Kabar perceraian Emma dan Angga akhirnya sampai juga ke telinga Rio, cowok itu tengah nyebat di depan sebuah minimarket yang tepatnya berada di taman kota.
Sudah bisa ditebak dia sangat bahagia mendengar berita itu, berkali-kali dia menunjukkan senyum nya. Sambil menghembuskan asap putih dari mulutnya untuk yang terakhir kalinya, dia melempar puntung rokok itu ke lantai.
Sudah berapa puntung yang ia sebar dilantai. Namun tak juga beranjak dari tempat itu, dia hanya ingin menikmati malam dengan damai, tanpa harus selalu mengingat wajah Emma yang kadang membuatnya menyesal telah menyiksa gadis itu secara perlahan.
"Rio... Ngapain kamu sendirian?" tanya seorang gadis yang baru saja men standard motornya dekat tempat Rio berada.
Rio menoleh kemudian mengernyitkan dahinya, berusaha mengingat siapa sosok di depannya ini.
"Ehh... Alya. Loh kamu anak sini juga? Lagi main atau emang domisili sini sih?" tanya Rio yang excited melihat kecantikan gadis di depannya.
"Enggaklah... Rumah ku dekat pelataran Bromo sana. Saking main sama temen-temen anak gudang semi B, mungkin kamu kenal, ehh gabung yuk, soalnya aku sendirian aja, nggak enak tau, nih juga lagi disuruh beli camilan mereka pada pacaran di Villa." kata Alya sedikit kesal.
"Villa? Dimana?" tanya Rio.
"Villa pribadi sih, Villa nya temen aku. Yaudah gabung aja, temenin aku. Aku yakin kalau anak gudang kamu pasti kenal." paksa Alya.
"Siapa sih?" tanya Rio.
"Jojo sama Zaki, ceweknya Rena sama Cherry." jawab Alya.
"Ohh mereka yaudah boleh deh..." jawab Rio, yang kesenengan, tentu aja kalau sama mereka mainnya lebih seru dan pasti mengarah ke sana.
"Pasti seru nih kalau duo Omes pada ngumpul. Malam ini kayanya bisa nih make salah satu dari 3 cewek disana." batin Rio.
"Ayooo.. kok malah bengong, bentar aku beli camilan dulu ya kamu yang bawa motor nanti." kata Alya.
"Okke siap!" sahut Rio.
Setelah menunggu Alya beberapa saat gadis itu keluar juga. Dia lantas bersiap membawa motor Alya ke villa yang dimaksud.
Sampai di sana, dia langsung di sambut oleh Jojo cs yang sedang bermain truth or dare dewasa.
"Sini main..." ajak Cherry.
"Iya kalian lanjutin aja. Aku mau bikin minuman dulu." pamit Alya.
Rio mengikuti kemana Alya pergi, dalam hati dia gondok kenapa Alya nggak ikut main kan seru.
"Mau kemana Yo?" tanya Jojo.
"Main aja sama kita." tambah Zaki.
"Iya bentar, nyari Alya tadi kemana ya?" tanya Rio.
"Tuh..." mereka kompak menunjuk ke satu arah.
"Okke thanks..." jawab Rio.
Rio lantas menuju ke dapur. Dia melihat Alya tengah menyeduh teh hangat.
"Kamu mau?" tanya Alya.
"Enggak hehe.. kamu suka teh?" tanya Rio.
"Ehmm nggak sih, tapi dulu di kosan, sebelum mbak Emma nikah sama mas Angga, dia kan temen curhat aku tuhhh, kaya rutin tiap Jumat dia pasti jadi sasaran emosi dan kegalauan ku pas pengiriman hari Jumat, nah tiap kali galau sama mbak Emma selalu dibikin teh, dan emang relaksasi dan nyaman aja gitu, ehh keterusan sampe sekarang." terang Alya.
"Oh gitu... Btw kamu tau, mereka udah cerai?" tanya Rio.
"Haaahhh..." seketika Alya menganga.
"Hoax apaan nih.." kata Alya tidak percaya.
"Iyaa kamu juga kenal Seah kan, kalian satu kos, si Angga hamilin Seah, ambil kesempatan pas Seah lagi galau karena batal nikah sama cowoknya." kata Rio.
"Mbak Seah... Nggak mungkin lah, jangan ngarang deh." kata Alya.
"Beneran Al... Dan sekarang Emma lagi depresi berat." kata Rio.
Alya mencelos, dia benar-benar nggak nyangka semua terjadi secepat itu.
"Dan lagi sekarang posisinya Emma lagi hamil, Angga di penjara karena nggak mau tanggung jawab." kata Rio.
"Sumpahhh... Nggak enak banget cerita kamu, aku nggak bisa bayangin,, kok bisa semua ini terjadi sama mbak Emma, di baik banget tauu... Kamu bisa nganter aku ke rumahnya nggak Deket sini kan?" tanya Alya.
"Buat apa?" tanya Rio.
"Ya... Ya ada yang harus aku kasih tau ke mbak Emma." jawab Alya.
"Apa itu?" tanya Rio penasaran.
"Jangan-jangan Alya tau sesuatu tentang Angga sama Seah yang aku nggak tau." pikir Rio.
"Kepo banget kamu, ini masalah cewek." kata Alya.
Rupanya Rio tidak puas dengan jawaban Alya. Dia maju makin mendekat dan berniat mengancam Alya kalau dia tidak memberitau tentang rahasia itu.
"Jangan maksa, aku nggak suka di paksa, lagian kamu tuh siapa sih, ngapain maksa banget pingin tau apa yang bukan menjadi masalah kamu." kata Alya.
"Al... Aku bisa lebih kasar dari ini kalau kamu nggak mau ngasih tau!" kata Rio sambil mencengkeram kerah baju Alya.
Namun secepat mungkin Alya memelintir balik tangan Rio, kemudian menendangnya tepat di s**********n.
"Aku tau siapa kamu, kamu kan yang udah ngelecehin mbak Emma sama temennya, kamu emang nggak sebaik yang aku kira, pantes mbak Emma nggak pernah mau sama kamu." ucap Alya.
Alya meraih tas nya kemudian keluar dari dapur.
"Alya kamu mau kemana?" bentak Rio.
"Bukan urusan kamu." jawab Alya.
Rio langsung mengejar dan menarik ujung jilbab Alya, yang membuat gadi itu reflek mundur agar jilbabnya tidak terlepas. Rio langsung mendekap Alya membalikkan badannya dan hendak mencium nya untuk menciutkan nyali gadis itu.
Namun perkiraan Rio salah Alya justru membenturkan dahinya ke mulut Rio dengan keras sampai berdarah, kemudian meraih segelas teh yang ia sedih tadi dan menyiramkan ke wajah Rio.
"Nggak semua cewek, selemah yang kamu kira, nggak semua cewek bisa kamu lecehin seenak jidat kamu." kata Alya sementara Rio berteriak kesakitan.
"Tunggu kamu Al... Aku akan balas kamu." teriak Rio.
"Balas aja... Cuman pecundang yang beraninya lawan cewek." kata Alya sambil berlalu dari sana dengan tenang.
Rio tidak tau kalau Alya adalah pemilik Sabuk Merah di kelompok berlatih Taekwondo, dua tingkat terakhir dalam seni bela diri asal Korea yang juga dikenal sebagai olahraga tradisional China ini.
Alya berbalik sambil menunjukkan sabuk merah dari balik slingbag nya sambil tersenyum penuh kepuasan.
Rio kaget dan memilih tidak mengejar Alya.
***
Sementara itu di rumah Emma. Papa mama dan Adel tengah bersiap untuk berangkat ke Lombok. Mereka akan menghadiri upacara purnatugas kakek Emma yang ada di Lombok.
"Mbak Emma beneran nggak mau ikut? Kita bisa main setelah itu ke pulau komodo atau Labuan Bajo." bujuk Adel.
Emma menggeleng sambil tersenyum.
"Mbak nggak segampang kamu Adel mobilisasinya, jadi mbak nitip aja oleh-oleh yang buanyakkk." jawab Emma.
"Ehmmmm beneran nggak mau ikut, Adel takut ninggalin mbak sendirian." kata Adel.
"Iyaa... Ikut sayang ya." tambah mama Emma.
"Enggak ma, Emma takut nggak nyaman di perjalanan karena kondisi Emma seperti ini, belum lagi tiap kali naik pesawat walau cuma 2 jam doang bikin jetlag. Mama, papa sama Adel hati-hati di perjalanan ya." ucap Emma.
"Papa nggak bisa ninggalin kamu sendirian di rumah." kata papa Emma.
"Papa sama Mama takut Emma mau bunuh diri?" tanya Emma terus terang.
Mereka saling berpandangan.
"Enggak ma, jangan takut, buat apa juga bunuh diri, udahlah Emma udah dewasa udah ngerti, mama sama papa bisa ninggalin Emma sendirian. Nih Emma telpon Bianca biar dia nginep sini, ingat kan sama teman SMP Emma... Bianca?" tanya Emma.
Mereka mengangguk.
"Nih aku telpon pake loudspeaker ya." kata Emma.
"Hallo..." suara dari seberang.
"Hai.. Bi, kamu bisa nggak kerumah malam ini, ini mama sama papa mau ke Lombok, besok ada acara penting disana?" tanya Emma.
"Sekarang Emm?" tanya Bianca.
"Iya Bi..." jawab Emma.
"Bisa... Nih cuss meluncur, tapi aku selesaikan dulu makannya ya." pinta Bianca.
"Okke Bi... Makasih ya." jawab Emma.
"Okeee... See ya." putus Bianca.
"Tuhh kan, Emma ada temennya kok." kata Emma.
"Yaudah kita bakalan sering telpon kamu sayang." ucap papa Emma.
"Iya pa, kalian hati-hati ya." ucap Emma sambil memeluk mereka satu persatu.
"Kan kalian juga terkejut, aku udah nggak papa ma, pa, Hapepobhia ku mingkin sekarang sudah 10%." jawab Emma.
"Alhamdulillah..." ucap mereka.
"Ya udah kalau gini kan kami bisa tenang mbak." ucap Adel.
"Iya jangan lupa oleh-oleh nya." ulang Emma.
"Siappp..." jawab Adel.
Mereka bertiga kemudian berangkat meninggalkan Emma sendirian. Memang sudah banyak sekali tersedia makan siap saji di kulkas namun mereka tidak mengetahui isi hati Emma yang sebenarnya.
"Bi... Sorry nih, nggak jadi, orang tua aku berangkat besok pagi, karena penerbangan ditunda, katanya cuaca buruk gitu." tulis Emma pada Bianca.
"Oh... Gitu, yaudah besok kalau kamu butuh temen biar aku kesana pagi-pagi sekali ya." balas Bianca.
"Okkee BI... Makasih ya." tulis Emma.
"Siapp Sama-sama Emm." balas Bianca.
Setelah itu Emma masuk ke dalam kamar. Dia mengeluarkan sebuah kotak. Didalamnya terisi sebotol obat yang ia ambil dengan tangan gemetar.
Sekali lagi dia menatap foto pernikahannya yang sudah ia turunkan dari dinding.
Hati nya terasa pilu. Airmatanya meleleh. Tidak pernah dia mencintai begitu dalam, tidak pernah dia tulus menyanyangi selain pada Angga.
Flashback nya membawa Emma ke ingatan manis tentang masa-masa yang sudah mereka lewati.
Emma memutar tutup botol itu perlahan, lalu mengeluarkan semua isinya. Menuang ke tangan, saat bersiap hendak menelan semua obat tidur itu tiba-tiba sebuah tangan terjulur dan menampik tangan Emma hingga pil itu jatuh berantakan.
"A... Alya... Kok kamu ada disini?" tanya Emma.
"Mbak Emma mau ngapain mbak, apa ini...." tunjuk Alya sambil terengah-engah.
"Al..." ucap Emma.
"Untung aku sampe tepat waktu, kalau nggak, apa yang akan mbak Emma lakuin mbak, ini bahaya, aku tau mbak Emma itu cewek yang kuat, nggak selemah ini mbak..." ucap Alya sambil menangis duduk dihadapan Emma.
"Aku hampir lupa rumah mbak Emma yang mana, untung aku inget pernah foto di depan rumah ini pas nikahan mbak Emma, aku ketuk pintu gak ada yang nyaut, pas liat kedalam jendela, liat mbak Emma lagi ngelamun sambil bawa obat ini, aku langsung masuk, ternyata pintunya nggak dikunci." tutur Alya.
"Al..." ucap Emma lagi.
"Iya mbak..." jawab Emma.
"Maafin aku kalau selama ini banyak salah kamu." ucap Emma.
"Aduuhh ngomong apa sih mbak, yang ada aku yang banyak salah sama mbak, termasuk masalah mbak Seah, kalau dari awal aku cerita ke mbak, mungkin nggak gini ceritanya." ucap Alya lirih.
"Mbak... Maafin aku karena bikin masalah tambah rumit." ucap Alya.
"Maksud kamu apa Al?" tanya Emma.
"Jadi mbak Seah itu sebenarnya udah hamil mbak, udah sekitar 2 bulanan, awalnya mbak Seah fine-fine aja karena dia yakin toh bentar lagi juga nikah sama mas Aji. Tapi ternyata di hari H, mas Aji ngebatalin pernikahannya karena menemukan fakta bahwa mbak Seah pernah berselingkuh sama pak Adrian, bahkan mas Aji punya video mereka lagi have s*x di sebuah hotel mbak. Mas aji nggak mau melanjutkan pernikahan, karena dia juga tau kalau mbak Seah kemungkinan hamil bukan anaknya." jelas Alya.
"Ya ampun Al... Dan mas Angga dipenjara karena fitnah dari Seah." ucap Emma.
"Katanya mbak Emma sama mas Angga udah cerai apa itu benar?" tanya Alya.
"Iya Al, mama urusin masalah ini ke pengadilan agama, nggak tau prosesnya sampai mana sekarang." kata Emma.
"Pasti berat banget hal ini bagi mbak Emma danas Angga, terus sekarang gimana mbak?" tanya Alya.
"Kamu punya bukti nggak kalau Seah pernah cerita ini ke kamu?" tanya Emma.
"Soalnya Minggu depan nanti ada sidang nya mas Angga." kata Emma.
"Bukti nggak ada sih mbak, tapi tunggu dulu, waktu itu aku sama mbak Seah lagi nonton Drakor, dan aku sering ngevideoin momen-momen yang so swet gitu, siapa tau ada rekaman suara mbak Seah disana, aku periksa dulu ya mbak." ucap Emma.
"Iya Se..." jawab Emma dia menghapus airmatanya.
"Setidaknya kalaupun mas Angga marah karena aku udah mengakhiri pernikahan kami, tapi ada harapan buat membebaskan dia dari penjara dan membersihkan namanya." kata Emma.
"Iya mbak." jawab Alya.
Setelah mencari dan terus mencari akhirnya Alya menemukan video yang dia maksud.
"Ini mbak... Ini loh yang aku maksud tadi, coba kita play ya. Untung belum aku hapus." ucap Alya.
"Iya Al... Play Al." ucap Emma.
"Pak Adrian cuma ngerekam video itu katanya untuk pribadi Al, ya ngapain takut, kalau video itu kesebar udah pasti namanya juga jadi taruhan kan, lagian juga Aji nggak tau kalau aku pselingkuh, kalaupun nanti ketahuan aku hamil duluan,udah pasti semua ngira fix anaknya Aji, karena selama ini yang mereka tau pacar aku ya aji." suara yang terdengar dari rekaman video adegan Korea tersebut.
"Ini sudah cukup kuat mbak, ini benar-benar kuat mbak." ucap Alya begitu gugup.
"Kirimin aku video itu Al." ucap Emma.
Alya langsung mengirim video itu ke ponsel Emma.
"Syukurlah mas... Maaf aku nggak bisa percaya sama kamu lebih dulu." batin Emma.
"Tapi kamu emang udah keterlaluan mas, bisa-bisanya ya tidur sama Seah pas aku lagi sakit gini." lanjutnya.
"Sekarang mbak Emma jangan lagi bingung mau bunuh diri, kita fokus buat gimana caranya bebasin mas Angga." ucap Alya.
"Iya Al... Makasih banyak, Allah benar-benar masih sayang sama aku hingga ngirim kamu kesini." ucap Emma penuh syukur.
Tapi rupanya percakapan mereka didengar oleh Rio dari luar kamar Emma, dia langsung mengendap-endap keluar, begitu mendengar Alya dan Emma hendak keluar kamar.