“Saya bantu.” “Tidak usah, Mas,” ucap Celine sedikit menjauh. Ia masih terbayang dengan adegan itu, yang membuat wajahnya memerah tersipu. “Kenapa sih, Sayang? Kamu anggap saya ini apa? selalu saja menghindar kalau didekati.” “Maaf, Mas.” Celine menundukkan pandangan. Handuk dari tangannya kini diambil alih oleh Aksara. Lelaki itu mulai meremas rambut panjang Celine, dan mengusap rambut basahnya. “Rambutmu bagus, panjang dan hitam.” “Sebenarnya ingin saya potong, Mas. Dari dulu saya suka rambut pendek.” “Kenapa?” “Biar nggak perlu nguncirnya.” Gadis itu meringis. “Ya sudah nanti saya antar ke salon.” “Di antar, Mas? Salon di Bali?” “Iya. Kenapa?” “Ini kan tempat wisata. Sudah pasti harganya lumayan. Nggak ah. Saya potongnya kalau pas pulang kampung saja. Lumayan cuman 8 ribu, k

