Kehamilan Emma sudah memasuki trimester kedua, tepatnya sudah berusia 5 bulan. Dan kakinya sudah bisa menopang berat badannya, walaupun belum bisa melangkah sendiri kalau tanpa kruk.
Hari ini Minggu pagi, Angga berada dirumah, sementara Adel sibuk mengikuti acara di sekolahnya, mama Emma yang menjadi salah satu dosen pembimbing masih disibukkan dengan bimbingan dari mahasiswa mahasiswi nya di hari Minggu, sementara papa Emma sedang ada operasi gabungan antara Polri dan anggota TNI.
Emma sedang berada di halaman rumah sambil terus belajar melangkah. Sementara Angga yang baru saja keluar menyingkirkan sebuah kursi rotan yang menghalangi jalanan Emma.
"Makasih...." ucap Emma.
Angga mengangguk.
"Sayang..." panggil Angga.
"Hmm..." Emma mendongak.
"Kok perut kamu beluk keliatan?" tanya Angga.
"Ya emang masih lima bulan mas, sebenarnya udah mulai kelihatan sih, hanya karena baju aku yang longgar jadi nggak begitu keliatan, emang kenapa?" tanya Emma.
"Nggak papa, pingin liat baby bump." jawab Angga.
"Ya nanti juga bakalan keliatan mas, yang sabar." ucap Emma sambil tersenyum.
"Kamu nggak pingin maternity shoot?" tanya Angga.
"Pinginnnn..." jawab Emma dengan semangat.
"Tapi ntar aja kalau baby bump nya udah gede mas, biar lucu." ucap Emma.
"Siapp sayang... Udah ayo istirahat dulu sayang, kamu nggak boleh capek-capek." ucap Angga.
"Bentar lagi mas." ucap Emma.
"Yaudah aku tunggu di situ ya, mau buka web nya si Aji, liat ide-ide buat maternity shoot." ucap Angga.
"Iya mas." jawab Emma.
"Kalau kamu udah lelah panggil aku ya." ucap Angga lagi.
"Iya..." jawab Emma.
Angga mulai asyik membuka web fotografi milik Aji, dia menemukan banyak sekali ide untuk maternity shoot istrinya.
Sementara itu Emma masih serius belajar berjalan, tiba-tiba setitik darah menetes di atas besi kruk nya yang berwarna putih.
Dia segera membersihkannya menggunakan outernya.
Dia melihat ke jendela yang ada di sampingnya, rupanya dia mimisan lagi. Emma buru-buru menghapus lelehan darah nya menggunakan jilbabnya yang berwarna hitam. Sambil sesekali melihat kearah Angga yang masih asyik dengan benda pipih di tangannya. Dia tidak mau Angga melihatnya mimisan pasti laki-laki itu akan panik seperti kemarin.
Tapi rupanya mimisan kali ini sedikit lebih lama, dia sampai bingung menghapus darahnya terkadang menggunakan outer kadang juga jilbabnya.
"Please... Udahan dong, takut mas Angga liat." batin Emma.
Angga yang menyadari sesuatu segera meletakkan ponselnya dia menengok kearah Emma yang tengah sibuk menutupi hidungnya sedangkan sebelah tangannya berpegangan pada kruk.
Angga langsung melompat begitu menyadari Emma sedang menyembunyikan sesuatu.
Angga mendekat dan langsung memeriksanya. Dia melihat outer Emma sudah banyak darah juga jilbab hitam Emma yang basah bagian ujungnya.
"Kami mimisan lagi sayang? Kenapa nggak bilang ke aku?" tanya Angga.
"Enggak papa mas, kalau bumil emang biasa kaya gini karena hormon." ucap Emma.
"Ini juga sudah sembuh kok." ucap Emma.
Angga mengambil tisu dari kotak yang ada diatas meja, dan membersihkan bekas darah yang kemana-mana.
"Kita periksa ya." ajak Angga.
"Buat apa... Nggak usah mas, gini nih kalau kamu tau, pasti panik." ucap Emma.
"Ya gimana aku nggak panik sayang, aku liat kamu mimisan berdarah-darah gini lihat baju kamu kotor sayang." ucap Angga.
"Iya habis ini aku ganti baju." ucap Emma.
"Kita periksa ya." ulang Angga.
"Nggak usah mas, tiap kali periksa kehamilan aku juga bilang kok kalau mimisan kata bidannya itu wajar, dan dikasih obat juga." kata Emma.
"Ayo bantu aku masuk mas." ucap Emma.
Angga langsung berinisiatif meggendong Emma, namun Emma menolak.
"Nggak mau mas, aku pingin jalan, kamu bantu aku jalan ya." pinta Emma.
"Nggak kamu udah kecapekan, biar aku angkat saja." ucap Emma.
"Aku pingin jalan." rengek Emma dengan mata berkaca-kaca.
"Iya udah oke... Iya kita jalan." kata Angga.
Angga memegangi tangan Emma dan sebelah tangannya melingkar di pinggang Emma.
"Lama nggak papa ya mas." ucap Emma.
"Iya sayang ..." jawab Angga.
Angga dengan sabar mengiringi langkah Emma yang sangat pelan. Beberapa langkah mereka beranjak dari tempatnya. Emma berhanti tangannya mencengkeram kaos bagian belakang Angga dengan kuat.
"Ada apa sayang?" tanya Angga sambil melihat kearah Emma. Nampak oleh nya Emma basah oleh peluh dan sangat pucat.
"Capek banget mas, padahal masih 5 langkah, sakit." ucap Emma.
Seketika Angga pias. Dia langsung mengangkat Emma masuk kedalam dan membaringkannya diatas tempat tidur.
"Obat nya mana?" tanya Angga dia membuka laci nakas dan mendapatkan botol obat Emma yang sudah kosong.
"Habis?" tanya Angga.
"Baru habis kemarin mas." jawab Emma sambil memejamkan matanya.
"Kenapa nggak bilang sayang." ucap Angga kesal pada dirinya sendiri.
Dia ingin segera ke apotik untuk menebus obat serupa namun dia tidak bisa meninggalkan Emma sendirian.
"Sayang aku ke apotik sebentar nggak papa ya?" tanya Angga.
Emma menggeleng pelan.
"Nggak mau... Temenin aku aja mas, nanti aja kalau Adel udah pulang kamu ke apotik." pinta Emma.
"Jangan panik, kamu selalu panik liat aku sakit. Padahal aku nggak papa." ucap Emma.
Angga tidak bisa berkata-kata, dia hanya menuruti permintaan Emma. Dia turut merebahkan diri di samping Emma sambil memeluk Emma dengan hangat.
Angga meraih jemari Emma kemudian memegangnya. Sesekali dia mencium kening Emma.
"Mas aku nggak papa, aku cuman mau tidur bentar, capek banget soalnya." ucap Emma sambil tersenyum.
"Iya tidurlah... Aku jagain kamu disini sayang." ucap Angga.
Dan sepanjang Emma tidur Angga terus berada disisinya sambil menatap ke wajah Emma tanpa jemu.
"Yang kuat ya sayang, jadi istriku, maaf aku sama sekali nggak becus jadi suami." batin Angga sambil mengusap kepala Emma sesekali.
Angga mengeluarkan ponselnya kemudian browsing mengenai mimisan pada ibu hamil apakah benar kata Emma atau dia hanya berbohong untuk menghindari ajakan Angga untuk periksa di rumah sakit.
Satu persatu mulai muncul artikel ada satu yang menarik baginya, dia lantas header itu dan membaca artikel didalamnya.
Setelah membaca banyak sekali literatur medis, Angga manggut-manggut, dia memahami kondisi istrinya yang sering mimisan.
Angga membelai pelan wajah Emma, dan tak lupa mendaratkan beberapa kecupan disana.
Emma terbangun. Angga merasa bersalah.
"Nggak papa sayang, kamu tidur aja lagi ya." ucap Angga.
"Iya terus kamu bangunin lagi." kata Emma.
"Habis aku nggak tahan kalau nggak cium kamu." jawab Angga
"Hmmm... dasar otak mesum." kata Emma.
"Hehehe parah emang." sahut Angga.
"Gimana udah enakan belum sayang?" tambah Angga.
"Udah kok mas..." jawab Emma.
"Syukurlah... Aku khawatir banget." ucap Angga.
"Kan aku bilang jangan khawatir, hal seperti ini udah biasa sama ibu hamil." terang Emma kemudian.
"Iya tapi nggak bisa tenang-tenang aja sayang." kata Angga.
Emma berbalik menghadap kearah Angga. Menatapnya sejenak kemudian tersenyum
"Kenapa kok kamu senyum-senyum?" tanya Angga.
"Gede tatto doang, banyak tatto doang, tapi liat istri mimisan aja takut." kata Emma.
"Ehhh konteksnya bukan takut seperti itu sayang, takut nya itu takut kalau kamu kenapa-napa." elak Angga.
"Alaa sama aja." ledek Emma.
"Ya beda sayang..." kata Angga.
"Samaaa..." sahut Emma.
"Bedaaa..." bantah Angga.
"Ehh nih anak ngeyel Mulu sih." ucap Angga segera membungkam mulut Emma dengan mulutnya.
"Kan baru bisa diem." kata Angga kemudian dengan senyum kemenangan.
"Btw sayang... Kamu ingat nggak momen pertama kali kita bertemu?" tanya Angga.
"Ingatlah, pas aku lagi makan sama mas Fadhil kan?" tebak Emma.
"Enggak bukan itu, masa iya kamu lupa?" tanya Angga.
"Ehmmm..." Emma berusaha mengingat-ingat lagi.
"Jadi sebenarnya kita pertama kali bertemu di kantin pas jam istirahat." jawab Angga.
"Masa sih mas, kok aku nggak ingat?" tanya Emma.
"Jadi saat itu aku lagi cuci tangan, nggak sengaja naikin lengan baju seragam ku terlalu keatas, dan tatto ini keliatan sama kamu. Saat aku mau masuk antrian, tiba-tiba kamu manggil, bilang gini, mas keliatan, mending agak turunin ke bawah takut keliatan sama orang HRD." jelas Angga.
"Oooohhh iya ingat, jadi saat itu ya, pasti mas Angga baper? Ya kaan..." Tebak Emma.
"Iyaaa... Jadi aku mikirnya gini, nih anak peduli sama aku, padahal mah yang lain pada bodoamat, cocok nih jadi istri." kata Angga sambil menahan tawa.
"Kamu kenapa nggak laporin ke HRD, pasti karena aku ganteng kan, kalau jelek udah bodoamat laporin aja, ya nggak sih?" tebak Angga.
"Yeeee sok tau, PD amat jadi orang." kata Emma.
"Ya tapi bener kan, aku ganteng, setidaknya walaupun badboy, tattoan, rokok an, kalau ganteng masih mending daripada jelek ya gak sih?" ucap Angga memancing pendapat Emma.
"Ya terserah kamu mas..." kata Emma pasrah pada pemikiran Angga mengenai sudut pandangnya.
"Terus kalau bukan karena ganteng doang, apa yang bikin kamu mau sama aku, padahal udah jelas-jelas tertulis kaya di baliho gini kalau play boy, otak m***m, kepala batu?" tambah Angga.
"Kamu baik..." jawab Emma singkat.
"Hahh?" tanya Angga setengah tidak percaya.
"Kamu mau jagain aku dirumah sakit Sampek nginep-nginep padahal kita juga bukan siapa-siapa kan, pacar juga bukan, udah gitu pas udah pacaran, mas Angga bilang, cara terbaik buat lindungin aku dari cowok-cowok kata Rio adalah dengan nikahin aku, padahal mas juga tau aku barusan dilecehin sama Kiki di TSD." ucap Emma.
"Padahal emang aku udah cinta mati sama kamu." kata Angga.
"Awalnya aku pikir kamu nggak pernah mau pacaran sama aku." kata Angga.
"Mana ada sih cewek baik-baik kaya kamu mau sama brandal kaya aku." tambah Angga.
"Sekarang udah mau punya baby, jangan jadi brandal lagi." ucap Emma sambil mengelus d**a Angga.
"Siapp sayang ku." ucap Angga.
"Sayang kita belum pernah USG kan, ayo kita USG, aku temenin." usul Angga.
"Ehmm... Kamu pingin banget tau ya mas?" tanya Emma.
"Iya sayang, ya kalau aku sih cewek cowok nggak masalah yang penting sehat dedek dan mamanya." ucap Angga.
"Yaudah.. ayo." ucap Emma.
"Ayoo kamu tau kan klinik yang dekat dari rumah." tanya Angga.
"Tau... Mas Angga bisa bawa mobil?" tanya Emma.
"Bisa... Kita pake mobil mama?" tanya Emma.
"Iya mas, nanti kita bawa kursi rodanya sekalian." jawab Emma.
"Oh iya, yaudha ayo." ajak Angga.
"Iya mas." sahut Emma dia mengambil buku kehamilannya.
Setelah bersiap Angga membantu Emma masuk ke mobil. Hanya sebentar saja Angga mengemudi, mereka sudah sampai di klinik.
"Mas aku malu..." bisik Emma.
"Kenapa sayang?" tanya Angga.
Emma terdiam tangannya meremas ujung buku pink yang dia bawa.
"Aku cacat... Dan harus pake kursi roda." jawab Emma.
"Enggak... Siapa bilang kamu cacat, kamu masih sakit dan belum sembuh, suatu saat juga akan sembuh. Jangan berkecil hati sayang ya." hibur Angga.
"Biar aku bantu turun ya." ucap Angga. Setelah menyiapkan kursi roda dia lantas menurunkan Emma dan mendudukkannya diataa kursi roda.
"Kayanya pemeriksaan bulan ini aku ada tes HIV juga mas." ucap Emma sambil didorong Angga masuk ke klinik.
"Iya... "jawab Angga, dan pikirannya mulai berkecamuk, bagaimana tidak, jika tes HIV menunjukkan hal yang positif berarti itu karena dirinya yang bergonta-ganti pasangan.
Dalam hati dia terus berdoa semoga hasilnya negatif. Apa yang harus ia katakan pada Emma jika terbukti positif, tidak lain tidak bukan pasti karena Angga juga.
Benar saja setelah melewati antrian tiba giliran Emma untuk diperiksa.
Pertama kali adalah USG, dia bisa melihat dengan jelas berapa berat janin, usia kandungan, dan juga HPL nya.
"Bayi nya sehat, berat nya terus bertambah, posisi plasenta sudah tepat, jumlah ketuban cukup. Baik ya ibuk hasilnya." ucap bidan.
"Iya Bu... Alhamdulillah." ucap Emma.
"Sekarang kita tes darah untuk HIV ya Bu, untuk memastikan apakah boleh gak nya nanti setelah melahirkan ibu untuk menyusui bayinya." ucap Bidan.
"Oh iya Bu." jawab Emma.
Sementara itu Angga terlihat sangat tegang. Dia menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya.
"Kamu takut jarum mas?" tanya Emma menahan tawa.
"Eh... I.. iya sayang, aku tunggu diluar boleh?" tanya Angga.
"Enak aja mau lepas tanggung jawab, kan tadi kamu yang ngajak periksa." kata Emma sambil memegang lengan Angga.
"Sini duduk lagi, malu sama tatto kalau takut jarum suntik." ledek Emma.
"I... Iya sayang, iya nih aku duduk." ucap Angga.
"Nah gitu dong." ucap Emma.
Setelah seorang bidan mengambil sample darah Emma, dia lantas membawanya ke lab yang ada di klinik tersebut.
"Tuh kan dek... Cuma gitu doang, papa kamu takut bukan main." ucap Emma sambil mengusap perutnya.
"Hehehhe..." Angga menggaruk pelipisnya.
"Sayang kata bidannya tadi cewek apa cowok?" tanya Angga kemudian.
"Ehmmm belum keliatan mas, katanya masih malu-malu buat nunjukin nya." ucap Emma.
"Hmmm mau kasih kejutan dia sayang." ucap Angga sambil mengusap perut Emma.
"Lama banget sih jadi deg-degan
" ucap Angga.
"Kenapa deg-degan kan yang diperiksa kan aku mas, dan itu juga hasilnya buat aku." ucap Emma.
"Kamu takut aku positif, ehmm kalaupun iya itu pasti dari kamu kan mas." tambah Emma.
Beberapa saat kemudian Bidan sudah keluar membawa sebuah kertas bertuliskan isi laporan medis Emma.
"Ibu Emma... Ini adalah hasil tes darah barusan dan hasilnya adalah...." ucap dokter sambil menunjukkan lembaran kertas itu pada Emma.
Maaf ya kakak kakak semuanya, ini nulisnya sambil ngantuk karena sibuk nya di dunia nyata, jadi kalau belepotan dan salah-salah mohon dimaafkan ya!