Bertemu untuk berpisah

2522 Kata
     Keesokan harinya Mama Emma agak terkejut karena tidak melihat Angga yang semalam tidur di kamar yang sudah dia siapkan, dia mencari ke depan, dan ruang tengah, barangkali semalam tidur di sofa. Namun tak juga ada di sana.      "Masa pulang nggak pamit, nggak mungkin kan masih terluka, apa mungkin ada di kamar Emma." ucap Mama Emma sambil berjalan perlahan mendekati kamar Emma yang pintunya tidak terkunci.      Dia membuka pintu itu perlahan dan sangat terharu melihat apa yang ada di balik pintu itu.      Emma sedang tidur dengan lelapnya dengan berbantal lengan Angga, sebelah tangan Angga berada diatas selimut yang dipakai Emma.      Mama Emma hanya terdiam tanpa bisa berkata-kata, namun airmatanya sudah cukup menggambarkan bagaimana perasaan nya kali ini.      Dia keluar dari kamar Emma kemudian membangunkan suaminya.      "Pa... Papa bangun!" ucap mama Emma sembari mengguncangkan tubuh suaminya perlahan.      "Ada apa sih ma?" tanya Papa Emma.      "Loh mama kok nangis kenapa?" tanya papa Emma.       "Emma udah bisa tidur pa, dia pules banget tidurnya, bahkan di peluk sama suaminya, dia sudah bisa berinteraksi lagi pa." ucap mama Emma.      "Yang benar ma?" tanya papa Emma.      "Iya coba papa lihat sana, mereka ada didalam kamar." ucap mama Emma.       Mereka berdua lantas masuk ke kamar Emma dan benar saja, mereka melihat Emma tengah tertidur, bahkan bersama Angga.       "Syukurlah... Papa seneng banget, legaa rasanya." ucap papa Emma.       "Iya pa... Mama juga." tambah mama Emma.        Mereka membiarkan anak dan menantunya tetap beristirahat, hari-hari yang berat telah berlalu.       Matahari mulai menampakkan cahaya dan kehangatannya.       Angga menggeliat, tangannya terasa pegal dan kram. Dia melihat Emma masih tertidur dengan pulas.      "Tidurlah sayang... Mama bilang kamu nggak pernah bisa tidur selama ini." ucap Angga dia mengusap rambut Emma perlahan, tanpa ada niat untuk mengganti lengannya dengan bantal, walupun sudah capek dan kram.       Dia mengecup kening istrinya, lalu kembali memeluknya dengan erat.       Tidak berapa lama Emma terbangun, dia langsung salah tingkah karena ternyata Angga sudah bangun dan tengah memperhatikannya.      "Pagi cantik..." sapa Angga.      "Mas... Kok kamu bangun duluan nggak bangunin aku?" tanya Emma.      "Maaf sayang, nggak tega... Soalnya kamu nyenyak banget tidurnya." jawab Angga.      "Jam berapa mas?" tanya Emma.      "Setengah delapan." jawab Angga.      "Hahhh ...." gumam Emma.      "Ayo bangun mas!" ajak Emma.      "Iya ayo..." jawab Angga.      Mereka berdua lantas keluar kamar, ternyata kedua orang tua dan adiknya sudah menunggu di meja makan.      "Diihhh kalian berdua mandi terus gabung, jangan mendekat kalau belum mandi, bau iler." ucap Adel.      "Mentang-mentang udah mandi duluan, ngatain." ucap Angga sambil mencubit pipi Adel.      "Aduuh mbak.. mas Angga nakal, dia cubit aku." Adel mengadu ke Emma.      "Habis kamu ngatain mas duluan sih." ucap Emma sambil tersenyum.      "Mas aku mandi duluan ya." pamit Emma.      "Iya sayang ..." jawab Angga.      Emma berjalan menuju ke kamar mandi, sementara Angga menunggu Emma sambil duduk bergabung bersama mereka.      "Angga, gimana keadaan Emma, apakah sudah lumayan membaik, tadi mama lihat kalian tidur di kamar yang sama?" tanya mama Emma.       "Alhamdulillah ma... Angga sendiri nggak percaya, reaksi Emma terhadap Angga sudah netral. Tapi belum tau keseluruhan seperti apa, tapi Angga harap semuanya sudah baik-baik saja sekarang ma." jawab Angga.      "Iya papa juga berharap seperti itu,  papa harap kamu bisa sabar nemenin Emma ya Ngga." pinta papa Emma.      "Iya pa... Pasti." jawab Angga.      Usai Emma mandi giliran Angga, dia masuk ke kamar mandi sementara Emma menggant baju dan merapikan diri di dalam kamar.      Setelah itu, dia kembali ke ruang makan, karena keluarganya sudah menunggu.      "Mama masak yang spesial pagi ini untuk kalian." ucap Mama Emma.      "Oh ya... Masak apa ma?" tanya Emma.      "Udang..." jawab mama Emma sambil beranjak mengambil menu spesial yang dimaksud.       "Wahhh... Asyik." seru Adel.       "Tapi mas alergi udang ma." ucap Emma.       "Oh... Alergi udang? Yaudah mama pinggirin ya, kalian kalau mau ambil saja di sini." ucap mama Emma.       "Iya ma..." ucap mereka berdua.       Emma berdiri hendak menyiapkan air putih, dia berjalan menghampiri kulkas lalu mengambil teko kaca dari dalam kulkas untuk ia bawa ke meja makan.       "Sini sayang... Papa bantuin." ucap papa Emma.        Namun secara tak sengaja tangan papa Emma menyentuh tangan Emma. Sontak Emma langsung berteriak, tanpa sengaja teko kaca yang dia bawa pun pecah berantakan dan airnya kemana-mana.       "Papa... Apain paaaa.." tanya Mama Emma yang syok.       "Papa nggak sengaja nyetuh tangan Emma ma... Nggak sengaja." jawab papa.       "Mbak... Mbak Emma nggak papa?" tanya Adel yang reflek mengusap-usap punggung Emma yang terduduk lemas di lantai sambil menatap pecahan kaca itu dengan tatapan kosong.       Namun bukannya tenang Emma justru berusaha menjauh dan menolak Adel untuk mendekatinya.       Dia berteriak seakan-akan seseorang hendak menyakitinya.       "Adel jangan sentuh kakak kamu dulu sayang." larang mama Emma dengan panik.       "Maaf sayang ya... Kamu yang tenang ya, kami nggak akan nyakitin kamu kok, maafin mama sama papa ya." ucap mama Emma.       Sambil menangis dan sedih karena segalanya terjadi begitu saja Emma menangkupkan wajahnya dia atas lutut.       "Angga... Buruan." panggil papa Emma.        Angga yang juga menedngar teriakan Emma buru-buru mengakhiri mandinya dan segera memakai kembali pakaiannya.       Begitu dia keluar, dia sangat terkejut melihat apa yang terjadi.       "Emma kenapa pa?" tanya Angga.       "Papa... Papa nggak sengaja sentuh tangan dia Ngga, papa cuma mau bantuin bawa air minum aja." jawab papa Emma.       Angga lantas mendekat, kemudian menyentuh punggung tangan Emma perlahan.       "Sayang..." panggilnya.       Emma mengangkat kepalanya, nampaklah wajah cantik itu tengah terisak dan berurai air mata.       Tak bisa melihat hal itu, karena memang Angga tidak tega melihat wanita menangis, dia langsung memeluk istrinya, diluar dugaan Emma juga bereaksi netral pada Angga.      Mereka semua saling berpandangan.       "Untuk sementara jangan sentuh Emma dulu ma, apa yang terjadi pada Angga belum tentu berlaku juga pada kita, entah mungkin karena hubungan batin mereka berdua lebih kuat, makanya ketakutan itu nggak berlaku untuk suaminya sendiri." ucap papa.       "Iya pa... Bisa jadi karena mbak Emma pernah ngelukain mas Angga kemarin." tambah Adel.       "Angga kamu ajak Emma beristirahat di kamar dulu ya, biar mama antar makanan untuk kalian, kamu temenin dia makan." ucap mama Emma sambil membersihkan pecahan dan air yang tumpah kemana-mana itu dibantu Adel.      "Baik ma... Maaf ya ma, mungkin kondisi Emma belum stabil." ucap Angga.       "Iya nggak papa." jawab mama Emma.        Setelah itu Angga membawa Emma ke kamar mereka. Dia berusaha menenangkan istrinya.       "Sayang... Nggak papa kok, ada aku disini, aku yang akan jagain kamu, tai itu mama, papa, sama Adel, bukan orang lain." ucap Angga perlahan sambil tetap memeluk Emma.      "Aku takut..." jawab Emma.      "Aku takut..." ulang nya.      "Aku takut..." ulangnya sekali lagi dengan menangis.       "Sstttt .. udah ya udah, jangan nangis, jangan takut ada aku disini." ucap Angga.       "Angga... Ini makanan kalian, mama taruh di meja ya, pastikan Emma menghabiskan makannya." ucap mama Emma.        "Iya ma... Makasih banyak, maaf merepotkan ma." ucap Angga.        "Enggak papa kok, kamu tenang kan Emma dulu ya." pinta mama Emma.        "Iya ma..." jawab Angga.         "Yaudah mama tinggal dulu ya." pamit mama Emma.         "Iya ma." ucap Angga.         "Sayang makan dulu ya, biar aku suapin." ucap Angga, dia mulai menyendok nasi itu untuk Emma.         Namun baru beberapa kali suap, Emma terlihat memegangi perutnya.        "Udah..." ucap nya.        "Kenapa?" tanya Angga.        "Perutku sakit mas." jawab Emma.        "Itu karena kamu nggak pernah makan sayang. Nanti kalau kamu nggak mau makan malah tambah sakit loh, ayo dikit lagi, kamu kurus banget karena nggak mau makan." ucap Angga.       Emma tetap menggelengkan kepalanya. Dia merebahkan dirinya perlahan. Kemudian meringkuk memegangi perutnya.       Angga meletakkan piring itu diatas nakas. Dia bingung, dan nggak tau harus bagaimana. Dipaksa makan pun pasti malah bakalan nangis, nggak dipaksa pasti tambah parah sakitnya.      "Kalau lambung kamu luka, bakalan tambah sakit sayang. Atau mau makan yang lainnya, mau aku bikinin bubur ya." bujuk Angga.      "Enggak mas." jawab Emma.      "Minum s**u ya." ucap Angga.      Emma tetap menggelengkan kepala, sambil menahan rasa sakitnya.      "Yaudah kita periksa ke dokter ya." kata Angga pada akhirnya.      "Nggak mau, nanti mereka nyentuh aku mas, aku bakalan disangka orang gila kalau teriak-teriak di rumah sakit." jawab Emma.      "Aku nggak bisa lihat kamu sakit kaya gini Emma." ucap Angga.      "Aku nggak minta mas buat ngapa-ngapain cukup temenin aku aja mas." pinta Emma.      "Iya sayang .. aku pasti temenin kamu, aku ambilin obat mag dulu ya." pamit Angga.       Sesaat kemudian Angga kembali dengan membawa tablet kunyah untuk sakit mag.       Namun baru saja Emma mengunyah tablet itu langsung mual dan ingi memuntahkan obat berasa mint itu.       "Jangan di muntahin sayang, ayo minum air putih dulu ya, biar kamu cepet pulih." ucap Angga, dia menyodorkan segelas air putih untuk Emma.       "Udah mas." ucap Emma dengan berusaha keras menelan obat itu.        "Iya sayang." Emma meletakkan gelas itu kembali keatas nakas.        "Ya Allah aku tahu, aku banyak dosa, tapi tolong jangan hukum aku dengan kesakitan istriku seperti ini." ucap Angga dalam hati.       "Iya mas jagain kamu." ucap Angga.       Dia mengusap-usap punggung Emma dengan lembut, untuk mengurangi sakit di perutnya. Dia takut kalau trauma keguguran waktu itu kembali menyerang Emma di titik terendahnya saat ini.       Angga menemani Emma sampai gadis itu tertidur.       "Mau makan?" tanya mama Emma perlahan.       "Nggak mau ma, tapi Angga udah paksa, katanya perutnya sakit, udah Angga kasih obat juga kok ma." jawab Angga.       "Ya gimana nggak sakit, dia nggak mau makan liat badannya habis kaya gitu." tambah mama emma.       "Iya ma... Sedih banget rasanya." ucap Angga.       "Apakah kamu mau pergi kerja lagi, dengan kondisi istri kamu yang seperti ini Angga? Dia cuma bisa Deket sama kamu." ucap mama Emma.       "Kalau Angga mau nya nemenin Emma dulu ma, tapi setelah menikah Emma adalah tanggung jawab saya, nggak pantas kalau masih nyusahin orang tua." jawab Angga tanpa ada niat untuk menyinggung pihak manapun.      "Mama paham maksud kamu Angga, tapi sering-sering pulang ya." ucap mama Emma.       "Iya ma pasti. Angga nggak mungkin bawa Emma kembali kesana, dia pasti akan mengingat semua hal yang membuatnya seperti ini, dan itu nggak bakalan baik buat kondisinya nanti." jelas Angga.      "Kapan kamu akan mulai kembali bekerja Ngga?" tanya mama Emma.      "Besok masuk shift malam ma, mungkin sore berangkat dari rumah." jawab Angga.      "Oh gitu... Yaudah kamu istirahat ya, nanti kalau Emma kesakitan lagi, kamu panggil mama." pinta mama nya.       "Baik ma." jawab Angga.       Mama Emma keluar bersamaan dengan itu, ponsel Angga berbunyi. Ada panggilan masuk dari leadernya.      "Iya pak..." jawab Angga.         "Gimana keadaan istri kamu? Sudah membaik?" tanya leadernya.      "Belum pak, ada apa?" Angga balik bertanya.      "Waduuh..." ucap leadernya      "Angga malam ini masuk ya, aduuh si Bayu, ampun tuh anak kalau kamu nggak ada, kita kwalahan." lanjut leadernya. "Yahh pak... Istri saya masih butuh saya." ucap Angga. Emma terbangun karena mendengar pembicaraan Angga di telepon. "Iya tau Ngga, tapi gimana pekerjaan kamu juga penting kan, buat istri kamu juga." bujuk leadernya. "Besok saja ya pak, saya bahkan belum lama ketemu dia, masih kemarin izin juga, udah disuruh masuk malam ini." ucap Angga. "Yaudah besok ya, masuk loh ngga." ulang Leader. "Iya pak.. saya akan ngomong ke istri saya." ucap Angga. Angga lantas mematikan telponnya. Dia menoleh kearah istrinya. "Siapa mas?" tanya Emma. "Biasa bapak ku." jawab Angga. "Kamu disuruh masuk mas?" tanya Emma. "Padahal masih pingin sama kamu, masih kangen banget." jawab Angga. "Nggak papa kok mas, kalau kamu harus balik kerja, kan kita bisa tetap video call, kalau kamu udah pulang kerja." jawab Emma. "Tapi Emma... Keadaan kamu masih kaya gini." jawab Angga. "Aku ngerti keadaan ku kaya gimana mas, aku bisa jaga diri baik-baik kok." jawab Emma. "Aku nggak mau jadi beban buat kamu, aku nggak mau jadi harus milih antara aku atau pekerjaan mas. Kembalilah bekerja dan aku janji akan baik-baik saja." ucap Emma. "Sayang..." ucap Angga. "Hmmm..." jawab Emma. Emma turun dari tempat tidur kemudian berdiri. "Lihat aku baik-baik aja kan!" kata Emma sambil memutar badannya. Padahal yang dilihat Angga adalah, Emma yang memakai kaos basic tee kesukaannya itu nampak seperti kaos oversize saking kurus badannya. Angga meraih tangan Emma dan memintanya duduk di sebelahnya. "Aku gagal jagain kamu. Aku nggak bisa jadi suami yang baik buat kamu, kamu jadi kurus kering kaya gini, juga karena aku." ucap angga, dia meremas jemari Emma. Tak terasa air matanya menitik. "Mas... Kamu jangan gini, aku jadi sedih liatnya." ucap Emma. "Lihat aku bakalan makan kok, aku mau makan." ucap Emma. Emma lantas mengambil piring yang tadi dan mulai memakannya. Namun tetap saja terjadi penolakan dalam perutnya. Dia langsung berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya. Angga mengejarnya lalu menolong Emma yang lemas terduduk di lantai kamar mandi. "Mungkin karena santan mas, aku nggak suka masakan bersantan." ucap Emma sambil tersenyum. "Emma kenapa?" tanya papa Emma yang melihat Emma berlari masuk ke kamar mandi tadi. "Emma coba makan pa, tapi tetap aja muntah, mungkin karena santan nya, Emma kan nggak suka santan." jawab Emma. "Papa bilang ke mama kamu, buat misahin masakan buat kamu ya." ucap papa Emma. "Aku baik-baik aja mas. Percaya deh sama aku, ayo coba kita masak mi instan." tantang Emma. Angga pun lantas memasak mi instan untuk Emma. Dan baru saja makan sesuap Emma sudah mual, bahkan perutnya terasa lebih sakit karena sudah tak ada lagi yang harus dikeluarkan. Dia merunduk sambil memegangi perutnya. "Mas aku ke kamar dulu ya, nanti kalau udah dingin aku makan kok." ucap Emma, wajahnya yang memucat itu nampak tersenyum. Justru membuat hati Angga semakin teriris. Dia berpapasan mamanya yang hendak ke dapur untuk memasak makanan lain. "Sayang kamu pucet banget." ucap mama Emma tanpa berani menyentuh Emma. Emma meletakkan jari telunjuknya di bibir. "Sssttt... Ma jangan kenceng-kenceng, nanti mas Angga denger. Nanti dia nggak mau balik kerja karena mikirin aku. Kasian dia udah di suruh balik sama leadernya." ucap Emma. "Ya suami kamu pasti nggak mau balik sayang, kalau liat kamu kaya gini." ucap mama Emma. "Maaa... Aku nggak papa, jangan gitu ma, kasian mas Angga, aku nggak mau jadi beban buat dia, karena harus milih istri atau pekerjaanya." ucap Emma. Mama Emma mengisyaratkan Emma bahwa Angga sudah ada di belakangnya. Emma lantas berbalik. "Mas... Kamu jangan pikirin aku dan kembali bekerja ya." pinta Emma. "Iya..." ucap Angga. "Mas nggak marah?" tanya Emma. "Enggak kenapa harus marah." jawab Angga. "Janji makan yang banyak ya." ucap Angga kemudian. "Iya mas... Ya udah aku ke kamar bentar ya." pamit Emma meninggalkan mereka berdua. "Percuma ma, kalau aku nggak nurutin kemauannya, yang ada dia malah stres." ucap Angga. "Nggak papa aku balik hari ini ma, toh dirumah juga ada mama papa sama Adel." tambah Angga. "Iya... Kamu yang sabar ya." bisik mama Emma. "Iya ma..." ucap Angga. "Yaudah kamu susulin dia, bilang kalau kamu mau kerja malam ini." sahut mama Emma. "Iya ma..." jawab Angga. Sampai di kamar, dia melihat Emma menyiapkan barang-barang Angga, termasuk ransel dan jaketnya. Dia memeluk dan mencium jaket itu, kemudian meletakkan diatas ransel. Angga masuk kemudian duduk di samping ranselnya. "Ini jaketnya aku tinggal aja sayang." ucap Angga kemudian. "Kenapa mas?" tanya Emma. "Iya soalnya aku pake pas pulang kemarin dan kayanya kotor deh, biar dirumah aja kamu cuciin ya." ucap Angga yang sebenarnya tau, Emma berharap jaket itu ditinggal agar suatu saat ketika Emma merindukannya bisa memeluk jaket itu. "Iya mas... Ditinggal aja, nanti aku cuciin." jawab Emma dengan senang hati. "Kamu hati-hati kerjanya ya, kalau masuk malam jangan lupa siang nya makan, nanti tidur Mulu." pesan Emma. "Iya sayang." jawab Angga. Dan sore harinya, anggga berangkat meninggalkan Emma dirumah. Selepas Angga pergi, Emma masuk kekamar lalu mengunci pintu, dia memeluk jaket itu sambil menangis menghadap ke tembok. "Aku masih kangen sama kamu mas, kamu baik-baik ya disana." ucap Emma.                             
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN