Rio keluar dari rumah Emma, dia tidak mungkin kembali malam ini untuk meminta file video itu karena ada Alya disana.
Dia mulai menyusun rencana untuk mengambil file video itu sebelum persidangan Angga.
"Tentu saja ini nggak bisa dibiarin, kalau Angga bebas, udah pasti pernikahan mereka berdua bakalan lanjut. Nggak ikhlas banget liat mereka bahagia, kalau aku nggak bisa milikin Emma jangan harap yang kain bisa milikin dia." ucap Rio kesal.
Sementara itu di rumah Emma, Alya tengah membantu Emma membuat makan malam.
"Aku bakalan nginep sini sampe mama papa mbak Emma datang!" putus Alya.
"Kami nggak kerja?" tanya Emma.
"Low season mbak, lagi libur seminggu aku." jawab Alya.
"Takut si Rio kesini dan apa-apa in mbak Emma, tadi aku ketemu dia mbak, dan gitu deh, otak m***m emang, tapi nggak tau dia kalau aku udah sabuk merah mbak, akhirnya ketakutan sendiri." kata Alya.
"Emang hebat kamu Al." puji Emma.
"Ehmm... Mbak btw mbak Emma nggak pingin liat mas Angga di penjara?" tanya Alya hati-hati.
"Aku... Aku, ehm kamu mau nggak besok nemenin aku kesana?" tanya Emma.
"Mau mbak mau banget, kita bisa nge grab mbak, jadi mbak Emma gak harus susah-susah kalau naik angkot." usul Alya.
"Iya Al... Maaf ya dari dulu kamu selalu aku repotin." ucap Emma.
"Ah enggak yang ada aku kali, yang selalu ngrepotin mbak Emma." sela Alya.
"Aku beneran nggak nyangka kalau mbak Seah bisa Setega itu sama mbak Emma. Padahal kalian temen baik banget kan bahkan sebelum aku masuk pabrik kalian udah sahabatan." kata Alya.
"Iya Al... Aku juga masih nggak percaya, ya mungkin kalau cowok lain sih aku bisa Nerima Al, lah ini suami aku Al, suami sahabatnya sendiri dia korbanin, mana karena hal ini aku minta cerai sama mas Angga." sahut Emma.
"Yaudah mbak yang sabar ya, nanti kalau kalian mau rujuk lagi kan bisa, yang penting mbak Emma udah tau kenyataan nya kan." ucap Alya.
"Iya Al... Tapi entahlah kalau untuk rujuk, rasanya aku masih trauma, trauma mas Angga bakalan main sama cewek lagi dibelakang aku Al. Rasanya sakit banget." jawab Emma.
"Tapi kelihatannya mbak Emma masih cinta sama mas Angga?" tanya Alya.
"I... Iya Al, tapi lebih takut aja, takut dikecewain lagi, takut di khianatin lagi." jawab Emma.
Mereka terus bercengkerama sampai malam telah larut, dan akhirnya mereka berdua memutuskan untuk tidur.
***
Keesokan harinya sesuai janji Alya menemani Emma ke rutan tempat Angga ditahan.
Mereka diantar oleh seorang petugas untuk melakukan kunjungan pagi ini, Alya mendorong kursi roda Emma, sesekali dia menggoda Emma.
"Awas ntar ketemu mas Angga, nggak jadi cerai, kangen banget pasti tuh." ucap Alya.
"Alya..." sahut Emma.
"Cieee deg-degan ketemu mantan." tambah Alya.
"Alya..." ulang Emma.
Mereka sampai di ruangan khusus kunjungan, Alya duduk di sebelah Emma. Mereka menunggu dengan harap-harap cemas.
Sekitar 5 menit kemudian sesosok tangan terjulur dari belakang dan langsung menutup mata Emma.
Emma hafal betul ini adalah tangan Angga, juga karena Hapephobia nya tidak bereaksi apapun walau dia dikejutkan dengan sentuhan tiba-tiba.
"Mas..." ucap Emma, dia berusaha membuka tangan Angga agar bisa melihat kearah Angga.
Namun Angga yang wajahnya penuh lebam dan babak belur, justru menutup mata Emma semakin kuat, dia tidak mau Emma sedih melihat kondisinya.
Alya menoleh kearah Angga, dia sangat syok, namun Angga mengisyaratkan Alya agar tidak mengatakan apapun pada Emma.
"Mas lepasin... Aku pingin lihat kamu." pinta Emma.
"Cieee kangen..." goda Angga.
"Enggak... Kita udah cerai kamu lupa?" elak Emma walau dalam hati dia sangat merindukan Angga.
"Aku udah bilang kan, kalau kamu nggak pinter bohong."ucap Angga, dia berjalan memutar berjongkok di depan Emma dengan membiarkan tangannya masih menutupi mata Emma.
"Mas lepasin... Kamu marah sama aku, sampai kamu ngelarang aku buat lihat wajah kamu? Hah?" tanya Emma.
"Tadi katanya nggak kangen, sekarang pingin lihat." kata Angga.
Sementara Alya hanya membatu sambil matanya berkaca-kaca.
Angga dipukuli oleh tahanan lama, dia dianggap penjahat kelamin yang tidak bermoral.
"Mas... Aku minta maaf karena..." ucapan Emma langsung dipotong oleh Angga.
"Aku yang minta maaf, maaf karena nggak bisa jadi suami yang baik buat kamu, tolong jaga anak kita baik-baik ya, kalau nanti kamu mau nikah lagi, kasih tau aku, setidaknya aku bisa nentuin laki-laki calon suami kamu yang baru, bakalan layak nggak buat kamu, kamu harus bahagia." ucap Angga.
"Kamu?" tanya Emma yang sangat berat mendengar Angga bisa melepaskannya begitu saja, bahkan mengizinkan nya menikah lagi.
"Aku gampang, yang penting kamu bahagia dulu." jawab Angga.
Emma mulai menangis, airmatanya meleleh disela jari-jari Angga yang menutupi matanya.
"Jangan nangis, siapa bilang kamu boleh nangis, aku sayang sama kamu, sampai kapanpun sayang sama kamu, maaf kalau aku benar-benar bobrok dan cuma selalu hadir sebagai masalah dalam hidup kamu. Tapi jujur aku sayang banget sama kamu, jangan nangis, aku nggak bisa liat kamu nangis." ucap Angga.
Emma langsung menarik tangan Angga kebawah hingga matanya terbebas dari tangan Angga, seketika dia menutup mulutnya begitu melihat kondisi Angga.
"Ya Allah... " ucap Emma.
"Mas... Kamu kaya gini, dipukuli mas?" tanya Emma.
Emma menangis tersedu-sedu, sementara Angga menunduk berusaha tak terlihat oleh Emma.
"Mas..." ucap Emma.
"Aku nggak papa, ya aku emang pantas Nerima semua ini, toh ini juga belum sepadan sama penderitaan yang aku kasih kekamu sayang... M... Maksudku Emma." ucap Angga perlahan mengangkat kepalanya.
"Yaudah kamu pulang ya, jam kunjungan udah habis, Alya nitip Emma ya, jagain dia!" ucap Angga, sambil menuju ke petugas dan memintanya kembali ke sel.
"Mas..." panggil Emma.
Angga sama sekali tidak menoleh, dia hanya melambaikan tangannya. Emma menangis sambil memegangi dadanya yang terasa sakit.
"Mbak... Yang sabar ya, kita pulang yuk, besok kesini lagi." bujuk Alya.
"Iya Al." jawab Emma.
Alya mendorong kursi roda Emma meninggalkan rutan. Sepanjang perjalanan pulang Emma hanya menangis, airmatanya terus keluar tanpa bisa ia tahan lagi.
"Al... Kenapa aku sedih banget sih?" tanya Emma sambil menghapus airmatanya dengan kasar.
Alya meraih kepala Emma dan menyandarkannya ke pundaknya. Dia menepuk-nepuk bahu Emma sambil berusaha menenangkannya.
"Aku udah keterlaluan Al, harusnya aku lebih percaya sama mas Angga, harusnya aku masih memberinya kesempatan sekali lagi. Aku benar-benar egois Al." ucap Emma pada dirinya sendiri.
Sementara itu, lagu I Will be dari Avril Lavigne mengalun lembut, diputar oleh driver.
There's nothing I could say to you
Nothing I could ever do to make you see
What you mean to me
All the pain, the tears I cried
Still you never said goodbye and now I know
How far you'd go
And if I let you down
I'll turn it all around
This time I'll never let you goF
I will be, all that you want
And get myself together
'Cause you keep me from falling apart
All my life, I'll be with you forever
To get you through the day
And make everything OK
I thought that I had everything
I didn't know what life could bring
But now I see, honestly
You're the one thing I got right
The only one I let inside
Now I can breathe, cause you're here with me
If I let you down
I turned it all around
Cause I'll never let you go
I will be, all that you want
And get myself together
'Cause you keep me from falling apart
And all my life, Ill be with you forever
To get you through the day and make everything okay
Without you I can't breathe
I'm not gonna ever, ever let you leave
You're all I got, you're all I want, oh
'Cause without you I don't know what I'd do
I can never, ever live a day without you
Here with me, do you see you're all I need?
And I will be, all that you want and get myself together
'Cause you keep me from falling apart
And all my life, I'll be with you forever
To get you through the day and make everything okay
I will be all that you want and get myself together
'Cause you keep me from falling apart
And all my life, I'll be with you forever
To get you through the day and make everything okay
***
Mereka berdua pulang kerumah, tak lupa sebelum mereka memasuki komplek perumahan, terlebih dulu mereka mampir di minimarket untuk membeli Snack dan beberapa kebutuhan dirumah.
"Al... Aku tunggu disini, kamu aja yang masuk ya, soalnya aku bakalan kesulitan di dalam." ucap Emma.
"Oh iya mbak, mbak Emma nitip apa, yang tadi doang?" tanya Alya.
"Iya Al.." jawab Emma.
"Okkee... Aku masuk dulu ya mbak, tunggu sini jangan kemana-mana." ucap Alya.
Emma mengangguk, dia lantas duduk menepi di bawah payung depan minimarket.
Saat Emma tengah duduk sambil mengecek ponselnya tiba-tiba Rio datang dan langsung menyambar ponsel Emma.
"Rioo!! Mana berikan ponselku, kamu mau ngapain?" tanya Emma.
"Mana video itu? Aku harus menghapusnya." ucap Rio.
"Video apa... Sini atau aku teriak copet." Kata Emma.
"Nahh ini dia... Maaf ya Emm, tapi aku nggak bisa ngebiarin Angga bebas dari penjara." ucap Rio dengan sengit.
"Jangaannn..." ucap Emma dengan reflek kakinya turun dari kursi roda dan dia berdiri begitu saja untuk meraih ponselnya.
"Oopsss.. udah ilang buktinya." ucap Rio sambil mengembalikan ponsel Emma, tak lupa dia mendorong Emma sampai terjatuh.
"Toooo jahat banget kamu." umpat Emma. Dia menepuk-nepuk kakinya yang sakit. Ternyata tidak seperti di sinetron yang karena keadaan darurat kaki yang lumpuh mendadak sehat.
Reflek tadi hanyalah reflek saja, nyatanya sekarang dia harus bersusah payah kembali duduk di kursi roda setelah jatuh tersungkur.
"Ya Allah mbak..." ucap Alya begitu keluar dari minimarket. Alya langsung berlari menghampiri Emma dan membantunya duduk kembali di kursi roda.
"Kok bisa jatuh sih mbak?" tanya Alya.
"Tadi si Rio kemari, tiba-tiba dia ngerampas ponselku dan menghapus video yang kemarin percakapan kamu sama Seah."terang Emma.
"Ya ampun nekat banget sih tuh anak, kudu dikasih pelajaran deh." kata Alya.
"Udah biarin aja Al, toh aku udah copy file itu di PC dan otg aku." bisik Emma.
"Ya aku nggak sebodoh itu." lanjut Emma.
"Iyaaa udah berasa dkatas angin tuh anak." kata Alya sambil mendorong kursi roda Emma untuk pulang.
***
Dan hari persidangan tiba, papa mama Adel, juga Alya yang ditemani Bayu, hadir dalam persidangan.
Ada Seah juga disana di dampingi keluarganya, Rio juga ada disana, tentu saja dia berharap bahwa Angga tetap dinyatakan bersalah, sidang berjalan dengan tertib sampai Emma menyerahkan bukti terakhir dia miliki. Semua tercengang termasuk kedua orang tua Seah.
"Bohong itu rekayasa, bahkan dalam video itu tidak nampak sama sekali saya didalamnya, bisa saja Alya dan Emma menrekayasa percakapan itu." elak Seah.
"Se... Udah! Aku udah maafin kamu sejauh ini, jangan sakiti aku lebih jauh lagi." ucap Emma.
"Enggak kamu bohong, kamu membuat bukti palsu." kata Seah.
"Enggak mbak itu asli, aku sendiri yang merekamnya." sahut Alya.
"Pa ma... Mereka berdua bohong." ucap Seah pada ornag tuanya.
Sementara itu Angga harap-harap cemas. Dia hanya bisa diam mengikuti persidangan.
"Cukup se... Atau mau aku tunjukkin bukti perselingkuhan kamu sama Adrian?" tanya Aji dari sudut ruangan.
"A... Apa... Enggak ngapain kamu disini?" tanya Seah.
"Udah cukup! Akui saja kamu yang salah dan jangan cari pembelaan, satu-satunya yang harus bertanggung jawab atas kehamilan kamu adalah Adrian bukan Angga, biarin dia bebas dan jangan ganggu Emma lagi, kamu nggak malu? Udah bersikap bodoh dan merusak persahabatan kalian?" tanya Aji.
Cowok itu maju kemudian menunjukkan sebuah video yang sangat kuat sebagai bukti bahwa Seah lah yang bersalah.
Video itu juga diputar di depan umum untuk membuat Seah bungkam.
"Dasar ... Bikin malu keluarga, mau ditaruh mana muka papa Seah!" hardik papanya.
Dan hakim ketua sudah mengetuk palu, menyatakan bahwa Angga tidak bersalah. Hari ini Angga bebas, ibu dan adik perempuan Angga yang hadir disana langsung menangis juga Emma.
"Makasih Emma." ucap Angga ketika mereka sudah meninggalkan persidangan.
Emma mengangguk, dia cukup bahagia bisa menebus kesalahannya karena membuat Angga memilih dipenjara dari pada menikah dengan Seah.
"Kalian nggak berpelukan?" tanya mama Emma.
"Mama... Kami kan udah cerai". ucap Emma.
"Cerai? Mana akta cerainya belum ada kan, mama emang ke pengadilan agama waktu itu, tapi bukan buat bawa kasus kalian naik sidang, mama hanya konsultasi, terus sama temen mama yang ada disana disuruh mediasi aja dulu, yaudah mama tahan gak jadi naikin kasus kalian, kalian masih suami istri belum cerai, nggak jadi." kata mama Emma.
"Hahhh..." Emma melongo.
"Peluk!" ucap Bayu sambil mendorong Angga.
"Pelajaran buat kalian berdua apapun masalahnya, jangan mudah ngucap cerai-cerai ya, pamali, terutama Angga, jangan sekali-kali mengatakan apapun yang merujuk ke perceraian itu sudah talak namanya." katanya papa Emma.
"Enggak pa... Nggak akan." jawab Angga dia langsung memeluk dan mencium kening Emma berkali-kali.
"Maafin aku... Aku janji kali ini nggak akan bertindak bodoh lagi, beneran." kata Angga.
Emma hanya menangis sambil membalas pelukan Angga.
"Makasih Al... Kamu benar-benar malaikat tanpa sayap, kalau kamu nggak datang malam itu, entah apa yang terjadi sama kami." ucap Emma kemudian setelah melepaskan pelukan Angga.
"Iya mbak... Janji kalian harus bahagia, kayanya ada yang kebakaran jenggot tuh." ucap Alya sambil melirik Rio yang dari jauh memperhatikan mereka.
"Aji... Makasih, kamu mau datang kesini juga, kupikir kamu nggak akan datang tadi." ucap Emma.
"Nggak mungkin lah aku nggak datang, kalian berdua juga temen baikku." jawab Aji sambil tersenyum.
"Yaudah aku balik dulu ya, nanti ada shift siang soalnya." pamit Aji.
"Iya hati-hati makasih banyak ya ji." ucap Angga.
"Okkee ..." jawab Aji.
"Ehh kita juga balik nih, mau nge date mumpung ada di kota dingin ya nggak Al." kata Bayu.
"Iihh yakali aku mau."jawab Alya.
Mereka semua tertawa. Emma menghampiri ibu dan adik Angga, dia meminta maaf dan merasa sangat bersalah karena perbuatannya pada suaminya.
"Ibu udah maafin kamu, maafin Angga yang suka ceroboh ya, lain kali ibu pastikan dia nggak akan mengulangi lagi kesalahannya." ucap ibu Angga.
Emma mendekat lalu memeluk mertuanya. Hatinya sangat lega.
"Jangan sedih-sedih jaga baik cucu ibu ya." ucap ibu Angga yang disambut anggukan kepala oleh Emma.