01 Audisi

1265 Kata
Enam bulan sebelumnya. “Cut! Oke. Syuting kita akhiri sampai disini!” Teriakan sutradara menjadi penanda berakhirnya kegiatan hari ini. Waktu telah menunjukkan hampir dini hari saat sebagian besar orang telah mencapai titik lelahnya, tetapi tidak dengan mereka. Sebagian membereskan peralatan syuting, sebagian lainnya mulai bersiap-siap untuk pulang. Tak ada bedanya dengan Arka yang baru saja menyelesaikan adegan terakhirnya barusan. Arkatama Narendra. Salah satu aktor papan atas tanah air yang selalu kebanjiran job. Film, iklan, majalah, semua dilibasnya, kecuali sinetron. Alasannya? Arka tidak ingin memiliki kontrak yang terlalu panjang pada satu proyek, karena ia mudah bosan. Sementara semua orang tahu jika kontrak sinetron di Indonesia bisa sampai bertahun-tahun lamanya jika mencapai rating cukup tinggi. “Ka,” panggil seorang pria yang usianya hanya beberapa tahun lebih tua dari pria itu. Baim, manager Arka. “Kenapa, Bang?” Tanya Arka sambil menyeka peluh di dahinya. Baim menyerahkan sebuah buku yang cukup tebal. Arka menerima buku itu sambil mengernyitkan dahi. “Susah tuh gue dapetinnya,” ujar Baim meyakinkan. “Film, nih?” Tanya Arka setelah memperhatikan buku yang ternyata adalah naskah skenario itu dengan seksama. “Iya. Diproduksi Maluwa Entertainment, sutradaranya Fauzan Falan,” jelas Baim. Netra Arka berbinar, “Yang bener, Bang?” Fauzan Falan adalah sebuah nama besar dalam industri perfilman tanah air. Semua film yang digarapnya selalu booming, bahkan sering menjuarai ajang penghargaan. Arka pernah bekerja sama dengan sutradara tersebut. Bahkan berkat tergabung dalam proyek film sutradara itulah nama Arka bisa terkenal sampai ke penjuru negeri. Belum lagi nama PH yang Baim sebutkan juga dikenal tidak pernah tanggung-tanggung dalam mengerjakan proyek-proyek mereka. Totalitas dan kualitas menjadi yang nomor wahid untuk mereka. Tidak heran jika Arka begitu bersemangat setelah mendapatkan naskah skenario ini. “Masukin gue ke proyek mereka! Kalau ada jadwal yang bentrok, ya atur aja lah, Bang Baim pasti paham,” pinta Arka bersemangat. Baim memicingkan matanya, “Lo bahkan belum lihat dan baca itu naskahnya.” “Alah, gak perlu. Selama ini proyek yang dikerjakan sutradara Fauzan, gue pasti oke. Apalagi gandengannya Maluwa, kesempatan langka, Bang!” Sayangnya, Baim tampak ragu atas keputusan tersebut. “Kenapa, sih?” Tanya Arka kemudian. “Lo gak bisa asal masuk, Ka,” ungkap Baim pada akhirnya. Arka yang tadinya berjalan di depan Baim pun menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan menatap heran pada managernya tersebut. Tidak bisa? Seorang Arkatama Narendra tidak bisa terlibat dalam proyek ini? Padahal ia adalah seorang aktor kawakan yang selalu menjadi incaran para sutradara beberapa tahun terakhir. “Lo harus audisi dulu kalau mau ambil peran di film itu,” jelas Baim. Kedua netra Arka membelalak, “Gue? Audisi? Casting maksud, Lo?” Manager itu mengangguk dan Arka pun tertawa tidak percaya, “Why? Sutradara Fauzan ‘kan udah tahu kemampuan gue, kenapa harus casting lagi?” Baim menghela napasnya panjang, “Kalau itu gue juga gak tahu alasannya, Ka. Tapi semua jajaran pemain memang harus di audisi dulu. Bahkan bisa aja pemain utamanya artis-artis yang belum punya nama.” Arka menggeleng tak habis pikir, “Serius? Bukannya terlalu nekat kalau pakai pemain yang belum punya nama?” “Ya mereka maunya gitu,” Baim mengedikkan bahunya. “Jadi gimana? Masih mau coba?” Arka kembali melanjutkan langkahnya menuju parkiran, “Masihlah. Gue yakin sama kemampuan gue, Bang! Kesempatan langka, gak bisa dilewatkan.” “Oke. Gue kabari lagi nanti kalau udah ada berita baru, termasuk kapan lo harus audisi. Baca aja itu naskahnya, biar ada gambaran,” pinta Baim yang disahuti Arka dengan membuat tanda oke menggunakan jari sebelum menghilang dibalik pintu mobilnya. Waktu yang telah larut membuat jalanan ibukota sangat lengang meski tidak bisa dikatakan sepi. Mobil tipe coupe itu melesat tanpa hambatan ditengah gelapnya malam. Hanya butuh waktu kurang dari setengah jam sampai mobil yang Arka kemudikan itu memasuki daerah perumahannya. Setelah memarkirkan mobil dengan sempurna di garasi, Arka yang tubuhnya terasa begitu lelah tersebut segera memasuki rumahnya. Keadaan didalam sana sangat senyap, lampu-lampu telah dimatikan, karena semua penghuninya telah tertidur. Namun, saat kaki Arka mulai menapaki anak tangga terbawah, suara seorang wanita menghentikan langkahnya. “Baru pulang, Nak?” Tanya sosok yang berjalan mendekati pemuda itu. Arka tersenyum lalu menghampiri wanita yang tak lain adalah sang bunda yang bernama Mutia. Ia sama sekali tidak heran mendapatkan sambutan itu meski saat ini sudah hampir pagi, karena ini bukan pertama kalinya. “Iya, Bun. Capek banget,” keluh pemuda itu seraya mencium punggung tangan Mutia dengan takzim. “Bunda mau salat malam?” “Iya, baru mau ambil wudhu denger suara mobil kamu,” sahut Mutia sambil mengusap pipi putra sulungnya yang terasa dingin. “Aku tidur dulu ya, Bun. Nanti bangunin kalau udah azan,” pamit Arka yang diiyakan oleh sang bunda. Mutia terus menatap kepergian putra sulungnya itu dalam tatapan sendu. Sebenarnya ia tidak tega jika harus membiarkan Arka bekerja sekeras ini seorang diri hingga sering pulang pagi. Sejak usia sembilan belas tahun, Arka telah menjadi tulang punggung keluarga setelah sang ayah dipanggil yang maha kuasa. Mutia pun tidak bisa mengambil peran tersebut lantaran kesehatannya yang tidak memungkinkan. Beban Arka semakin berat, karena ia memiliki dua adik kembar yang masih butuh banyak biaya. “Maafin Bunda yang gak bisa bantu kamu sampai kamu harus banting tulang setiap hari, Nak,” gumam Mutia sedih. Setelah sosok Arka menghilang dibalik pintu kamarnya, Mutia kembali melanjutkan kegiatannya untuk melakukan salat malam, bersimpuh pada yang maha kuasa dan mendoakan yang terbaik untuk anak-anaknya. ---o0o--- Sesuai jadwal yang telah Baim buat sebelumnya, dua minggu kemudian Arka menghadiri audisi yang diselenggarakan oleh Maluwa Entertainment. Selama waktu itu, Arka telah mempelajari isi dari naskah film yang ia terima. Film itu berjudul Akasia Merah dan diangkat dari sebuah novel karya anak bangsa. Novelnya sendiri bukanlah yang sangat meledak di pasaran, tetapi setelah membaca isinya, Arka paham mengapa Maluwa ingin mengangkat cerita itu menjadi sebuah film. Cukup banyak pesan moral dalam naskah tersebut. Arka menyukainya dan ia bertekat untuk mendapatkan peran utama. Begitu tiba gilirannya, Arka masuk kedalam ruangan audisi seorang diri. Ruangan itu mirip seperti sebuah bioskop mini yang temaram dengan panggung dibagian depannya. Arka berjalan ketengah panggung yang disorot oleh lampu dengan percaya diri tinggi. Didepan panggung, terdapat empat orang yang akan menentukan nasib Arka. Mereka adalah sutradara Fauzan, produser Yusrizal, perwakilan Maluwa Hamdan, lalu satu lagi pasti penulis dari naskah ini, Zeanissa. Ini pertama kalinya Arka akan bekerjasama dengan penulis itu jika ia lolos audisi ini. Namun, Arka sangat yakin ia bisa lolos mengingat ia mengenal ketiga pria paruh baya dihadapannya dan bukan hanya sekali mendapatkan pujian dari mereka atas kerja keras dan bakatnya. “Wah, aktor besar ikut audisi juga rupanya, jadi gak enak saya,” canda Fauzan. Semua orang di ruangan itu terkekeh, kecuali si penulis yang selalu diam dan menundukkan kepalanya. Arka bahkan tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, tetapi ia tidak terlalu mempedulikannya. “Biar sama kayak pemain yang lainnya, Pak. Kalau lewat jalur belakang nanti malah dianggap nepotisme,” balas Arka. Setelah sedikit saling menyapa, produser Yusrizal mempersilakan Arka memulai audisinya. Seperti yang diharapkan dari seorang aktor papan atas di negeri ini, akting pria itu dalam memerankan tokoh utama memukau para juri. Emosi, artikulasi, serta bahasa tubuh yang Arka sajikan sangat sesuai keinginan mereka, tidak kurang apalagi berlebihan. Suara tepuk tangan menggema begitu Arka menyelesaikan audisinya. Pria itu tersenyum senang dan yakin akan bisa mendapatkan peran tersebut. Sayangnya, ada satu sosok yang sepertinya tidak tersentuh oleh usaha Arka memerankan karakter ciptaannya. Siapalagi kalau bukan penulis Zeanissa. “Tidak mengurangi rasa hormat pada bapak produser, sutradara, serta perwakilan PH, saya tidak setuju peran Galang dimainkan oleh aktor Arkatama Narendra,” ujar penulis itu datar dan tanpa penjelasan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN