Di Balik Insiden Kebakaran

2550 Kata
      Terhitung sejak hari ini seluruh karyawan diliburkan. Hanya Group Leader, Line Leader, SPV, Junior Manager, Assistant Manager, dan Factory Manager yang masuk.      Termasuk Azizah, GL Emma. Dia berjalan dengan malas ke ruangan Asmen. Begitu masuk, semua mata tertuju kepadanya.       Dia tersenyum kecut membalas semua tatapan itu. Azizah sudah biasa mendapat perhatian seperti itu dari jajaran para petinggi perusahaan, karena hobinya yang selalu datang meeting paling akhir. Entah karena mementingkan output, atau masih ada kegiatan lain yang menunggu dia selesaikan terlebih dulu.       Namun hari ini dia sengaja berangkat paling akhir karena malas jika harus meeting di hari libur. Dia mengambil tempat duduk di sebelah Bu Isna SPV gedungnya.       "Jijah, anak-anak kamu kan, yang kemarin kejebak di gudang Skiving B?" Tanya seorang manager.       "Iya pak..." Jawab Azizah.       "Tapi nggak papa kan keadaanya sekarang?" lanjut manager.          "Iya pak.. mereka berdua berhasil diselamatkan sebelum terlambat kok, karena tidak berada di paparan api secara langsung mereka mengunci diri di dalam gudang Skiving." Jawab Azizah.       "Jadi gini, saya mengumpulkan kalian semua ini, terkait penyelidikan kepolisian yang menyatakan adanya unsur kesengajaan dalam kebakaran tempo hari. Pihak kepolisian menemukan sebuah pipa kecil berisi foam dan karet gosok yang tidak terbakar seutuhnya, foam yang terbakar tadi berada diantara material inner, yang kemudian panasnya merembet pada keranjang besi menuju jerigen 1 kiloan SBP yang terisi penuh, ledakan dari jerigen pertama menyebarkan percikan api ke segala penjuru dan meledakkan jerigen lainnya." Jelas manager.       "Pertanyaannya adalah, sekian banyak karyawan bisa dievakuasi dengan mudah dan cepat dari gedung B, dan tidak ada yang berteriak kebakaran. Ada apa dibalik itu semua?" Lanjut manager.       "Wahhh gawat saya mencium bau-bau konspirasi besar-besaran ini." Celetuk salah seorang lainnya yang menjadi kompor.      "Emang bener ya, nggak ada satupun yang teriak-teriak kebakaran?" Tanya Bu Isna.       "Katanya sih nggak ada Bu, buktinya Emma sama Mika, mereka nggak akan kejebak kalau dengar teriakan kebakaran dari awal evakuasi kan." Kata Azizah.      "Panggil anakmu itu biar memberikan kesaksian pada polisi." Usul manager.      Azizah sebenarnya keberatan mengaitkan Emma dalam kasus ini lagi, kasian pasti trauma kemarin belum pulih bener.       "Tapi pak... Anak saya nggak ngerti apa-apa Lo, dan dia korban. Kalau disuruh kesini dan berhadapan dengan polisi dia pasti takut." Kata Azizah.      "Tenang aja Jah... Bilang sama dia kita cuma bantu penyelidikan dengan kejadian yang dia tau." Kata Manager.      Azizah menghembuskan nafas panjang, lalu mengeluarkan ponselnya untuk menelpon Emma.      "Assalamu'alaikum Emm..."        "Waalaikumsalam salam Mak.. ada apa, kita off kan, jangan bahas kerjaan hehe aku udah mau pulang ini." Jawab Emma.      "Ehhh jangan pulang dulu Emm.. kamu mau nggak ke pabrik bentar, bentar aja kok... Mau ya, okke mau, aku tunggu Lo Emm.." retorik Azizah menggelitik perut Emma sepagi ini.       "lahhh maakk... Ini aku baru aja mau... ya udah deh, tapi aku nggak pake id loh, nggak papa kan?" Tanya Emma, karena dia baru saja keluar dari villa bersama Angga dan malas buat ambil id di kosan.       "Okke masuk aja, biar aku info ke security." Kata Azizah, dia melipir keluar ruangan buat nunggu Emma di pos security.       Tidak sampai lima belas menit, Azizah melihat Emma turun dari motor bersama Angga. Dan begitu melihat Angga yang memutuskan duduk diatas motor sambil nungguin Emma, dia memanggilnya untuk masuk sekalian.      "Angga... Kamu juga masuk." Panggil Azizah.       Emma dan Angga saling berpandangan.      "Ada apa sih Mak?" Tanya Emma.       "Kepolisian butuh kesaksian kamu terkait penyidikan kasus kebakaran." Jawab Azizah.       "Lahh aku kan nggak ngerti apa-apa." Jawab Emma.       "Udahlah bantu dikit-dikit yang penting kamu muncul, udah di tag sama manager soalnya kamu."       "Diiihhh... gitu banget Emak sama aku." kesah Emma.       Mereka bertiga masuk kedalam meeting room. Suasana di sana sudah seperti sidang yang dihadiri para petinggi negara. Begitu formal dan sukses membuat tegang.      Emma menelan salivanya, dia berjalan mengikuti kemana Azizah duduk, lalu Angga di belakang Emma.        "Nggak usah takut, kamu Emma kan yang kejebak di gudang Skiving gedung B kemarin?" Tanya manager, begitu Emma dan Angga sudah duduk dengan nyaman pada kursi kerja berwarna hitam tersebut.       "Iya pak..." Jawab Emma.       "Bener kamu sama sekali nggak dengar ada teriakan kebakaran. Padahal api sebesar itu?" Tanya Factory Manager.      Emma menggeleng.       "Saya memang mendengar keributan yang lumayan heboh, saya pikir ada yang pingsan atau kecelakaan kerja gimana gitu, tapi setelah itu sepi, dan saya melanjutkan mencari material, tidak ada teriakan kebakaran sama sekali. Bisa tanyakan ke Mika juga kok. Dan saya sangat kaget saat keluar, melihat api sudah membakar semuanya, saya dan Mika sempat mendorong drum-drum SBP yang dekat gudang itu masuk kedalam agar tidak meledak, kalau meledak saya pasti tewas saat itu juga." Jawab Emma.       "Kamu nggak lihat orang lain di sana waktu kamu keluar saat itu?"       "Ehmm.. kayanya tidak pak, cuma ada saya dan Mika di dalam gedung, kalaupun ada kenapa nggak nyelametin kami di sana?" Emma balik bertanya.       "Jadi tuh gini Emm... Katanya, katanya loh ya, kebakaran tersebut adalah kesengajaan, karena ditemukan pemicu api yang masih berada di sumber api." Jelas Azizah       Emma menautkan alisnya. Kemudian Angga mengangkat tangannya dengan ragu.       "Iya kamu... ada apa?" tanya Adrian selaku Asmen.      "Dia yang nyelametin dua anak saya pak." Azizah memperkenalkan Angga pada semuanya.       "Oh... ya Wahh pahlawan kita loh ini..." ucap Factory Manager sambil bertepuk tangan.       "Lanjutkan... apa yang kamu alami waktu nyelametin mereka berdua." lanjut Factory Manager.       "Karena dia pingsan, saya tidak bisa membawanya naik keatas seperti Mika. Jadi waktu itu saya berinisiatif buat mencari jalan lain. Saya buka gerbang dan melihat ke sekitar api, ada hydran yang bisa saya jangkau untuk memadamkan api. Saat saya mengambil hydran dari bayangan kaca di depan saya, kan ada tuh pintu kaca ruang SPV, saya melihat seseorang berjalan dan baru saja menutup pintu keluar, yang saya kurang tau kemana karena tidak ada tulisannya, yang jelas dia memakai kemeja gradasi putih aquamarine." jelas Rio.       "Ruang inspect kan ya... ya kan ruang inspect kayanya itu ya." ucap beberapa GL bersahutan.      "Kamu melihatnya betul kan?" tanya Manager.       "Iya pak saya melihatnya dengan benar, kayanya dia ingin melangkah ke depan, namun karena melihat saya dia jadi berbalik arah dan buru-buru menutup pintu. Dia mengira saya tidak sempat melihatnya, padahal saya melihat dari pantulan kaca pintu." terang Angga.      Adrian terlihat membuka laptopnya menunggu sesaat setelah tombol power, scroll mouse pad, kemudian memasangkan kabel HDI dan menghubungkan ke port proyektor. Dan di side depan ruang meeting terpampang folder yang tengah di buka oleh Adrian.      Emma memperhatikan kesibukan Adrian dengan seksama, dia penasaran dengan apa yang ingin ditunjukkan Adrian pada seluruh member meeting kali ini.       "Ehemm..." Angga sengaja pura-pura batuk ketika melihat Emma konsentrasi penuh menatap Adrian.       Emma terpancing dengan deheman Angga barusan lalu menoleh kearahnya. Dia mendekatkan segelas air putih yang ada di depannya ke hadapan Angga, lalu memperhatikan display proyektor.       "Peka sih peka... tapi bukan itu Emma..." batin Angga.           Dan ternyata gambar yang muncul dari proyektor adalah foto aktivitas para Asmen yang di capture Adrian saat kunjungan ke factory cabang beberapa waktu yang lalu.       "Maksud kamu kemeja gradasi putih aquamarine seperti yang dipakai orang ini?" Adrian maju ke depan  sambil menunjuk seseorang yang di maksud.       "Iya... seperti itu." jawab Angga.       "Pak... gimana ini, apa kita teruskan kesaksian mereka ke pihak yang berwajib, biar diselidiki, kalau dugaan saya benar sesuai yang dia ceritakan, kemungkinan dia kembali untuk mengambil barang bukti, namun gagal karena melihat masih ada orang yang ada di dalam." kata Adrian.       "Ya sudah kita harus cepet, kan daripada kita menduga-duga lebih baik segera dibereskan." ucap Factory Manager menyetujui usul Adrian.       "Ya sudah kalian berdua makasih sudah mau datang kemari, untuk selanjutnya kalian bisa pulang dan selamat berlibur." ucap Factory Manager pada Emma juga Angga.       "Iya pak... semoga masalahnya segera selesai." pamit Angga, dia mengajak Emma keluar ruangan.       Mereka berhenti sejenak di area parkir depan pabrik. Emma masih kepikiran dengan pembahasan di dalam tadi. Sesekali dia melihat kearah dalam pabrik. Dia mulai menerka-nerka kira-kira bakalan terjadi penyelesaian seperti apa.       Sementara Angga masih di sana karena enggan cepat-cepat berpisah dengan Emma.       "Kamu jadi pulang Emm?" tanya Angga.       "Iya jadi..." jawab Emma.       "Aku anter..." putus Angga pada akhirnya. Bakalan berpisah selama beberapa hari tanpa tau kapan masuknya dan bakalan satu shift apa enggak sama Emma, tiba-tiba dirasakan berat bagi Angga.       "Hahhh??" gumam Emma.           "Iya aku anter sampek rumah." ulang Angga.       "Rumahku jauh mas..." kata Emma.       "Aku nggak menerima penolakan. Katakan saja kamu tinggal di mana?!" perintah Angga.        "Aku Malang mas..." jawab Emma.       "Halah deket gak sampe dua jam dari sini." kata Angga.        "Btw kamu mana mas?" tanya Emma.        "Aku Jember..." jawab Angga.        "Ehmm... jauh ya." kata Emma.       "Ya lumayan." jawab Angga.        "Ya udah ayoo..." lanjut Angga.            "Beneran mau anter sampek rumah?" tanya Emma.       "Emang aku pernah bohong sama kamu?" balik Angga.       "Ehmm.. iya deh." ucap Emma pada akhirnya, dia menyerah pada keinginan Angga. ---       Dan kurang lebih dua jam perjalanan sampailah mereka di kota Malang, kampung halaman Emma. Kota dingin yang hijau karena banyaknya pepohonan dan bunga-bunga yang yang menjadikan kota Malang berjuluk kota Bunga.       Selain itu juga, kota Malang di kenal sebagai kota pendidikan, lantaran banyaknya jumlah kampus dan sekolah yang ada di Malang sejak masa Hindia Belanda. Terdapat setidaknya lebih dari 80 Perguruan Tinggi yang tersebar di wilayah Malang Raya.       Dan yang paling dominan menjadi karakter kota Malang adalah arsitektur bangunan yang menjadi warisan sejarah Hindia-Belanda. Yaitu arsitektur Indische Empire, yang sampai saat ini masih menjadi identitas bangunan gedung-gedung pemerintahan di kota Malang.       Juga arsitektur paska kemerdekaan yang sering disebut dengan istilah Jengki. Termasuk rumah Emma, yang anti mainstream dengan atap susun tiga, gaya dinding miring di lantai dua, beranda yang luas penuh bunga dan tanaman hias, dan juga penggunaan bebatuan alam di salah satu side dinding bagian depan rumah Emma.       "Assalamualaikum..." ucap Emma begitu membuka pintu depan.       "Waalaikumsalam..." jawab Mama Emma dari dalam.       "Oh sama Angga..." lanjutnya begitu melihat Angga mengikut dibelakang Emma.      "Iya Tante... kebetulan pabrik off, dan saya pingin nganter Emma pulang."       "Iya... sini masuk-masuk." ucap Aisha, mama Emma.       "Adel..." panggil Aisha, pada anak bungsunya yang tengah asyik mengerjakan tugas di kamarnya.       Beberapa saat kemudian sosok yang dipanggil muncul diantara mereka.            "Ini loh... kakak kamu datang kok nggak disambut." ucap Aisha.       "Iya Adel tau, mbak Emma pulang, tadi mau keluar nangung, tinggal satu nomor ma." jawab Adel.       "Dan ini... pacarnya mbak ya?" tanya Adel sambil mengarahkan telunjuknya pada Angga.       "Jangan nunjuk-nunjuk nggak sopan!" kata Emma, sambil menurunkan telunjuk adiknya yang masih duduk di bangku kelas VII SMP.       "Bikinin minum buat kakak kamu dulu, nggak di beliin hp baru loh kalau nggak nurut." kata Mamanya.       "Iya ma... tapi pertanyaan Adel tadi belum dijawab." kata Adel.       "Pertanyaan apa?" tanya Emma.        "Mas ini pacarnya mbak Emma?" bisik Adel pada Emma.       "Hahh anak kecil juga... kepo dasar." gumam Emma.       "Yaaa pasti bener, mas Angga ya?" tanya Adel pada Angga.       "Iya... Adel." jawab Angga dengan senyum simpul.       "Hmmm... papa sering cerita ke Adel tentang kamu mas, katanya mengingatkan masa mudanya dulu heheheh." jelas Adel.       "Udah... kenalannya nanti lagi, sekarang kamu bikin minum dulu buat kakak kamu juga mas Angga, dah sana." kata Mamanya.       "Iya ma... Yeyeee pajak jadian, ulalaaaa." ucap Adel sambil berlalu, ujung hijabnya yang bergoyang saat dia jalan menambah kesan imut dalam dirinya.       Tidak berapa lama Adel kembali dengan dua gelas minuman dalam sebuah nampan lalu menghidangkan kepada Emma juga Angga.       Ponsel Emma bergetar, dia meraihnya dari dalam Sling bag. Lalu melihat pada displaynya, nomor baru. Emma memperlihatkan pada Angga sambil mengangkat bahu.       Mama Emma mengajak Adel meninggalkan mereka berdua. Adel kembali kekamar untuk menyelesaikan tugas nya kembali.       "Yaudah angkat.." kata Angga.       "Assalamualaikum..." ucap Emma setelah swipe button untuk mengangkat panggilan tersebut.      "Waalaikumsalam..." balas Adrian.       "Pak Adrian?" tanya Emma.       "Iya... kamu langsung mengenali suara ku ya." ucap Adrian.      "Iya pak... ada apa ya bapak nelpon saya?" tanya Emma.       "Oh ini... iya aku sengaja minta nomor kamu dari Azizah. Mau berterimakasih aja, berkat kesaksian kamu,   kasus berhasil terungkap." kata Adrian.       "Kan mas Angga pak... yang bersaksi." ucap Emma.       "Iya... tapi nggak mungkin kan aku telpon Angga secara pribadi... ada-ada saja kamu Emm.." Sahut Adrian.        "Ehmmm... lantas apa bedanya dengan telpon saya secara pribadi pak?" tanya Emma.        "Ya beda lah sayang... kamu pikir aku maho." jawab Adrian.      Angga langsung merebut ponsel Emma kemudian mematikannya.      "Lahhh.. kenapa?" tanya Emma.       "Udah selesai... dia cuma mau bilang makasih kan." kata Angga.          "Jadi kemana-mana, pakek sayang-sayang segala, jangan di save nomornya." ucap Angga.      Emma berusaha menahan tawa sebisa mungkin.      "Ya Allah... kamu cemburu mas?" tanya Emma.       "Enggak... dia nggak masuk daftar rivalku." elak Angga.       "Nahh tiba-tiba matiin telpon tadi apa namanya, aku bahkan belum nanya loh, gimana kronologis penangkapan dan motifnya apa?" tambah Emma.       "Ya aku nggak suka aja, kemarin Rio, panggil kamu sayang, sekarang Adrian besok siapa lagi." ucap Angga.       "Fix... kamu cemburu sama mereka." simpul Emma.        "Emma... kamu kan bisa nanya ke GL kamu, perihal kronologis dan lainnya. Ngomong kok bertele-tele nggak langsung ke inti, memperpanjang durasi ngobrol sama kamu, ujung-ujungnya panggil sayang, rasanya pingin skin Contact sama dia." gerutu Angga.       "Diihh... kamu jelek banget kalau marah." Kata Emma.       "Emma..." panggil mamanya dari dalam.       "Iya ma..." jawab Emma.        "Ajak Angga makan, mama tadi masak banyak banget." ucap mama.       "Oh iya ma." jawab Emma.        "Mas... makan dulu." ajak Emma.        Angga mengangguk kemudian menuruti Emma berjalan ke meja makan. Emma melihat ke ponselnya yang berkedip-kedip ternyata panggilan dari Azizah.       Emma terlihat mengangguk-angguk mendengarkan penuturan Azizah dari seberang. Setelah menutup telponnya dia melihat kearah Angga.        "Ada apa?" tanya Angga.       "Enggak Mak ku barusan cerita kalau ternyata motif dari insiden kebakaran itu mas, ternyata yaah si Asmen itu kaya frustasi karena defect gede-gedean dari custome SAM kemarin, sampai sekarang belum kelar kan itu, nahh dia kaya Mae sengaja bikin kecelakaan biar cair insurance dari customer sekarang itu buat nalangin kerugian yang kemarin, soalnya nama dan jabatan dia kan udah dipertaruhkan mas..." jelas Emma.        "Ohh gitu... kenapa bisa, mikir Sampek kesana dan menghalalkan segala cara." ucap Angga.        "Nggak tau mas... namanya juga orang kepepet." sahut Emma.      "Iya juga sih.." jawab Angga.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN