"Iya. Mau makan di mana lagi kamu?” tanya Aksara dengan nada meninggi. Celine cukup menguras stok sabarnya. Tapi di sisi lain, ia juga terhibur dengan sifat polos dan penakut gadis itu.
Celine menurut. Ia duduk dengan terus menundukkan pandangan. Gadis itu begitu takut berhadapan dengan lelaki yang dipanggilnya Tuan. Baginya, duduk bersama dalam satu meja adalah tindakan yang tak sopan. Gadis itu menyadari kasta mereka yang jauh berbeda. Ia tak pantas untuk duduk bersama.
Celine memilin bajunya ketakutan, di mana waktu seperti berhenti dan enggan untuk beranjak.
“Kenapa? Apa kamu tak nyaman bersama saya?” tanya Aksara ketika menyadari gelagat babysitter kesayangannya.
“Tidak, Tuan. Saya hanya merasa tidak pantas duduk di sini.”
“Kenapa?”
Celine menatap ke arah pengunjung lain, lalu kembali menundukkan pandangannya, “Semua pengunjung di sini orang kaya semua.”
“Bagaimana kamu tahu kalau mereka orang kaya?”
“Pakaian mereka bagus-bagus, Tuan.”
Lelaki bercambang tipis itu tersenyum, “Besok saya belikan baju. Jadi tak perlu minder lagi.”
“Tidak usah, Tuan. Saya -.”
“Apa? Mau nolak? Mau saya pecat?”
“Jangan, Tuan. Saya mohon jangan pecat saya.”
Mendapati jawaban tersebut, Aksara justru terkekeh. Raut wajah Celine yang ketakutan seperti sebuah hiburan tersendiri untuknya. “Makanya jangan sering nolak kalau diberi sesuatu.”
“Saya sungkan, Tuan.”
“Kenapa harus sungkan?”
Belum juga gadis itu menjawab, seorang pramusaji datang membawa makanan yang dipesan oleh Aksara. Tumis tauge, daging asap, gurami saus mangga, dan sup ayam. Celine dibuat Teheran dengan banyaknya makananan yang mengisi mejanya.
“Maaf, Tuan, makanan sebanyak ini untuk siapa?”
“Ya untuk kita. Siapa lagi?”
Celine terdiam. Ia tak brani menyaut, meskipun sejujurnya ia ingin protes dengan majikannya.
“Kenapa harus mengahmburkan uang dengan memubadzirkan makanan? Sedangkan di luaran sana banyak orang yang tak bisa makan.”
“Kenapa kamu menangis?” tanya Aksara kebingungan.
Secepat kilas Celine menghapus sudut matanya. Ia tak sadar menjatuhkan air mata itu di depan majikannya.
“Maaf, Tuan, Saya hanya ingat adik-adik saya. Mereka belum pernah makan ikan sebesar ini. Biasanya hanya makan ikan betok kalau ada tetangga yang pulang memancing.”
“Makanlah! Kalau kita pulang kampung, kita bawakan makanan yang enak untuk adik-adikmu.”
“Kita, Tuan?” tanya Celine menunjuk tubuhnya dan tubuh Aksara bergantian.
Lelaki itu tergagap. Dari dasar hatinya, ia memang ingin menemani Celine pulang kampung nantinya. Ia ingin mempersunting gadis yang belum lama dikenalnya itu. "Tidak, tidak, tidak, bukankah hatiku hanya satu? Dan semua telah diisi oleh istriku?” batin Aksara yang tak mau mengakui. Ia tak bisa terima jika hatinya kembali terisi oleh wanita lain.
“Saya hanya salah bicara. Maksud saya kalau kamu pulang,” ucap Aksara yang mulai tak jujur dengan hatinya. Hati dan pikiran tak sinkron. Ia tak mengakui rasa yang mulai tumbuh di hatinya.
“Mungkin saya hanya merasa kalau Celine seperti istri saya. Dia yang baik, santun dan terlihat sangat sayang anak kecil. Tidak, tidak, tidak, tak mungkin Celine dan Istri saya sama. Mereka dua orang yang berbeda dan saya sangat mencintai istri saya,” batin Aksara yang mulai kacau.
“Dek Denim, kita makan sama-sama yuk!”
“Maemm, maem,” ucap lelaki kecil yang tengah memegang sendok di tangannya.
“Berdoa dulu ya, Dek! Gimana, Dek, caranya? Angkat tangannya, lalu baca doa,” ucap Celine sambil melakukan hal yang sama. Gadis kecil itu mengadahkan tangan yang diikuti dengan tangan-tangan kecil Denim yang terangkat. Lalu perlahan, Celine baca doa perkata, yang diikuti oleh bibir Denim. Meskipun hanya huruf vocal belakangnya saja. Tapi setidaknya, lelaki kecil itu sudah antusias dan menurut.
Aksara tersenyum kecil. Meskipun ada bagian dalam hatinya yang merasa tersindir. Selama ini, ia memang tak pernah berdoa sebelum makan.
Aksara mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Sedangkan Celine terlihat sibuk dengan suapa-suapan kecil di bibir anaknya. Hingga di menit berikutnya, Aksara mengambil piring yang dipegang babysitternya itu.
“Makanlah! Biar Denim saya yang suapi.”
“Tapi, Tuan. Ini tugas saya. Apa ini artinya saya hendak dipecat?” tanya Celine dengan nada ketakutan. Gadis itu terlalu menggantungkan hidup dengan pekerjaannya sekarang. Mbok Inah pernah bercerita kepadanya, kalau perbulan bekerja di rumah Tuan Aksara bisa digaji sampai jutaan. Hal yang sangat menggiurkan untuk dirinya. Sangat-sangat cukup untuk biaya hidup adik-adiknya di kampung dan juga biaya sekolah. Apalagi, di rumah tuannya itu, ia diberikan fasilitisas mewah dengan makan dan minum gratis.
“Saya pecat kalau kamu menolak. Segera makan!”
Ekspresi ketakutan dari Celine lagi-lagi mampu membuat sudut bibir Aksara tertarik. Ia mulai memperhatikan paras cantik babysitter kesayangannya. Wajahnya yang bulat dengan mata indah dan bibir yang tipis. Kulitnya tampak sehat dan cerah meskipun tak terpoles make up apapun.
Sedetik kemudian Aksara menggeleng. Ia tak ingin berlarut menikmati wajah wanita lain. Cukup almarhum istrinya yang akan terus ada di hatinya.
“Kenapa? Apa mau saya suapi?” tanya Aksara yang mulai nakal. Ia menatap gadis di depannya yang hanya tertunduk tak segera makan. Bagaimana pun ia tetap lah laki-laki normal yang pikiran dan hatinya bisa tergerak ketika melihat lawan jenis.
“Tidak, Tuan. Saya bisa makan sendiri. Mohon maaf saya banyak merepotkan,” ucap Celine dengan tertunduk. Ia sama sekali tak berani menatap lelaki yang berada di depannya.
Satu sendok, dua sendok, Denim terus menerima suapan dari ayahnya. Sedangkan Aksara yang kini mulai tak fokus terkaget ketika Celine kembali bersuara.
“Tuan, apa ada yang salah dengan saya?” tanya Celine ketika ia menyadari Tuannya telah menatap ke arahnya dengan senyuman.
“A-apa?”
“Apa makan saya berantakan, Tuan?” tanya Celine sambil memegang sekitar bibirnya. Takut makannya belepotan dan membuat Tuan di depannya risih.
“Oh, iya, ini, kamu makannya kayak anak kecil. Kayak Denim saja,” ucap Aksara yang mengambil tisu dan membersihkan area sekitar bibir.
Detik jam seakan berhenti di mana kedua pasang mata itu saling berpandangan. Mereka mulai menyalam ke mata masing-masing dengan perasaan yang semakin berantakan. Jantung Celine berdetak tak pada semestinya. Aliran darahnya berdesir hebat. Apalagi ketika Aksara menarik sudut bibirnya, masih dalam satu pandangan yang sama.
“Maaf, Tuan, saya bisa bersihin sendiri. Terima kasih,” ucap Celine yang mengambil tisu dari tangan Tuannya. Ia membuang nafas panjang untuk mengatur ritme nafasnya yang berantakan.
Aksara tersenyum, membuat gadis itu semakin salah tingkah. Dipercepatnya menghabiskan makanan agar tak berada posisi seperti ini dalam kurun yang lama.
“Uhuk.” Kali ini jutsru ia tersedak. Tenggorokannya yang kecil tak mampu langsung menerima suapannya yang terlalu banyak.
Gadis itu terbatuk-bauk di mana Tuannya dengan sigap memberikan air putih kepadanya. Bukan hanya memberikan, melainkan membantunya untuk minum dengan tangan kekarnya.
Tanpa sadar, punggung tangan mereka tertumpuk memegang satu gelas yang sama.
“Kamu kenapa? Saya perhatikan, kamu kurang focus.”
“Maaf, Tuan. Jangan pecat saya! Saya hanya ….” Celine menggantungkan kalimatnya. Ia tak mungkin bilang kepada Tuannya kalau ia grogi dengan sikap majikanya yang berlebihan itu.
“Hanya apa?”
“Saya hanya belum pernah makan enak. Jadi terburu-buru,” ucap Celine berdusta.
Lelaki itu mulai duduk di tempat yang semula dengan senyum yang mengembang. Ia baru menyadari kalau akhir-akhir ini bukan amarah yang di terus disuguhkan. Tapi, senyuman.
“Terima kasih banyak, Tuan. Saya terus merepotkan.”
“Buang jauh perasaan itu.”
Dalam perjalanan, Denim mulai tertidur. Sedangkan Celine yang juga kelelahan itu, memaksakan matanya untuk terus membuka. Ia tak ingin terlelap sedangkan Tuannya terus terjaga dengan mengendarai kendaraan. Rasanya kurang sopan. Sesekali ia menguap dan mengucek matanya yang mulai memberat.
“Kamu ngantuk, Celine?”
“Tidak, Tuan,” ucap gadis itu yang kembali berdusta. Ia takut jika kinerjanya di rumah itu dianggap buruk oleh Tuannya.
Waktu terasa begitu lama untuk Celine. Matanya semakin memberat dan susah untuk terbuka, hingga tak sadar kendaraan yang ia tumpangi sudah berhenti di depan pintu rumah. Aksara telah membuka pintu di sebelahnya dan kini mulai mengambil Denim yang tertidur.
“Maaf, Tuan, saya ketiduran.”
Belum juga Aksara menjawab. Kalimat dari Baskoro membuat gadis yang tersadar dari mimpinya itu terkaget.
“Babysitter untuk Tuan Denim sudah ada, Pak. Besok pagi akan saya jemput.”
“Apa, Tuan? Saya mau dipecat?” tanya Celine ketakutan. Ia tak menyangka, karena kantuknya itu membuat ia kehilangan pekerjaan.