Kebebasan Rio

2504 Kata
Rio bersama kedua ornag tuanya baru saja keluar dari penjara. Terlihat papa Rio bersalaman dengan salah satu petugas dengan senyum hangatnya. Sementara mama Rio segera mendorong Rio masuk ke mobil. "Papa sama Mama udah habis banyak buat bayar jaminan kebebasan kamu, setelah ini jangan bikin ulah lagi, kenapa sih dari dulu kamu susah bangwt move on dari Emma, kaya nggak ada cewek lain aja di dunia ini selain Emma." ucap Mama Rio sambil membuka kaca matanya dan menatap Rio denhan tajam. "Rio nggak minta mama Nebus Rio kok." sahut Rio. "Masih jawab aja kamu ya, udah... diem kalau di kasih tau mama, kamu tuh salah, masih berani jawab lagi. Mau ditaruh mana muka mama sama papa di depan eyang kamu hah... Bisa-bisa nya melecehkan teman sendiri, mama pernah didik apa mengenai perempuan hahhh? Hargai perempuan, jaga mereka, hatinya serapuh kaca, fisiknya serapuh kertas, tapi nyatanya apa, bikin malu keluarga aja. Papa juga pernah didik apa buat kamu, papa pernah buat ngajarin kamu tumbuh jadi anak yang ambis, nggak kan? Siapa sih yang kamu contoh?" tanya mama Rio. "Maafin Rio ma." ucap Rio pada akhirnya setelah lama terdiam mencerna kata-kata mamanya. "Udah ikhlasin Emma, dia bukan jodoh kamu. Bandel banget dibilangin, lagian Emma nggak mau sama kamu itu yaudah, jangan maksain diri kenapa sih Yo, kamu ganteng, kamu punya banyak uang, kamu bisa dapetin cewek yang model gimanapun." tegas mamanya. "Udah ma udah ma... Percuma ngomong sama dia, nggak bakal di denger juga." kata papa Rio. "Kemarin pas mama kerja, Emma pingsan di bawa ke UGD, mama langsung yang tangani, dia hamil, badannya kurus kering, dan hapephobia, itu juga karena ulah kamu, dia trauma secara fisik dan mental, dia akan ketakutan terhadap sentuhan, dia tidak lagi bisa hidup dengan normal. Kamu udah puas bikin dia kaya gitu?" tegas mama Rio. Awalnya Rio kaget mendengar kondisi Emma. Namun hatinya sudah membatu. "Kalau aku nggak bisa dapatin kamu, maka jangan harap yang lain bisa dapatin kamu. Kalau kamu nggak bahagia sama aku jangan harap kamu bisa bahagia dengan yang lain Emma. Dan kalau aku nggak bisa bahagia, jangan harap kamu bisa bahagia Emm." ucap Rio dalam hati dengan tangan terkepal. Mereka tiba di rumah saat hari sudah mulai gelap. Rio masuk ke dalam kamarnya. Dia mulai menyusun rencana untuk bisa keluar menemui Emma. "Obat apa yang bisa gugurin kandungan ya. Maaf ya Emm aku terpaksa bunuh anak kamu, karena dengan adanya bayi itu, kehidupan kamu sama Angga pasti bakalan bahagia banget, dan aku nggak mau melihat itu." ucap Rio, dia mulai browsing mengenai obat-obatan pengunggur kandungan. Misoprostol, dijual dengan merk dagang Cytotec, adalah obat yang digunakan untuk memicu kehamilan, melakukan aborsi, mencegah dan menangani ulkus peptikum, dan juga untuk menangani pendarahan postpartum akibat kontraksi uterus yang buruk. Untuk keperluan aborsi, obat ini sering digunakan bersama dengan mifepriston atau metotreksat.Keefektivannya untuk melakukan aborsi berkisar antara 66% hingga 90%. Obat ini dapat diambil lewat mulut, di bawah lidah atau dimasukkan ke dalam v****a. Pendarahan paling banyak biasanya terjadi 4-8 jam setelah menggunakan dosis misoprostol yang pertama dan mulai berkurang dalam 24 jam. Beberapa perempuan mungkin akan melihat gumpalan dalam beberapa hari kedepan atau beberapa minggu, tergantung gumpalan yang dikeluarkan. "Okke cukup browsingnya, sekarang harus dapetin Cytotec dulu." ucap Rio sambil beranjak dari tempat duduknya. Dia perlahan mengendap-endap keluar jendela untuk kabur dari penjagaan orangtuanya. Mama Rio yang membawa segelas s**u masuk kedalam kamar, dia terkejut karena ternyata Rio berhasil mengelabui nya. Tanpa sengaja matanya menatap ke layar laptop Rio yang masih menyala di atas meja belajar Rio. "Misoprostol, Cytotec... Buat apa Rio beli obat penggugur kandungan?" tanya mama Rio dalam hati. "Jangan-jangan tuh anak berniat gugurin kandungan Emma." ucap mama Rio, dia meletakkan s**u itu diatas meja, kemudian bergegas keluar. "Pa... Mama kerumah sakit bentar ya, ada operasi mendadak." pamit mama Rio berbohong perihal Rio yang kabur untuk mendapatkan obat pengunggur kandungan. Sampai dirumah sakit, Mama Rio langsung menuju ruang rawat inap Emma. Emma yang tengah video call dengan suaminya, tiba-tiba di kagetkan dengan dokter Marta yang mendekati nya dengan panik. "Bentar mas, nanti aku telpon lagi ya, ada dokter." tutup Emma. "Oh iya sayang nggak papa, yaudah aku tutup dulu ya, assalamualaikum." ucap Angga. "Waalaikumsalam." jawab Emma. "Dokter Marta?" sapa Emma, yang keheranan karena tiba-tiba dokter Marta menghampirinya di ruang rawat diluar jam pemeriksaan. "Kamu nggak papa?" tanya dokter Marta yang merupakan mama Rio. "Alhamdulillah nggak papa dok, seperti yang dokter Marta lihat. Kenapa memang nya dok? Kok kayanya dokter Marta panik, apa ada sesuatu yang dikhawatirkan dan saya nggak tua itu?" tanya Emma. "Enggak kok... Kamu jaga diri baik-baik ya, oh iya kamu hafalin obat yang kamu minum ya, itu dari saya, saya sendiri yang udah periksa anti alergen di kamu Emma, jadi saya tau, obat apa yang baik dan nggak baik buat kamu." jelas dokter Marta. "Maksud dokter apakah kira-kira ada obat yang gak cocok untuk saya?" tanya Emma agak resah. Dokter Marta mengusap bagian luar jilbab Emma. "Enggak... Kamu hafalin bentuk dan tulisan yang obat yang biasa kamu minum ya, kalau suatu saat ada obat yang gak biasa jangan pernah diminum!" pesan dokter Marta. Actually Emma nggak tau siapa dokter Marta, karena semasa sekolah pun Emma tidak pernah main. K kerumah Rio, sedangkan dokter Marta tau siapa Emma karena hampir setiap hari Rio menjadikannya tong sampah curhatan tentang Emma, dia juga menunjukkan foto Emma pada mamanya, jadi mama Rio sampai hafal betul siapa Emma. "Oh iya dok... Saya hanya akan minum obat yang serupa saja, kecuali ada arahan lain dari dokter Marta." ucap Emma. "Iya sayang .. pinter kamu." puji dokter Marta. "Kapan suami nya akan datang?" tanya dokter Marta. "Ehmm sebenarnya sih mau buru-buru pulang dia dok, tapi aku tahan, nangungg kan, hari libur tinggal 2 hari dari sekarang, toh dia hari lagi pasti saya sudah cukup membaik daripada sekarang, saya nggak mau dia liat kondisi saya yang seperti ini dok." jawab Emma. "Iya... Nggak papa, lagian juga ada mama sama papa juga kan ya." ucap dokter Marta. "Iya dok..." jawab Emma sambil tersenyum. "Iya sekarang jadi tau kenapa Rio gak bisa move on dari gadis ini, di saat kondisinya yang seperti ini aja, dia sama sekali nggak manja, nggak nuntut perhatian, nggak haus perhatian dari suaminya. Dia rela ditinggalin buat kerja dan bertahan seorang diri." batin dokter Marta. "Yaudah istirahat ya, jangan banyak begadang kalau malam, tidur berkualitas itu penting." pesan dokter Marta. "Baik dok." ucap Emma. "Yasudah saya tinggal ya, kalau ada apa-apa tinggal pencet tombol merah aja." pamit dokter Marta. "Iya dok makasih sudah mampir." ucap Emma, dokter Marta mengangguk sambil tersenyum. Papa Emma sedang bertugas bersama anggota Sabhara dalam rangka pengamanan objek vital. Sementara mama Emma ada bimbingan dari mahasiswa tingkat akhir sampai jam 3 sore nanti. Sementara Adel masih belum pulang sekolah. Emma yang sendirian, rupanya mulai terserang kantuk, dia mulai memejam kan matanya tanpa bisa menahannya sedikitpun. Sementara itu di luar ruangan Emma, Rio tengah mengendap-endap masuk, dia kemudian menuju nakas Emma, sudah tersedia makan siang beserta dua butir obat yang harus di konsumsi oleh Emma saat dia bangun nanti. "Maaf Emm... Aku emang udah nggak waras, tapi aku benar-benar nggak ikhlas kamu bahagia jika nggak bersamaku." ucap Rio dalam hati, kemudian menukar dua butir obat tadi dengan obat yang dia miliki, kemudian keluar. Hingga sore harinya saat Emma terbangun, dia berusaha untuk duduk dan makan. Belum ada seorang pun yang datang menemaninya, tapi dia tidak masalah denhan hal ini, karena toh ada atau tanpa mereka Emma tetap merasa sendirian. Usai makan dia meraih obat yang ada di dalam wadah yang disediakan, dia mengernyitkan dahi, benar saja obatanya berbeda. Namun terlalu aneh dan tidak biasa, karena pil itu berbentuk segi lima, sambil meneruskan mengunyah suapan terakhirnya tadi, dia mengambil ponselnya untuk browsing. "Pil berbentuk segi lima." tulis Emma dalam laman pencarian. Dia mendapat beberapa jawaban salah satunya adalah, sebuah pil penggugur kandungan, yang sangat cepat, bereaksi hanya dalam 4 Jak setelah meminum pil tersebut, perut akan terasa kontraksi yang sangat hebat, hingga akhirnya pendarahan. Emma termangu membaca artikel tersebut. Dia mengambil pil itu, sambil menelan makannya, Emma bertanya-tanya, kenapa ada yang memberinya obat pengunggur kandungan, siapa yang menginginkan bayinya meninggal, dan kenapa dokter Marta mengetahui hal ini akan terjadi. "Apakah mungkin papa atau mama tidak menghendaki kehamilanku sehingga meminta dokter lain meresepkan obat untuk mengugurkan kandunganku?" Emma mulai bertanya-tanya dalam hati. "Tapi nggak mungkin, mama sama papa adalah orang paling bahagia begitu mendengar aku hamil, tidak mungkin mereka berniat membunuh cucu mereka sendiri. Lalu siapa?" lanjut Emma. "Siapapun itu, dia pasti masih memantau bagaimana aku meminum obat ini." ucap Emma dalam hati. Dia lantas berpura-pura meminum dua butir pil itu lalu minum air putih, padahal dia menyembunyikan obat itu di balik lidahnya. Tidak kuat dengan rasa pahitnya, setelah beberapa saat, Emma lantas pergi ke kamar mandi dan memuntahkannya. Dia berkumur lama sekali memastika tidam ada bagian kecil dari obat itu yang tertelan. "Setidaknya orang itu sudah melihat aku meminum obat ini. Makasih dokter Marta sudah memperingatkan aku akan hal ini." ucap Emma. Dia berjalan sambil membawa tongkat penyangga infusnya untuk kembali ke tempat tidur. Dia duduk sambil merenung. Masih memikirkan siapa yang tidak rela dirinya hamil dan menyambut kebahagiaan. ***      Masih jam 8 malam, namun Emma sudah terlelap, karena efek obat yang dia minum jam 7 malam tadi. "Angga... Kamu pulang?" ucap mama Emma begitu melihat Angga diambang pintu. "Iya ma... Assalamualaikum." sapa Angga. "Waalaikumsalam..." papa mama dan Adel. "Dia udah tidur, tadi jam 7 minum obat, sekarang udah tidur." terang papa Emma. "Iya pa... Apakah sudah mau makan pa?" tanya Angga. "Sudah, dia bahkan selalu menghabiskan makanan yang ada di kotak." jawab papa Emma. "Alhamdulillah." ucap Angga. "Ya udah kalau kamu mau nemenin istri kamu, biar kami tinggal pulang ya." ucap papa Emma. "Oh iya pa... Emma biar saya yang jagain." jawab Angga. "Iya... Yaudah kami pulang ya, kalau ada apa-apa telpon mama atau papa." ucap mama Emma. "Baik ma.." ucap Angga. "Bye mas Angga." ucap Adel. "Hati-hati, jangan begadang besok sekolah!" balas Angga. "Iya mas.." jawab Adel. Sepeninggal mereka betiga, Angga mendekat ke ranjang Emma kemudian duduk di kursi yang tadi ditempati mama Emma. "Sayang... Kamu apakabar, maaf baru bisa pulang sekarang, kangen banget sama kamu." ucap Angga bermonolog. Angga meraih tangan Emma kemudian mencium jemari yang lentik itu. Emma merasakan sentuhan di tangannya langsung terbangun. Serta Merta menarik tangannya lalu menoleh kearah tersebut. "Bisa-bisanya aku mimpi mas Angga ada disini." ucap Emma sambil kembali memejamkan mata karena ngantuk berat. Angga tertawa melihat kekonyolan istrinya. "Sayang..." panggil Angga kemudian. Emma menoleh kearah sumber suara, alisnya bertaut. Ternyata dia nggak mimpi. Angga memang tengah duduk di sampingnya dengan jaket hitam dan kaos putih yang menambah kegantengannya menjadi 100%. "Mas..." ucap Emma. "Hai cantik... Apakabar, kangen banget sama kamu." ucap Angga yang tetap suka menggoda Emma seperti biasanya. Emma tersenyum bahagia, saking senengnya melihat Angga disana, dia reflek bangun dengan menggunakan tangannya sebagai tumpuan, akibatnya jarum infusnya terguncang dengan keras mengakibatkan darah naik dengan cepat dari selang itu. "Auuww.." ucap Emma begitu merasakan nyeri ditangannya. "Sayang hati-hati, sini biar aku bantu." ucap Angga dengan cepat membantu Emma duduk, lalu mempercepat laju tetesan infus itu agar darah segera kembali ke bawah. "Mas kapan datang?" tanya Emma, setelah lebih tenang melihat darah itu sudah mulai turun. "Baru saja." jawab Angga. "Emang boleh cuti lagi?" tanya Emma. "Hmm ya gimana ya, maksa, habis aku nggak bisa lama-lama jauh dari kamu, mungkin kalau kamu sehat nggak papa, aku masih bisa tenang, tapi kalau kondisi kamu kaya gini aku sama sekali nggak bisa tenang sayang." jawab Angga. "Kamu pasti bakalan diamarahin sama bapak kamu, kalau keseringan izin." kata Emma. "Duhh bodoamat." kata Angga. "Hmmm..." gumam Emma. "Oh iya mas.. aku mau kasih tau kamu sesuatu." ucap Emma. "Ehmm apa itu?" tanya Angga. Emma meraih tangan Angga lalu menenpelkannya di perutnya. "Say hai... Untuk anak kamu mas!" ucap Emma. "Kamu hamil sayang, yang bener?" tanya Angga, padahal dia sudah dikasih tau beberapa hari yang lalu oleh papa Emma, dia hanya pura-pura terkejut. "Kamu seneng?" tanya Emma "Bangettt sayang, aku seneng banget, Makasih Tuhan udah percaya sama aku, dan nitipin bayi lagi. Aku janji bakalan jaga bayi ini baik-baik." ucap Angga penuh syukur. "Jangan tinggalin aku kaya dulu ya mas." pinta Emma. "Enggak sayang aku janji, aku udah nyesel banget saat itu, bisa-bisanya aku ninggalin kamu sendirian pas kesakitan. Ya Allah nyesel banget Emma." ucap Angga. "Sudahlah... Ya lalu biarlah berlalu, yang penting di masa yang akan datang tidak akan terjadi lagi hal serupa." pinta Emma. "Iya sayang janji, bakalan terus jagain kalian berdua, bahagiain kalian berdua." janji Angga. "Sayang..." panggil Angga. "Iya..." jawab Emma. "Boleh nggak aku mastiin sesuatu?" tanya Angga. "Mastiin apa?" tanya Emma. "Kamu nggak percaya kalau ini anak kamu mas?" tanya Emma dengan gelisah. "Bukan .. bukan itu, jelas aja aku percaya ini aku kok. Sekarang kamu tutup mata sebentar ya!" kata Angga. Emma menuruti permintaan Angga. Dia menutup mata. Setelah Emma memejamkan mata, Angga mulai mendekatkan wajahnya pada wajah cantik didepannya itu. Kemudian menyapukan lembut bibirnya di bibir mungil Emma. Emma membuka mata, namun tak ada reaksi abnormal darinya. Angga melanjutkan ciumannya, dia sangat senang karena Emma bereaksi netral saat dia mencium nya. "Makasih sayang." bisik Angga setelahny. "Makasih buat?" tanya Emma. "Makasih buat nggak takut sama aku. Aku nggak bisa bayangin gimana hidup ku tanpa kamu." ucap Angga kemudian. ***       Keesokan paginya usai Angga membasuh dan membersihkan tubuh Emma, dia berniat mengajak Emma berjalan-jalan di sekitar lorong rumah sakit dengan kursi roda. Mereka berjalan ke segala arah untuk mengusir kebosanan Emma. "Mas aku haus." ucap Emma. "Ehmm yaudah, bentar ya kamu tunggu disini, biar aku beli minum dikantin sana." tunjuk Angga pada sebuah kantin yang posisinya ada di bawah ujung anak tangga. "Iya mas.." jawab Emma. "Ingat ya jangan kemana-mana, ini tangganya curam banget sayang." pesan Angga. "Iya mas.. lagian juga aku nggak mungkin bisa jalan turun, kebanyakan berbaring kaki aku jadi sakit buat jalan." jawab Emma. "He em sayang, yaudah aku tinggal bentar ya nggak lama kok." ulang Angga disambut anggukan kepala oleh Emma. Angga baru saja tiba di bawah, saat tanpa Emma sadari Rio sudah ada dibelakang kursi roda Emma, dia mendorong kursi roda Emma dengan kencang kearah tangga kemudian mendorongnya ke bawah. "Aaaaaaaaaakkkhhhh..." teriak Emma. Emma jatuh dari kursi roda dan kemudian berguling-guling di atas tangga sampai kedasar. Darah merembes diantara dia kakinya. Dia memegangi perutnya sebelum akhirnya tak sadarkan diri, semua orang datang berlarian untuk menolong, Angga kaget melihat keributan di belakangnya dan langsung buru-buru mendekat kearah tersebut, dilihatnya Emma sudah tergolek tak berdaya disana. "Ya ampun... Pak tolong bantu, ini istri saya." ucap Angga serasa perih di dadanya. "Om aku tadi lihat ada orang ngedorong kursi roda nya Tante ini sampai terjatuh, orang itu terus lari." ucap seorang anak kecil. "Orangnya kaya gimana dek?" tanya Angga terbata-bata. "Pakai jaket hitam dan topi hitam." jawab anak kecil itu. "Biar kami yang cari mas." ucap beberapa bapak-bapak yang ada disana. "Ini bisa jadi mencelakai dengan sengaja." tambah lainnya. Dokter Marta yang kebetulan lewat langsung meminta bantuan paramedis untuk membawa mema ke ruang UGD untuk dilakukan pemeriksaan terkait kecelakaan barusan. "Pasti Rio." batin dokter Marta.      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN