Seah si hypersex

2019 Kata
      Emma sudah pulang kerumah siang ini, sambil harap-harap cemas menanti Rio yang telah berjanji akan mengembalikan anaknya. Dia berbaring di tempat tidurnya sambil merasakan sisa-sisa rasa sakit yang ada.      Sementara Angga duduk di sudut kamar entah sudah berapa puntung dia dia buang kelantai, pikirannya masih kacau, tapi dia memilih diam daripada melampiaskan amarahnya.     Emma tidak mempedulikan kamarnya bah asap rokok, namun dia lebih khawatir pada edema Angga. Akan tetapi dia juga tidak berani menegur Angga. Takut cowok itu masih marah.      Angga duduk di sebuah sofa bed yang ada di dekat jendela, matanya masih menerawang jauh dan pikirannya mengembara entah kemana.      "Mas..." panggil Emma yang entah sejak kapan berada di sampingnya.      "Sayang... Kamu ngapain kesini, udah kamu istirahat ya, kamu jangan deket-deket aku dulu, aku kalau marah nggak bisa berpikir waras, takut nyakitin kamu, makanya aku menjauh." ucap Angga segera membuang puntung rokok terakhir dan mengambil yang baru.      "Udah... Kamu kalau dibiarin bakalan habis satu kotak rokok. Ingat... Kamu tuh sakit mas." ucap Emma.       Namun Angga tak mengacuhkan Emma, dia tetap menyulut rokok yang baru saja diambilnya.       Saat hendak menghisap rokok nya, Angga dikejutkan oleh Emma yang dengan cepat membingkai wajahnya dengan kedua tangan lalu mencium bibirnya, sangat dalam dan basah.      Setelah beberapa saat akhirnya Angga melepaskan rokoknya dan membuangnya dilantai. Untuk memegangi tengkuk Emma, lalu membalas ciuman Emma.      Entah berapa lama mereka melakukannya, namun begitu selesai Angga merasa segala emosi yang serasa mengganjal dadanya kini mereda bahkan cair begitu saja.      "Emma..." ucap Angga kemudian.      "Hmm.." Emma menyahut.      "Aku... Udah sembuh." ucap Angga kemudian.      "Hmm?" ulang Emma.      "Iya ternyata ciuman kamu yang ngobatin dan mampu meredam emosi ku." jawab Angga dengan jujur.      "Mending mana dari pada rokok?" tanya Emma.      "Ya beda lah sayang, tapi makasih.. sekarang jauh lebih tenang." ucap Angga.      "Iya mas... Jangan ngerokok lagi, aku nggak mau kamu sakit, kalau kamu sakit siapa yang bakal jagain aku, ngerawat aku?" tanya Emma.      "Iya... aku nggak akan sakit cuman karena ngerokok lagi sayang, kan aku udah bilang aku edema bukan karena rokok, dulu aku pemake, tapi sekarang udah nggak kok." kata Angga kemudian.      "Ya tetap aja kondisi paru-paru kamu itu unfit, nggak bisa terpapar rokok terus menerus." keluh Emma.      "Iya... Aku kurangin rokoknya. Kamu kalau sembuh bawel lagi ya." ucap Angga.      "Hmm... Sebenarnya aku belum sembuh mas, hatiku masih sakit, nggak pernah ngebayangin gimana sakitnya melahirkan dan kehilangan bayi di hari yang sama." jawab Emma sambil bersandar di bahu Angga.      "Apa aku perlu nyusulin kemana Rio pergi?" tanya Angga kemudian.      "Kamu disini aja, aku takut kamu bikin keributan yang ujung-ujungnya malah gak bisa bawa pulang anak kita mas." ucap Emma lirih.       Angga terdiam. Dia sadar emosi tidak akan menyelesaikan masalah.       "Kita tunggu saja, kalau Rio mengingkari janjinya minta papa proses kasus ini." lanjut Emma.       "Iya sayang..." ucap Angga.       Angga mengangkat Emma dan membaringkannya kembali diatas tempat tidur.       "Kamu juga harusnya istirahat. Butuh pemulihan banget sayang." ucap Angga.       "Iya mas." ucap Emma.       Tiba-tiba suara bel di depan berbunyi dengan intens sepertinya seseorang menekannya terus menerus.       Angga dan Emma berpandangan. Lalu Angga beranjak untuk memeriksanya.       "Rio..." ucap Angga begitu pintu terbuka dan melihat Rio berdiri di luar sana.       "Ikut aku sekarang, aku tau dimana Seah dan keluarganya berada, mereka berencana ke Australia esok hari, kalau kamu nggak bisa bawa pulang anak kamu sekarang, maka kamu akan kehilangan bayi itu selamanya." kata Rio.       "Emang kamu sendiri gak bisa bawa bayiku pulang?" tanya Rio.       "Dia nggak mau ngasih, tapi mungkin akan berbeda kalau kamu yang meminta." jelas Rio.       "Yaudah ayo." sahut Angga.       Angga kembali kedalam dan berpamitan dengan Emma untuk menjemput anak mereka.       Sementara Emma dirumah bersama dengan orang tua dan adiknya. Emma melamun, ingatannya sampai di perjalanan suka duka nya bersama Seah. Seah adalah gadis cantik yang ia kenal saat interview hari pertama di pabrik, satu kota dan berencana tinggal satu kos. Mereka memulai hari pertama kerja dengan saling mendukung dan menyemangati, awal kerja adalah hari-hari yang sangat pedih bagi mereka yang berlatar belakang anak perempuan dari keluarga berada. Namun mereka sama-sama bukan anak manja yang hanya mengandalkan harta orang tua untuk sekedar merasakan kehidupan remajanya. Saat pengumuman penempatan tiba, mereka harus berpisah karena berbeda departemen, Emma masuk ke Stitching A3 sedangkan Seah masuk ke Preparation A, keduanya sama-sama menjalani hari-hari mereka sebagai karywan baru dengan sangat sulit. Seah harus menghadapi GL nya yang super galak dan gila jabatan, sementara Emma yang kebanyakan Jon desc selalu kuwalahan karena harus membagi waktu untuk jalan kemana-mana. Bertahun-tahun mereka bertahan sampai akhirnya terbiasa dengan keadaan dan mulai saling membutuhkan satu sama lain, bahkan tak ada persahabatan sekuat yang mereka jalani. Pernah suatu kali saat shift malam, mereka berangkat kehujanan, hingga membuat mereka basah kuyup. Tak sengaja Emma melihat tatto di punggung Seah yang nampak karena seragam yang basah. "Se... kita ketoilet bentar." ucap Emma yang langsung menarik tangan seah. "Kenapa Emm?" tanya Seah kala itu . "Nih pakai jilbab aku, tatto kamu kelihatan." ucap Emma tanpa pikir panjang langsung membuka jilbab nya dan menyerahkan pada Seah. "Ya ampun... Bisa kena SP nih, yaudah aku pinjem ya Emm, terus kamu gimana?" tanya Seah. "Udah nggak papa, aku tadi kebetulan pesen jilbab di Mbak Tika, mungkin udah dia bawa malam ini." ucap Emma. "Gimana nih pakenya Emm?" tanya Seah yang rikuh memasang jarum pentul. "Duhh dasar cewek jadi-jadian masa iya masang jarum pentul aja nggak bisa." ucap Emma sambil tertawa. "Hehehhee habis nggak pernah pake jilbab aku Emm." ucap Seah. "Nih udah... Tuh cantik kan." tunjuk Emma pada pantulan wajah Seah di cermin. "Hehehhe iya." jawab Seah. "Yaudah kamu masuk aja duluan aku chat Mbak Tika biar langsung dianter kemari jilbabnya." Ucap Emma. "Iya Emm... Yasudah aku duluan ya, makasih banget Emm, kalau kamu nggak nemuin Mbak Tika kamu chat aku aja, biar aku pinjem in di anak-anak yang suka buka lepas jilbab di pabrik." ucap Seah. "Okkee..." sahut Emma. Namun Emma salah perkiraan ternyata batrainya lowbat karena siang tadi ketiduran tanpa sempat ngecas hp. "Yaahhhh kok mati sih, gimana dong, masa iya aku masuk gini doang." keluh Emma. Dia mengintip keluar, untuk memantau siapa tau Tika lewat di sekitar toilet karena memang toilet ini adalah toilet umum nomer satu yang terleta di sentral pabrik. Dekat lokasi scan. Di sebelah toilet tempat Emma dan Seah tadi ternyata ada sosok laki-laki yang baru saja menuntaskan rokoknya dan membuang begitu saja di pojokan. Iya dia adalah Angga dan dia mendengar semua keributan barusan di bilik sebelah. Emm yang tengah melongok keluar pintu buru-buru menutupi kepalanya dan panik masuk kembali kedalam saat Angga tiba-tiba keluar dan menatapnya. "Keluar.." ucap Angga. "Nggak mau." jawab Emma. "Nih pakai Hoodie ku, kamu bisa serutin talinya, buat masuk kedalam, nantinkamu cari lagi temen kamu yang kamu titipin jilbab." ucap Angga sambil mencantolkan hoodienya di handle pintu kamar mandi. "Balikin lewat Seah gak papa." kata Angga, kemudian berlalu. Emma dari dalam mendengar dengan seksama sampai suara langkah kaki itu benar-benar menghilang. Kemudian perlahan membuka pintu dan meraih Hoodie Angga dengan cepat. Setelah memastikan tidak ada barang milik laki-laki itu yang tertinggal dia segera memakainya. Pada saat jam istirahat tengah malam, Emma masih memakai Hoodie itu karena ternyata Tika absen hari ini dan pesanan jilbanya tidak jadi datang. "Looh Emm, ini kan hoodinya Angga, kok bisa di kamu?" tanya Seah saat mereka bertemu di kantin. "Iya tiba-tiba dia minjemin ke aku, kamu kenal sama dia? Pantesan tadi dia bilang bisa balikin lewat kamu." ucap Emma. "Iya kan dia anak Skiving satu gedung sama aku." ucap Seah. "Ganteng gak menurut kamu?" tanya Seah. "Mana kutahu se, tadi cepet banget orang dia berdiri di depan pintu aku sembunyi di dalam, bilang pake aja ntar kamu cari temen kamu, dan bisa balikin lewat Seah." jawab Emma. "Oh gitu." ucap Seah. "Kamu dekat sama dia se?" tanya Emma. "Kok kamu nanya gitu?" tanya Seah. "Aku takut kamu salah paham karena dia minjemin ini ke aku." jawab Emma. Seah justru ketawa. "Aku udah punya pacar anak fotografer Emma... Aku nggak minat anak pabrikan, lagian dia itu hardcore kalau sama cewek..." jawab Seah. "Maksud kamu?" tanya Emma. "Dia suka nginepin cewek di kosnya, dan suka ngajakin cewek ke villa, ngapain lagi coba, kalau nggak diajakin having s*x. Kamu hati-hati sama dia, jangan sampe kamu juga diperawanin sama dia." jawab Seah. Seketika Emma tersadar dari lamunannya. "Benar juga, apa dulu mereka pernah sedekat itu, Seah sampai tau mas Angga suka nginepin cewek, apa dia salah satunya. Kalau nggak... Walaupun satu departemen nggak mungkin tau sedetil itu kan." pikir Emma. "Dan apa... Seah bilang JUGA... Maksudnya dia udah diperawanin mas Angga, duhh pusing kepalaku. Tapi kalau benar begitu... "ucap Emma menggantung. Airmatanya keluar, dan langsung menghapusnya dengan kasar. "Yaudah lah .. semua orang memiliki masa lalu, dan alangkah lebih baiknya kalau aku ngga mengorek masalalu mereka, yang hanya akan membuatku terluka." ucap Emma mencoba berdamai dengan kekecewaannya. "Kalau dari awal aku sudah menerima mas Angga sebagai suami, dan aku tau dia seperti apa, maka aku harus menerima dia untuk hari ini dan seterusnya, kuharap dia tidak akan lagi mengulangi kesalahan dia. Cukup buat aku yakin untuk bisa mencintai kamu lagi mas." ucap Emma. Mata Emma menangkap kedip kedip ponsel Angga yang ada di atas meja, rupanya tadi suaminya keluar tanpa membawa ponsel. Dia membuka pesan ada pesan masuk dari spv nya. Dia berniat meletakan kembali ponsel itu. Namun Indra cewek selalu ingin mencari tau apa-apa yang berujung kekecewaan dan sakit hati. Emma membuka file manager, kemudian mencari trash, dia membuka fil tersembunyi yang tidak bisa diakses oleh kebanyakan pengguna ponsel. Emma menemukan foto dan video yang dihapus Angga lebih dari satu tahun lalu. Ada sebuah video yang membuatnya terkesiap yaitu video Seah yang tengah having s*x bersama Angga, dalam video itu Seah masih berambut pendek yang artinya itu lama banget sebelum Angga jadian dengan Emma. Video diawali dengan vlog Seah yang menunjukkan kamar mereka disambut Angga yang langsung mencium dan melumat bibir Seah, kemudian mulai menggiring Seah keatas tempat tidur. "Udah nggak mau rekam." ucap Seah manja. "Buat kenang-kenangan aja, janji nggak akan kesebar." bujuk Angga. Seah terus merekam bahkan gantian tangan Angga yang memegang ponsel meletakkannya diatas nakas dan mengarahkan kamera ke mereka berdua yang sudah naked diranjang. Emma buru-buru men scroll lainnya dan tidak ingin melihat video semacam itu lagi, sudah cukup dia melihat Angga tidur dengan cewek lain termasuk mantannya. Emma menemukan video lain, kali ini hanya Seah sendirian, dai duduk mengangkang di depan kamera sambil mulai memasukkan jemarinya kedalam liang surgawinya. Sesekali Seah mendesah dan menjilat jari-jari nya yang sudah basah oleh cairan wanitanya. "Yaampun gila... Seah ngirim video gini ke mas Angga?" ucap Emma sambil menutup mulutnya karena syok. Banyak video serupa termasuk di kamar mandi di kamar kosnya. Namun ada yang lebih mengejutkan lagi, Seah pernah melakukannya bertiga dengan Angga dan Bayu sekaligus, dan dilihat dari tanggal video itu adalah saat Seah sudah berpacaran dengan aji. Video threesome ini dimulai dengan Bayu yang mabuk, dia menggoda Seah dan berujung seah mengajak serta Angga. Mereka saling memuaskan satu sama lain, suara desahan dari penyatuan mereka sangat berisik. Emma tidak pernah menyangka kalau selama ini Seah yang dia kenal begitu hobi menelanjangi dirinya di depan laki-laki. Ada juga video rekam layar vc Seah yang tengah asyik memain kan dildo sampai squirt. Hal itu juga terjadi sebelum Angga dekat dengan Emma. Dan terakhir adalah video Seah yang tengah bercinta dengan Aji, juga dikirimkan ke Angga. "Gilaa sih kalau ini apa an coba maksudnya. Parah Seah." ucpa Emma sia segera menghapus semua trash di file manager itu dan tak ingin melihatnya lagi. "Sumpah se... Aku nggak menyangka kamu cewe seperti itu. Mungkin juga respect ku ke mas Angga akan berbeda, walaupun aku mencoba biasa saja." batin Emma. Emma maish terdiam, dia menyadari bahwa selama ini yang ditampilkan Seah di padanya nya hanyalah topeng, sebenarnya dia doyan s*x tidak peduli dengan siapa saja. "Pantesan waktu itu Alya pernah bilang kalau p******a Seah beda dari pertama kali mereka bertemu, ternyata karena hormon yang merubahnya." batin Emma. "Harusnya aku tau ngapain aja selama ini Seah dibelakang aku." lanjut Emma. Dia meremas sprei Menahan gejolak yang ada di dadanya. Walaupun tidak mungkin dia meminta Angga menjelaskan semuanya, tapi diam juga membuatnya makin stress, hal ini tentu tidak akan baik pada impact nya terhadap kesehatan mental pasca melahirkkan            
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN