Nama Angga telah kembali bersih, promosi sebagai leader juga sudah ia terima, kini dia menjadi grup leader di Departemen Skiving.
Dengan gantinya seragam makin banyak karyawan perempuan yang mendekatinya, terlebih status Angga yang LDR dengan istrinya.
Mereka merasa berhak untuk bisa mendekati atau sekedar bertegur sapa.
Emma yang dirumah tengah melakukan fisioterapi diantar Adel dan Bianca karena kedua orang tuanya sangat sibuk.
Keringat bercucuran dari dahinya. Dia berusaha terlalu keras sampai sesi berakhir.
"Udah Emm... Udah selesai, nih minum dulu." ucap Bianca.
"Makasih Bi..." ucap Emma.
"Sekarang gimana mbak, udah lumayan bisa dirasain kan? Bisa digerakkan?" tanya Adel.
"Lumayan sih dek, ya nggak bisa skelaigus, kan juga masih konsumsi obat, yang instan cuma di iklan aja." jawab Emma.
"Gimana kalau coba pakai kruk?" usul Adel.
"Iya Emm biar menstimulasi gerak tulang kamu." tambah Bianca.
"Iya bi.. nanti suami ku pulang, biar aku minta sekalian di beliin." jawab Emma.
"Nanti mas Angga pulang?" tanya Adel.
"Iya dek... Kemarin dia bilang hari ini mau pulang." jawab Emma.
"Cieee seneng nya?" goda Adel.
Emma hanya tersenyum, dia meraih ponselnya. Ada notifikasi masuk di akun sss Angga dari ponselnya, karena Emma login semalam.
"Mendadak artis." ucap Emma.
"Hmmm?" tanya Bianca.
"Jadi suami ku jadi leader kan, mendadak banyak yang inbox dia di sss, kaya pingin kenalan dan pingin Deket gitu." jawab Emma.
"Terus?" tanya Bianca.
"Ya.. tapi gak ada yang dibalas sih, nggak tau lagi kalau langsung pindah chat wa." jawab Emma.
Bianca menepuk bahu Emma.
"Belajar percaya sama suami, dari sekian banyak kejadian dia pasti udah belajar sesuatu." ucap Bianca.
"Iya bi... Sadar diri lah dia emang buaya." ucap Emma sambil tersenyum. Lalu senyumnya makin berkembang dan menjadi tawa yang tak bisa ia tahan, matanya melihat profil Angga yang berubah.
"Ya ampun mas..." ucap Emma menunjukkan apa yang ia baca pada Bianca dan Adel.
"Sudah beristri, istri saya galak." baca Bianca pada tulisan yang ada di bio Angga.
Mereka bertiga ketawa bersamaan.
"Saking dia ogah diganggu lagi." ucap Bianca.
"Iya kayanya mungkin capek juga tiap hari ada yang inbox, kalau gak dibalas takut dikira atasan yang sombong." tambah Emma.
"Habis ini kita kemana?" tanya Bianca.
"Terserah kalian mau kemana?" Emma balik bertanya.
"Mbak aku pingin ke Gardenia, tapi kita take away aja ya, kasian mbak Emma kalau naik keatas." ucap Adel.
"Ya nggak papa kalian makan aja, aku nunggu di mobil." ucap Emma.
Karena kebetulan tadi mereka berangkat dengan mobil mama Emma yang di supirin Bianca.
"Yaahh gak gitu Emm, nggak enak tau, yaudah kita take away aja, terus makan bareng-bareng dirumah." putus Bianca.
"Iya deh terserah kalian." jawab Emma.
"Aku pesenin sama kaya kamu Bi." ucap Emma.
"Siapp..." ucap Bianca.
"Ini uangnya sama adek aku sekalian." kata Emma sambil menyerahkan beberapa lembar uang.
"Udah kamu simpen aja, kali ini aku yang bayar." ucap Bianca.
"Beneran?" tanya Emma.
"Iyaaa aku traktir karena aku baru jadian sama Alfa." jelas Bianca.
"Alfa anak kelas F dulu?" tanya Emma.
"Iya gebetan sejak bocil." jawab Bianca.
"Wahhhh seneng banget tuh, btw makasih ya, aku doa in lanjut Sampek pernikahan." kata Emma.
"Maaciiiii bestie." sahut Bianca.
Bianca dan Adel lantas meninggalkan Emma sendirian di mobil.
Ponsel Emma berbunyi, ada panggilan masuk dari Angga. Setelah swipe layar munculah wajah suaminya di seberang.
"Hai cantik..." ucap Angga.
"Emang ngga bisa ya pake salam yang bener mas." balas Emma sambil tersenyum.
"Assalamualaikum istriku..." ulang Angga.
"Waalaikumsalam, kamu lagi istirahat mas?" tanya Emma.
"Iya sayang, btw mungkin nanti aku Sampek rumah agak maleman sayang, soalnya ada meeting sama SPV." ucap Angga.
"Iya mas nggak papa.. oh iya mas aku boleh minta tolong nggak?" tanya Emma kemudian.
"Apa sayang? Kamu nyidam, ok ok kepingin apa nih?" tanya Angga antusias.
"Hehe nggak mas bukan itu, aku boleh nggak? minta beliin kruk yang buat bantu jalan itu, soalnya dari fisioterapi tadi udah mulai mendingan sih bisa gerakan walau belum 50%." tanya Emma.
"Siappp sayang, nanti pulang kerja aku langsung cariin, kalau perlu aku keluar sekarang biar nanti pulang kerja gampang tinggal pulang aja." ucap Angga.
"Nggak usah mas nanti aja. Yang penting kamu hati-hati ya nanti pulangnya." pesan Emma.
"Iya sayang." jawab Angga.
"Btw mas.. apa iya menurut kamu aku tuh galak?" tanya Emma.
"Enggak lah.. kamu itu imut, cantik, emang kenapa kok tiba-tiba nanya?" tanya Angga.
"Ehm itu aku kebetulan baca bio di akun sss kamu mas, sudah beristri, istri saya galak." ucap Emma.
"Oh... Hahaha itu, ya emang sengaja aku bikin kaya gitu, ya kamu tau nggak banyakkk banget yang ngechat, aku kan suka khilaf, jadi daripada beresiko mending bikin note itu ja." kata Angga.
"Mas..." Panggil Emma.
"Hmm" jawab Angga.
"Kamu jangan khilaf lagi ya." ucap Emma.
"Janji sayang." ucap Angga mantap.
"Nggak perlu janji, butuhnya bukti, kamu tuh janji-janji pas ada momen masih aja bandel." kata Emma.
"Iya sayang maaf, tapi beneran kali ini, kalau bohong celaka." ucap Angga.
"Iya iya... Percaya kok." jawab Emma.
"Oh iya kamu di dalam mobil nih, lagi dimana? Sama siapa?" tanya Angga kemudian.
"Ini di Gardenia, sama Bianca dan Adel mereka lagi take away makanan." jawab Emma.
"Yaudah kamu makan dulu gih mas!" ucap Emma.
"Iya sayang, yaudah aku matiin dulu ya, eh cium dulu..." pinta Angga.
'Hahh?" ucap Emma.
"Cium dulu..." ulang Angga sengaja menggoda Emma, istrinya memang nggak pernah kasih ciuman virtual termasuk emoticon kiss.
"Enggak ah, gimana bisa?,," tanya Angga.
"Bisaaa..." jawab Angga.
"Emmuachh..." ucap Angga.
"Tinggal bales aja!" pinta Angga kemudian.
Emma hanya mengernyitkan dari.
"Ngga mau." ucap Emma.
"Hahahhahaha... Iya sayang bercanda kok. Aku tau kamu malu-malu." jawab Angga.
"Nah tu tau, pake minta yang aneh-aneh pula, nanti aja kalau udah nyampe rumah aku cium!" ucap Emma dengan lirih diujung kalimatnya.
"Awas kalau bohong." ucap Angga.
"Enggak." sahut Emma.
"Yaudah sampai ketemu dirumah sayang, assalamualaikum..." pamit Angga.
"Waalaikumsalam..." balas Emma.
Angga tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya. Kemudian mematikan panggilannya.
"Astaghfirullah dek... Papa kamu genit banget." ucap Emma sambil mengusap perutnya.
***
Malam hari ini udara begitu dingin. Namun Angga enggan kembali ke kontrakan untuk mengambil jaket, dia sudah nggak sabar ingin ketemu istri dirumah.
Walaupun perjalanan kurang lebih satu jam, dia tempuh begitu saja. Tidak lupa membawa pesanan Emma. Angga membeli sebuah alat bantu jalan di apotik tempat temannya bekerja.
"Untuk siapa si Ngga?" tanya Ryan.
"Untuk seseorang tercinta, kepo banget sih... Udah berapa nih?" tanya Angga.
"Diihh buru-buru amat sih?" keluh Ryan.
"Iya udah kebelet kangen sama yang dirumah." jawab Angga.
"Iya-iyaa sabar." ucap Ryan.
Setelah berurusan dengan Ryan, Angga lantas memacu motornya dengan kencang. Karena jalanan yang licin habis hujan, dia jadi hilang fokus.
Motornya tergelincir dan menabrak trotoar. Untung tidak ada luka serius dan kondisi jalan gak begitu ramai.
Angga berinisiatif membeli jaket untuk mengurangi dinginnya, juga menjaganya tetap fokus. Karena kedingingina juga yang telah membuatnya oleng.
Hampir jam 9 malam saat Angga tiba dirumah. Papa Emma yang membukakan pintu, dia mencium tangan papa mertuanya kemudian mencari Emma.
"Emma udah tidur pa?" tanya Angga.
"Barusan aja dia tertidur, nonton tv di ruang tengah sampe ketiduran katanya nunggu kamu pulang, tapi udah papa pindah ke kamarnya." jawab papa Emma.
"Oh iya pa, yaudah Angga masuk dulu ya pa." pamit Angga.
"Iya.. iya, ehh itu jaket kamu kenapa berdarah, kamu jatuh, coba mana papa lihat." ucap papa Emma.
"Iya pa tadi jalanan licin, agak rikuh bawa kruk juga, tapi nggak papa kok." ucap Angga.
"Beneran nggak papa?" tanya papa Emma.
"Emma bakalan panik kalau tau kamu kecelakaan ngga." tambah papa Emma.
"Beneran nggak apa-apa kok pa, nanti biar Angga yang bilang ke Emma kalau dia panik." jawab Angga.
"Yaudah kamu tidur, papa mau lanjut nonton bola." ucap papa Emma.
"Baik pa..." Angga lantas masuk ke dalam kamar.
Melepas jaketnya perlahan dan memperhatikan lukannya.
"Sakit banget anjing..." batin Angga.
Namun rasa sakit itu langsung sirna begitu melihat Emma yang tengah tertidur lelap. Angga tersenyum kemudian dengan perlahan merebahkan diri di sampingnya.
Jari telunjuknya menyusuri setiap inchi wajah Emma.
"Cantik banget kamu jadi orang..." kata Angga.
Pandangannya berhenti di bibir mungil Emma, dia mengecupnya perlahan kemudian semakin intens dan basah. Emma terbangun dengan mata memerah karena kantuk yang berat.
"Mas..." ucapnya.
"Maaf ya... Sengaja bangunin kamu, kangen banget soalnya." ucap Angga.
"Cara bangunin istri versi kamu mas?" ucap Emma.
"Iya hehhehe..." jawab Angga.
"Kangen nggak?" tanya Angga kemudian.
Emma mengangguk kemudian memeluk Angga.
"Kangen banget..." jawab Emma.
"Aku udah bawain kruk nya sayang, besok aku libur, kita bisa berlatih bersama." ucap Angga.
"Iya mas ..." jawab Emma.
"Udah lumayan bisa digerakkan mas. Aku seneng banget." terang Emma.
"Aku juga seneng." jawab Angga. Dia mencium Emma sekali lagi.
"Looh... Mas tangan kamu kenapa? Ya ampunn sampe kaya gini." ucap Emma kaget langsung duduk untuk melihat kondisi Angga lebih jelas.
"Tadi aku jatuh, gak pake jaket jadi gini deh, baru pas udah jatuh nyempetin beli jaket." jawab Angga berusaha menarik tangannya agar Emma tidak terlalu memikirkan nya.
"Sini aku obatin." ucap Emma meriah kotak p3k dari dalam laci nakas.
"Kok bisa sih segini jauh nggak pake jaket?" tanya Emma.
"Hehehe saking udah gak betah kangen sama kamu, gak pulang dulu ke kontrakan langsung pulang ke sini." jawab Angga.
"Ya nggak gitu juga sih, safety first." Sahut Emma sambil mulai membuka kotak dan mebgeluarkan kapas steril dari dalam sana untuk membersihkan luka Angga dengan alkohol.
"You are first." sahut Angga.
"Halahh gombal." ucap Emma.
"Beneran sayang, nggak pernah sebucin ini sama cewek." kata Angga kemudian.
"Gini nih kalau buaya udah ketemu pawangnya." kata Emma.
"Hehehehe..." ucap Angga.
"Aduududuh sakit jangan kenceng-kenceng sayang." ucap Angga.
"Hmmm... Kalau berantem, balap motor, main cewek nggak pernah ngeluh, giliran babak belur diobatin merengek-rengek." ucap Emma.
Angga justru menyembunyikan wajahnya kebantal sambil terus merengek.
"Udah bayi gede..." ucap Emma usai mengobati dan membalut luka Angga.
"Kurang satu..." ucap Angga.
"Udah mas.." kata Emma.
"Kurang sini..." ucap Angga sambil menunjuk ke bibirnya.
Emma tertawa kesal.
"Kan tadi udah kamu cium sampe aku kebangun." jawab Emma.
"Hmmm tadi siang pas vc katanya mau nyium pas aku udah Sampek, mana omong doang." ucap Angga.
"Kok kamu inget sih mas?" tanya Emma.
"Ya kali aku aki-aki yang udah pikun sayang." ucap Angga.
"Ayoo aku masih nunggu loh." kata Angga.
"Yaudah cium aja..." ucap Emma.
"Nggak mau, aku maunya kamu yang cium." kata Angga.
"Duhh kamu ribet banget mas." ucap Emma kemudian mencium bibir dingin Angga. Angga menahan tengkuk Emma dan memperdalam ciuman mereka.
Sementara sebelah tangannya mulai membuka kancing piyama Emma.
Kemudian mulai meremas d**a Emma yang sudah lama tak ia jamah.
***
Keesokan paginya Angga bangun lebih dulu dari Emma dia segera memunguti pakaiannya dan masuk ke kamar mandi yang ada di dalam kamar Emma.
Sementara Emma masih meringkuk di balik selimutnya yang hangat.
Usai mandi Angga kembali merebahkan diri di sisi Ema karena melihat langit masih gelap. Dia menyalakan televisi dan menonton acara kartun. Sesekali dia menoleh kearah istrinya belum juga bengun.
Angga membalikkan tubuh istrinya yang memunggunginya dengan perlahan.
Dia sangat kaget karena melihat aliran darah di salah satu lubang hidung Emma.
"Sayang..." panggil Angga perlahan sambil menepuk pipi Emma.
"Sayang bangun...kamu mimisan." ucap Angga panik. Dia segera membuka selimut Emma dan memakaikan semua pakain Emma dengan lengkap.
"Sayang bangun... Kamu nggak papa?" tanya Angga.
Tidak ada jawaban... Dan hal ini membuat Angga makin resah.
"Sayang bangu... Kamu nggak papa." ucap Angga sambil membersihkan darah itu dengan tisuu.
"Kamu kenapa?" ucap Angga bermonolog.
Dia memutuskan memanggil oranv tua Emma.
"Tapi semalam aku sama sekali nggak kasar ke Emma." batin Angga.
Angga menuju kamar orang tua Emma lalu mulai mengetuk pintu.
"Ma... Papa..." ucap Engga pelan.
Dia mengulanginya sampai beberapa saat. Baru pintu kamar orang tuanya terbuka.
"Ada apa ngga?" tanya mama Emma.
"Mah... Kayanya Emma pingsan." ucap Angga.
"Pa... Bangun pa Emma pingsan." ucap mama Emma.
Papa Emma langsung bangkit dan mereka bertiga menuju kamar Angga.
Namun begitu masuk dia dikejutkan oleh Emma yang sudah bangun dan tertawa sambil nonton acara televisi.
"Lohhh sayang kamu nggak papa?" tanya Angga.
"He em .. memang aku kenapa?" tanya Emma.
"Kan kamu tadi pingsan..." jawab Angga.
"Hahhh bercanda kamu mas, aku kan baru bangun tidur, tau-tau kamu udah hilang." jawab Emma.
"Aduh Angga kamu bikin Mama khawatir, yaudah kalau Emma ngga papa, mama sama papa tinggal ya." Pamit mamma Emma.
Dalam hati Angga sangsi, dia tau Emma pasti tadi pingsan, dan juga dia nggak mimpi karena masih melihat tissu berdarah itu di bawah nakas.
Angga kembali mendekati Emma. Dia memastikan suhu badan dan memeriksa sekali lagi ke hidung Emma dengan menempelkan ibu jarinya.
"Mas... Kamu ngigo... Aku nggak papa." ucap Emma.
"Enggak jangan bohong, kamu tadi pingsan sayang, kamu tadi mimisan. Ini buktinya." ucap Angga sambil menunjukkan tisu berdarah itu.
Emma terdiam.
"Aku emang sering mimisan mas, tapi nggak papa jangan takut, biasanya mimisan akan lebih sering terjadi saat usia kandungan sudah memasuki trimester kedua mas. Mimisan saat hamil umumnya terjadi karena adanya perubahan hormon selama masa kehamilan." jelas Emma.
"Tapi aku takut banget tadi, kamu pingsan kan?" tanya Angga.
"Aku nggak tau mas... Mungkin aku ketiduran." jawab Emma.
"Enggak sayang kamu orang yang mudah terjaga saat tidur, aku tadi udha bangunin kamu tapi kamu nggak bangun-bangun." ucap Angga.
Angga memeluk Emma dengan erat, tiba-tiba dia merasa betapa takut dia akan kehilangan istrinya.
"Mas Angga lebay..." ucap Emma.
Angga hanya menarik nafas dalam-dalam kemudian mencubit dengan gemas kedua pipi Emma.
"Kamu nggak boleh sakit." ucap Angga.
"Iyaaa..." jawab Emma.
"Tadi kamu pakein baju aku mas?" tanya Emma.
"Iya habsinya aku panik, terus panggil mama sama papa." jawab Angga.
"Kenapa? Mau di unboxing lagi?" tanya Angga.
"Dasar otak mesum." kata Emma. Angga tertawa.