Endless love

2323 Kata
     Rio kesal karena ternyata obat itu tidak bekerja pada Emma, bukannya tidak bekerja, memang karena Emma tidak pernah meminum obat itu.      Ditambah kehadiran Angga membuat hatinya semakin memanas.      "Tuh anak ngapain sih disini?" keluh Rio.       Dia membuntuti kemana mereka berdua pergi, sampai akhirnya setan benar-benar membantunya menuntaskan ide gilanya.      Saat Angga tengah meninggalkan Emma sendirian, dia mendekat perlahan lalu mendorong kursi roda Emma dengan sekuat tenaga ke arah tangga. Emma yang kaget berteriak kencang.      Selang infus Emma tercerabut dari tangannya hingga darah bercecer kemana-mana, dia jatuh berguling-guling tertimpa kursi roda. Sekuat tenaga Emma berusaha menahan dirinya agar tidak terus terjatuh namun sia-sia karena energi nya yang lemah.      Sampai di lantai dasar, Emma masih memegangi perutnya berharap tidak akan terjadi apa-apa pada kandungannya, namun itu tidak lama, karena setelah itu dia pingsan.     Setelah ditolong tim medis, dokter Marta memeriksa langsung kondisi Emma. Setelah beberapa lama screening. Akhirnya dokter Emma dibantu oleh dokter spesialis bedah Ortopedi bisa menyimpulkan kondisi Emma.      Mereka memanggil keluarga Emma. Sudah ada Angga dan juga kedua orang tua Emma. Bersamaan dengan itu pula, Emma mulai siuman.      "Mohon maaf pak... Kami harus menyampaikan berita yang kurang menyenangkan ini, kami telah melakukan pemeriksaan secara mendetail pada Emma. Hasilnya kandungan Emma tidak apa-apa, janinnya cukup kuat, memang terjadi pendarahan namun tidak berpengaruh apa-apa pada janin." ucap dokter Marta.      "Alhamdulillah..." ucap Angga.      "Tapi... Berita buruknya apa dok?" tanya Emma tiba-tiba.      Dokter Marta mendekat kearah Emma. Dia mencoba tersenyum untuk menguatkan Emma dan suaminya.      "Dokter Kevin akan menjelaskan." jawab dokter Marta.      "Begini... Pasca insiden tadi, Emma mengalami cedera tulang belakang yang fatal pak, Bu.. Karena banturan yang terlalu keras di punggung nya. Hal ini mengakibatkan Emma mengalami kelumpuhan." jelas dokter.      "Apa... Cedera tulang belakang?" ulang mama Emma.      Emma sangat terpukul, airmatanya meleleh, tangannya mengusap perlahan perutnya.      "Tapi ... Bisa disembuhkan dengan fisioterapi kan dok?" tanya papa Emma.      Emma menutup kedua telinganya. Dia sudah terlalu takut mendengar segala kemungkinan yang bakal terjadi.      Angga memeluk Emma dan mendekapnya dengan lembut. Dia mengusap airmata istrinya.      "Kami tidak bisa menjanjikan apapun pak, tapi kami akan melakukan apapun yang terbaik untuk kesembuhan Emma. Kalau kondisi Emma sudah membaik, kami akan menjadwalkan Emma untuk Fisioterapi." jawab dokter Kevin.      "Makasih dok." jawab papa Emma.      Mama Emma keluar ruangan, dia tidak sanggup melihat kondisi putrinya.       "Jangan nangis... Apapun yang terjadi, aku bakalan selalu ada buat kamu, aku akan selalu jagain kamu sayang, jangan nangis, sakit banget lihat kamu nangis." ucap Angga sambil mencium kening Emma.        Emma tak bisa berkata-kata selain hanya pasrah dan berharap masih ada jalan untuknya bisa sembuh dan membaik.       "Ya Allah Engkau merencanakan apa sih... Kenapa gini amat prosesnya, kalau ini hukuman buat aku, hukum aku jangan Emma. Ini nggak adil buat dia, Emma istri yang baik, penurut dan selalu menjaga fitrahnya sebagai perempuan. Tapi kenapa selalu dia dan hanya dia yang engkau sudutkan dalam pembelajaran yang begitu pahit. Kenapa bukan aku saja, aku pendosa yang bahkan tak layak berdiri sebagai suaminya." batin Angga pilu.      "Mas... Kalau aku nggak bisa jalan, gimana aku bisa mengasuh anak kita nanti?" ucap Emma, semakin menusuk Angga sampai ke tulang.      "Peran kamu sudah cukup baik sebagai istri sayang, biar aku yang akan jagain dan merawat anak kita. Kamu jangan sedih ya." hibur Angga.      "Ada papa juga yang akan bantuin Angga kok sayang... Jangan sedih, dan papa yakin kamu pasti akan sembuh dengan normal lagi, anak papa kuat. Papa yakin itu." tambah papa Emma.     Sementara mama Emma masih terisak di dalam kamar mandi. Tubuhnya merosot begitu saja di lantai.      "Bagaimana bisa Fisioterapi dengan baik, kalau kamu Hapepobhia sayang." ucap mama Emma lirih.       Tidak mau berlarut-larut dalam kesedihan karena dia tau putrinya membutuhkan nya, mama Emma lantas berdiri kemudian mencuci wajahnya, lalu kembali ke ruang rawat Emma.      Sementara itu Angga tengah menelepon. Dia berbicara serius dengan seseorang di ujung sana.      "Nggak pak, saya mau resign aja, saya fokus jagain istri dirumah." ucap Angga.      "Saya kasih cuti berapa pun kamu mau Ngga, jangan resign, kamu saya promosiin jadi leader ini, nggak bisa langsung cabut aja." kata Leader.      "Apa promosi leader?" tanya Angga.      "Iyaaa... Kerja kamu bagus, kamu sangat potensial jadi calon leader. Semua berkas kamu sudah naik ke Manager kita, terserah kamu mau masuk kapan, tapi jangan resign!" tegas leadernya.      "Saya akan diskusikan dengan istri saya lagi masalah ini pak, jika dia tidak mengizinkan saya kembali, maka maaf saya tidak bisa kembali bekerja pak, mohon pengertiannya, istri saya lumpuh, dan hanya pada saya bisa bergantung." ucap Angga.      "O.... O... O gitu, ya udah kamu jaga istri kamu baik-baik, semoga cepat pulih ya." ucap leadernya kemudian menutup telpon.      "Mas di promosiin?" tanya Emma.      "Udah... Jangan dipikirin, nggak penting, yang paling penting adalah kamu." jawab Angga.             "Tapi itu buat masa depan karir kamu mas, buat kita juga." ucap Emma.       "Mana yang lebih penting, kamu atau pekerjaan?" Angga membalik pertanyaan sambil tersenyum menggenggam jemari yang dingin itu.       "Ehmmm..." Emma terlihat berpikir sejenak, di satu sisi dia ingin suaminya ada setiap saat untuk nya di sisi lain, dia tidak ingin menumpang hidup di rumah orang tua terus, menjadi beban keduanya, apalagi ditambah sebentar lagi punya anak, tapi tidak bisa mengurus diri sendiri.       "Stop!! Aku nggak mau kamu mikir, udah aku aja yang mikir. Dan aku udah mutusin buat tinggal disini." ucap Angga.       Emma tersenyum, apapun keputusan yang Angga ambil, pasti sudah dia pikirkan baik-baik.       "Aku bisa kok cari kerja di dekat-dekat sini nggak harus ke sana lagi." hibur Angga.       Emma mengangguk, dia sangat lega.       "Maaf ya mas... Aku nggak pernah berniat bikin kamu milih antara pekerjaan atau aku, aku juga nggak mau berada di keadaan serba menyusahkan seperti ini mas." ucap Emma.       "Heehh kamu ngomong apa sih, kan aku udah bilang berkali-kali, aku paling seneng kalau kamu repotin, karena berasa ada gunanya jadi suami, justru kalau kamu ngapa-ngapain sendiri aku ngerasa gak berguna banget. Jadi berhenti overthingking kita ambil hikmahnya, aku yakin kamu bisa pulih sayang, tetap kuat demi aku, demi anak kita ya, jangan nyerah, nggak boleh sedih, harus tetap semangat!" pesan Angga.       "Aku takut suatu saat kamu lelah karena harus jagain dan ngerawat aku yang kaya gini mas, aku takut kamu bosen dan bakalan ninggalin aku." ungkap Emma.       "Nggak ada alasan buat aku ninggalin kamu, keberadaan kamu, lebih berharga buat aku daripada nyawaku sendiri." tegas Angga.       Emma terdiam.       "Pada akhirnya... Satu-satunya hal yang paling aku syukuri dalam keadaan ku yang seperti ini adalah, punya suami seperti kamu mas." ucap Emma dengan berkaca-kaca.       "Sayang kamu banyak banyak mas." tambahnya.       "Love you much much more." jawab Angga dengan senyumnya. ***       Sepertiga malam saat Emma terbangun, dia merasa sangat haus. Emma melihat kesekelilingnya, papa nya tengah tidur di sofa bed dekat jendela, Mamanha tidak ada disana, mungkin pulang untuk menemani Adel dirumah. Sementara Angga tidur sambil duduk di sampingnya, tangan Angga masih menggenggam jemari Emma dengan erat. Wajahnya yang lelah nampak lelap dalam tidur. Tidak tega Emma membangunkannya.      Emma memilih menahan rasa hausnya. Dia mengusap rambut Angga perlahan, pandangannya tertuju pada setiap inchi wajah handsome death suaminya. Kemudian berhenti di sebuah tatto yang menyembul dari balik kerah bajunya.      "I love you bad boy..." ucap Emma dalam hati.       Angga yang penat karena posisi tidur yang salah tengah menggeliat, dia melihat Emma terbangun.      "Sayang kamu bangun? Kok nggak bangunin aku, kamu mau apa, Ke kamar mandi? Atau mau minum?" tanya Angga dengan nada yang lirih karena papa mereka tengah tertidur.      "Mau minum mas." jawab Emma.       Angga lantas membantu Emma untuk duduk kemudian mengambil segelas air untuk Emma.       Emma meminum sedikit saja kemudian meletakkannya kembali diatas nakas.       "Udah mas." ucap Emma.       "Dikit banget minumnya? Ini minum lagi, nggak papa, jangan bingung kalau pipis, aku anter kok." ucap Angga.       "Kok kamu tau aku lagi mikirin itu mas?" tanya Emma.       Angga tersenyum kemudian mencubit gemas pipi Emma.       "Kebaca banget Emma, kamu mana bisa nyembunyiin apapun dari aku hah?" kata Angga.       "Ya aku malu..." jawab Emma pada akhirnya.       "Hmmm emang kamu lupa, kenapa kamu bisa hamil? Aku udah lihat semuanya sayang, kenapa harus malu sih." kata Angga dengan gemas.       "Enggak gitu maksudnya, aku malu karena terus ngerepotin kamu, padahal pada hakikatnya seorang istri itu tugas nya mengabdi dan melayani suami, bukan kebalikannya." kata Emma.       "Sama aja kok, suami tugasnya menyayangi dan merawat istrinya dengan baik. Memastikan istrinya bahagia, memastikan istrinya nyaman berada di sisinya, jadi tugas suami bukanlah semata-mata mencari nafkah saja." terang Angga.       "Jangan mikir yang enggak-enggak ya, kamu tau aku cinta banget sama kamu, sampe hampir gila? jadi kalau cuma sebatas ngantar ke kamar mandi aja nggak ada apa-apa nya dibanding perjuangan aku buat dapetin kamu, aku yang nggak pernah sholat dulu, masih nyempetin minta kamu buat dijadiin istri aku di sepertiga malam." tambahnya.       "Ini minum lagi... dihabisin sayang." ucap Angga. Dan Emma hanya menuruti saja kata-kata Angga.       "Yaudah sayang... Kamu tidur lagi ya, masih malem, aku mau tahajud dulu." pamit Angga.       "Ehmm... Aku mau minta lagi, supaya kamu dijadiin istri yang bahagia dan nggak nyerah dampingi aku sampai kita menua nanti." bisik Angga.       "Yahh walau aku nggak yakin karena tatto ini, ibadah aku nggak diterima, tapi aku akan tetap melakukannya." ucap Angga, setelah mengecup kening istrinya dia keluar ruangan Emma dengan hati-hati dan menuju musholla.       Sekembalinya dari musholla, Emma terlihat sudah kembali tertidur. Sementara papa Emma yang gantian ini pergi ke musholla.      Angga duduk sambil browsing-browsing sesuatu. Dia mengetikkan sesuatu di keyword browser nya.      "Bagaimana seorang wanita yang lumpuh menjalani kehamilannya?" tulis Angga.      Namun dia menghapusnya lagi. Dia tau akan seberapa berat hari Emma kedepan, saat kehamilannya semakin besar, saat dia semakin terbatas melakukan sesuatu, saat dia semakin sering kelelahan, saat yang lain bahagia jalan-jalan pagi sedangkan Emma hanya bisa duduk dengan penatnya.      Karena dia mendengar tadi siang menurut dokter, Fisioterapi mungkin bisa dilakukan, namun mengingat kondisi fisik Emma yang memang lemah, kemungkinan pulih sangat tidak mungkin, apalagi kelumpuhan terjadi di dua kakinya sekaligus.      Dadanya terasa sesak. Matanya panas berkaca-kaca. Dia merutuki dirinya sendiri. Apa yang bisa dia lakukan selain membuat Emma selalu dalam bahaya. Membuat Emma sengsara.      Semua bermula karena dia meninggalkannya sendirian, terus terjadi dan terjadi lagi saat dia meninggalkan nya sendirian.      "Kenapa aku nggak bisa berhenti bikin kamu sakit kaya gini Emma?" rintih Angga.       "Harusnya aku bisa jagain kamu, bukan terus jadi penyebab masalah." tambah nya.       Angga merapikan letak selimut Emma kemudian mencium nya berkali-kali. ***       Pagi-pagi sekali Emma sudah bangun, seorang perawat tengah memeriksanya.       "Selamat pagi..." sapa perawat.       "Pagi sus..." jawab Emma.       "Di periksa dulu ya." ucap perawat itu.       "Iya sus..." jawab Emma.       Sementara Angga yang mendengar ada interaksi di dekatnya segera bangun dan memberikan ruang untuk perawat itu memeriksa Emma.       "Semalam tidurnya nyenyak?" tanya Perawat.       "Alhamdulillah sus..." jawab Emma.       "Ada keluhan nggak? Terkait kehamilannya juga?" tanya Perawat.        "Ehmm... Nggak ada Sus." jawab Emma.        "Jadi... Karena tidak ada masalah apapun dan kondisi ibu Emma mulai membaik, hari ini bisa mengikuti jadwal Fisioterapi mulai jam 9 pagi ya." jelas perawat       "Oh iya sus makasih banyak." ucap Angga dan Emma bersamaan.       "Iya sama-sama." ucap perawat itu sambil berlalu.       Sesuai jam yang telah dijadwalkan,    Emma mulai melaksanakan Fisioterapi untuk cedera tulangnya. Dengan sabar dokter Kevin membantu terapis Emma.      Hanya 30 menit setiap sesi, dan kabar baiknya hapephobia Emma perlahan mulai membaik, walaupun syok saat disentuh orang asing namun  Emma tidak sampai histeris dan berteriak-teriak seperti saat pertama kali pasca trauma.      Emma sudah boleh pulang dengan mengikuti jadwal Fisioterapi setiap satu Minggu sekali. Di rumah pun Angga membantu Emma untuk belajar menggerakkan tungkai nya.      Seperti sebelum-sebelum nya tak ada respon dari kedua tungkai Emma, hanya berdiri pun kaki nya tidak bisa menopang berat badannya.     Melihat wajah Emma yang putus asa, Angga jadi sedih.      "Impossible mas... Benar-benar nggak mungkin." ucap Emma.      "Ehh jangan ngomong gitu, kita masih diberi kesempatan sama Tuhan buat merubah nasib kita, ending buat kita belum tertulis, kamu yang sabar ya, pokoknya nggak boleh nyerah." ucap Angga.      "Aku tau mas... Tapi seandainya..." ucap Emma terjeda.       "Seandainya apa?" tanya Angga.            "Seandainya aku nggak bisa pulih, apa kamu malu, punya istri yang cacat?" tanya Emma lirih.       "Aku selalu bangga punya kamu, aku cinta sama kamu, nggak cuma karena fisik, kalau cantik itu sekedar cantik, diluar sana banyak wanita cantik, tapi nggak ada yang seperti kamu, You're not only special, but also limited edition. Lihat di dalam sini, hanya ada kamu, dan nggak akan ada yang gantiin itu, sampai kapan pun." jawab Angga tanpa jeda.       "Sampai kapan pun?" tanya Emma.       "Iya... Ingatkan tentang hari ini aku pernah mengatakannya, kalau suatu saat aku lelah dan kesal." ucap Angga.       Emma mengangguk, dia cukup bahagia mendengar ucapan Angga.       "Kok kamu senyum-senyum?" tanya Angga.       "Ya aku seneng aja." jawab Emma.       "Apa kamu mengatakan itu pada semua mantan kamu mas?" tanya Emma.        "Mengatakan apa?" tanya Angga.        "Ya itu tadi." jawab Emma.        "Yang bagian mana?" tanya Angga.        "Aaa udahlah.." ucap Emma kesal, padahal dia senang mendengarnya, tapi Angga sudah lupa.        "Kamu itu nggak cuma spesial tapi juga limited edition, cuma ada satu dan itu buat aku." kata Angga.       "Kok diulangi lagi?" tanya Emma.       "Ya kan aku inget tadi ngomong apa.. kamu seneng kan?" kata Angga. "Enggak tuh biasa aja." sahut Emma, padahal dia merasakan seperti jutaan kupu-kupu meledakkan kepalanya. "Pipi kamu merah tuh." tunjuk Angga. "Mass..." ucap Emma tidak tahan lagi, dia mencubit lengan Angga dengan kencang. "Aduh aduh sakit sakit." ucap Angga. "Kamu tuh nggak bisa bohong, jadi jangan ngelak deh." kata Angga. Emma mengusap bekas cubitan nya tadi kemudian menarik lengan Angga dan bersandar padanya. "Satu-satunya alasan Tuhan nyiptain kamu adalah, untuk menyadarkan aku, betapa indah hidup ini, bila bertemu dengan wanita yang tepat." ucap Angga. "Kamu... Selalu berhasil buat aku jatuh cinta setiap hari." lanjutnya. Angga mengangkat kepala Emma yang tengah bersandar di lengannya. Dia menyelami kedalaman mata istrinya, kemudian mendekatkan wajahnya. Sedetik kemudian dia sudah menyapukan lembut bibirnya ke bibir Emma. "Mbak Emm... Ajarin aku..." ucap Adel yang tiba-tiba masuk ke kamar Emma. Angga dan Emma buru-buru mengakhiri tautan mereka. "Adeell... Bisa nggak sih kalau mau masuk kamar mbak ketuk pintu dulu?" keluh Emma. "Ehehhehe iya sorry maap..." ucap Adel. "Ajarin apa?" tanya Emma kemudian. "Nggak heheh nggak jadi, kalian lanjut pacarannya, maap ganggu." kata Adel sambil menutup lagi pintu kamar Emma. "Dasar... Tuh anak." kata Angga geleng-geleng kepala.          
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN