Hari pertama setelah libur panjang

2174 Kata
     Setelah libur selama 7 hari akhirnya Emma kembali ke kos karena esok hari sudah mulai masuk kerja. Dia berusaha melupakan peristiwa kebakaran yang menyimpan motif besar dibaliknya.     Sampai di kos sudah ada Alya dan Seah, mereka sedang makan seblak di kamar Seah.           "Kamu besok masuk apa Al?" tanya Emma sambil meletakkan sepatu nya di rak sepatu.      "Masuk pagi aku mbak, mbak Seah aja kayanya yang masuk malam." jawab Alya.      "Kamu masuk malam Se?" tanya Emma.      "Iya niiihhh... ahhh gak bareng kalian nih." jawab Seah.      "Kenapa tiba-tiba jadi lawan shift? Skiving gimana?" tanya Emma.       "Enggak tau Emm.. Skiving sih enggak, cieeeee ada yang nanyain calon suami nya Al..." kata Seah pada Alya.      "Ehhh anak Skiving mbak? masa sih aku ketinggalan berita..." ucap Alya.      "Aduuhhh udah hoax itu Al, jangan percaya.." sahut Emma.      "Btw kalau masuk malam berarti mbak Seah nggak jadi ikut perwakilan demo lusa dong?" tanya Alya.      "Enggak Al... aku nggak minat kok." jawab Seah.      "Lagian... aku besok masih ada acara sama Aji." lanjut Seah.       "Acara mulu..." kata Emma.       "Eaaaa mbak Emma, kalau mau acara juga bisa loh, siapa mbak namanya cowok Skiving itu?" tanya Alya.       "Angga... Al, namanya Angga." jawab Seah sambil menyendok seblak terakhirnya.       "Cieeee mas Angga, kapan nih mau dikenalin penghuni kos, ya maksud aku kecuali satu itu mbak..." tandas Alya.       "Ines?" tanya Emma dan Seah bersamaan.       "Yuppps... tul." jawab Alya.       "Haduh kalau itu mah kanibal gak peduli laki temen diembat juga." sahut Emma. Dia masih ingat betul gimana Alya nangis karena crush nya di deketin Ines, Nia kating nya sampai pindah kos karena cowoknya di embat Ines,      "Aduh jangan Sampek mbak, takutnya mas Aji jadi target berikutnya juga." kata Alya.     "Ih amit-amit jangan Sampek deh." ucap Seah.     "Udah biar aku aja yang ngerasain." sahut Alya.     "Kamu yang sabar ya Al..." ucap Emma.     "Aduh kalau aku sih sabar aja mbak..." jawab Alya.     "Ya udah.. aku mau tidur dulu ngantuk capek banget." pamit Emma.     "Aku ada Drakor baru mbak." ucap Alya.     "Yaudah hayukk... dikamar ku aja, disini bau seblak tuh." ajak Emma.     "Heeeehehe pindahan yuk." ucap Seah dengan senang hati.      Mereka bertiga pindah ke kamar Emma sesaat setelah Alya mengambil laptopnya. Seah melempar slingbag nya kesembarang tempat sedang kan Alya mulai memutar Drakor yang dimaksud. ---      Pagi ini Emma bangun kesiangan karena semalam melanjutkan marathon Drakor. Dia berangkat bersama Alya karena Seah masuk shift malam.     Matanya langsung membulat begitu dia sampai di portal scan, dia melihat ke arah id card yang baru saja dipindai oleh mesin scanner.     "Lahhh... Al, kenapa jadi Seah..." ucap Emma.     "Lohhh kok bisa sih, terus gimana, mbak Seah kan masuk malam mbak." kata Alya.     "Kayanya aku harus lapor HRD dan ke EDP deh..." kata Emma.     "Iya mbak... ya udah aku duluan ya." pamit Alya.     "Oh iya Al..." jawab Emma.     Sepeninggal Alya, Emma berjalan dengan malas masuk ke ruang EDP. Setelah menunggu sampai pintu terbuka otomatis dia mengambil form laporan. Kemudian mengisi di sebelah beberapa karyawan yang bermasalah juga hari ini.     Setelah membawa ke staff yang menangani, dan penghapusan scan berhasil dia membawa laporan berikutnya ke HRD. Keluar dari ruang HRD, kebetulan dia barengan sama Angga.          "Loh.. mas id card nya kenapa?" tanya Emma.     "Ketinggalan?" lanjut Emma.     "Enggak Em... aku bawa sih sebenarnya hehehe, tapi tadi aku berangkat pake jaket, nah id card nya ada di saku jaket, beserta kontak motor, ehhh lupa aku masukin jok, dan ketutup deh..." jawab Angga sambil menggaruk tengkuknya.     "Ya Allah mas.. ada-ada saja deh, terus nanti motornya gimana?" tanya Emma.     "Gampang si Fadhil bisa ngakalin kok..." jawab Angga.      "Kamu sendiri kenapa?"      "Aku keliru sama id nya Seah, semalam dia tidur dikamarku mas, dia bawa tete bengeknya kekamar ehhh aku kesiangan tadi langsung ambil aja id card, ternyata ketuker sama punya dia. Yahh berakhir disini." jawab Emma.     "Oalahhh Emma.. ya udah balik yuk, nanti istirahat aku anterin ambil di kos kamu." ucap Angga.     "Gampang itu mas... nanti Seah aja aku suruh anter kesini." jawab Emma.     "Yakin? Aji masuk malam loh, kayanya satu shift sama Seah, tadi dia bilang mau ke sidang perceraian saudaranya, nggak mungkin dia pergi sendiri pasti sama Seah." ucap Angga.     "Oh gitu... Seah kok nggak cerita sih." ucap Emma.     "Iya Aji emang nggak kasih tau Seah, cuma dia bilang mau jemput Seah katanya." jelas Angga.     "Ohh gitu... ya udah deh, kalau gitu balik ke line yuk dah ditungguin pasti." kata Emma.     "Iya ayookk.." ajak Angga.     Emma berjalan masuk ke gedungnya kemudian menuju line nya. Dia duduk di tempatnya setelah mengambil selembar ceklist output harian. Menuliskan tanggal bulan dan tahun pada kolom yang ada kemudian mulai menuliskan daftar manpowernya.     "Emm.. habis ini kamu ke molding ya, di depan udah ada dua keranjang pump tinggal molding aja." kata Azizah.     "Iya Mak..." jawab Emma singkat.     "Kirain kamu nggak masuk loh Emm, lama banget soalnya aku tungguin." kata Azizah.     "Aku tadi ke EDP Mak, id ku ketukar sama punya temenku, jadi ya lumayan lah antri buat hapus scan." jawab Emma.      "Kok bisa sih, bukannya kamu sekamar sendirian aja Emm?" tanya Azizah .          Usai memberangkatkan cekclist dia berjalan ke front line untuk membawa pump siap output tadi ke molding.     "Kenapa sepagi ini harus ketemu si b******k Rio sih." batin Emma, sambil mengayunkan langkahnya menuju gudang.     Dia membawa dua keranjang menuju gudang, tepatnya mesin molding Rio. Sampai di sana dia melihat Rio sedang mempersiapkan mesinnya.     "Emma..." batin Rio, kala melihat Emma masuk dengan dua keranjang bertumpuk berisi pump.     "Maafin aku Emm... kejadian waktu itu benar-benar diluar kendali ku..." ucap Rio.     "Udahlah Yo... aku males bahas ini lagi, kamu bilang diluar kendali kamu, its okay aku maafin pas kamu mabuk, selebihnya kamu lupa, kamu bilang apa pas kamu udah sadar?" tanya Emma.      "I... iya aku juga minta maaf untuk itu Emma, aku beneran nyesel Emm..." ucap Rio.      "Nih... kerjain!" Emma meletakan dua keranjang diatas meja mesin Rio, kemudian berlalu.       Sementara Rio terus merutuki kebodohan nya, dia masih belum bisa melupakan kejadian di malam hari ketika dengan bobroknya dia mencium dan membuka jilbab Emma.       Semua sudah terjadi, dan waktu tak mungkin berputar kebelakanh untuk memperbaiki kesalahannya.      Sampai di Line, terlihat Azizah tengah pusing dengan lembaran kertas di depannya. Emma meraih kertas itu dan membacanya.     Sesuai kebijakan perusahaan untuk solidaritas aksi turun kejalan yang akan di laksanakan esok hari, harap setiap line mengirimkan minimal satu orang manpower yang bersedia tanpa paksaan untuk menjadi perwakilan perusahaan, karena produksi sedang pada titik tertinggi, jadi perusahaan tidak bisa off dan mengirimkan semua karyawan.      "Kenapa dengan ini Mak?" tanya Emma.      "Aku bingung banget Emm... siapa yang mau berangkat, di line kita gak bisa bolong satu orang pun, semua penting untuk menyelesaikan tugasnya. Dan kita dikejar output, tapi nggak mungkin kan aku nggak ngirim, bisa-bisa kena SP dari atas." jelas Azizah.      "Nggak usah bingung, tulis aja namaku Mak... aku kan nggak begitu penting, udah jangan khawatir." ucap Emma.       "Tapi Emm..." ucap Azizah terpotong.      "Udah nggak pakek tapi-tapi." sahut Emma.      "Dah... sini aku aja yang tulis." ucap Emma.      "Yaudah... tapi kamu hati-hati ya" pesan Azizah.      "Siaappp..." ucap Emma.      Setelah menuliskan nama pada lembaran perintah penurunan perwakilan karyawan tersebut Emma hanya bolak balik dari Line ke gudang molding seharian ini.      Hingga sirine panjang tanda istirahat tiba, dia masih berada di gudang.      "Em... beneran aku ngggak layak hidup kalau kamu nggak maafin aku.." ucap Rio sambil menggenggam tangan Emma yang sibuk menata tumpukan upper.      "Lebay kamu Yo... emang aku siapa?" tanya Emma.      "Emma... beneran, aku minta maaf." ulang Rio.      Emma melepaskan tangan Rio dan mengangkat keranjangnya, namun dengan cepat Rio berjalan menghalangi dan berhenti di depan Emma.      "Aduh Yo... kalau gini kamu malah bikin aku tambah benci sama kamu, jangan halangi aku, aku bawa banyak upper nih." bentak Emma.      Tiba-tiba dari belakang muncul Angga yang mengambil id card Rio begitu saja kemudian memakainya, setelah itu mengambil keranjang yang di bawa Emma lalu meraih lengan Emma untuk mengajaknya meninggalkan tempat itu.      Setelah meletakkan keranjang di meja Emma, Angga lantas mengajak Emma keluar pabrik untuk mengambil id card Emma, rupannya itu alasan dia mengambil id card Rio tadi, dia meminjamnya untuk meninggalkan area pabrik.         "Rio bikin ulah apa, sampai kamu ngebentak dia?" tanya Angga dalam perjalanan mereka pulang ke kos Emma.      "Dia minta maaf tapi maksa, padahal aku tuh kalau kesel sama orang lama banget sembuhnya mas." jawab Emma.      "Aku udah ngomong sama dia, dan dia jujur ke aku kalau ngerasa bersalah banget sama kamu, dia juga udah jadiin kamu objek fantasy buat dia 'manualan'" ungkap Angga.      "Hahh... maksudnya, dia gituan sambil ngebayangin aku gitu?" tanya Emma.      "Ya kaya gitulah..." jawab Angga.      Emma terlihat tambah kesal sekali wajahnya, sebenarnya Angga nggak bermaksud mengadu domba mereka berdua, dia hanya ingin menyampaikan apa yang dia dengar dari mulut Rio sendiri, tentang penyesalan dan kebobrokannya.      "Udahlah... semua cowok emang gitu, itu manusiawi loh Emm... cuma ada yang ngelakuinnya ke orang yang salah, ada yang sudah melampaui batas juga." ucap Angga menatap jauh, dia mengingat apa yang sejauh ini sudah dia lakukan pada Anel.      "Mas Angga sendiri?" tanya Emma.      "Aku cuma manusia biasa Emm... aku termasuk kedalam golongan cowok biasa juga." jawab Angga, menimbulkan tanda tanya, antara suka manualan atau masuk dalam golongan yang melampaui batas.            Emma mengerti dia hanya diam saja, tidak menginginkan penjelasan lebih jauh lagi, yang mungkin bisa saja membuat hatinya terluka atau kecewa.      "Btw mas... aku ikut perwakilan demo, mas Angga gimana?" tanya Emma mencoba mengalihkan topik pembicaraan.      "Di departemen ku belum diputusin siapa yang mau turun, pada males sih soalnya, tapi kalau kamu ikut, mungkin aku akan turun juga." jawab Angga.      "Lahhh kenapa ikut karena aku.." ucap Emma tersenyum nyengir.      "Jangan bodoh dengan pura-pura nggak tau kalau aku suka sama kamu, aku ikut emang karena kamu ikut aja, selebihnya aku sih nggak peduli, mau ikut nyampein suara, yang dibela aja kerja ogah-ogahan di pabrik, pada masuk semua pas tanggal gajian." ucap Angga jujur.      "Iya sih mas... bener juga kamu." jawab Emma.      "Besok kamu jangan misah dari aku, soalnya bakalan ricuh kalau sama mahasiswa, dan lagi banyak anak-anak STM juga, yang turun." pesan Angga.       "Iya mas... papa pasti bakalan nangis lihat aku ikutan turun..." ucap Emma tersenyum dengan mata berkaca-kaca.      "Tenang aja, aku bakalan jagain putrinya kok." sahut Angga.      "Diihh gombal Mulu sih kamu mas." kata Emma.      Mereka tiba di depan kos Emma, setelah membuka gerbang, mata Emma membulat melihat sepatu cowok bertengger di atas keset kamar Ines.      Emma mengernyit.      "Nggak boleh bawa masuk cowok ke dalam kamar." ucap Emma tanpa suara pada Angga.      "Kamar siapa?" tanya Angga tanpa suara pula.      "Mbak Ines." jawab Emma.      "Ohh pantes..." jawab Angga.      Emma yang penasaran mencoba melongok ke jendela yang tirainnya sedikit terbuka, karena suara derit ranjang yang terdengar samar-samar.      Namun Angga buru-buru menarik Emma. Untuk menghentikan niatnya. Emma mengangkat bahu.      "Polusi visual... udah jangan dilihat, buruan ambil id card kamu terus kita balik, laper nih." cegah Angga.      "Iya mas..." jawab Emma.      Setelah mengambil id card nya diatas lemari pakaian yang setinggi hidungnya itu, Emma meletakkan id card Seah, kemudian keluar.      Sebelum melangkah lebih jauh, Emma sempat ragu, beberapa kali dia sempat melihat kebelakang.      "Kenapa?" tanya Angga.      "Ini... perlu dilaporin nggak sih?" tanya Emma pada Angga.      Angga menghembuskan nafas panjang kemudian memegang kedua pundak Emma.      "Aku tau, maksud kamu baik, buat nggak ngedukung zina, dan buat kasih pelajaran sama mereka, tapi kamu harus ingat, Ines dan cowoknya udah pada tua udah pada ngerti mana yang baik mana yang enggak, mana yang patut buat dilakuin mana yang enggak, aku nggak nyegah kamu buat laporin mereka, toh tanpa kamu laporin mereka, kalau Tuhan udah ngebuka aib mereka juga bakalan ketauan sendiri dan bikin mereka jera. Efeknya kalau kamu laporin ke ibu kos kamu, pasti bakalan rame, bisa-bisa mereka diarak keliling kampung, kamu tau kan warga disini kaya apa, imbasnya selain bikin sakit psikologis mereka, hubungan kamu sama Ines juga nggak bakalan baik-baik aja." tutur Angga.      "Bukannya aku ngelarang kamu buat berbuat baik, masih bisa kok kalau misalnya kamu nanti kamu ajak ngomong dia baik-baik, bahwa apa yang dia lakukan itu nggak pantas, kalau misal di kemudian hari dia masih ngelakuin hal itu, ya keputusan ada di tangan kamu, tapi untuk saat ini, udah biarin aja, aku tau Ines itu cewek kaya gimana, aku nggak mau kamu bakalan dimusuhi dia padahal dia yang salah." lanjutnya.      "Iya mas aku paham maksud kamu." ucap Emma.      "Ya udah balik yuk... laper banget." ajak Angga       "Iya mas ayoo.." ucap Emma.                  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN