Angga dan Rio

2997 Kata
    Sore ini, usai mandi Emma bersiap menanti jemputan Rio di kosnya, sebenarnya dia tidak minat betul untuk pergi ke acara Rio dan kawan-kawan nya, Namun di sana ada Angga juga, dan dia ingin tahu kegiatan apa yang mereka lakukan sebenarnya.       Minggu sore yang cerah, tak berawan dan angin tidak terlalu kencang, Emma cukup memakai hoodie cotton candy kesukaannya dengan slingbag berisi ponsel dan dompet, lalu duduk manis pada kursi kayu yang berada di depan kamarnya.        "Mentang-mentang besok shift malam, Seah belum pulang juga." ucap Emma ketika melihat kamar Seah masih terkunci.         Beberapa saat kemudian Rio datang, dia melambaikan tangan pada Emma. Emma meraih slingbag yang dia letakkan disebelahnya kemudian keluar dari kos lalu mengunci gerbang nya.        "Mau kemana Emm?" tanya Fadhil yang kebetulan berada di teras, kos Fadhil berhadapan dengan kos Emma.        "Mau keluar bentar mas..." jawab Emma singkat karena dia juga tidak bisa memastikan akan kemana mereka pergi.         "Oh ya udah... hati-hati." pesan Fadhil.        "Okkee..." jawab Emma seraya naik keatas motor Rio.        "Mas Angga jadi ikut?" tanya Emma, saat motor Rio mulai meninggalkan kos nya.        "Jadi... dia udah berangkat kok, kenapa?" tanya Rio.        "Nggak papa..."jawab Emma.          Mereka menuju sebuah jalan yang diketahui Emma itu adalah jalanan menuju area Vila dan kamar-kamar yang disewakan.         "Bentar-bentar... kita mau kemana sih Yo?" tanya Emma.        "Udah jangan nething dulu... ya kali aku tega ngelahap kamu disini." ujar Rio.        "Diih... tapi kalau acaranya nggak jelas aku mau kamu antar aku pulang." sahut Emma.        "Siaapp bossque..." ucap Rio.         Sampai di tempat tujuan yang ternyata adalah sebuah villa mewah ala-ala bangunan lama jaman Belanda dulu, Rio memarkir motornya.        Dia ajak Emma masuk, di dalam sana sudah ada banyak cowok termasuk Angga, juga ada beberapa cewek yang dia kenal, ada Ismi salah satu transfer juga dari A3, Ines admin preparation yang juga satu kos sama dia, dan juga Wanda salah seorang penjahit dari line 3.          Sementara dua orang lagi dia tidak mengenalnya. Rio meminta space pada mereka semua untuk dirinya juga Emma yang baru datang.         Saat Rio dan kawan-kawan nya mulai mengeluarkan berbagai jenis minuman beralkohol Emma terpaku di tempatnya. Dia nggak nyangka Rio bakalan ngajak dia ke acara seperti ini.         Padahal masih terlalu sore buat mabuk-mabukan, namun karena uang patungan yang mencapai jutaan rupiah mereka bisa membeli dan menenggak alkohol sepuasnya. Maklum anak factory kalau habis gajian berasa anak sultan.        Angga mendekat kearah Emma, dia menarik tangan Emma untuk berpindah ke sisi lain yang jauh dari Rio, lalu menggantikan posisi Emma di samping Rio. Angga paham betul kondisi Rio saat mabuk bakalan hilang kendali.          Rio masih berusia 3 tahun di bawah Angga, yang sebaya dengan Emma, tentu saja masih masih banyak menuruti gelora jiwa mudanya tanpa kontrol, sedangkan Angga sudah cukup dewasa.         Langit mulai pekat dan malam pun datang, lampu-lampu dari deretan villa mulai menyala, menampilkan kerlap kerlip dari kejauhan. Karena kawasan ini masuk kedalam dataran tinggi jadi bangun tersebar tidak merata, yang justru menyajikan panorama malam yang indah.         "Emm... nih buat kamu..." Rio yang sudah kelewat mabuk menyerahkan segelas minuman pada Emma.         "Kamu lihat, Ismi juga berhijab kaya kamu, tapi dia mau minum juga tuh." tunjuk Rio.         Emma melihat kearah Ismi, memang benar, nggak cuma Ismi namun juga Ines, Wanda serta dua gadis lain turut bergantian memutar gelas.          Angga merebut gelas Rio kemudian meminumnya untuk menggantikan Emma.         "Nih Emm... lagi, kamu nggak bakalan nyesel ikutan ginian, aku bakalan ajarin kamu sampai pinter." ucap Rio menyerahkan segelas lagi.          Angga menerima lagi dan menghabiskannya.         "Ahh rese lu Ga..." sahut Rio kesal.          "Aku pingin bikin dia mabok... lalu bisa tidur sama dia." ucap Rio kemudian.         "Emma sini kamu... awas ya, nggak aku molding pump kamu." Kata Rio sambil berusaha menggapai Emma.         "Mas..." ucap Emma berlindung di balik badan Angga.        "Udahlah Yo... jangan ngaco!" kata Angga sambil menurunkan tangan Rio yang berusaha menjangkau Emma.          "Gilaaa kamu Ga... ngapain siihhh... ganggu aja." bentak Rio.           "Emma... sini sayang, aku sering haluin kamu buka jilbab dan nunjukin leher kamu ke aku, dannn..." lanjut Rio terpotong.          Angga berbalik, kemudian segera menarik tangan Emma lalu mengajaknya masuk ke sebuah kamar yang ada di belakang ruangan ini.          "Kunci pintunya dari dalam, jangan pernah keluar!" pesan Angga, ia menyerahkan kunci yang tadi Angga cabut dari lubang kunci sewaktu mereka masuk.          Emma mengangguk.          "Mas kamu jangan banyak minum ya, jujur aku nggak pernah berada di situasi seperti ini, dan aku takut. Lagian juga kamu habis pengobatan." kata Emma.          "Iya aku tau kok, aku bakalan jagain pintu dari luar, sekiranya aku ketiduran jangan pernah buka pintu buat siapapun." lanjut Angga.          "Iya mas makasih.." ucap Emma.          Angga keluar kamar, lalu dengan cepat Emma mengunci pintu dari dalam.          "Kalau pingin apa-apa, chat aku aja." Angga mengirimkan pesan pada Emma.          Emma yang merasakan getar dari ponselnya lantas membuka pesan dari Angga.         "Iya... btw Mas kita nggak pulang?"        "Enggak Em... kita nginep di sini."         "Nginep??" Emma baru paham maksud Seah soal Angga suka nginep sama cewek, ternyata bukan berarti nginep itu tidur bareng, soalnya Angga nggak bawa cewek kemari.         "Itulah kenapa, aku nggak mau ngajak kamu kesini." balas Angga.         "Terus Ismi, mbak Ines, Wanda mereka tidurnya?"        "Ya sama cowok nya lah..." jawab Angga.         Emma sudah mengira sebelumnya mengenai Ines, dia sering ketahuan menyembunyikan bekas kissmark dan juga membeli obat pelancar haid. Ternyata sejauh itu dia di luaran.          "Hmmm ternyata yang dibilang Seah, Alya sama Dila itu bener. Wah, nggak nyangka aku bakalan ketemu dia di tempat ini." ucap Seah menarik nafasnya dalam-dalam.           Emma meletakkan ponselnya tanpa membalas pesan Angga lagi. Dia mencoba memejamkan mata, namun sekuat apapun dia berusaha, dia sama sekali tidak bisa tidur.            Sampai tengah malam, Emma merasakan tenggorokannya kering, dia berniat mengambil minum sebentar, dari dispenser yang berada di samping tv di ruang tengah tadi.           "Chat mas Angga gak ya, nanti dia marah-marah kalau aku keluar dari kamar, tapi... kalau dia udah tidur, ya masa tega bangunin orang tidur cuma buat minta anter ambil minum." batin Emma, yang akhirnya dia memutuskan untuk mengambil minum sendiri.           Setelah membuka kunci pintu kamar tanpa menimbulkan suara, Emma berjalan pelan-pelan menuju dispenser kemudian mengambil segelas air.            Dia segera berbalik untuk kembali ke kamar. Namun tiba-tiba Rio menyergapnya dari belakang, membalikkan badan Emma lalu meninggalkan jejak bibirnya dengan paksa pada bibir Emma.           Emma yang terkejut, memberontak sekuat tenaga, dia bahkan menyiram Rio dengan air yang dia bawa. Namun hal itu justru membuat Rio kalap, dia menarik jilbab Emma sampai terlepas kemudian melemparnya ke lantai. Emma yang tenaganya jauh lebih lemah dibanding Rio berusaha berkelit dari cengkeraman Rio, sampai-sampai gelas yang dia bawa terjatuh dan pecahannya berserakan di lantai.            Angga yang baru saja tertidur di sofa, langsung terbangun dan mencari sumber suara. Dia begitu emosi kala melihat Rio bertindak kurang ajar pada Emma, dia berdiri lalu mendatangi Rio dan menarik kerah baju nya kemudian memukulnya berkali-kali.            Rio jatuh tersungkur dengan wajah lebam dan sudut bibir berdarah. Sementara Emma masih syok dengan kejadian yang baru saja dia alami. Tangan dan kakinya gemetaran, hingga ia tidak bisa berdiri dengan kuat.             Angga segera mengambil jilbab Emma lalu menutupkannya pada rambut Emma yang berantakan. Dia membimbing Emma kembali ke kamar.             Sebelumnya dengan kekesalan yang menumpuk dan emosi yang meledak-ledak Emma menendang kaki Rio dengan menitikkan airmata kekecewaan.            "Maaf aku tadi ketiduran..." ucap Angga, begitu mereka tiba di dalam kamar.           Emma yang masih berusaha mengendalikan emosinya hanya diam saja sambil mengusap airmata nya.            Angga tidak tau apa yang sebenarnya terjadi, namun dari kemarahan Emma yang tidak pernah dia lihat sebelumnya Rio pasti sudah keterlaluan.             "Tidurlah... masih malam, ok aku jagain kamu disini." ucap Angga.           Dia mengunci pintu kamar dari dalam kemudian duduk di sebuah kursi dekat kamar mandi.           Melihat Emma masih meradang, dia mendekat lalu menarik selimut dan menyelimuti Emma dan menyuruhnya tidur.           "Dia dipengaruhi alkohol, otaknya kacau, dan hilang kontrol atas kesadarannya, aku tau dia salah dan aku tidak membenarkan apa yang dia lakukan terhadapmu Emma... tapi aku mohon, lupakan dan istirahatlah, maka emosimu akan mereda." kata Angga dengan segala rasa bersalahnya.          "Dan maaf... aku ketiduran, jadi nggak bisa jagain kamu." ucap Angga sesaat sebelum Emma menutupi dirinya dengan selimut.          Emma menarik nafas panjang-panjang lalu membuang nya, berusaha meredakan amarahnya dengan membaca dua ayat terakhir surat Al Baqarah yang selama ini selalu menjadi self healing baginya. Dia terus mengulang-ulang nya sampai terlelap dan bisa tidur pada akhirnya.          Bagaimana tidak kecewa, salah satu orang yang mendapat tempat di hatinya, yang dengan jujur dia katakan pada Angga telah menjadi prioritasnya, telah melecehkan dirinya sedemikan rupa.         Saat Fajar menjelang, Emma sudah bangun, dia meraih ponselnya untuk melihat jam digital. Jam 5 pagi, masih terlalu dingin untuk mandi.         Matanya tertuju pada sebuah chat yang baru saja masuk, ternyata dari GL nya.         "Di informasikan kepada seluruh karyawan PT MFS, bahwa mulai hari ini, aktifitas kerja di hentikan untuk sementara atau Off sampai pemberitahuan berikutnya, karena proses penyelidikan pihak kepolisian terkait kebakaran yang terjadi tempo hari, dan juga proses perbaikan gedung B pasca kebakaran."          "Ya udah kalau gitu mending pulang aja." ucap Emma. Matanya mencari sosok Angga yang semalam tertidur dikursi dekat kamar mandi, namun sekarang sudah tidak ada disana.          Dia agak terkejut saat mendapati Angga yang ternyata tidur meringkuk di sebelahnya tanpa selimut dan memunggungi nya.           Lantas melepas selimutnya lalu menyelimuti Angga yang masih terlelap dalam tidurnya. Setelah itu, dia mandi dan kembali duduk di tempat nya semula.          Jam setengah delapan pagi, ketika Angga terbangun, dia melihat Emma sudah cantik dan masih setia menunggunya.           Angga mandi lalu merapikan rambutnya juga memakai hoodienya kembali. Di luar sudah terdengar berisik suara teman-teman nya.           "Ayo keluar." Ajak Angga.         "Aku males ketemu Rio." ucap Emma.        "Udah.. jangan pikirin dia, cuekin aja." sahut Angga.        "Aku kesel banget sama dia." tambah Emma.         Angga menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya.         "Emma..." panggilnya kemudian.         Emma menoleh kearah Angga yang duduk di sampingnya.         "Aku sayang kamu..." ucap Angga kemudian.           Emma menatap Angga lekat-lekat. Dia sama sekali tidak melihat ada kebohongan dari mata Angga, saat mengucapkan kalimat tadi.           "Tempatin aku... di tempat Rio, gantiin aku di posisinya dalam hati kamu, aku mohon... memang mungkin saat ini aku tidak pantas berada di sana, tapi aku akan berusaha lebih keras lagi." lanjut Angga.               Cukup lama sekali Emma terdiam, bukannya dia tidak mau, melainkan dia masih belum sepenuhnya siap menjalani relationship baru dalam hidupnya, semasa kuliah dia pernah punya pacar, di depannya begitu baik, tetapi di belakang, dia sama sekali tidak mengenal kata setia. Suka login sana sini dan akhirnya hamilin sahabat Emma sendiri.         "Baiklah..." ucap Emma kemudian.          "Aku hanya minta kamu, buat bikin aku yakin aja kan waktu itu, dan mungkin keyakinan itu ada untuk saat ini. Tapi jika realtionship yang kamu maksud harusin aku buat nurutin apa mau kamu, tunduk dalam over protektifan kamu, ngikutin gimana gaya hidup dan pergaulan kamu, aku nggak mau." tandas Emma.         "Iya aku ngerti... dan aku nggak bakal ngelakuin itu semua sama kamu." sahut Angga.         "Jadi gimana? kita jalani aja dulu..." bujuk Angga.        "Deal?" tanya Angga lagi.        "Ok... Deal, kita jalani aja dulu." jawab Emma.         "Yesss..." sahut Angga.           Walaupun Emma belum mau menjadikan dirinya sebagai pacar, namun Angga cukup senang dengan bersedianya Emma menggantikan posisi Rio dengannya.           "Emang sejauh apa perasaan kamu ke Rio?" tanya Angga kemudian.             "Sejauh dari cinta monyet, keterusan sampai lulus sekolah, sampai aku sama dia pisah karena aku harus kuliah dan dia kerja, udah punya pacar masing-masing tapi tetep berkomunikasi dengan baik, dia yang bantuin aku masuk ke perusahaan, bawain lamaran aku, antar jemput aku dari rumah jauh-jauh ke pabrik buat interview, sampai akhirnya aku diterima kerja dan satu gedung sama dia walaupun beda departemen." jawab Emma.          "Ohh... kamu baper dengan apa yang sudah dia lakuin buat kamu?" ucap Angga.          "Enggak... nggak baper.." elak Emma sambil menutup mulutnya menahan tawa. Dia menertawakan dirinya di masalalu yang sempat baper karena tindakan Rio padanya,sekaligus menertawakan dirinya yang sekarang, berubah membencinya.          Namun perasaan kesalnya ke Rio itu berangsur memudar begitu Angga menggodanya, dia sedikit salah tingkah, ketika sosok di depannya yang menasbihkan dirinya sebagai calon suami itu mengorek masalalu nya dengan Rio.           "Iya... kamu baper sama dia." lanjut Angga, menggoda Emma.          "Enggak mas..."          "Iya... dasar baperan..." ucap Angga, dia berjalan ke arah pintu dikuti Emma di belakangnya.            "Wiiiissshhh... doyan banget mainnya sampek jam segini baru keluar." sambut Rio begitu melihat mereka berdua keluar.           Angga ngeloyor gitu aja, lantas membantu teman-teman nya membersihkan sampah sisa semalam.              Emma yang nggak merasa ikut nyampah, hanya duduk sambil bermalasan melihat yang lain bersih-bersih.           "Emm... nggak mau bantuin nih?" tanya Ines.          Emma mengangkat bahu.          "Kalau aku ikutan acara kalian ya aku ikut bantuin bersih-bersih mbak." jawab Emma sekenanya.         "Btw... Emm, aku kira kamu bakalan ngajak pulang loh, atau seenggaknya pesen kamar sendiri." sindir Ismi.         Emma memutar bola matanya dengan kesal.         "Yah... dari kamu aku belajar fungsi lain dari hijab... buat nutupin bekas cupang." sahut Emma.         Angga terkekeh mendengar jawaban Emma.         "Segitu kesel nya Emma sama mereka." batin Angga sambil menggeleng-gelengkan kepala.          Sementara Ismi yang kena Boomerang Emma diam membisu, menunggu bantuan pembelaan dari teman-temannya yang lain.         "Ya jangan salahin jilbabnya Emm... kan semua tergantung pada yang make." kata Ines.          "Nah makanya itu... semua tergantung dari yang make, mau buat nutupin cupang atau mau buat nutupin aurat kan beda lagi." sahut Emma dengan santainya, namun mampu membungkam Ines dan cs nya.         Rio datang mendekat dan duduk di sebelah Emma, sambil melihat yang lain mengumpulkan bekas botol minuman.        "Ok... lain kali aku yang pesen kamar buat kamu." ucap Rio.        "Kalau Angga yang ngajarin pasti udah pinter tuh." sindir Rio.         Emma yang sudah panas kuping dari tadi langsung berdiri dan menampar Rio kuat-kuat.         "Aku memaafkanmu semalam karena kamu nggak sadar, tapi sekarang kamu mengucapkan nya dalam keadaan sadar." ucap Emma.          Rio terkejut dengan reaksi Emma yang bisa semarah itu karena perkataannya. Dan sedetik setelah itu, terdengar denting hp dari saku Emma. Emma mengangkatnya setelah mengatur nafas.          "Iya Se... ada apa?" tanya Emma, sambil menjauh dari Rio.        "Kamu nggak pulang semalam loh Emm..? kamu dimana? mas Fadhil bilang kemarin kamu keluar sama Rio." kata Seah.          "Iya Se... ini juga mau pulang." jawab Emma.          "Beneran kamu sama Rio? mereka tuh acara Emm semalam." kata Seah.          "Iya aku sama dia, juga temen-temennya, tapi kamu tenang aja, karena aku aman sama calon suami." balas Emma.          "Eaaaa... jangan senyum-senyum sendiri aku nggak bisa lihat." goda Seah.         "Kamu pulang nggak? soalnya kerjaan off." tanya Emma mengalihkan topik pembicaraan.         "Iya aku pulang kok, kamu juga kan?" Seah balik bertanya.        "Iya... kamu sama Aji?" tanya Emma.         "Iya dong beb..." jawab Seah.        "Yahh aku sama siapa dong." ucap Emma.          "Hehehhee... makanya buruan resmikan, atau minta antar Rio, kan dia udah pernah kerumah kamu." Usul Seah.           "Udahlah Se... aku lagi males banget ngomongin dia." kata Emma.        "Kenapa? dia ngebangsat ke kamu?" tanya Seah.         "Ya gitulah Se... yaudah, aku bantuin mas Angga bentar, biar cepet pulang." pamit Emma.          "Okkee... salam buat calon suami."          "Hmmmmm...."         Emma menutup telpon lalu menyimpan hp nya, kemudian datang membantu Angga mengangkat sampah.         "Seah?" tanya Angga menanyakan siapa penelon barusan.         "Iya... " jawab Emma.         "Btw dia nitip salam ke kamu..." lanjutnya.        "Masa sih?" tanya Angga.        "He em dia bilang... salam buat calon suami." jawab Emma tersenyum.        "Bilang sama dia salam diterima..." sahut Angga.         Dari jauh, Rio melihat Emma dan Rio saling melempar senyum satu sama lain membuat darahnya mendidih. Dia menyadari mungkin perkataannya pada Emma salah, karena tidak mungkin juga melakukan hal semacam itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN