Hasil Tes DNA

2093 Kata
     Saat Angga dan Adel tengah mencak-mencak karena memang mereka menjadi saksi bahwa bayi yang sekarang berada di gendongan Emma bukanlah bayi yang Emma lahirkan, tiba-tiba papa dan mama Emma datang.      "Pa... Angga berani sumpah, bayi kami bukanlah yang ini, angg liat sendiri, sebelum dan sesudah bayi kami dibawa untuk dibersihin, wajahnya beda, dan ada tanda lahir di belakang lehernya." ucap Angga.      "Bener pa, bayi mbak Emma tadi sangat ganteng, putih bersih. Adel lihat sendiri kok pa." tambah Adel.       Mama emma mengajak mereka menjauh. Untuk menghindari Emma stres pasca melahirkan, karena mnedengar hal yang tidak-tidak di telinganya.       "Papa yang urus masalah ini." ucap Papa Emma.       "Angga ikut pa." sahut Angga dengan emosi yang tak tertahan, rambutnya berantakan dan penampilan nya sangat kacau. Dia begitu syok melihat kenyataan yang ada.       "Ini pasti ada sesuatu karena tadi Adel lihat Seah ada di sini sama Rio." ucap Angga.       "Kita periksa cctv!" ajak papa Emma.       Mereka langsung menuju ruang security untuk melihat langsung rekaman cctv di ruangan bayi.       Tidak ada yang aneh sama sekali, ya memang mereka sengaja menghapus rekaman saat kejadian berlangsung.      Awalnya pihak klinik menolak untuk memperlihatkan cctv, namun karena papa Emma menggunakan wewenangnya sebagai anggota kepolisian maka di perlihatkanlah cctv yang sudah di rekayasa tadi.       "Kenapa tidak terekam di cctv kejadian jam 8 malam, kalian pasti sudah merekayasa bukti elektronik." ucap Angga.       "Maaf pak, jam 8 sampai jam 9 tadi kami mengalami tehnical error, tidak hanya cctv di ruang bayi, tapi semua ruangan juga mati." jawab security.       "Nggak kalian memang sudah merencanakannya, iya kan...." bentak Angga.       "Angga tenangkan diri kamu." ucap papa Emma.       "Pa... Gimana aku bisa tenang, anak aku nggak tau ada dimana diambil siapa, dan sekarang Emma sedang menyusui bayi yang bukan anaknya." ucap Angga gemetaran menahan emosi.       "Iya papa tau... Kita minta tes DNA." ucap papa.       "Iya baiklah kita akan melakukannya." ucap Angga.       Seusai permintaan keluarga Angga, malam ini juga dilakukan pengambilan sampel dari Angga dan bayinya untuk dilakukan tes DNA.      "Kurang lebih hasilnya akan keluar dalam kurang lebih 24 jam lagi." ucap dokter.       "Saya tidak segan untuk memenjarakan kalian semua kalau terbukti adanya rekayasa malam ini." ancam Angga.       Sementara Emma tidak ambil pusing kelakuan suaminya yang dia pikir Angga hanya syok karena memiliki bayi down syndrom.       Karena takut akan baby blues Angga maupun keluarga Emma tidak ada yang memaksakan meyakinkan Emma bahwa yang dia gendong bukanlah putranya.       "Ma... Emma bisa kok ngebesarin bayi down syindrom ini, tolong mama jangan perlakukan dia beda ya ma, gimanapun dia anak Emma. Cucu mama." ucap Emma sambil menatap bayi yang ada di dekapannya dengan penuh kasih.       Sementara mama Emma hanya menganggukkan kepalanya, telah banyak hal Emma lalui sampai hari ini, dan dia melihat Emma begitu bahagia menimang bayi nya, tidak akan tega dia merampas kebahagiaan itu.      24 jam kemudian, peralatan medis Emma telah dilepas, Emma sudah diperbolehkan pulang dengan bayinya. Namun mereka masih stay untuk mengetahui hasil tes DNA.      Hasilnya pun keluar. Dan dokter menyerahkan selembar kertas itu kepada Angga dan papanya.      Angga menerima kertas itu dengan tangan bergetar, dia membaca keterangan yang ada di dalam kertas itu.      "Penentuan profil DNA dengan menggunakan metode standard terhadap sample darah atas nama Nathan Yuda Anggara sebagai terduga ayah, dan sampel usapan selaput lendir pipi pada bayi baru lahir dari seorang ibu bernama Emma Salsabila. Bukti ilmiah yang diperoleh dengan mengacu pada sampel, menunjukkan bahwa 20 dari 21 alel Loci Marka STR yang dianalisa dari terduga ayah Nathan (Angga) cocok dengan alel paternal dari bayi baru lahir tersebut. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa  probabilitas ayah Nathan dengan bayi baru lahir adalah 99%. Oleh karena itu Nathan Yuda Anggara terduga ayah, adalah memang ayah biologis dari bayi baru lahir tersebut. " Baca Angga, seketika tubuhnya lunglai.      "Gilaa sih ini, benar-benar gila..." Adel merebut kertas itu, lalu membacanya sendiri.      "Ehhhh apaan sih inias, mereka juga merubah hasil tes DNA nya." kata Adel.       "Gila nggak sih ini..." ucap Adel.       "Kau tenang aja, aku bakalan nemuin anak ku secepat mungkin, kamu tunggu sini dan jagain mbak ya." pinta Angga.      "Iya mas." jawab Adel.      "Pah... Angga mau temuin Seah sama Rio bentar pa. Tolong jagain Emma ya pa." pamit Angga sambil mencium tangan mertuanya.      "Kalau ada apa-apa langsung telpon papa." Tegas papa Angga.      "Baik pa..." jawab Angga.      Angga berjalan penuh amarah, dia langsung menerobos ke front office untuk mendapatkan alamat Seah.       "Memilih gambar tatto seperti memilih seorang istri, bakalan nemenin kita sampai akhir usia. Jadi kalau bisa nggak boleh asal, gimanapun itu gak bakal bisa di hapus sampai kita mati, Dan aku sengaja bikin gambar jangkar ini sekilas memang seperti menggambarkan seorang Pelaut, namun arti sesungguhnya adalah simbol yang memiliki arti, Perlindungan, Harapan & Pengorbanan. Lebih ditunjukan sebagai rasa Tanggung Jawab sebagai Kepala Keluarga. Dan aku buatnya setelah ayah ku meninggal." Angga mengingat kembali penjelasan mengenai alasan kenapa dia bertatto. Dan sekarang dia telah menjadi ayah, apapun akan ia lakukan demi putra tercintanya.       Setelah mendapatkan alamat Seah,  yang ternyata tidak begitu jauh dari rumah Emma, Angga lantas mengemudikan mobilnya menuju alamat tersebut.      Namun dia salah begitu sampai dirumah Seah dia hanya mendapati alamat rumah kosong tak berpenghuni. Seperti nya kelahiran anak Seah di klinik inipun penuh kebohongan.      Angga memukul keras kemudinya, dia menepikan mobilnya karena tidak mau mengemudi sambil emosi.      Sementara itu Rio tersenyum cukup puas kali ini, usahanya tidak akan pernah gagal. Dia memang tidak tahu kalau Seah bakalan melahirkan bayi yang down syndrom karena usahanya berkali-kali untuk menggugurkan bayinya.     Namun Rio langsung mendapat ide, yang begitu saja disetujui oleh orang tua Seah yang merupakan konglomerat dan berani membayar untuk apapun dengan alasan apapun, orang tua Seah memalsukan alamat tempat tinggal mereka di buku kunjungan pasien, meminta mereka menghapus rekaman cctv, mencuri sample DNA bayi kandung Angga, karena mereka tau Angga pasti akan mengambil cara untuk tes DNA.      Sekarang bayi Emma ada pada Seah dirumah nya yang asli. Sementara itu dengan tersenyum licik, Rio mulai kembali ke klinik untuk memantau se stress apa Emma.     "Seperti ini rasanya menang banyak." gumam Rio.     Akan tetapi Rio tidak menyangka apa yang akan terjadi di depan matanya akan merubah segalanya tentang persepsi membalas dendam.     Sementara itu di klinik. Emma mulai panik karena bayinya membiru.     "Ma... Mama kenapa bayi ini ma?" tanya Emma pada mamanya.      Papa mama dan juga Adel langsung mendekat. Mereka juga panik dan langsung memanggil dokter.      Emma berjalan mengikuti kemana para dokter membaya bayi itu pergi. Juga adik dan orang tuanya.      Hampir 45 menit mereka berjuang didalam sana, kemudian keluar dengan sangat menyesal.      "Maaf Bu Emma, bayi ibu telah meninggal karena gagal jantung, bayi ibu lahir dalam keadaan tidak sempurna organ dalamnya. Mohon maaf sekali lagi Bu. Kami sudah melakukan yang terbaik." jelas dokter.      "Ya Allah dek..." ucap Emma sambil memeluk adiknya.       "Mbak.... Sadar dong, itu bukan bayi mbak Emma, itu hanya bayi orang yang ditukar sama bayinya mbak, ikhlasin mbak, mbak Emma udah nyusuin dia tadi, udah cukup, mas Angga masih mencari dimana bayi mbak Emma." ucap Adel.      Emma yang berharap mendapatkan dukungan dari adiknya, karena kejadian yang baru saja menimpanya. Justru semakin down dengan kata-kata yang terucap kencang dari mulut adiknya.     "Kamu nggak pernah tau rasanya jadi mbak... Bagiamana rasanya berusaha menerima kenyataan bahwa bayi kami diculik, diganti dengan bayi down syndrom yang dibuang orang tuanya, lalu mengasihi sepenuh hati, tapi bayi itu meninggal ditangan mbak, kamu nggak pernah tau rasanya." ucap Emma sambil berlari keluar dari klinik.     "Mbak..." panggil Adel.     "Mbak kamu butuh waktu sendiri, saat-saat seperti ini memang sangat sensitif Adel, kamu harus lebih sabar, emosi hanya akan memperburuk keadaan." ucap mama Emma.     MSementara di tepat lain, mendekati klinik bersalin tempat Emma dan Seah melahirkan tadi, Rio semakin memacu mobilnya dengan kencang, dia ingin segera tiba di sana. Dan melihat Emma meratapi bayinya yang cacat. Namun tak disangka tiba-tiba Emma muncul di depan sana, seketika Rio membanting stir, bagaimanapun dia tidak ingin membunuh gadis yang pernah dia cintai bahkan sampai saat ini.      Rio bergegas turun dan memastikan dirinya tidak menabrak Emma, namun nyatanya energi dan kondisi Emma yang belum pulih pasca melahirkan tetap membuat Emma pingsan di tengah jalan.      Rio langsung berlari mendekat untuk menolong Emma. Sementara itu di lain tempat. Ponsel Angga berbunyi ada telpon dari Adel.      "Ada apa Del?" tanya Angga yang sudah mulai mereda emosinya.      "Mas... Mbak Emma kabur, dia sangat depresi karena bayi down syndrom itu barusan meninggal karena gagal jantung, yahhh begitu lah mbak Emma jadi sangat frustasi dan depresi.. Entahlah pokoknya dia sedih banget, dia menangis saat kami masih menunggu proses pemulangan kematian bayi tadi oleh dokter. Ini aku sedang cari dia, cepet pulang mas, aku takut mbak Emma nekat." ucap Adel.      "Apa... Bayi itu meninggal?" tanya Angga dalam hati.         "Iya Del... Aku pulang sekarang." Sahut Angga.      Dia segera memutar balik mobilnya dan kembali ke klinik. Sementara itu Riomengangkat Emma untuk dievakuasi dari tengah jalan, dan langsung membawa Emma ke UGD.      Dia sama sekali tidak menyangka Emma bakalan melakukan hal ini, dia ingin bunuh diri dengan menabrakkan dirinya di depan mobil, yang tengah ia kemudikan. Antara bersyukur dan menyesal, dia bersyukur karena masih sempat menghindari Emma dan menyesal karenanya Emma ingin mengakhiri hidupnya, mungkin memang sudah keterlaluan bagaimana dia membalas dendam pada Emma. Apakah harus segitu kejamnya dia menyakiti Emma karena dendam cinta ditolak.      "Emma kamus sudah sadar?" tanya Rio begitu Emma membuka mata di UGD.       "Kenapa tadi kamu nggak bunuh aja aku sekalian Yo. Aku tau bayiku ditukar dengan bayi down syndrom, itu kamu sama Seah kan, aku mencoba menerimanya, aku mencoba menyanyanginga, namun masih dengan kejam takdir memisahkan aku lagi dengan bayi yang harusnya bisa aku besarkan dengan penuh kasih sayang, Tuhan kembali mengambil bay itu." ucap Emma.      "Maksud kamu apa Emm?" tanya Rio.      "Bayi itu mengalami gagal jantung, dan meninggal tanpa aku bisa menolong nya, apa gunanya aku hidup, bayi aku diambil, kehidupanku diambil." ucap Emma dengan berurai airmata.      "Emm..." Rio duduk di samping Emma.       "Maafin aku, memang... Kamu benar aku yang udah nukar bayi kamu sama Seah. Maafin aku Emma, mungkin cinta ini udah benar-benar buta dan berubah jadi rasabenci. Tapi setelah melihat betapa kamu amat kehilangan bayi itu, aku jadi merasa bersalah, aku emang salah Emma aku nggak harus main-main sama kehidupan orang lain, aku akan berusaha mendapatkan kembali bayi kamu." ucap Rio.      "Cukup... Jangan lakukan apapun, aku nggak mau kamu malah ngebunuh bayi aku." ucap Emma.      "Aku janji Emm... Aku akan memperbaiki semuanya." kata Rio.      Rio berdiri dan hendak keluar mencari dimana Seah membawa bayi Emma.      Namun baru saja Rio hendak keluar, Angga langsung menghantam dan memukul Rio berkali-kali.      "Apalagi sekarang hah? Belum puas juga kamu, mau lihat sampai Emma mati didepan mata kamu." ucap Angga meluapkan segala amarahnya pada sosok yang dulu menjadi teman seperjuangan nya.      "Ma...maafin aku ngga, aku janji akan balikin bayi kalian, dan aku nyesel banget, sumpah aku nyesel banget udah bikin Emma kaya gini." ucap Rio.      "Sampai dunia kiamat pun aku nggak akan maafin kamu." Teriak Angga sambil menendang Rio yang sudah jatuh tersungkur dari tadi.      "Terserah kamu mau percaya atau nggak yang jelas aku akan membuktikan ucapanku." ucap Rio sambil tertarih bangun.      "Jangan pernah tunjukkin diri kamu lagi didepan Emma, atau aku yang akan mengakhiri nafas kamu hari itu juga." tandas Angga.      Rio berjalan keluar dari UGD dan mencoba menghubungi Seah.      Angga duduk di sebelah Emma dengan nafas masih berat dan wajah memerah. Dia membuka jaketnya dan meletakkan disamping Emma.      Kemudian berdiri lagi tanpa memandang Emma.      "Mas... Mau kemana?" tanya Emma.      "Aku akan cari bayi kita sayang." jawab Angga.       "Disini aja, aku juga butuh kamu. Rio bilang dia akan kembalikan bayi kita." ucap Emma.       " Kamu masih percaya sama b******n itu?" tanya Angga tanpa sadar nadanya kembali meninggi hingga membuat Emma ketakutan.       Angga menarik nafas dalam-dalam. Dia memukul dinding di sampingnya.       "Kamu ingat arti tatto bunga lotus Dala kubangan yang ada di punggung ku?" tanya Angga.       Emma mengangguk pelan, Angga yang oenuh amarah seperti ini tidak pernah ia lihat sepanjang hidupnya.       Angga sendiri berusaha mengendalikan emosinya agar tidak sampai melukai Emma dengan kata-kata nya.      Dia menangkupkan kepalanya diatas tempat tidur Emma sambil mencengkeram rambutnya. Emma mencoba duduk dan meraih tangan Angga yang mengeras. "Jangan marah-marah mas... Kamu membuatku takut, biarkan Rio memperbaiki kesalahannya. Dia pasti bisa membawa anak kita kembali, dia sudah sangat menyesal tadi karena aku... Aku hendak menabrakkan diri pada sebuah mobil, yang terngata itu adalah mobilnya dia." ucap Emma. Angga langsung bangkit. Mendengar penjelasan Emma. "Maaf ibu... Kami periksa dulu ya." ucap seorang perawat. "Iya sus..." ucap Emma. Mereka berdua saling berdiam diri dalam waktu yang lama sampai perawat itu selesai memeriksa Emma. "Kondisi ibu nggak papa kok pak, hanya perlu memulihkan tenaganya saja, hari ini boleh pulang, yang penting jaga kesehatan, kebersihan dan nggak boleh stres ya." Tutur perawat tadi. "Iya sus.. makasih." ucap Emma dan Angga bersamaan.          
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN