Second Kiss

2219 Kata
!!! 21++!!! Full mature konten, buat yang dibawah umur skip aja ya...!! ***        Beberapa saat kemudian dari ruang tengah muncul mama Emma yang sudah berpakaian rapi untuk berangkat ke kampus. Beliau ada jadwal ngajar kuliah sore.      "Oh iya ma... hati-hati ya." pesan Emma.      "Angga Tante berangkat dulu ya, jangan pulang sebelum om datang loh ya, dia pasti seneng lihat kamu main kesini." lanjut mama Emma.      "Oh iya Tante..." jawab Angga tersenyum.      "Ya udah Assalamualaikum..."      "Waalaikumsalam..." jawab mereka bersamaan.      Baru saja mama Emma Keluar Adel yang sudah berpakaian rapi turut keluar.      "Mau kemana kamu dek?" tanya Emma.      "Aku mau keluar sama Cika bentar mbak..." jawab Adel.      "Iya... kemana?" tanya Emma.      "Ngerjain portofolio di rumah Raka." jawab Adel.      "Beneran ngerjain tugas apa mau pacaran nih?" tanya Emma.      "Beneran mbak..." jawab Adel.      "Ya udah hati-hati." pesan Emma.      Adel mendekat untuk mencium tangan kakak nya juga Angga. Suasana langsung sunyi senyap begitu suara terakhir Adel menutup gerbang depan rumah.      "Emang di Malang selalu sepi kaya gini ya Emm?" tanya Angga.      "Ya nggak semua kaya gini mas, ada kok daerah yang rame, karena ini bertepatan dengan perumahan yang kebanyakan penghuninya pekerja jadi jam segini ya sepi." jawab Emma.      Angga menyimak penuturan Emma, namun dia salah fokus pada bibir Emma yang tipis dan moist, lesung Pipit di pipi nya juga kedua pipi nya yang putih mulus.      "Emma..." panggil Angga.      "Ya ada apa mas? ehh btw ini minumnya mas..." ucap Emma yang hampir lupa mereka belum minum usai makan barusan.      "Iya... "jawab Angga dia meneguk minumannya kemudian meletakkan kembali gelasnya.      "Emm..." panggil Angga, dia mendekat kearah Emma kemudian membingkai wajah Emma, kedua telapak tangan Angga berada pipi Emma.      "Mas mau apa?" tanya Emma dia sontak memundurkan wajahnya sambil berusaha melepaskan tangan Angga dari wajahnya.      Bukannya menyerah, Angga justru memindahkan sebelah tangannya kebelakang dan memegangi tengkuk Emma.      Bibirnya menyapu lembut pada bibir Emma, setelah mengambil jeda sejenak dia teruskan dengan melumat dan menghisap bibir bawah Emma.      Emma yang tak bisa melawan karena perbedaan tenaga yang jauh, hanya bisa menutup mulutnya rapat-rapat sambil memejamkan mata.      Angga justru tersenyum melihat Emma memejamkan matanya. Dia meneruskan mengulum bibir Emma sambil setengah menggigit bibir bawah Emma agar gadis itu mau membuka mulutnya.      Benar saja karena tingkahnya barusan, Emma mempersilakan lidah Angga untuk bertemu dan menyapa lidahnya.      Kemudian sebelah tangannya menarik jarum yang menjadi satu-satunya pengait pada jilbab Emma. Setelah jilbab Emma terbuka, Angga langsung menyusuri leher Emma dan meninggalkan bekas keunguan disana.      Sebelah tangannya memegangi tangan Emma yang hendak menjauhkannya dari tubuh Emma. Dia masih berhasrat tinggi untuk menjelajahi objek cinta di hadapannya.      Dia tau Emma bakalan kecewa dan marah padanya, namun nafsu nya sedang berada di level up dan nggak bisa dibendung lagi.      Setelah meninggalkan 3 jejak di leher Emma dia kembali ke bibir Emma yang sedikit membengkak daripada sebelumnya. Sementara tangan yang dia gunakan untuk menahan tangan Emma tadi, kini beralih menelusup ke balik kemeja Emma.      Tangannya menyusuri perut kemudian naik ke d**a Emma. Sambil meremas-remas daging kenyal itu, jemarinya berusaha menaikkan bra Emma hingga dia bisa lebih leluasa mengexplor salah satu daerah sensitif Emma.      "Mas... " ucap Emma, begitu Angga memberikan jeda pada ciumannya.      "Aku akan bertanggung jawab, dengan perbuatanku ini..." bisik Angga.      Tangannya keluar dari balik kemeja Emma, kemudian membuka beberapa kancing kemeja Emma dengan paksa. Dan matanya langsung dimanjakan dengan dua bukit Emma yang putih dengan ujung berwarna pink itu.      Angga mendekat lalu meremas dan menghisap sebelah d**a Emma. Meninggalkan beberapa kissmark dan terus mempermainkan dengan lidahnya.      Emma menggeliat, dia berusaha sekuat mugkin menahan sesuatu yang ingin keluar dari dalam dirinya. Angga yang tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Emma justru sengaja mengusap dan mempermainkan puncak s**********n Emma dari balik celana jeans yang dia pakai.      Emma makin gelagapan, seketika wajahnya memerah menahan sesuatu yang bergejolak tanpa bisa dia tahan lagi.      Angga terus meremas sambil sebelah tangannya menyusup kebalik celana Emma, dia mencari-cari sebuah titik kenikmatan yang pasti membuat Emma makin tak berdaya, jari telunjuknya masuk menekan kemudian berputar perlahan pada titik itu.      Emma menggigit bibirnya, tak sanggup lagi, Angga menambahkan jari tengahnya untuk berada pada liang Emma. Dua jari Angga kini sibuk beraksi di bawah sana, Angga memaju mundurkan menarik dan menekan semakin dalam pada liang Emma.      Erangan dan desahan lembut keluar dari mulut Emma membuat Angga makin bernafsu mengerjai gadis yang dicintainya itu.      "Mas udahh..." ucap Emma.      "Tapi kamu masih menikmatinya Emm..."      "Mas udah... aku takut..." pinta Emma.      "As you wish." ucap Angga, dia mengeluarkan dua jarinya yang jadi super lengket dengan cairan Emma, kemudian mengakhirinya dengan kecupan pada bibir dan kening Emma bergantian.      "Aku akan bertanggung jawab." ucap Angga.      Emma hanya membisu sambil menurunkan kembali bra, mengancingkan kemejanya dan juga memakai jilbabnya.      Dalam hati dia sama sekali tidak menyangka bakalan mendapat sexuality harassment dari Angga sampai sejauh itu.      "Emma... aku minta maaf, tapi aku janji aku bertanggung jawab atas perbuatan aku ke kamu tadi." ulang Angga.        Beberapa saat kemudian, Angga merasa tubuhnya terguncang dengan pelan, semakin lama semakin kencang dan dirinya terbangun. Ternyata cuma mimpi, mimpi indah dimana dia barusaja membelai tubuh Emma setiap inchi nya.       "Ehhh... Iya Emm, ada apa? Aku ketiduran lama ya?" tanya Angga.       "Enggak kok mas... Kamu mimpi ya? dari tadi kok minta maaf minta maaf mulu, mimpi apa sih?" tanya Emma.       "Ehm iya Emm aku barusan mimpi... Aduh parah banget." jawab Angga, namun dia sama sekali tidak berniat menceritakan mimpi tersebut pada Emma.       "Mimpi apa mas?"       "Nggak kok hehehhe cuma mimpi nggak jelas..." jawab Angga.              Angga melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya, kemudian melihat kearah Emma.      "Ya udah Emm.. aku pulang ya, udah sore." pamit Angga.      "Oh iya mas... Makasih ya udah diantar Sampek rumah." ucap Emma.      "Iya... Oh ya, mama kamu mana, aku mau pamit?" Tanya Angga.      "Mama udah berangkat mas, ada kuliah sore." jawab Emma.      "Adel?" Angga menanyakan adik Emma yang sempat dia lihat tadi.      "Ke rumah temennya ngerjain tugas..." jawab Emma.      Angga menautkan alisnya, kenapa keadaanya sama persis seperti dalam mimpi tadi, mama Emma ngajar adik Emma pergi kerumah temennya. dia kemudian mengamati bibir Emma, tidak bengkak, kemeja nya juga rapi, jilbabnya sama sekali tidak kusut.      "Oh ya udah... Kalau gitu, aku pulang ya, kamu hati-hati dirumah." pamit Angga.      "Hehehe... Kamu yang hati-hati dijalan mas..." pesan Emma.      "Okke siap..." jawab Angga.       Dalam hati dia tidak bisa membayangkan seandainya dia beneran kurang ajar ke Emma, sudah pasti senyum seperti itu tak bakalan terbit dari bibir cantik Emma untuk dirinya lagi. Dia sangat bersyukur kejadian tadi hanya terjadi dalam mimpi Angga.       Setelah itu, Angga kembali ke kos nya, sebenarnya dia malas pulang kerumah, hanya akan melihat pertengkaran Ayah tiri dengan ibu nya saja setiap hari. Dia memilih menghabiskan waktu liburnya di kos. Sudah tengah malam ketika dia sampai di kosnya.       Kamarnya dalam keadaan gelap gulita, dia menyalakan lampu kemudian mengambil handuk dan mandi, untuk menghilangkan penat karena perjalanan yang dia tempuh hari ini cukup melelahkan. Sekembali dia dari kamar mandi, sudah duduk seorang gadis berjaket coklat dengan rambut dicepol, Angga tidak menghiraukan gadis itu.      Sosok cantik berperawakan tinggi langsing itu adalah mantan Angga, mantan yang telah menyakiti hatinya sampai yang terdalam. Masih lekat di ingatannya saat dia samperin Anel di kosnya, ada sepatu pria berjajar dengan sepatu Anel, dia masuk, mungkin mereka lupa mengunci pintu, hingga dia melihat tubuh Anel yang topless ditindih laki-laki itu.      Sejak kejadian itu dia tidak pernah lagi mau menatap Anel, dia memutuskan hubungan mereka, karena telah dikhianati sebegitu jauhnya.      Angga sibuk memilih baju yang akan dia pakai, dia membelakangi Anel yang tengah menatapnya dengan intens. Gadis itu mendekat lalu memeluk Angga dari belakang.      "Aku kangen sama kamu." ucap Anel.      "Mau apa kamu kesini?" tanya Angga.      "Aku lagi kangen sama kamu, kangen keringetan bareng kamu." jawab Anel sambil jemarinya menyusuri setiap inchi tatto yang berada di punggung Angga.      "Aku kangen main sama kamu, sampai pagi..." lanjut Anel.      Angga tidak ingin menghiraukan omongan Anel, namun gelenyar panas yang membangunkan inti nya tidak bisa dia ajak kompromi. Tangan Anel yang semula berada di perut Angga kini mulai turun dan masuk ke balik handuk Angga. Dia meraba dan mengusap inti Angga yang mulai mengeras.       "Bitch.. " gumam Angga.       Dia berbalik mengangkat tubuh Anel dan membaringkannya di atas ranjang, kemudian berjalan untuk mengunci pintu lalu menanggalkan handuknya. Dia menarik resleting jaket Anel kemudian mulai menaikkan kaos oversize yang dipakai Anel.       "Kita habiskan malam ini berdua sayang..." bisik Anel.       Tak banyak berkata-kata lagi, Angga melesakkan miliknya pada milik Anel, keringat membasahi tubuhnya yang masih terus memompa dan haus akan dipuaskan setelah keputusannya meninggalkan Anel.      Anel yang tau kalau Angga menikmati permainannya, merasa lega, setidaknya dia bisa memanfaatkan Angga untuk bertanggung jawab atas bayi yang kini tumbuh dalam rahimnya dari Alex. Dia membiarkan milik Angga bersorak kegirangan didalamnya karena perlakuan manja dari miliknya.      Namun dari pertama kali mereka melakukan ini, Angga tak pernah sekalipun mengeluarkan cairan dosanya di dalam rahim wanita manapun. Dia berusaha menahan dan mengeluarkannya diluar. Seperti saat ini.      "Kenapa enggak di dalam?" tanya Anel agak kesal.      "Kenapa? Agar kamu bisa manfaatin aku atas bayi itu?" tanya Angga dengan sinisnya.      "Ka... Kamu tau aku hamil?" tanya Anel gelagapan.      "Iya... Kamu ingat mata dan telingaku banyak." jawab Angga.      "Terus kenapa kamu 'main'?" tanya Anel.      "Ingat kamu yang datang dan menggodaku, lagian kucing mana pernah nolak kalau disodorin ikan." sahut Angga.       "b*****t kamu Ngga..." sahut Anel, dia buru-buru melepaskan diri dari Angga lalu memakai lagi pakaiannya dan pergi dari kos Angga.        Angga menutup pintu kemudian makan Snack yang tadi sempat dia beli dalam perjalanan. Dia masih kesal pada Anel yang seenaknya sendiri membuatnya 'naked' malam ini. Tapi setidaknya hasrat bercintanya dan ngehaluin Emma tersalurkan.       Dia mengambil ponselnya, lalu membuka pop up yang muncul beberapa detik yang lalu. Ternyata pesan masuk dari Emma. Terbit selengkung senyum dari bibirnya.       "Mas Angga udah nyampek rumah belum?"  tanya Emma.       "Udah kok Emm... Ini baru aja nyampek, kamu belum tidur?" balas Angga.       "Ini udah mau tidur kok mas, ya udah selamat beristirahat ya." ucap Emma pada akhirnya.       "Oh iya... Yaudah met bobo kamu ya, mimpi indah." ucap Angga.       Angga mematikan lampu kamarnya kemudian mendekat ke jendela, dia menatap indahnya malam ini, langit yang penuh bintang namun dirinya kesepian. Dan tiap kali dia mengingat Emma, selalu terlintas sebuah lagu yang menjadi favorit di playlist hp nya. Cause I wanna touch you, baby And I wanna feel you, too I wanna see the sunrise and your sins Just me and youLight it up, on the run Let's make love, tonight Make it up, fall in love, tryBut you'll never be alone I'll be with you from dusk 'til dawn I'll be with you from dusk 'til dawn Baby, I'm right here I'll hold you when things go wrong I'll be with you from dusk 'til dawn I'll be with you from dusk 'til dawn Baby, I'm right here               Jujur bukan hanya Rio yang berfantasi ingin bercinta dengan Emma, dari dalam hatinya dia juga ingin merasakan hal serupa, namun sebisa mungkin menahannya, karena di matanya Emma sosok gadis yang berbeda dari yang lain.        Dia memandangi senyum Emma yang terlihat dari profil aplikasi Wa nya. Kemudian gurat penyesalan terlintas jelas dari wajahnya.        "Maafiin aku Emm... aku nggak bisa jadi calon suami yang baik buat kamu, sekuat apapun aku mencoba aku masih tergoda tubuh si jalang Anel."        "Maafin aku yang tidak bisa menjadi calon menantu seperti yang diharapkan oleh kedua orang tuamu. Aku nyesel banget ngelakuin itu semua sekarang Emm... aku merasa telah mengkhianati kepercayaan kalian."        "Tapi aku janji, ini adalah pertama dan terakhir aku melakukannya." monolog Angga dalam hati.         Pandangannya terlempar lagi ke arah bintang-bintang yang yang indah di langit malam.         "Mungkin aku tidak akan merasa sesedih ini jika dari awal kita tak pernah bertemu Emma..."       "Bukan pertemuan kita yang aku sesalkan, namun ketidak siapanku menghadapi pertemuan dengan gadis sepertimu."        Angga menghempaskan diri diatas ranjangnya, dan dia menyesali semuanya, imajinasi bobroknya terhadap Emma, perbuatan bejatnya pada Anel, dan juga pertemuan dengan Emma yang membuat keberadaannya begitu dihargai di keluarga Emma.      Sepanjang dia hidup selama lebih dari seperempat abad, baru kali ini ada sosok orang tua yang mengikhlaskan putri nya untuk didekati pria j*****m macam dirinya.       Dia sendiri heran kenapa bisa, bertekuk lutut pada Emma. Andai dia mampu melakukannya pasti saat Emma tertidur pulas di rumah sakit, dia sudah menindihnya, andai dia mampu, pasti dia sudah mengoyak Emma ketika mereka terlelap satu kamar di villa.      Namun dia tak pernah berniat menyentuh Emma sedikitpun. Sampai-sampai alam bawah sadarnya mengirimkan mimpi seliar siang tadi.      Angga berusaha memejamkan mata diantara kepungan berbagai macam emosi yang mengurai semua kebejatan dirinya.      Memang beberapa saat yang lalu dia mendamba bercinta dengan Emma namun sekarang dia seperti diingatkan akan siapa sosok Emma.      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN