Pasti gak sabar nunggu hasilnya kan... Sama kaya Angga. Tapi tenang hasilnya negatif kok. Dan itu artinya Emma aman untuk menyusui dan berinteraksi dengan bayinya kelak.
Time flies so fast. Kandungan Emma memasuki trimester ketiga, tepat nya bulan ke 9. Dia sudah bisa berjalan tanpa alat bantu walaupun tidak bisa secepat dan segesit dulu.
Ditambah kondisinya yang tengah hamil membuatnya cepat lelah. Siang ini Emma mengajak suaminya yang tengah libur untuk membeli perlengkapan bayi. Karena sudah mendekati hpl.
Mereka menuju sebuah baby shop dan mulai memilih-milih semua perlengkapan dengan warna netral yang bisa digunakan untuk bayi cewek dan cowok. Karena sampai terakhir kali mereka USG, jenis kelamin anak mereka belum juga terlihat.
"Apa aja sayang?" tanya Angga.
"Ehmm... Yang penting sih baju bayi, bedong, popok, diaper, selimut bayi, celana, kaus kaki, sarung tangan, tempat tidur, sepatu, topi, stroller... ucap Emma terpotong.
"Intinya semua penting ya." ucap Angga.
"Hehhehe iya." jawab Emma.
"Yaudah ayo sayang aku bantuin." ucap Angga. Mereka berdua lantas masuk kedalam baby shop dan mulai memilih barang-barang yang mereka butuhkan.
Banyak banget belanjaan mereka kali ini. Usai berbelanja dan Angga membayar semuanya, mereka langsung pulang, Saat Angga masih memasukkan barang-barang kedalam bagasi, Emma sudah terlebih dulu masuk ke mobil.
"Sayang kamu nggak papa?" susul Angga.
"Enggak mas... Cuman capek banget rasanya." jawab Emma.
"Oh yaudah kalau nggak kenapa-napa, aku lanjutin masukin belanjaan bentar ya kurang dikit kok." pamit Angga.
"Iya mas." jawab Emma.
Setelah semuanya selesai, Angga bergegas masuk ke mobil untuk membawa Emma pulang kerumah.
"Beneran nggak papa?" tanya Angga.
"Iya mas... Rasanya capek banget, punggung sakit, dan bayi nya kayanya udah bentar lagi lahir deh mas, karena rasanya udah benar-benar dibawah banget. Sampek nyeri." ucap Emma.
"Hahh?" tanya Angga panik.
"Mass.. aku cuma bilang bayinya kerasa dibawah, kan emang kalau kepala bayi udah masuk pinggul rasanya gitu, jangan panik, selalu deh panikan." ucap Emma.
"Ya gimana nggak panik, aku khawatir kamu kecapekan dan pengaruh ke bayi kita." ucap Angga.
"Enggak mas.. lagian juga hpl nya seminggu lagi kan." ucap Emma.
"Iya jadi deg-degan, aku cuti aja sayang ya, nemenin kamu sampai anak kita lahir." pinta Angga.
"Iya mas... Aku malah seneng kalau kamu ada dirumah, pas tidur malem ada yang gosokin punggung. Hehehhe." ucap Emma.
"Emang sakit banget sayang ya?" tanya Angga.
"Enggak sakit mas, cuma nggak nyaman aja, rasanya nggak enak buat ini itu, tapi kalau diusap-usal punggung rasanya mendingan mas." jawab Emma.
"Oh gitu sayang ya, yaudah habis ini biar aku usap-usap kalau sampai rumah ya." ucap Angga.
"Iya mas, makasih." jawab Emma.
Sampai dirumah Angga mengantarkan Emma masuk dulu baru membereskan belanjaan. Emma berbaring menghadap ke tembok sementara Angga menata belanjaan Serapi mungkin di kamar.
"Mas... Mbak kenapa? Kok tumben langsung tidur?" tanya Adel sambil mengintip mereka berdua kedalam kamar.
"Kecapek an, tadi belanja banget, capek jalan milih-milih. Yaudah pulang langsung mas suruh istirahat." jawab Angga.
"Masuk aja dek!" ucap Angga.
"Nggak papa?" tanya Adel.
"Nggak papa, temenin kakak kamu, mas mau keluar bentar." ucap Angga sambil menata barang terakhir kemudian keluar.
Dia lantas duduk-duduk di teras sambil menyulut rokok. Dia sendiri capek apalagi Emma.
"Adel..." ucap Emma begitu melihat yang ada disebelahnya adalah Adel bukan Angga.
"Iya mbak, mas Angga tadi pamit keluar bentar." jawab Adel.
"Oh yaudah, temenin mbak ke kamar mandi yuk." pinta Emma.
"Iya mbak." Adel membantu Emma bangun.
Emma kaget begitu berada di kamar mandi. Dia melihat noda pink di celana dalamnya.
"Hahh apa mungkin aku akan melahirkan hari ini, maju seminggu dari hpl, untung tadi udah belanja." ucap Emma, setelah menuntaskan buang air kecilnya dia lantas keluar.
"Mas Angga belum datang?" tanya Emma.
"Oh dia ada diluar mbak, lagi ngerokok." jawab Adel.
"Ya ampun tuh anak, udah sakit juga masih sembunyi-sembunyi rokok an." ucap Emma.
"Dek... Tolong siapin tas mbak yang warna hitam, didalamnya ada buku warna pink, terus kamu ambil beberapa baju bayi lengkap termasuk bedong dan lainnya. Bisa kan?" tanya Emma.
"Bisa... Emang kenapa mbak? Mbak Emma udah mau melahirkan?" tanya Adel.
"Udah ngasih tanda sih, mbak mau bikin jalan-jalan terus biar nanti cepet prosesnya." jawab Emma.
"Lahhh tapi kan mbak Emma udah kecapekan, gimana kalau nanti kehabisan tenaga pas kontraksi?" tanya Adel.
"Udah... Jangan khawatir, nggak akan terjadi." jawab Emma.
"Yaudah aku siapin dulu ya mbak, mbak Emma mau ke mas di depan?" tanya Adel.
"Iya Del." jawab Emma.
Emma berjalan kedepan menemui suaminya. Yang tengah asyik merokok sambil menonton sebuah pertandingan sepak bola di YouTube.
"Mas..." sapa Emma.
"Iya sayang... Loh kok kamu udah bangun?" tanya Angga sambil buru-buru membuang rokoknya.
"Iya nggak bisa tidur... Mas aku mau bilang sesuatu tapi kamu jangan panik ya." ucap Emma tersenyum.
"He em... Apa?" tanya Angga.
"Mas aku kayanya mau lahiran deh, kita ke klinik yuk." ucap Emma pelan-pelan.
Seketika Angga starstruck.
"Hah... Iya iya... Ayo kita berangkat." ajak Angga.
"Kamu jangan panik, nanti malah gak bisa berpikir jernih, tenang aja aku belum ngerasa sakit sedikitpun kok." ucap Emma.
"Iyaaa sayang, nih aku tenang kok. Tenang kan?" ulang Angga.
"Iya... Yaudah kita tunggu Adel, dia lagi nyiapin barang-barang aku yang harus dibawa." ucap Emma.
"Iya sayang..." kata Angga, dia berjalan ke garasi untuk mengeluarkan mobil.
Bersamaan dengan itu Adel keluar sambil membawa ransel.
"Mbak udah... Ini aku udah siapin semuanya mbak." ucap Adel.
"Iya makasih." ucap Emma.
Setelah Angga siap Dengan mobilnya mereka lantas masuk dan dengan sigap Angga membawa mereka ke klinik yang paling dekat dari rumah.
Sampai di sana pihak klinik segera mendapingi dan memberikan pertolongan. Pertama-tama dokter kandungan memeriksa bukaan yang sedang berlangsung.
"Masih bukaan dua longgar ya ibuk, nggak papa ditunggu di sini saja, nggak perlu pulang lagi, bisa sambil jalan-jalan disekitar sini dulu." ucap dokter.
"Iya dok." jawab Emma.
Dokter menunjukkan ruang bersalin, Emma dibantu Adel berjalan dan masuk keruangan itu. Disana sudah ada 3 calon ibu yang masih berjuang juga.
Suara rintihan mereka begitu menyayat hati, sangat kesakitan, bahkan menangis dan berteriak.
Angga jadi gemetar, dia mengusap perut emma. Sambil berbisik.
"Dek... Berjuang sama mama ya, kamu anak yang kuat, keluarnya jangan lama-lama, kasian mama. Kalau kamu nakal-nakal, bikin Mama berjuang sendirian, pas keluar papa cubit loh ya." bisik Angga yang langsung dibalas cubitan di lengan Angga.
"Ya nggak gitu mas minta kerjasamanya." ucap Emma berusaha menahan tawanya.
"Yang ada si dedek malah gak berani keluar kalau diancem papanya mau dicubit." tambah Adel.
"Ayo mas keluar bentar aku bisa stres kalau di dalam sini dengar suara mereka seperti ini." ucap Emma.
Angga lantas mengajak Emma berjalan-jalan diluar ruangan, sementara saat melewati sebuah bilik yang sedikit terbuka dia melihat Seah yang ada di dalam sana. Dia tengah berjuang melahirkan anaknya ditemani kedua orangtuanya.
Namun dia tidak salah melihat, ada Rio yang menaminya juga diruangan itu. Entah apa hubungan mereka namun keduanya adalah dua orang yang sudah membuat hidup Emma sulit beberapa waktu yang lalu.
Adel mempercepat langkahnya, mensejajari kakaknya.
"Mbak... Tadi aku liat Rio sama Seah." ucap Adel.
"Ehhh nggak sopan panggil nama doang, mereka lebih tua dari kamu loh Del." tegur Emma.
"Aduuhh kalau buat dia orang seperti mereka mah gak perlu sopan santun." Kata Adel.
"Mereka ada di mana?" tanya Angga.
"Tuh mas lagi nungguin Seah lahiran si Rio nya, emang apa hubungan mereka, apa Rio nikahin Seah, ya nggak papa sih sama-sama trouble maker." kata Adel.
"Ohh Seah lahiran juga hari ini?" tanya Emma.
"Iya mbak, tuh tadi yang ada di bilik pertama." jawab Adel.
Emma memilih berjalan-jalan tanpa alas kaki disekitara depan ruang bersalin, dia mulai merasakan mules-mules ringan, mungkin bukaanya sudah mulai bertambah.
Sementara Angga dengan cemas memperhatikan Emma dari tempatnya berdiri.
Istrinya nampak tenang menghadapi situasi seperti ini namun dirinya sungguh tidak bisa mengontrol kegelisahan dan kecemasan nya.
"Mas aku barusan browsing mengenai tugas kamu saat nungguin istri melahirkan, pertama kamu nggak boleh panik mas, saat melihat mbak Emma kesakitan karena kontraksi, cobalah untuk tidak panik. Disini ditulis karena dengan panik Anda hanya akan menambah beban emosi sang istri dan juga mengganggu kerja para dokter dan suster di ruang bersalin." ucap Adel membaca tulisan di ponselnya untuk Kakak iparnya.
"Oh... Ya terus-terus." ucap Angga.
"Kedua.. Saat melahirkan, istri Anda sedang sangat membutuhkan dukungan dari Anda. Alihkan perhatiannya dari rasa sakit yang sedang ia alami dengan mengajaknya mengobrol, atau memberikan headset agar dia bisa mendengarkan musik yang menenangkan. Ibu yang rileks akan membuat proses persalinan berjalan lebih mudah." lanjut Adel.
"Ketiga?" tanya Angga.
"Ketiga... Apapun bisa terjadi saat proses melahirkan berlangsung, tetaplah berpikir jernih agar Anda bisa memutuskan hal terbaik bagi istri. Akan lebih baik bila Anda mendiskusikan apa yang diinginkan oleh istri sebelum kontraksi terjadi, agar Anda bisa memastikan segala keinginannya terpenuhi. Saat ibu tengah berada dalam proses melahirkan, pikirannya akan terfokus pada rasa sakit yang ia alami. Karena itu, Anda berperan penting untuk memberi keputusan pada dokter saat situasi darurat terjadi. Jangan pernah ragu untuk bertanya pada dokter apa yang sebaiknya dilakukan, saat Anda menemui situasi yang membuat dilema atau istri tiba-tiba berubah pikiran. Yang tadinya ingin melahirkan normal, berubah jadi ingin melahirkan secara caesar."lanjut Adel.
"Iya terus ..." Kata Angga.
"Keempat... Ibu bisa berubah menjadi panik saat berada di tengah proses persalinan, hal ini bisa menghambat jalannya proses tersebut. Oleh karena itu, Anda harus bisa membuat istri tetap fokus pada proses kelahiran itu. Bisikkan kalimat penyemangat dan kata-kata cinta di telinga istri Anda agar ia tidak memikirkan hal-hal yang buruk. Anda juga bisa membantu memijat punggung dan lehernya jika ia meminta." lanjut Adel.
"Saat melahirkan, sang istri bisa berubah menjadi orang yang tidak Anda kenal. Ia bisa mengeluarkan kata-kata kasar atau bahkan berbuat kasar seperti menjambak dan melukai tubuh Anda.
Hal ini dikarenakan sakit luar biasa yang ia alami hingga ia tak bisa lagi berpikir jernih.
Jangan pernah mengambil hati setiap ucapan dan perbuatan yang istri Anda lakukan saat ia sedang berada di puncak rasa sakit. Anda bisa keluar dari ruang bersalin sebentar untuk menenangkan diri atau memberi kesempatan pada istri Anda untuk menjadi lebih tenang tanpa kehadiran Anda." jelas Adel.
"Udah cukup Del... Mas kok tambah gugup setelah kamu bacain tadi ya, duh gimana nih." ucap Angga.
"Ya ampun mas... Lihat mbak Emma yang bakalan ngelewatin rasa sakit yang teramat itu pun bisa tenang lihat dia tetap berjalan untuk membuat bayinya makin masuk ke pinggul." tunjuk Adel pada kakaknya.
Angga menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya. Benar kali ini tugasnya adalah suami dan orang tua bagi istrinya, karena kedua ornag tua mereka masih sibuk dan tidak bisa dihubungi.
"Semangat mas... Bentar lagi lagi jadi bapak." kata Adel.
"Jangan liatin ke mbak kalauas Angga ketakutan, kasian mbak Emma mas." ucap Adel.
"Iya Del aku tau, tapi rasanya sulit banget, emang dasar suami gak guna." ucap Angga.
Emma tiba-tiba berhenti dan memegangi perutnya yang semakin sakit rasa kontraksinya.
"Mas-mas itu mbak Emma." ucap Adel sambil menunjuk kearah Emma.
Angga langsung berlari mendapati bahwa Emma tengah pucat pasi menahan kesakitan.
Dia menggendong Emma kembali masuk ke ruang bersalin.
Dokter kembali datang untuk memeriksa bukaan Emma.
"Yakin ya ibu... Harus semangat berjuang bersama dedek ya, nggak ada masalah apa-apa, dan bisa melahirkan normal kok." ucap dokter.
"Udah buka berapa dok?" tanya Angga.
"Cepet loh pak, ibunya udah sampai bukaan 5." jawab Dokter.
Adel sendiri sangat tegang, karena dia sudah browsing bakalan lebih sakit dan sakit lagi setelah ini.
Dan benar saja detik jam makij bertambah reaksi kontraksi yang dirasakan Emma semakin menjadi, dia bahkan menangis sambil meremas lengan Angga.
"Semangat sayang ya, kurang bentar lagi." ucap Angga sambil mengusap keringat yang ada di wajah Emma.
Dokter dan perawat mulai stay didalam, dan erangan Emma semakin keras dengan tempo yang semakin intens.
"Sungguh seperti ini perjuangan seorang ibu melahirkan anaknya." ucap Angga dia ingin menangis melihat Emma yang menagis kesakitan.
"Del... Kamu telpon mama sekali lagi ya, siapa tau udah bisa dihubungi." pinta Angga.
"Iya mas..." Adel lantas menelpon mamanya.
"Alhamdulillah udah sampai bukaan sepuluh. Bertahan ya ibu, disini rasanya ingin sangat ngejan, tapi jangan ngejan dulu kalau dokter belum memberi aba-aba ya." ucap perawat.
Emma mengangguk, dan memang benar rasa sakit yang tadi sudah benar-benar sirna, berganti dengan rasa ingin ngejan dan sembelit luar biasa.
"Mas .. aku pingin ngejan." ucap Emma tertahan.
"Bentar ya.. tunggu kata dokter." ucap Angga.
"Udah nggak tahan." kata Emma.
"Bentar ya ibu, setelah ini ngejan kok, dan pinggilnya harus tetap nempel dikasur gak boleh terangkat ya Bu." pesan perawat.
Emma hanya mengangguk karena dia sudah browsing juga sebelumnya mengenai proses persalinan.
Dan tiba waktunya Emma untuk mengeluarkan bayinya, dia terus mengejan dengan kuat.
Setelah proses yang melelahkan akhirnya bayi Emma lahir juga ke dunia, bersamaan degan kondisi Emma yang lemah dan pingsan.
"Sus ganti lagi kantong darahnya." ucap dokter.
Dan ini adalah kantong darah ke enam yang Emma habiskan sepanjang siang sampai malam tiba.
Dokter segera menggunting tali pusar kemudian menyerahkan bayi itu kepada Angga. Karena Emma masih belum siuman.
"Nggak papa pak, ibu Emma akan sadar sebentar lagi, dia kehabisan energi dan juga darah. Dia sudah mengalami pendarahan sejak bukaan dua tadi." jawab dokter.
Angga mengAngguk mengerti akan penjelasan dokter.
Dokter itu meminta bayi Angga untuk dibersihkan terlebih dulu.
Sementara Angga nemenin Emma sampai tersadar. Saat Emma tersadar dia melihat seorang dokter membawa kembali bayi mereka, Angga menerima bayi itu dan langsung membisikkan adzan di telingan si bayi, dia bahkan menitikkan airmata ketika mendengar suara tangisan bayinya.
Usai di adzankan Emma meminta bayi itu dari Angga. Dan baru saat itu Angga menyadari sesuatu.
"Lohhh dok... Ini bukan kami." ucap Angga.
"Mas kamu apaan sih?" tegur Emma.
"Adel liat ini bukan bayi yang tadi kan?" tanya Angga pada Adel yang juga menyaksikan bagaimana bayi kakaknya.
"Iya dok ... Ini ketuker tadi bayi mbak Emma ganteng banget." kata Adel.
"Emang kenapa bayi ini?" tanya Emma. Emma memang tidak melihat saat pertama kalinya bayinya keluar karena pingsan.
"Maaf Bu bapak, ini adalah bayi kalian, dan maaf karena harus mengatakan kalau bayi anda mengalami down syindrom." ucap dokter.
"Enggak ini pasti ketuker, ini bukan bayi saya, saya melihat tanda lahir di belakang lehernya seperti tato yang saya punya." kata Angga tidak terima bayinya telah ditukar dengan bayi down syindrom.
"Iyaaa dok... Keponakan saya normal, dia ganteng banget. Nggak mungkin lah kakak saya punya anak downsyndrom." kata Adel berapi-api.
"Mas... Adel udah cukup, kalian kenapa sih, kalau kalian Malu aku punya anak down syindrom aku bakalan ngerawat anak ini sendirian." Putus Emma.
Angga yang geram justru berlari dan menuju ruangan bayi berada. Tak ada bayi lagi didalam sana, tapi dia yakin sekali bahwa uang digendong Emma bukanlah putranya.
"Aaaaaaa.... Harusnya aku jagain bayi kamu Emma." teriak Angga.