Aksara mengambil sayur dari tangannya Celine, memperhatikan nominalnya dan memasukkan bayam tersebut ke keranjang belanja. “Harganya memang segitu.”
“Tapi, Tuan, itu mahal sekali. Di belakang rumah saya banyak sayur bayam yang terkadang sampai berbunga gak ada yang metik. Beli dipasar pun relative murah, seikat besar hanya seribu lima ratus rupiah.”
“Tapi di sini bukan desamu, Celine. Harga segitu wajar.”
Mereka kembali berjalan, di mana Aksara mulai memilih daging segar. Lagi-lagi gadis tersebut dibuat terkejut dengan harga yang fantastis. “Segini dua ratus ribu, Tuan?” tanya Celine sambil memegang bongkahan daging kecil yang dialasi sterefoam. Kertas label menempel di plastic tersebut, Daging sapi segar dan nominal 200.000.
“Kamu itu pernah belanja apa tidak?”
Celine menggeleng, “Saya tidak pernah beli daging, Tuan. Saya gak paham harga daging. Teryata semahal itu.”
“Belum pernah makan daging sapi?”
“Sudah Tuan, sewaktu Idul Adha banyak tetangga yang bagiin daging Qurban gratis.”
“Syukurlah, setidaknya kamu bisa mengolah daging ini.”
Satu persatu bahan makanan sudah masuk keranjang, berikut dengan s**u dan diapers untuk Denim. Sengaja Aksara memberikan banyak kebutuhan anaknya supaya tak kekurangan lagi.
“Ada yang mau dibeli lagi?”
“Sepertinya sudah semua, Tuan.”
Mereka kembali mengayunkan langkah, mendekati meja kasir berada. Satu persatu bahan tersebut diambil petugas hingga wanita berseragam tersebut menyebutkan nominal keseluruhan. Hampir tiga juta. Celine terkaget. Reflek tangannya menutup mulutnya yang menganga. Bagi Celine, uang segitu bisa dia habiskan untuk berbulan-bulan lamanya. Celine jarang berbelanja. Ia lebih sering mengambil sayur belakang rumah untuk di masak. Lauknya pun seadanya. Yang terkadang tempe, tahu atau ikan asin yang bisa dimasak untuk berkali-kali makan.
***
“Kalian masuk dulu, saya ada perlu sebentar,” ucap Aksara ketika Celine dan anaknya sudah duduk di mobil. Lelaki matang itu mengingat sesuatu yang belum dibelinya.
“Baik, Tuan.”
Celine tak berani menanyakan kepentingan majikannya. Meskipun sejujurnya, ia takut berada di mobil hanya berdua dengan Denim. Sifat katroknya itu, membuat ia takut kalau mendadak kendaraan roda empat itu berjalan sendiri tanpa ada yang memegang kemudi. Aplagi majikannya membiarkan mesin mobil dalam keadaan menyala. Belum lagi kalau ada orang yang berbuat kejahatan. Bukankah di kota rawan kriminal?
Cukup lama ia berdiam diri, dengan Denim yang terus dipangkuannya. Bibirnya tersenyum dengan anak asuhnya. Tapi, pikirannya terus berkelana. Sesekali ia menengok ke kanan kiri, mencari majikannya yang tak kunjung tiba.
“Dek Denim, jangan pegang ini! Kalau mobilnya jalan bagaimana?” tanya Celine dengan keringat sebiji jagung di dahinya. Padahal sesaat yang lalu, ia merasa AC nya kebesaran dan membuatnya kedinginan.
Pintu terbuka dan ia benar-benar dibuat terkejut. Jeritan dari bibir kecilnya, membuat Aksara panik.
“Ada apa, Celine?”
“Maaf, Tuan, saya kira maling. Saya takut di sini sendirian.”
“Saya maling?”
“Maaf, Tuan. Maksud saya bukan itu. Saya ….”
“Sudahlah. Ini ponsel untukmu,” ucap Aksara memberikan benda yang tadi diibelinya. Ya, Aksara memberikan sebuah android untuk babysitternya tersebut. Dengan benda itu, dia bisa mengontrol keadaan Denim ketika dia sedang bekerja.
“Po-ponsel, Tuan?” tanya Celine tergagap.
“Iya, ambillah!” perintah Aksara dengan tangan yang terus menggantung. Gadis itu belum berani untuk menerimanya.
“Kenapa? Kamu gak suka? Mau ditukar sama yang lain?”
“Bukan begitu, Tuan. Tapi, berapa potongan gaji saya untuk membayar ponsel tersebut?” Gadis itu menggigit bibir bawahnya. Ia resah. Ia ketakutan akan angsuran yang akan melilitnya nanti.
“Ini gratis.”
Celine kesusahan meneguk salivanya sendiri, mendadak kerongkonan terasa mengering, “Gratis.”
“Iya, dengan begitu saya tak akan kesusahan saat video call nantinya.”
“Video call?”
“Maksud saya video call dengan denim saat saya tinggal bekerja.”
“Tapi saya tidak enak, Tuan. Saya baru sehari bekerja. Saya belum berbuat banyak untuk Tuan dan Dek Denim. Tapi, saya justru selalu merepotkan. Saya tidur di kamar besar yang mewah. Saya ikut minum teh. Saya ikut makan di rumah tuan, dan kini …. Tidak-tidak, saya tidak bisa menerima ponsel itu,” ucap Celine melambaikan tangan.
“Ambillah! Atau mau saya pecat,” ucap Aksara yang memegang tangan kanan Celine. Diletakkannya ponsel tersebut ke tangan gadis itu.
“Tapi, Tuan ....”
Tangan Celine yang gemetar membuat Aksara terkekeh. Baru kali ini, ia mendapati gadis lugu seperti Celine. Gadis yang diam-diam mencuri hatinya.
“Maaf saya hanya bercanda.”
Celine menghela nafas panjang sambil memegang dadanya yang bergemuruh, “Syukurlah, Tuan. Saya kira, saya beneran dipecat.”
Aksara tersenyum kecil. Ia seperti kembali menemukan kehidupannya yang berwarna. Hari-hari yang dilalui dengan suram itu mendadak seperti mendapatkan secercah sinar. Senyum semu yang biasa ia tampakkan kini menjelma menjadi senyum nyata kebahagiaan.
“Tidak, tidak, saya hanya simpati saja dengan gadis itu, ini bukan perasaan seorang lelaki dewasa kepada wanita,” batin Aksara yang terus menutupi perasaannya. Ia masih belum bisa menerima kalau hatinya tertambat dengan wanita yang lebih macam dipanggil gadis bau kencur.
“Tuan, maaf, kenapa tidak segera jalan?” tanya Celine yang menyadarkan lamunan Aksara.
“Iya, ini juga mau jalan.”
Roda kendaraan mulai berputar perlahan. Celine kembali bermain dengan Denim. Diberikannya snack anak kepada bocah kecil tersebut, di mana Denim terus menggigit dan mengunyahnya. Aksara menoleh, ia tersenyum melihat kedua orang di sebelahnya tertawa bahagia.
“Maaf, Tuan, apa ada yang mau dibeli lagi?” tanya Celine ketika kendaraannya kembali menepi. Sebuah bangunan mewah yang tampak tertutup.
“Iya.”
Celine terdiam. Ia tak berani lagi menanyakan apa pun, meskipun pikirannya kembali berkelana dengan rentetan pertanyaan. “Sudah malam kenapa gak langsung pulang? Tuan Aksara mau beli apalagi si, bukannya sudah belanja banyak hingga jutaan? Apa semua orang kaya itu memang boros, suka membelanjakan sesuatu sesuka hatinya?” batin Celine.
“Ayo turun! Kenapa malah bengong.” Celine terkejut ketika pintu di sebelahnya sudah terbuka. Lelaki gagah dengan cambang halus itu menatap ke arahnya dengan tajam.
“Maaf, Tuan.”
“Berikan Denim kepada saya! Kamu pasti capek bukan?”
“Tapi, Tuan.”
“Ini perintah, Celine!”
“Baik, Tuan.”
Celine memberikan Denim kepada papanya. Lalu, ia mulai beranjak turun dari kendaraan Aksara. Celine tak pernah bermimpi bisa duduk di kendaraan roda empat seperti itu. Aplaagi mobil mewah dengan interior yang wah. Sayang, ia tak terlalu betah dengan suhu AC yang dirasanya begitu dingin.
Aksara yang menggendong Denim masuk terlebih dulu, lalu diikuti Celine yang berada di belakangnya. Lagi-lagi gadis itu dibuat kagum dengan tempat baru yang disinggahi. Netranya ingin berkelana menjelajahi setiap inci tempat ini. Tapi, mengingat statusnya yang seorang bawahan, ia takut kalau Aksara marah karena Celine berbuat memalukan.
“Duduklah!”
“Apa, Tuan? Duduk?” tanya Celine kaget ketika lelaki dewasa di depannya mulai mendudukkan Denim di kursi makan anak.
“Iya, kamu mau makan sambil berdiri?”
Celine meneguk salivanya yang mendadak mengering. Padahal baru saja beberapa menit lalu, ia minum air mineral ketika berada di mobil. “Kita satu meja, Tuan?”