Bab 2. Sentuhan itu

1250 Kata
“Bapak makan bekal dari Celine?” tanya sopir itu sambil melirik kaca mobil di atasnya. Lelaki yang menggajinya cukup besar itu tampak mengusap mulutnya dengan sapu tangan. “Iya.” “Bagaimana, Pak?” “Biasa saja. Tapi berhubung saya lapar, belum sarapan dan makan siang maka saya habiskan.” “Apa kita cari makan siang dulu?” “Tidak usah. Saya tidak yakin meninggalkan Denim bersama Celine.” “Kenapa? Bukannya Celine babysitternya Denim.” “Gadis itu terlalu belia untuk mengurus anak saya. Saya jadi tidak tenang untuk bekerja.” “Tapi, Pak -.” “Kamu fokus saja menyetirnya. Sekalian cari kan saya babysitter pengganti itu. Satu kali dua puluh empat jam harus sudah dapat.” “Tapi, Pak -.” “Saya tidak menerima alasan, Bas.” Kendaraan roda empat itu mulai melambat ketika memasuki halaman rumah. Terlihat gadis dengan baju selutut tengah bermain dengan putra mahkota keluarga Aksara. Lelaki yang tengah aktif-aktifnya berjalan itu tampak menyusuri rerumputan yang menghijau sambil memegang buah di tangannya. Aksara turun sebelum tiba di depan pintu. Disusulnya anaknya dengan raut muka khawatir. Wajah memerah dengan tangan yang berwarna sama. Masih tertinggal sedikit irisan buah naga itu di tangan mungil Denim. “Apa yang kamu lakukan sama anak saya?” tanya Aksara setengah berteriak. Baru kali ini ia melihat anaknya sangat berantakan. Compang-camping dengan noda buah naga yang tak langsung dibersihkan. Bahkan anak yang begitu disayangnya itu harus makan dengan tangannya sendiri tanpa disuapi. “Terus, kenapa anak saya dibiarkan telanjang kaki? Bagaimana kalau kulitnya tergores? Apa kamu bisa tanggung jawab?” Celine menundukkan pandangan. Tangannya memilin ujung baju dengan ketakutan. Sedang rambut panjangnya, setengah menutupi bagian wajahnya yang sedikit berisi. “Maaf, Tuan. Saya memang mengajari Denim makan sendiri. Selain supaya dia mandiri, system motoriknya pun ikut terasah. Begitu pun dengan berjalan tanpa alas kaki. Ada bagian syaraf-syaraf di telapak kakinya yang harus tersentuh tanah dan rumput. Supaya system motoric itu terbangun. Saya juga sudah memilah tempat ini dan memastikan rumput di halaman ini aman untuk Denim,” ucap Celine panjang kali lebar dengan nada ketakutan. “Papa pulang,” ucap Denim manja sambil mengulurkan tangannya yang kotor. “Dek Denim, tante bersihkan dulu tangannya ya." Celine kini mengusap lembut tangan lelaki kecil itu dengan tisu basah. Denim yang berada di pangkuan Celine, memegang pipi tembem babysitternya. Ia tersenyum, terlihat bahagia dengan tante baru itu. “Papa sudah pulang, salim dulu! Bagaimana salimnya, Dek?” tanya Celine kepada bocah kecil itu. Denim berjalan perlahan menuju papanya dan mengulurkan tangan. Sontak, sudut mata Aksara mengembun, baru kali ini anaknya meminta jabat tangan padanya. Hal yang sama sekali tak diajarkan olehnya maupun dari simbok Inah yang mengurusnya. “Maaf, Tuan. Saya tidak tahu kalau Tuan pulang jam makan siang. Saya belum masak. Di dapur hanya ada sop ayam sisa makan Denim. Supnya masih utuh, hanya saya ambil sepotong ayam dan sayurnya saja. Apa mau saya ambilkan?” “Saya habis makan.” “Saya ijin masuk sebentar, Tuan. Saya mau buatkan s**u Denim. Sudah jadwalnya minum s**u,” ucap Celine. Gadis itu melangkah masuk ke dalam rumah. Sedangkan Aksara masih duduk di gazebo dengan Denim di pangkuannya. Dilihatnya gadis itu. Untuk wanita seumuran dia, tubuhnya sudah mulai terbentuk dengan sempurna. “Mikir apaan saya?” umpat lelaki itu kepada dirinya sendiri. Untuk pertama kalinya, ia memuji seorang wanita selepas peninggalan istrinya. “Papa, Papa,” ucap Denim dengan riang. Bocah kecil itu tampak berbicara dengan suara cadelnya yang lucu. Aksara menggendong Denim ke dalam, di mana lelaki itu dibuat takjub dengan rumahnya yang bersih. Ia memang sangat selektif dalam pemilihan asisten rumah tangga. Ia sering mengumpat dan mencebik tatkala ada bagian rumah yang kotor atau tidak sreg dengannya. Sikap perfeksionis yang selalu ditampilkan membuat Aksara kesusahan mencari asisten rumah tangga. Paling lama itu pun seminggu atau dua minggu. Terkecuali mbok Inah yang menjabat hingga tahunan. Wanita berumur dengan tubuh yang sedikit gemuk itu adalah asisten Tanisa istrinya, yang terus ikut sampai Tanisa menikah dan melahirkan anaknya. Ia yang paling betah dengan umpatan dan makian dari Aksara, hingga akhirnya hari kemarin turut meminta ijin pulang. Hanya ada Celine yang mengurus rumah dan anaknya. “Maaf, Tuan, anda sudah ada di sini? Ini jam tidurnya Denim. Saya mau ajak dia ke kamarnya,” ucap Celine santun. “Dek Denim, kita mbuk yuk! Tidur siang sama tante yuk!” ucap gadis itu dengan nada anak kecil. Sontak Denim yang hanya berkenalan beberapa jam itu mengulurkan tangan menuruti perintah babysitter barunya. "Apa ingin dibuatkan sesuatu sebelum saya menidurkan Denim, Tuan?" “Tidak, urus saja anak saya dengan baik.” “Baik, Tuan. Saya permisi,” ucap Celine menundukkan kepala hormat dan mengayunkan langkah msuk ke dalam kamar Denim. Ruangan cukup luas dengan dinding bergambar tokoh superhero masuk dalam pandangan gadis kecil itu. Ia merebahkan anak asuhnya dan meraih s**u formula yang ia buatkan tadi. Diberikannya minuman tersembut, sambil ia ikut tidur miring di sebelahnya. Sebagai gadis muda, Celine sangat menjiwai perannya. Ia terlihat sangat keibuan dan sangat mencintai anak asuhnya tersebut. Begitu pun dengan Denim yang sepertinya menyayangi babysitter barunya. “Celine terlihat begitu menyanyangi Denim. Begitu pun anakku yang trlihat bahagia bersamanya. Apa saya harus memecat gadis kecil itu?” batin Aksara sambil menatap anak dan babysitterya. Ia yang tengah berdiri di ambang pintu hanya bisa tersenyum mendapat pemandangan seperti itu. Celine yang mengenakan rok pendek, ujung bajunya tersingkap. Kaki putih tanpa noda kini masuk ke dalam netra Aksara. Darahnya berdesir. Jantungnya berdetak tak pada semestinya. Entah mengapa ia merasakan sengatan listrik yang bertahun-tahun lamanya tak pernah ia rasakan. Bahkan, Aksara sempat berpikir kalau ia sudah tidak normal karena tidak bisa merasakan getaran apapun kepada wanita. Terkecuali dengan gadis kecil yang dilihatnya sekarang. “Tidak, itu tidak mungkin,” ucapnya lirih. Bagaimana bisa Aksara menyukai gadis yang lebih tepat dianggap dia sebagai anak? “Mungkin saya hanya merasa takjub saja melihat ia bisa mengurus Denim dengan baik. Iya, itu hanya sebatas rasa kagum,” ucap Aksara lirih menolak apa yang dirasakan. “Tuan Aksara ada di sana? Maaf,” ucap Celine tergugu. Dengan cepat ia merapikan bajunya, termasuk ujung pakaian yang tersingkap. “Denim baru saja tidur, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?” Celine berdiri, memberi ruang kepada Tuannya untuk bersama Denim. “Saya ingin berbicara sebentar denganmu.” “Baik, Tuan. Mohon maaf, kita di luar saja, takut istirahat Denim terganggu.” “Baiklah.” *** “Buatkan saya teh hangat.” “Baik, Tuan.” “Jangan terlalu banyak gula.” “Baik, Tuan.” Aksara yang duduk di kursi makan terus menatap babysitter anaknya. Dapur terbuka yang terakses langsung dengan ruang makan, membuat apapun yang dilakukan si sebrang sana terlihat begitu jelas. Celine mendidihkan air dan mulai mengisi cangkir dengan kantung teh dan sedikit gula. Air panas dituangkan dan diaduknya dengan sendok kecil. “Kenapa hanya satu?” “Maaf, Tuan. Apa Tuan mengajak teman?” tanya Celine lugu sambil menatap sekitar. “Tambah satu untuk kamu. Saya tidak bisa minum sendiri sedang lawan bicara tidak melakukan hal yang sama.” “Baik, Tuan.” Lagi-lagi tanpa sanggahan, Celine menuruti perintah. Ia kembali ke dapur dan membuat satu cangkir teh kembali. “Kenapa berdiri saja disitu?" tanya Aksara menatap babysitter anaknya yang hanya mematung di sebelah kursi. “Duduklah!” “Saya, Tuan?” “Iya, siapalagi?” “Tapi, Tuan. Ini ....” Lelaki itu menarik lengan Celine dan memintanya duduk di kursi sebelahnya. Untuk sesaat dunia seperti berhenti berputar, ada sesuatu rasa aneh yang dirasakan di antara keduanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN