, “Justru kamu berdosa jika kamu memisahkan anak dengan ayahnya. Lagian, semenjak ada kamu Denim jarang bersama saya. Dunianya terisi denganmu.”
“Maaf, Tuan.”
Lelaki itu mendorong keranja belanjaan sambil menggendong anak semata wayangnya dengan satu tangan. Sedangkan Celine hanya berjalan dan memilih jajan yang hendak dibeli. Sebenarnya gadis itu merasa tak enak hati. Tapi, apa mau dikata. Ini kemauan dari tuannya.
“Ini sudah cukup, Tuan.”
Netra Aksara menoleh ke keranjang belanjaan. Kosong. Hanya terdapat tiga atau empat macam jajan saja.
“Kamu yakin? Ini terlalu sedikit, Celine.”
“Gak apa, Tuan. Biarlah ia terbiasa hemat.”
“Tolong ajak Denim sebentar!”
“Baik, Tuan.”
Lelaki kecil itu tak mau digendong oleh Celine. Melainkan memilih jalan kaki dan terus menjelajahi tempat besar ini. Sedangkan Aksara mengisi keranjang yang didorongnya dengan macam jajan, dan bahan-bahan makanan yang lain.
“Tuan, sebanyak itu?” tanya Celine kaget ketika ia medekati tuannya di meja kasir. Belanjaannya menggunung sampai dua kantung plastik besar.
“Kurang?”
“Berlebihan, Tuan.”
“Biarlah, Celine. Biar sekali-kali mereka mempunyai banyak jajan.”
“Terima kasih banyak, Tuan.”
Sepanjang perjalanan mereka terus bercanda dengan Denim layaknya sebuah keluarga bahagia. Bernyanyi pok ame-ame, naik-naik ke puncak gunung dan lagu anak-anak yang lain. Hingga tak selang lama, Denim justru terkantuk dan akhirnya terlelap setelah minum s**u .
“Jika kamu ngantuk juga, tidurlah!”
“Tidak, Tuan. Saya tidak mengantuk.”
Hening. Kini canda tawa mereka mulai tak terdengar. Melainkan saling sungkan dan berdiam diri, fokus dengan pikiran masing-masing.
“Tuan, Dek Denim mau diajak berlibur kemana?” tanya Celine yang mencoba mengisi obrolan.
“Ke rumah kamu.”
“Ke rumah saya? Tapi di sana tidak ada tempat rekreasi.”
“Di kampungmu banyak sawah bukan? Bukannya itu baik untuk rekreasi anak-anak?’
Celine tersenyum, “itu untuk anak sekolah, Tuan. Belum cocok untuk Dek Denim. Lagian, kita mau berlibur di sawah siapa? Yang ada kita diusir, merusak tanaman mereka.”
“Kamu gak punya sawah?”
“Ya nggak punya lah, Tuan. Kalau saya punya sawah, saya tidak perlu bekerja di rumah Tuan dan meninggalkan adik-adik saya di rumah.”
“Syukurlah.”
“Apa, tuan, kenapa malah bersyukur?”
“Ya, kalau kamu punya sawah, saya tidak akan kenal kamu.”
“Dek Denim malah diurus babysitter yang profesional tuan. Babysitternya juga gak akan ngerepotin mulu seperti saya.”
“Tapi saya sukanya kamu. Bukan yang lain.”
“Apa, Tuan?”