Haphephobia adalah kondisi yang menyebabkan ketakutan ekstrem terhadap sentuhan. Cara mengontrol fobia ini adalah dengan terapi perilaku kognitif, terapi pemaparan, teknik relaksasi, dan pengobatan medis.
Gejala yang umumnya dialami penderita haphephobia
Ketika menerima sentuhan dari orang lain, beberapa gejala mungkin akan dirasakan penderita haphephobia. Gejala yang muncul tak hanya memengaruhi kondisi Anda secara mental, tetapi juga fisik.
Berikut sejumlah gejala yang umumnya dialami oleh penderita haphephobia:
Mual
Panik
Cemas
Depresi
Pingsan
Gatal-gatal
Jantung berdebar (palpitasi)
Napas terasa cepat (hiperventilasi)
Menghindari situasi yang memungkinkan sentuhan
Gejala yang dialami oleh masing-masing penderitanya mungkin akan berbeda satu sama lain.
Penyebab seseorang menderita haphephobia belum diketahui secara pasti. Namun, peneliti menyebut bahwa kondisi ini disebabkan kejadian traumatis yang mengakibatkan penderitanya ketakutan ketika disentuh.
Bagaimana cara mengatasi haphephobia? Hingga kini, belum ada cara yang bisa dilakukan untuk menyembuhkan penderita dari haphephobia sepenuhnya. Meski begitu, beberapa tindakan dapat dilakukan untuk mengontrol kondisi Anda meminimalkan kemunculan gejala.
Emma baru saja menutup tab browser nya. Dia resah karena Hapephobia nya. Dia ingin sembuh dan bisa beraktivitas dengan normal seperti biasanya.
Namun apa daya, dia bersinggungan dengan adiknya saja sudah seperti melihat algojo.
Aktivitas nya lebih banyak ia lakukan di dalam kamar. Sambil browsing dan lebih banyak merenung.
"Kamu tega sama aku Yo... Bukannya kamu dulu begitu peduli dan care sama aku, kamu yang selalu jagain aku, kamu yang selalu lindungin aku, kamu juga yang selalu hancurin aku." ucap Emma bermonolog.
Dia meraih ponselnya, scroll galeri melihat-lihat foto nya bersama Angga, banyak sekali candid yang sengaja dia ambil.
"Kangen kamu mas." ucap Emma.
"Nggak peduli masa lalu seperti apa, tapi sekarang aku sangat berterima kasih sama kamu, udah selalu sayang sama aku." lanjutnya.
"Emma... Makan sayang." panggil mama Emma dari luar.
"Iya ma..." jawab Emma.
"Atau mau mama anter kedalam aja?" tanya mama Emma lagi.
"Iya ma... Tolong ya." jawab Emma.
Sudah 3 hari Angga meninggalkannya. Hari-hari nya kembali sunyi. Dia berjalan melongok keluar jendela. Entah apa tujuannya, hanya akhir-akhir ini Emma lebih suka melihat keluar jendela.
Mamanya masuk membawa sepiring nasi lengkap dengan lauk nya.
Alasan lain kenapa dia tidak mau makan diluar bersama yang lain adalah, karena sebenarnya, dia lebih banyak membuang makanan dari pada memakannya.
"Mungkin lambung aku udah parah banget nih, nggak bisa kena makanan sedikitpun langsung muntah." ucap Emma.
Dan kali ini dia juga hanya memaksa menelan beberapa suap saja, selebihnya dia tidak bisa memakannya.
"Mbak Emma..." panggil Adel.
"Iya ..." jawab Emma.
"Mbak aku sama mama sama papa mau keluar bentar, mbak Emma mau nitip apa?" tanya Adel.
"Mau kemana?" tanya Emma.
"Kami ada undangan makan malam di keluarga temen kerja papa sayang, kamu nggak mungkin ikut kan? tanya Mama Emma.
"Oh iya ma..." ucap Emma dia turun dari atas tempat tidur kemudian membuka pintu dan keluar.
"Hati-hati ya!" ucap Emma, ingin rasanya menghambur memeluk mereka bertiga rasanya rindu dengan pelukan hangat seperti biasanya.
"Iya sayang ... Kamu dirumah saja ya, jangan keluar kemana-mana." ucap mama Emma.
"Iya ma..." ucap Emma.
Emma kembali ke kamarnya saat mobil papa nya sudah meninggalkan rumah. Dia memaksakan diri untuk makan barang sedikit.
"Enggak bisa ya Allah... Rasanya mual." ucap Emma pasrah, dia memegangi perutnya yang mual, namun tak ada lagi yang bisa dimuntahkan, karena tak pernah terisi makanan.
"Kok... perut aku keras banget ya, apa mungkin..." ucap Emma sambil mengusap perutnya.
Dia memeriksa kalender di ponselnya. Menghitung mundur beberapa kali dengan teliti. Mengulangi lagi dan lagi.
"Aku telat 3 Minggu... Ahh masa iya aku hamil lagi." ucap Emma dengan mata berbinar.
"Aku harus pastiin sendiri." ucap Emma.
Dia berniat ke apotik untuk membeli testpack. Setelah meraih jaketnya, Emma berjalan ke garasi mengeluarkan sepeda motor untuk pergi ke apotik.
"Semoga aja ya Allah... Semoga ini adalah titik balik dari semua hal yang terjadi padaku." ucap Emma. Dia mulai menyalakan motornya lalu keluar menuju apotik.
Tidak begitu jauh dari rumahnya, setelah membeli 3 buah testpack dari berbagai merk berbeda akhirnya Emma berniat pulang.
Namun saat ia hendak memundurkan motornya, ada seorang gadis yang tengah asyik duduk diatas jok nya sambil memainkan gawai nya.
"Permisi mbak... Saya sudah mau pulang." ucap Emma pada gadis dengan Hoodie hitam itu.
"O...oh iya mbak maaf." balas gadis itu sambil turun dari motor Emma.
"Lohhh Emma... Apa kabar, ya Allah lama banget nggak ketemu." ucap Bianca begitu menyadari bahwa yang menyapanya adalah sahabatnya semasa SMP.
Emma yang di peluk sontak kaget hingga terjatuh. Tubuhnya seketika gemetar. Tespack yang ia bawa jatuh berceceran.
"Aduuh Emma sorry ya, kamu kaget ya." kata Bianca memunguti testpact itu dan membantu Emma berdiri.
"Eng... Nggak papa kok Bi, ka.. kamu apakabar?" tanya Emma.
"Bentar-bentar kamu syok banget kayanya, ini minum dulu." ucap Bianca menyodorkan minumannya.
Emma menggelengkan kepala dan menolaknya dengan lembut.
"Kamu kenapa Emm, kamu sakit?" tanya Bianca.
"A... Aku nggak papa Bi... Maaf banget ya, aku... Aku nggak bisa, maksudku, aku... harus pulang sekarang, lain kali aku pasti main kerumah kamu." pamit Emma.
"Mau aku anter Emm?" tanya Bianca yang melihat Emma jauh berbeda dengan terakhir kali mereka bertemu.
"Enggak Bi, aku bisa pulang sendiri, maaf ya, lain kali... Di pertemuan berikutnya, kita bisa ngobrol banyak hal." pangkas Emma.
"Oh iya Emm.. hati-hati ya." ucap Bianca.
"Btw... Kamu hamil Emm? tadi aku lihat ada testpack." tanya Bianca.
"Iya aku masih mau mastiin dulu Bi... Yaudah aku pamit ya Bi, maaf banget nggak bisa lama-lama." ucap Emma.
"Iya Emm nggak papa, aku ngerti kok, kamu hati-hati ya." kata Bianca pada akhirnya.
Emma mengangguk, kemudian mulai meninggalkan apotik. Sementara Bianca masih termangu di depan apotik.
"Emma kenapa, apa dia sakit, dulu dia cantik banget, sekarang kenapa jadi kurus kering, pucat dan kaya ketakutan gitu, jelas banget itu bukan hormonal kehamilan, apa mungkin dia make narkoba?" pikir Bianca.
"Enggak ah.. ngaco, papa nya polisi, dan mamahnya dosen, dia bright future banget, nggak mungkin pake narkoba." tepisnya kemudian.
Sementara itu, Emma yang sudah tiba dirumah segera memasukkan motornya kembali ke garasi kemudian mengunci pintu.
Dia sampai terjatuh karena ketakutan nya yang berlebihan. Beruntung tidak ada memar dan luka di badannya.
Setelah menenangkan diri beberapa saat, Emma masuk ke kamar mandi untuk mengetes kehamilannya.
Dengan pipis nya yang sudah ia tampung dalam wadah dia mulai berdoa semoga dua garis merah yang akan muncul di sana.
Emma mulai mencelupkan satu buah testpacknya. Menunggu beberapa detik kemudian mengangkatnya.
"Bismillahirrahmanirrahim..." dia membalik perlahan tespack itu lalu mulai muncul satu garis merah, kemudian merembat dan menjadj dua garis merah.
"Hah... Alhamdulillah." ucap Emma. Dia masih tidak percaya, kemudian mengetesnya dengan dua buah testpack tersisa.
Ketiga hasil tes tersebut memang positif. Tak bisa dibendung lagi, Emma langsung menangis bahagia.
"Alhamdulillah ya Allah, setelah apa yang berhasil aku lewati sejauh ini, Engkau hadiahkan kembali kehidupan dalam rahim ini, terimakasih ya Allah." ucap Emma.
"Aku harus telpon mas Angga, dia pasti seneng banget kalau tau aku hamil lagi." ucap Emma.
Emma berjalan menuju ke kamarnya. Namun saat hendak menelpon Angga, dia berubah pikiran.
"Sebaiknya aku rahasiain dulu aja, buat kejutan kalau dia pulang, pasti seneng banget. 3 hari lagi kan juga pulang." ucap Emma.
"Okke .. sekarang aku tau kondisi aku kaya gimana, aku harus jaga kesehatan, biar kehamilan aku baik-baik saja, aku ingin bayi ini lahir ke dunia dengan selamat, aku ingin merawat dan melihatnya tumbuh, aku ingin memeluk dan mencium nya. Jadi aku harus makan." ucap Emma.
Dia mendekatkan piring itu kepadanya. Lalu mulai menyendokkan nasi.
"Tuh kan baru juga dapat dua suap, rasanya enggak kuat." ucap Emma. Dia membaringkan dirinya.
"Tapi kalau kaya gini terus, bayi aku nggak bakal dapat nutrisi." pikir Emma.
"Dan aku juga harus mengatasi hapephobiaku. Aku harus belajar berinteraksi dengan orang tua dan adikku." lanjutnya.
Hampir jam sepuluh malam saat Emma baru saja terpejam, dia mendengar mobil papa nya memasuki gerbang.
Emma langsung bangkit, dia berniat memberitahukan perihal kehamilannya pada orang tuanya.
"Mama..." sapa Emma begitu mereka masuk.
"Kamu belum tidur sayang? Ada apa?" tanya Mama Emma.
"Iya mbak, mbak Emma tadi nitip sesuatu ke kita?" tanya Adel.
"Enggak Adel... Mbak mau ngomong bentar sama mama." jawab Emma.
"Ngomong apa sayang?" tanya mama Emma cemas.
"Sini bentar ma!" ajak Emma.
Mama Emma mengikuti Emma pergi ke kamar, tak lupa Adel dan juga papa nya.
"Ini mah..." ucap Emma sambil menunjukkan tiga testpack yang berjajar diatas meja.
"Emma... Ini..." ucap Mama Emma masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Emma... Ini beneran sayang?" Tanya mama Emma kemudian.
"Iya ma, Emma hamil." ucap Emma.
Adel langsung merangsek maju untuk memeriksanya sendiri.
"Hmmmm selamat ya mbak, pingin peluk mbak Emma tapi nggak berani." ucap Adel.
"Mama juga pingin peluk, tapi nggak boleh. Mama kangen banget sama Emma." ucap mamanya sambil menangis.
Emma mendekat kearah mereka. Lalu merentangkan tangannya.
"Peluk Emma ma!" pinta Emma.
"Peluk mbak... Adel!" lanjut Emma.
"Tapi ma..." ucap Adel pada mamanya.
"Kita coba dulu aja mah." pinta Emma kemudian.
Setelah berpikir berulang kali akhirnya mama Emma memutuskan untuk memeluk putrinya.
Lalu bagaimana reaksi Emma. Emma mencoba bertahan walaupun dia mulai resah, tangannya mengepal dan keringat dingin mulai membasahi sekujur tubuhnya. Doa tidaj tega melihat haru mamanya yang memeluknya sambil menangis.
"Mbakkk aku juga kangen." ucap Adel, dia langsung ikut memeluk kakaknya begitu melihat tidak ada reaksi penolakan dari Emma.
Emma tersenyum pada adiknya yang turut memeluknya, namun tiba-tiba kilasan peristiwa bagaimana Rio cs melecehkannya muncul dalam ingatannya. Seketika tangannya yang berusaha tenang dalam pelukan mamanya kini terkulai lemas bersamaan dengan dirinya yang hilang kesadaran.
"Mamaa..." pekik Adel melihat kakaknya pingsan.
"Emmaaa... mama hanya pingin peluk kamu nak, kenapa sesulit ini." ucap mama Emma dengan frustasi.
"Ma... Udah, butuh waktu juga buat Emma, nggak bisa secepat ini ma... Biarkan Emma istirahat sebentar." ucap papa Emma sambil mengangkat tubuh putrinya keatas ranjang.
Mereka berusaha menyadarkan Emma dengan mengoleskan minya kayu putih. Susah sekali jika hidup berdampingan seperti ini tanpa bisa menyentuh.
"Ma... Mama sama Adel jagain Emma dulu ya, papa mau keluar sebentar." pamit papa Emma.
"Iya pa..." jawab mama Emma.
Papa Emma lantas keluar kamar. Dia duduk berangin-angin diluar rumah. Sambil memandang pekatnya malam.
Dia mengeluarkan ponselnya. Mencari nomor Angga lalu menelponnya.
"Assalamualaikum pa... Ada apa pa?" tanya Angga. Rupanya dia tengah shift malam, terdengar dari berisiknya suara mesin di sekitarnya.
"Nggak papa, kamu lagi kerja?" tanya Papa Emma.
"Iya pa... Tapi delay dari divisi sebelumnya, jadi nganggur nih, papa mau ngomong sama saya, ada apa pa? Apakah Emma baik-baik saja?" tanya Angga.
"Nggak papa... Tapi sebenarnya papa lebih senang kalau kamu ada dirumah, jagain istri kamu. Kasian dia, cuma sama kamu dia non reaktif terhadap sentuhan. Baru saja dia pingsan, karena minta peluk sama mamanya." jelas papa Angga.
"Pingsan?" tanya Angga.
"Iya... Tapi nggak papa kok, bentar lagi juga siuman. Traumanya gimana ngilangin nya, tiap malam mama kamu nangis terus, dia sedih, pingin Emma balik kaya dulu lagi, apalagi sekarang Emma lagi hamil, mama kamu pastinya pingin bisa ngerawat Emma dengan baik." kata papa Emma.
"Emma hamil pa? Yang bener pa?" tanya Angga terdengar excited sekali.
"E... Emma nggak ngasih tau kamu?" tanya papa Angga.
"Nggak kok pa, dia nggak bilang apa-apa tiap kali kami telponan." jawab Angga.
"Mungkin rencananya mau bikin kamu kejutan ya, yaudah kalau gitu nanti kamu pura-pura aja nggak tau, jangan bilang kalau papa udha kasih tau kamu loh ya!" ucap papa Emma.
"Iya pa... Malam Minggu besok saya pulang, sebentar lagi juga libur low season pa, jadi bisa pulang agak lama." jelas Angga.
"Iya... Papa lebih seneng kalau kalian kumpul dirumah. Biar papa saka mama aja yang kerja buat kalian." ucap papa Emma.
"Ya nggak bisa gitu pa, Angga kan anak laki-laki udha jadi suami, jadi Emma adalah tanggung jawab saya sepenuhnya pa." kata Angga.
"Iya kalau gitu, kamu nabung yang banyak ya, nanti bikin usaha apa kek gitu, biar bisa Deket anak istri tanpa haru kerja keras ninggalin mereka." pinta papa Angga.
"Iya pa... Siap!" ucap Angga.
"Yaudah kamu kerja lagi, hati-hati ya!" kata papa Emma.
"Iya pa makasih, salam buat mama dan Adel ya." lanjut Angga.
"Iya nanti papa Sampein, yaudah ya papa mau lihat Emma lagi gimana keadaanya sekarang, besok kayanya harus dibawa ke dokter, soalnya makannya susah banget." ucap papa Angga.
"Iya pa..." ucap Angga.
Angga bingung harus bahagia atau bersedih, dia begitu bahagia menedngar berita kehamilan istrinya namun, mengetahui kondisi Emma yang belum juga membaik membuat Angga sangat khawatir.
"Kenapa?" tanya Bayu.
"Nggak papa, yaudah coba liat di keranjang Bay, udah datang belum Vamp nya dari prepare." perintah Angga.
"Okke ..." jawab Bayu dia langsung menuruti perintah temannya itu.
***
Keesokan harinya Mama dan Adel masih berada di kamar Emma. Mereka saling berhadapan, Emma belum juga bangun.
"Adel panggil papa kamu, kakak kamu nggak pernah bangun siang, apa dari semalam dia pingsan belum bangun juga." kata mama Emma panik.
"Iya ma..." ucap Adel sambil berlari memanggil papanya yang tertidur di sofa ruang tengah.
"Papa... Pah... Mbak Emma pa, coba papa lihat, kok nggak bangun-bangun ya. Apa dari semalam masih pingsan." seru Adel, langsung membuat papa Emma terbangun dan tergopoh-gopoh masuk ke kamar putrinya.
"Emma... Emma, bangun nak." Mama Emma masih berusaha membangunkan Emma dengan menepuk-nepuk pipi Emma.
Tidak ada respon sama sekali. Kulit tangan Emma begitu pucat.
"Pa... Kita bawa kerumah sakit!" putus mama Emma.
Mereka bertiga langsung membawa Emma kerumah sakit.
"Jadi kondisinya, putri bapak sedang hamil, sama sekali tidak mau makan, dan hapephobia?" ulang dokter sambil memeriksa keadaan Emma.
"Iya dok." jawab papa Emma.
"Dari pemeriksaan kami, kemungkinan putri bapak pingsan karena kehabisan energi, dia sangat letih namun kondisi lambungnya sudah mengalami GERD, asam lambung terus naik, membuatnya terus mual dan muntah jadi semakin tidak bisa menelan makanan karena ujung kerongkongan sudah sakit. Sebaiknya putri bapak di rawat inap sampai keadaanya benar-benar pulih, dia butuh asupan gizi untuk kehamilannya juga pak." jelas dokter.
"Iya dok... Lakukan apapun yang terbaik buat putri saya." jawab Papa Emma.
"Bapak bisa ikut saya untuk menandatangani persetujuan rawat inap, mari pak." ucap suster yang turut membantu pemeriksaan.
"Baik sus." ucap papa Emma.
"Adel... Kamu tunggu kakak kamu sebentar ya, mama mau pulang ambil baju ganti, sama jilbab ganti buat kakak kamu." pinta mama Emma.
"Iya ma... Jangan lama-lama ya, kasih tau mas Angga gak ma?" tanya Adel.
"Kamu Telpon mas Angga ya." ucap mama Emma.
"Iya ma." jawab Adel patuh.