Angga baru saja ingin masuk ke kamar kontrakannya saat sebuah tangan menariknya dari belakang dengan kasar. Dia tersentak dan noleh ke belakang, dilihatnya Seah tengah basah kuyup karena di luar memang sedang turun hujan dengan derasnya.
"Kamu ngapain Se... Hujan-hujanan kaya gini?" tanya Angga.
Seah bukannya menjawab malah menangis. Angga semakin bingung, sesaat yang lalu dia melihat Seah berapi-api, sekarang sudah sangat payah dan menyedihkan.
"Hehh... Kamu kenapa?" tanya Angga.
"Aku hamil..." jawab Seah lirih.
"Haaahhh..." Angga mengulang pernyataan Seah.
"Terus... Kok kamu nangis disini, i... Iya aku tau kamu nggak jadi nikah sama Aji, terus kamu hamil sama siapa?" tanya Angga cengo.
"Sama kamu... Kamu yang udah bikin aku hamil Ngga, kamu lupa?" tanya Seah.
"Kok aku... Darimana kamu bisa yakin itu anak aku, toh sebelumnya kamu sama Aji sering ngelakuinnya kan, dan sama aku cuma sekali doang, kemungkinan terbesar nya itu anak nya Aji, bukan anakku se..." ucap Angga.
"Jangan ngelak Ngga, sebelum aku ngelakuin itu sama kamu, aau sering tes, negatif. Dan saat kita ngelakuin itu dua Minggu yang lalu, adalah masa subur aku Ngga, kamu mana sadar, kamu lagi mabuk." ucap Seah.
Angga tidak mau keributan mereka didengar tetangga sebelah, dia mengajak Seah masuk kedalam.
"Kamu harus tanggung jawab!" desak Seah.
"Tunggu se... Pastiin dulu itu anak aku apa bukan, kamu tau kan aku duah nikah, dan sekarang Emma lagi hamil, aku nggak mungkin nyakitin dia." kata Angga.
"Kamu cuma mikirin diri kamu sendiri ngga, gimana dengan aku, aku juga hamil... Anak kamu, yang hampir seusia anak Emma. Tega kamu... Atau kamu mau lihat aku bunuh diri hah?" tanya Seah.
"Seah... Please!!!" kata Angga.
"Aku hanya perlu bukti itu anak aku apa bukan." kata Angga.
"Terus aku harus nanggung ini sendirian, nunggu anak ini lahir baru tes DNA... Gila kamu ngga, kamu jahat ngga. Aku akan bawa kasus kamu ke polisi." ancam Seah sambil berlalu dari kontrakan Angga.
"Seah... Seah... Jangan, kita bisa bicarain lagi ini." panggil Angga yang diacuhkan begitu saja oleh Seah.
"Emma... Maafin aku Emm." ucap Angga.
"Aaaaaaaaaa...." dia meninju cermin di depannya sampai pecah berantakan.
Malam ini juga dia pulang kerumah istrinya karena sudah dua Minggu Angga meninggalkannya.
Lewat tengah malam saat Angga tiba dirumah. Emma membukakan pintu sendiri untuk Angga.
Dia sedikit kaget melihat Angga yang datang dengan kondisi berantakan, tangannya penuh darah dan hanya berseragam saja tanpa memakai jaket.
"Ya ampun mas.. kamu kenapa?" tanya Emma.
Tanpa menjawab pertanyaan istrinya, dia langsung berlutut dan memeluk Emma.
"Mas kenapa?" ulang Emma.
"Kamu jatuh dari motor? Kenapa ini tangan kamu berdarah-darah mas?" tanya Emma cemas.
"Ayo masuk mas... Biar aku obatin didalam." ucap Emma.
Mereka berdua masuk ke kamar, Emma berpindah dari kursi roda dan duduk diatas ranjang dekat Angga.
"Fisioterapi kamu gimana sayang? Lancar?" tanya Angga.
Emma terdiam, karena sudah sejak keberangkatan Angga dia tidak lagi kerumah sakit, karena kendala biaya terapi. Dia tidak mau membebani orang tuanya yang terbilang mampu dan berkecukupan.
"Sayang?" tanya Angga.
"Mas belum jawab ini tangan kena apa kenapa bisa gini?" tanya Emma.
"Ini tadi kena mesin, tapi nggak papa kok." jawab Angga.
"Kamu bohong." jawab Emma.
"Mesin blocking nggak ada yang bisa ngelukain tangan kaya gini." ucap Emma.
"Bukan... Bukan sayang, aku tadi bantuin anak roughing, dan kena mesinnya." jawab Angga.
"Beneran?" tanya Emma.
"Iya sayang beneran." jawab Angga.
"Kamu bilang aku nggak bisa bohong, tapi kamu pinter banget bohong." kata Emma kemudia.
Deg ....
Angga terdiam, Emma benar... Dia bahkan sudah menghamili wanita lain diluar sana.
Angga merengkuh Emma dan memeluknya.
"Maafin aku sayang... " ucap Angga dalam hati.
"Kamu belum jawab pertanyaan aku tadi, fisioterapi kamu gimana?" tanya Angga.
"Mas... Itu, aku udah berhenti." jawab Emma.
"Kenapa? Kenapa berhenti?" tanya Angga kaget.
"Mahal banget mas, aku takut jadi beban mama sama papa, gajian kamu sebulan sekali, dan hanya bisa untuk dia kali kunjungan. Tapi kamu jangan khawatir mas, aku tetap berlatih sendiri dirumah kok." jelas Emma.
"Sayang... Aku akan berusaha lebih baik lagi, kamu jangan berhenti ya, besok kita kerumah sakit, aku yang antar kamu." kata Angga.
"Mass ..." keluh Emma.
"Aku nggak mau dengar penolakan." kata Angga.
"Sekarang kamu tidur, udah malem sayang. Dan besok kita kerumah sakit." ucap Angga.
***
Hampir tengah hari saat Angga dan Emma pulang dari rumah sakit, mereka sampai dirumah sangat kaget, karena begitu ramai, sudah ada Seah juga orang tuanya, tak lupa beberapa polisi juga ada diantara mereka.
"Se... Seah... Kok kamu ada dirumah aku?" tanya Emma.
"Emm..." Seah langsung memeluk Emma. Melihat kondisi fisik Emma yang seperti itu, sebenarnya Seah tidak tega melakukan ini pada Angga, namun dia juga harus menyelamatkan dirinya juga.
"Emm..." ulang Seah sambil menangis.
"Kamu kenapa Se? Kamu kenapa?" tanya Emma yang cemas karena melihat Seah menangis di depannya.
"A... Aku hamil Emm." jawab Seah.
Pikiran Emma langsung kemana-mana.
"Ka... Kamu hamil? Bukannya kamu bilang Aji ngebatalin pernikahan kalian?" tanya Emma.
"Iya Emm.. tapi suami kamu yang udah hamilin aku." ungkap Seah lirik.
Seketika Emma syok, wajahnya memucat tangannya dingin, sementara Angga membatu tak bisa membela diri sama sekali.
"Mas... Kamu tega sama aku." ucap Emma.
"Aku tau... Aku sadar diri, aku tka secantik dulu, aku tak bisa diandalkan seperti dulu, aku bahkan kaya zombie, nggak hidup juga nggak mati, tapi kenapa kamu tega banget mas, sama aku, sama anak kitaaaa..." teriak Emma diujung kalimatnya.
"Emma aku bisa jelasin, aku nggak tau aku bahkan nggak yakin itu anak aku apa bukan... Bisa saja aku difitnah sayang." ucap Angga sambil mencoba meraih tangan Emma.
"Cukup!!!" Emma menarik tangannya.
"Aku udah hafal track record kamu mas, kamu nggak sekali dua kali ngelakuin ini ke aku mas, aku bisa diem, tapi kenapa kamu lakuin ini pada Seah, kamu tau dia sahabat aku mas, dia sahabat aku!!!" ucap Emma sambil menangis pilu.
"Pergi kamu dari rumah aku!" usir Emma.
"Sayang kita bisa bicarakan lagi ini, ada orang tua Seah juga." ucap papa Emma.
"Iya Emma..." imbuh mama nya.
"Papa sama Mama berhenti belain dia, dia nggak sebaik yang kalian kira, Emma udah capek, Emma udah lelah selalu seperti ini, kehamilan pertama Emma yang dulu keguguran, dia juga nggak ada dirumah sampe Emma hampir mati, dia dimana... Dia lagi main sama cewek." teriak Emma.
"Pergi kamuuuu..." Teriak Emma.
"Ceraikan aku... Pernikahan kita selesai sampai disini. Pergiiiiii!!" teriak Emma histeris kemudian pingsan.
"Emma..." panggil Seah.
"Mbak..." ucap Adel lirih di sudut ruangan.
Papa Emma mengangkat Emma untuk membawa Emma ke kamar nya. Kemudian keluar sambil menyeret Angga ke tempat duduk.
"Pa Angga minta maaf, Angga khilaf, tapi Angga yakin sekali, dia nggak hamil anak Angga pa." ucap Angga.
"Papa akan urus perceraian kalian." ucap papa Emma singkat.
"Tapi pa... Angga sayang banget sama Emma, hanya dia pa..." ucap Angga terpotong.
"Tapi faktanya kamu udah tidur sama Seah ngga... Papa mentolerir semua kenakalan kamu, tapi tidak untuk perselingkuhan." Tegas papanya.
"Kamu harus bertanggung jawab dnegan apa yang sudah kamu lakukan atau mendekam di penjara." ucap papa Seah.
"Saya lebih baik dipenjara daripada nikah sama Seah om, karena saya yakin, dia sudah hamil sebelum berhubungan sama saya, dia sengaja menjebak saya, karena saya mabuk." ucap Angga.
"Cukup!" ucap mama Emma.
"Terserah kalian mau apa, sekarang bisakah kalian pergi dari rumah saya, saya tidak mau anak saya depresi lebih berat." perintah mama Emma sambil menunjuk pintu keluar.
Akhirnya karena tidak mau bertanggung jawab, Angga harus di seret ke kantor polisi dan menjalani hukumannya.
***
Sore harinya saat Adel pulang dari bimbingan belajar dair bimbel terdekat, dia melihat Emma tengah duduk diam di dapur.
Adel mendekat. Dia terkejut melihat Emma meraih sebuah pisau dapur.
Adel berjalan perlahan mendekat dari belakang, dia melihat Emma hendak mengantar tangannya sendiri dengan pisau buah.
"Mbaaakkkk...." teriak Adel.
"Jangan mbak jangan... Ma... Papa..." panggil Adel.
"Hidup mbak udah selesai Dek." ucap Emma dengan tatapan kosong.
"Mbak jangan mbak..." ucap Adel.
"Mbak... Ada kehidupan lain di dalam rahim mbak Emma, dia berharap bisa melihat wajah mama nya, mbak Emma nggak sendirian mbak, ada Adel, adel sayanggg banget sama mbak, jangan lakuin ini mbak, jangan mbak." ucap Adel.
Tak peduli kata Adel. Emma semakin menempelkan pisau itu ke kulit putihnya yang makin memucat.
"Mbakk... Jangan mbak, ingat kit adari kecil sama-sama mbak, mbak Emma adalah segalanya buat Adel, kalau mbak Emma lakuk itu, Adel juga." ucap Adel sambil meriah pisau yang ada di dekat wastafel.
"Ayo kita lakukan sama-sama, karena Adel nggak akan pernah ngebiarin mbak Emma sendirian, ayo kita lakuin bareng mbak." ucap Adel.
Emma menjatuhkan pisaunya karena kaget melihat apa yang dilakukan Adel. Kemudian menangis.
Adel meletakkan pisaunya kemudian memeluk kakaknya, dia mendorong kursi roda kakaknya untuk kembali kekamar.
"Mbak Emma nggak pernah sendirian mbak, ada aku." tegas Adel.
"Nanti Adel bakalan kerja, cari uang yang banyak buat kita gedein anak mbak Emma bareng-bareng, Adel nggak akan kuliah sebelum mbak Emma benar-benar bahagia. Kita bisa lalui ini sama-sama mbak, Adel janji nggak akan ninggalin mbak Emma sendirian." ucap Adel dengan tulus.
"Kenapa tega banget Adelll... Kenapa mas Angga tega sama mbak." rintih Emma.
"Mbak... Adel tau ini berat banget buat mbak Emma, tapi Adel yakin pasti ada hikmahnya mbak." kata Adel.
"Mbak... Mas Angga milih dipenjara daripada nikah sama mbak Seah. Mas Angga cinta banget sama mbak Emma, dia bilang mbak Seah mungkin menjebaknya saat dia mabuk." jelas Adel.
Emma menggelengkan kepalanya.
"Kalau mas Angga sayang sama mbak, dia nggak mungkin nyentuh wanita lain, walupun kita lagi gak barengan. Mas Angga emang udah keterlaluan Adel, dia tega kelewat tega sama mbak." ucap Emma.
"Mbak udah ya, udah... Adel nggak ngerti lagi harus ngomong apa." ucap Adel.
"Mbak mau gugurin bayi ini, mbak nggak mau ngandung anak dari laki-laki b******k macam dia." ucap Emma.
"Mbak jangan... Bayi ini nggak salah, dia juga pingin hidup mbak, dia nggak bisa milih mau dilahirkan oleh siapa mbak, jangan lakuin itu, bayi ini berhak hidup mbak, jangan mbak." tahan Adel.
"Tapi mbak nggak bisa Del... Mba nggak bisa..." ucap Emma.
"Mbak adalah sosok yang penuh kasih, mbak Emma bahkan nggak pernah bunuh seekor semut mbak, ini adalah darah daging mbak Emma, jangan di bunuh mbak, dia pingin liat mamanya mbak, dia pingin bahagiain mamanya." ucap Adel.
Mama Emma yang baru saja datang dari pengadilan agama langsung masuk kekamar Emma.
"Ma..." ucap Adel yang langsung dimenegerti oleh mamanya.
"Kamu anak mama yang hebat, mama akan selalu bangga sama Emma. Emma harus bisa menjalani ini semua ya." ucap mama Emma.
"Mah... Mas Angga tega sama Emma mah." ucap Emma.
Dia menangis hanya menangis dan lama kelamaan histeris.
"Pa... Panggil dokter pa." ucap mama Emma.
Tidak lama pribadi mereka datang. Emma masih menangis dia begitu depresi pada segala yang terjadi padanya.
Papa Emma meminta dokter Fahri menyuntikkan obat penenang untuk anaknya.
Tidak kurang dari 30 menit Emma sudah mulai tenang, bahkan tertidur. Mama Emma menyelimuti Emma dengan selimut hangatnya.
Sementara Adel mengambil semua benda-benda yang berpotensi berbahaya dari kamar kakaknya termasuk obat-obatan.
"Mbak Emma tadi mau nyayat nadinya lake pisau ma, dia juga mau gugurin kandungannya. Mbak Emma sangat sedih dan frustasi." kata Adel.
"Sementara ini jangan pernah tinggalin Emma dalam keadaan sendirian tanpa pengawasan, kondisi mentalnya sedang tidak baik-baik saja. Takut dia nekat." kata dokter Fahri yang merupakan sahabat papa Emma.
"Angga... Angga, kok bisa sih." keluh papa Emma.
"Udah pa jangan sebut nama dia lagi, di depan Emma kasian." kata mama Emma.
I'm so tired of being here
Suppressed by all my childish fears
And if you have to leave
I wish that you would just leave
'Cause your presence still lingers here
And it won't leave me alone
These wounds won't seem to heal, this pain is just too real
There's just too much that time cannot erase
When you cried, I'd wipe away all of your tears
When you'd scream, I'd fight away all of your fears
And I held your hand through all of these years
But you still have all of me
You used to captivate me by your resonating light
Now, I'm bound by the life you left behind
Your face it haunts my once pleasant dreams
Your voice it chased away all the sanity in me
These wounds won't seem to heal, this pain is just too real
There's just too much that time cannot erase
Maaf ya author baru bisa up nih, galau juga beban overthingking kaya Emma hehehe, patah hati akut, makanya terlintas lagu itu. Semangat dong