Seah

2039 Kata
     Emma baru saja menghapus airmatanya, dia berusaha dengan keras menggerakkan kakinya untuk mencari tau sejauh mana respon kakinya terhadap perintah otak, namun nihil.      Beberapa saat kemudian dia mendengar suara motor Angga yang baru saja kembali dari membeli es krim karena permintaannya.      "Mas Angga nggak boleh liat aku nangis." ucap Emma dia buru-buru meraih ponselnya kemudian mulai menonton sebuah drama Korea.      "Assalamualaikum..." ucap Angga sambil membuka pintu kamar Emma.      "Waalaikumsalam..." jawab Emma.      "Kok cepet banget mas?" tanya Emma.       "Kebetulan di minimarket lagi sepi, jam sekolah, jam kerja, jadi gak ngantri." jawab Angga.       "Ini es krim nya, oh iya sini aku bukain." ucap Angga.       Kemudian menyerah kan pada Emma es krim yang sudah di buka.       "Hmmm yummy." ucap Emma sambil mulai menikmati cone es krim nya.       "Habisin... Biar nanti anak kita nggak ileran." ucap Angga sambil mengusap perut Emma yang masih rata.       "Nih... Mas nggak mau?" tanya Emma.       "Enggak, udah kamu makan aja sayang." kata Emma.       "Iniii... Cicipin dulu!" ucap Emma.       "Aduh sayang, aku nggak begitu suka coklat." kata Angga.        "Dek... Papa kamu rewel." keluh Emma.        "Iya... Iya, kalau kamu maksa, tapi aku maunya yang itu." ucap Angga.        "Yang mana?" tanya Emma dia celingukan mencari adakah rasa lain selain coklat, kan semua rasa coklat.        Angga menahan dagu Emma kemudian melumat bibir Emma yang menyisakan rasa coklat disana, menyesapnya begitu dalam, membiarkan lidahnya menyapa lidah Emma, ciuman yang begitu basah itu berlangsung begitu lama, sampai Emma tersadar saat es krimnya leleh di tangannya.       Dia menarik wajahnya menjauh, bernafas sejenak lalu melihat kearah tangannya yang tadi memegang es krim, sudah leleh dan menetes ke mana-mana.      Mereka berdua tertawa, Angga mengambil tissu kemudian memindahkan es krim itu kedalam gelas kosong yang ada diatas nakas, lalu membersihkan tangan Emma dengan tissu basah.     "Keenakan banget mama kamu dek, Sampek lupa sama es krimnya." kata Angga, yang langsung disambut cubitan di lengan Angga dengan sebelah tangan Emma.       "Iihh nyebelin banget sih mas, kan kamu yang mulai duluan." kata Emma.       "Habis nyium kamu itu benar-benar candu, healing buat aku." ucap Angga dengan jujur.       "Ehmm.. mas pas kamu keluar tadi, leader kamu nelpon, jatah cuti kamu udah berakhir Minggu ini, hari Senin besok kamu disuruh masuk." ucap Emma lirih.       "Udah biarin aja." kata Angga.       "Mas.." ucap Emma.       "Kamu masuk aja dulu, selama di sini kamu belum dapat pandangan pekerjaan." lanjutnya.       "Sayang..." sela Angga.       "Mas.. aku tau, kurang ajar banget aku ngomong gini, tapi.." ucap Angga.       "Tapi apa sayang?" tanya Emma.       "Kalau kamu nggak kerja, siapa yang bakalan bayar biaya perawatan aku mas, nggak mungkin kita ngandelin orang tua kita kan, biaya fisioterapi ini lumayan mahal, dan aku belum setengah jalan mas." bisik Emma.       Angga berjongkok di depan Emma. Dia menenggelamkan wajahnya di pangkuan Emma.       "Aku nggak mau ninggalin kamu lagi sayang. Tapi aku sadar, aku nggak punya apa-apa juga kalau nggak kerja, nggak mungkin ngandelin harta orang tua, karena keadaan orang tua aku sendiri juga kaya gitu." ucap Angga.      "Mas aku nggak ada maksud buat maksa kamu kerja mas, beneran aku nggak..." ucap Emma terpotong.      "Iya sayang .. kamu nggak salah kok, kamu bener, aku bersedia bekerja dan Nerima promosi jabatan itu, asal kamu janji sama aku satu hal." ucap Angga memberikan syarat.      "Apa itu?" tanya Emma.      "Kalau aku nggak ada, kamu nggak boleh nangis untuk hal apapun, kamu harus bahagia, harus!" ucap Angga.      "Janji..." ucap Emma dengan senang hati.       "Beneran? Janji?" ulang Angga.       "Iya mas Angga sayang." jawab Emma.       "Yaudah aku telpon balik bapak ku dulu ya!" ucap Angga sambil meraih ponselnya lalu duduk diatas ranjang Emma.       "Akan lebih baik kalau kamu nggak liat keterbatasan ku setiap hari mas, Insecure rasanya, dan perih banget harus liat kamu ngelayanin aku 24 jam." ucap Emma dalam hati. ***      Malam harinya Angga berangkat kembali ke tempatnya bekerja, perjalanan 2 jam membuatnya kelelahan di jalan.      Sampai di depan kos Bayu, Bayu dan teman-teman nya menghentikannya untuk mampir sejenak, rupanya mereka tengah party kecil-kecilan sambil main kartu menghilangkan penat.      "Gimana Emma?" tanya Bayu.      "Emma lagi hamil, jadi agak rewel, maunya deket aku terus, biasalah bawaan bayi, tapi ya gitu lah aku kan harus kerja." jawab Angga.      "Wiihhh congrats ya... Bentar lagi jadi bapak kamu Ngga." sahut Bayu.      "Hahaha ya dong." ucap Angga.      "Nih... Giliran kamu, lama kan nggak muterin gelas." ucap Bayu.       "Waduuhh sorry nih, tapi aku udah ngurangin ini semua." ucap Angga.       "Alahhh dikit doang, Emma juga nggak tau." bujuk lainnya.       "Ya tapi habis ini aku balik ya. Sorry nih ya." ucap Angga.       "Iya iya kami paham kok, beneran tua sekarang kamu hahhha..." ucap mereka.       Angga nggak tau apa aja yang Bayu campurin di dalam minuman itu, tapi baru satu sloki saja dia sudah pening.      "Aduh pusing banget sih." keluh Angga dalam hati.      "Yaudah aku balik dulu ya." pamit Angga.      "Okke ngga, tiati!" ucap Bayu.      "Okke." sahut Angga.       Dia lantas menyambar helmnya kemudian memakai lalu melakukan motornya menuju kos nya.       Namun di tengah perjalanan dia sepintas melihat Seah tengah menangis di pinggir jalan.       "Seah kan... Iya Seah, kenapa dia?" Angga menghentikan motornya untuk menghampiri sahabat Emma satu-satunya itu.      "Se... Kamu ngapain di sini malem-malem. Dan pake nangis-nangis segala, drama banget, nggak lucu tau." kata Angga.      "Angga..." ucap Seah buru-buru menghapus airmatanya.      "Ehh kamu nangis beneran, ada apa sih?" tanya Emma.      "Aku... Aku sama Aji batal nikah, dia tiba-tiba ngilang di akad nikah kami, aku udah buat malu keluarga, semua undanhan udah datang, tiba-tiba Aji ngehilang gak kasih kabar dan aku sangat kacau Ngga." jelas Seah.      "Aku ngga berani pulang, semua orang marah sama aku, milih calon suami gak bener, dan aku udah terlanjur keluar dari kos lama, aku nggak tau harus kemana." kata Seah.      "Ya ampun Se... Sekarang kamu telpon Aji, diangkat nggak?" tanya Angga.       "Hp nya mati dari kemarin." jawab Seah.       "Yaudah kamu ikut aku aja sekarang, kamu bisa tidur di kontrakan aku, aku gampang bisa tidur di tempat anak-anak." kata Angga.      "Beneran?" tanya Seah.      "Iya beneran, aku bisa kasih tau Emma, kalau kamu nginep di kontrakan kami, biar dia nggak salah paham." kata Angga.       "Makasih ya." ucap Seah.       "Iya Se... Yaudah kamu ikut aku aja sekarang." ucap Angga.       "Iya makasih sekali lagi ngga, besok aku bakalan ajak Alya buat cari kos baru." ucap Seah.       "Iya Se..." jawab Angga.       Seah naik ke motor Angga dan mereka pun menuju kontrakan Angga. Sementara Seah yang kalut mulai terlanjut nyaman sama Angga.       "Maafin aku Emm... Tapi aku hamil, dan Aji lari dari tanggung jawab, maafin aku karena balas kebaikan suami kamu dengan hal yang aku sendiri nggak tega ngelakui nya, tapi bayiku harus lahir dengan ayah Emm, aku nggak mau dibunuh keluargaku karena hamil dan ditinggal lari." batin Seah.      Sampai di tempat kontrakan Angga, Seah turun, Angga membukakan pintu untuk Seah dan membantunya mengangkat barang-barang Seah.      Seah sepintas mencium bau alkohol dari Angga. Kesempatan ini tidak bisa ia sia-sia kan.      "Emma dirumah lumpuh, Angga juga butuh menyalurkan kebutuhan biologisnya sebagai seorang suami, dia bertemu aku, lalu mengajaknya ke kontrakan dan kami having s*x, lalu aku hamil anaknya dia, maka dia harus bertanggung jawab." Seah menyusun jebakan yang begitu sempurna untuk suami sahabatnya.      "Yaudah kamu istirahat Se, aku tidur di tempat Bayu malam ini." ucap Angga sambil meraih seragam dan id cardny yang tergantung di balik pintu.      "Angga... Bentar-bentar." tahan Seah.      "Ada apa Se..." tanya Angga.      "Kamu... Kamu bisa nggak olesin minyak kayu putih di punggung aku, kayanya aku masuk angin karena kelamaan diluar tadi." kata Seah.       "Eng ...." ucap Angga.       "Bentar aja ngga. Please..." ucap Seah.       "Iya udah." kata Angga.      Seah lantas mengeluarkan minyak kayu putih dari dalam tasnya, lalu membuak kemejanya, dia menghadap ke tembok.      Angga yang dibawah pengaruh alkohol sedikit konak melihat punggung putih Seah.       Tapi dia berusaha menahannya sebaik mungkin. Seah sengaja mendesah lirih menikmati setiap sentuhan tangan Angga di punggungnya.      "Bagian perut juga ya." ucap Seah. Belum sempat Angga menjawab gadis itu sudah berbalik dan menampakkan dua bongkahan daging kenyal di dadanya. Yang tertutup bra sebagian berwarna hitam.      Angga meneguk ludahnya kasar, dia mencoba mengalihkan pandangannya. Namun Seah sudah terlebih dulu memegangi rahang Angga.      "You want more?" bisik Seah.      "Enggak ini nggak bener." ucap Angga gelagapan.      "Gimana kalau aku yang minta, aku janji Emma nggak akan tau hal ini." ucap Seah.       Gadis itu menarik kerah Angga mendekatkan ke arahnya lalu menyambut bibir Angga dengan bibirnya. Angga yang sudah kalap langsung melahap jajanan gratis di depannya.       "Ahh... "Sebuah desahan lolos dari bibir mungil itu saat Angga menyentak kan bra penutup bukit kembar Seah.       "Jangan sampai Emma tauuh hal ini." ucap Angga.       "Lakukan apa aja yang kamu mau, malam ini tubuhku milik kamu." ucap Seah.       Angga meremas d**a Seah sambil sebelah tangannya membuka resleting celana Seah. Dia menggosokkan telunjuknya dari balik celana dalam Seah yang sudah basah.      "Ahh... Anggaahhh, hmmmm uhhh nikmat banget." rintih Seah.      Tak mau kalah Seah memancing libido Angga lebih lagi, dia meremas celana Angga yang sudah terasa sesak itu, membuka resleting nya lalu membiarkan burung itu terbebas dari sangkarnya.      "Waooww... Punya kamu jauh lebih gede dari punya aji." ucap Seah sambil meremas dan mengusap batang Angga.      "Uhhhh Se... " lirih Angga.      Angga merentangkan kedua kaki Seah dia bisa lebih leluasa melepaskan celana Seah.      Setelah keduanya sudah sama-sama naked. Angga langsung memasukkan miliknya ke liang surgawi Seah.      "Aahhhh ahhhh Angga.." racau Seah.       "Jangan kenceng-kenceng Sehhh..." ucap Angga.       "Uuhhh hmmmm nikmatt sekali iniiih..." bisik Seah.       Angga meremas d**a Seah yang sempat ia anggurin.      "Aakhh... I wanna cum..." tahan Seah.       "Keluarin didalem aja nggah..." Seah menahan Angga yang hendak mencabut batangnya.       "Tapi...." kata Angga.       Seah membungkam Angga dengan mulutnya. Percintaan mereka selesai di tengah malam.       Angga pergi kekamar mandi, dan membersihkan dirinya.      "Aku harap setelah ini kita nggak ada urusan lagi Se .. besok aku bantu kamu cari kos, sekarang aku harus pergi." kata Angga.      Seah tersenyum sinis, dia bahagia karena jebakannya berhasil.      "Urusan... Ada laahh, kan kamu yang akan bertanggung jawab atas kehamilan aku." kata Seah dalam hati.      "Balik lagi kan ..." kata Bayu, setelah Angga sampai di kosnya.       "Capek banget Bay... Malam ini tidur sini ya, semalem aja." kata Angga.       "Emang kontrakan kamu kenapa? Ada kuntilanak nya, gak berani tidur sendiri." kata Bayu membiarkan Angga masuk ke kamarnya untuk tidur.       Sementara itu dirumah Emma masih terjaga, dia menanti chat Angga yang mengatakan dirinya sudah sampai di kontrakan dengan selamat.      "Kok gak baca chat aku ya?" tanya Emma.      "Apa mungkin mas kecapekan dan langsung tidur?" lanjutnya.       "Kok perasaan aku nggak enak ya." ucapnya sambil mengarahkan kursi rodanya ke pinggir jendela.       Hujan deras diluar, akan terasa nyaman jika malam ini dia tidur dalam pelukan suaminya. ***        Keesokan harinya, Angga berangkat kerja seperti biasa. Di pabrik bertemu Seah juga mereka hanya melempar senyum satu sama lain.      Angga merasakan ponselnya bergetar dia segera mengangkatnya, ternyata panggilan video dari Emma.      "Mas semalam kamu nggak bilang udah nyampe belum, aku nungguin kamu Sampek subuh." ucap Emma bersungut manja.       "Maafin aku sayang, se... Semalam aku tidur di kos Bayu, yah karena daripada di kontrakan sendirian, aku nyari temen, terus sedikit minum dan langsung ketiduran Sampek pagi." jawab Angga.       "Kok minum lagi sih?" keluh Emma.       "Dikit banget kok sayang beneran kamu bisa tanya Bayu."kata Angga.       "Kamu tuh susah banget dibilangin mas, yaudah kalau git kamu hati-hati ya kerjanya. Kalau pulang jangan lupa sekalian beli makan!!." kata Emma.      "Iya sayang .. dek mama kamu bawel tuh." ucap Angga.      "Biarin... Mas aku nanti ke rumah sakit sama Adel sama mama." ucap Emma.       "Iya sayang hati-hati ya." ucap Angga.       "Besok aku gajian, kamu ambil aja semuanya sayang buat pegangan kerumah sakit ya." kata Angga kemudian.       "Iya mas.." Jawab Emma.       "Ehh bentar itu dibelakang kamu Seah ya mas?" tanya Emma yang melihat Seah berada di belakang Angga sambil bercanda dengan Alya dan lainnya.      "I... Iya mau ngomong sama dia?" tanya Angga.       "Boleh boleh boleh kangen banget sama mereka." kata Emma.       "Se... Nih Emma kepingin ngomong sama kalian." Angga menyodorkan ponselnua kearah Seah.       "Hai... Emm..." sapa Seah dengan riang.       'Mbak... Apa kabar ya ampunn, lama banget nggak ketemu?" tambah Alya.        "Hmmm kangen kalian." jawab Emma.        "Aku juga Emm, kamu tau banyak banget yang pingin aku ceritain ke kamu Emm, balik lagi pliss aku butuh kamu." ucap Seah.       "Kamu kenapa se, kok berkaca-kaca gitu?" tanya Emma.       "Halahhh basi, mbak Seah Suka drama." sela Alya.        Mereka terus ngobrol sampai bel berbunyi dan memecah konsentrasi mereka. Emma mengakhiri panggilan nya. Seah mengembalikan ponsel Angga dengan sedikit skin Contact pada Angga.      Angga buru-buru pergi dari sana, dia sudah cukup merasa bersalah karena kejadian semalam pada Emma.                           
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN