Bab 3. Getaran yang Beda

1094 Kata
“Eh, maaf,” ucap Aksara melepas pegangan tangannya. Dari sentuhan dua kulit itu menghadirkan sengatan yang menjalar di semua organ tubuhnya. “Gak papa, Tuan. Ada perlu apa Tuan dengan saya?” “Orang tuamu di mana? Kenapa diusiamu yang sedini ini sudah bekerja? Kamu gak melanjutkan sekolah?” tanya Aksara dengan rentetan kalimat bak kereta api. “Maaf, Tuan. Boleh pertanyaannya satu-satu saja? Saya bingung harus menjawab yang mana dulu.” Gadis itu menggeser letak teh hangatnya. Tangannya menumpuk di depan meja seperti siswa yang hendak mendengarkan pelajaran dari gurunya. Ia terlihat begitu sopan. “Orang tuamu di mana?” “Mereka sudah meninggal semenjak saya masih sekolah dasar, Tuan.” “Maaf.” “Gak apa, Tuan.” “Kamu punya saudara? Kakak?” “Saya hanya punya adik, Tuan. Saat ini mereka sedang duduk di bangku sekolah dasar.” “Mereka?” “Iya, Tuan. Adik saya dua. Mereka kembar.” “Selama ini kalian tinggal dengan siapa?” “Kami tinggal di rumah peninggalan ayah dan ibu, Tuan. Kami bertiga." “Untuk makan?” “Saya bekerja. Sebelum di sini saya sudah bekerja menjadi buruh cuci.” Aksara manggut-manggut. Pertanyaan dasar yang mengisi otak kepalanya kini sudah terjawab sudah. Ia mulai mengaduk minumannya dengan kantung teh yang masih menggantung di cangkir. Terdengar dentingan dua benda tersebut ketika mulai beradu. “Tehnya diminum! Keburu dingin.” “Terima kasih,Tuan.” Gadis itu hendak menyeruput minumannya. Namun, untuk sesaat ia berhenti. Pikirannya terus berkelana. “Kenapa? Apa kamu gak suka teh?” “Saya sangat suka, Tuan. Tapi, adik-adik saya di rumah hanya minum air putih. Tidak pernah minum minuman manis.” “Mereka punya penyakit diabetes?” “Bukan, Tuan.Tapi ….” Celine menggigit bibir bawahnya, tampak ragu untuk berucap. “Di rumah jarang ada gula, Tuan. Terkecuali ada tetangga yang selametan orang meninggal.” Gadis itu tertawa kecil . “Apa hubungannya?” “Di desa saya, kalau ada orang yang meninggal, keluarganya akan kirim doa untuk almarhum, dengan membagi sembako ke tetangga sekitar.” Aksara hanya manggut-manggut. Ia merasa salah besar jika harus memecat gadis belia ini. Tumpuan hidupnya sangat berat untuk gadis sekecil ini. “Terima kasih banyak sudah menerima saya bekerja di sini, Tuan. Saya juga minta maaf telah berani duduk di kursi ini semeja dengan, Tuan.” “Bersikaplah biasa saja. Silakan diminum tehnya. Saya berjanji, akan mengirim sembako dan jajan untuk adik-adikmu di kampung.” “Terima kasih banyak, Tuan.” Gadis itu memegang tangan Aksara dan mencium punggung tangannya dengan hormat. Hal yang biasa ia lakukan kepada orang yang lebih tua dari umurnya. Namun, hal itu berbanding terbalik dengan Aksara. Sentuhan yang dihadirkan gadis itu justru membuat hatinya bergetar. Bukan hanya iba, melainkan sebuah rasa baru yang mulai tumbuh. Bukan rasa antara bapak kepada anak. Tetapi, rasa antar lelaki dan wanita. Celine tak menyadari itu. “Maaf, Tuan, kalau saya lancang. E ….” “Apa?” “s**u Denim tinggal sedikit. Takutnya gak cukup sampai nanti malam.” Denim memnag sudah mulai aktif-aktifnya hingga kebutuhan s**u pun turut bertambah. Seingat Aksara, ia baru menyetok s**u formula itu seminggu yang lalu. “Nanti sore bersiaplah! Ikut saya belanja Mingguan. Bahan masakan di rumah juga sudah habis bukan?” “Saya boleh ikut, Tuan?” “Kalau bukan kamu siapa lagi? Mbok Inah? Kan dia sudah resign.” “Baik, Tuan.Terima kasih. Saya permisi.” Celine bangkit dan mengangkat cangkirnya yang baru disruput sedikit. Sedangkan minuman Aksara, sudah tinggal separuhnya. “Mau kemana kamu?” “Saya mau minum di dapur saja, Tuan. Saya tidak enak duduk di sini berlama-lama dengan Tuan.” Lelaki yang biasanya kaku itu tersenyum, “Minumlah di sini! Saya sudah menghabiskan tehnya." Aksara meneguk isi cangkirnya, hingga di dalamnya langsung tandas. Hanya tertinggal kantung teh yang masih menggantung. Kemudian berlalu tanpa permisi. *** “Kuci, kuci, kuci,” ucap Celine ketika menggelitiki Denim. Sontak lelaki kecil itu tertawa terbahak dengan begitu riangnya. “Celine, sudah siap?” tanya Aksara dengan pakaian rapi. Celana panjang dan kemeja warna biru muda berlengan pendek. “Sudah, Tuan.” Gadis itu mengambil botol dot anak asuhnya dan berjalan menggendong Denim. Berjalan mendekat ke arah kendaraan roda empat Aksara. Di depan pintu mobil, ia sedikit kesusahan untuk mebuka. Tubuh Denim yang gemoy dan terus bergerak aktif mengurangi ruang geraknya. “Terima kasih, Tuan,” ucap Celine ketika pintu berwarna putih itu dibuka oleh Aksara. Ia sungkan, yang ada dialah yang selalu merepotkan majikannya. “Sabuk pengamannya dipakai!” ucap Aksara ketika mulai menyalakan mesinnya. Celine melihat ke jok mobil. Ini kali pertama ia masuk ke kendaraan roda empat. Bahkan, ia tak tahu bagaimana caranya mengenakan sabuk pengaman tersebut. Ia hanya menarik benda itu dan didekatkan ke tubuhnya. “Bukan seperti itu caranya.” Aksara mendekat. Wajah dewasa dengan cambang halus itu tepat persis di muka gadis belia tersebut. Mendadak ada rasa yang aneh yang menyeruak di hati kecilnya. Lalu didetik berikutnya, Celine menundukkan pandangan. Takut jika Tuannya menyadari kalau ia telah mencuri pandangan. “Maaf, Tuan. Saya justru merepotkan Tuan.” “Diingat-ingat caranya. Biar besok bisa memakainya sendiri.” “Baik, Tuan.” “Pok ame-ame, belalang kupu-kupu.” Celine terus mengajak Denim berbicara dan bernyanyi. Di mana jagoan kecilnya itu turut mengikuti suara babysitternya. Denim terus tertawa kegirangan. Apalagi ketika lagu yang mereka nyanyikan usai, Celine akan mencium pipi Denim yang diikuti tawa terbahak dari anak lelakinya. “s**u, s**u,” ucap Denim yang mulai kehausan. Saat tangan Celine meraih s**u di dashbord mobil. Tanpa sadar ia menyentuh tangan Tuannya. Tangan kekar dengan sedikit bulu itu lebih sigap untuk mengambil botol s**u anaknya. “Eh, maaf,” ucap Celine yang langsung menarik lengannya. Kini, degupan jantung Celine berdetak lebih cepat dari biasanya. *** Ini kali pertama Celine menampakkan kaki di lantai mall. Ia dibuat takjub dengan bangunan besar dan isinya. Manik matanya di manjakan oleh semua barang belanjaan yang kumplit. Dari sayur, buah, ikan dan perdagingan. Celine menggendong Denim, yang sesekali lelaki kecil itu berjalan digandengnya dan terkadang ikut masuk di kereta dorong. Sedangkan Aksara terus mendorong keranjang belanjaan sambil mengambil berbagai macam bahan yang disebutkan oleh Celine. “Ini apa sayur bayamnya,” ucap gadis berambut panjang itu sambil mengambil sayur yang dimaksud. Sedangkan Denim kini tengah duduk di keranjang belanja yang tengah didorong Aksara. Celine memutar sayur yang dipegang, mencari bandrol harga yang tertera, hingga di detik kemudian manik mata hitamnya membulat secara sempurna. “Kenapa gak dimasukkan ke sini?” tanya Aksara menyadarkannya. Celine meneguk salivanya sendiri, “Ini harganya gak salah, Tuan? Seikat ini dua belas ribu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN