Penolakan penulis Zeanissa cukup memukul rasa percaya diri Arka. Bahkan ketiga pria disebelah Zeanissa juga cukup terhenyak. Mereka sudah berharap banyak pada Arka untuk mendapatkan peran ini agar audisi bisa segera ditutup, tetapi pihak yang paling berwenang atas naskah film ini masih belum juga puas.
“Tapi Bu Zee, bukankah akting yang disuguhkan Arka sudah cukup bagus? Menurut saya Arka sangat menjiwai peran Galang,” ungkap sutradara Fauzan.
Penulis itu kembali mencondongkan tubuhnya agak kedepan agar suaranya bisa ditangkap oleh pengeras suara, “Memang benar, Pak Sutradara. Tetapi sebagai penulis yang menciptakan karakter Galang, saya masih belum puas.”
Semua orang menghela napas lelah, sementara Zee tidak berniat memberikan penjelasan rinci atas penolakannya. Arka bahkan sempat berpikir bahwa Zee adalah antifansnya sehingga wanita itu begitu kukuh tidak memberikan peran padanya. Setelah menghela napasnya kasar dan singkat, Arka memberanikan diri menanyakan alasan penolakan yang berhasil membuat pria itu merasa diremehkan.
“Bolehkah saya tahu dimana letak ketidakpuasan ibu penulis terhadap akting saya?” Tanya Arka seramah mungkin.
Awalnya Zee tetap tak ingin menjawab, tetapi desakan dari kanan-kirinya membuat wanita itu akhirnya berbicara.
“Imej. Imej anda sangat bertolak belakang dengan karakter Galang,” jawab Zee setengah-setengah.
Semua orang semakin mengernyit bingung.
“Imej seperti apa yang ibu penulis maksudkan?” Tanya Arka semakin penasaran.
“Memangnya anda tidak tahu imej seperti apa yang melekat pada diri anda?” Zee balik bertanya.
Suasana cukup tegang saat ini. Dinginnya AC seperti bertambah dan semilir anginnya membuat bulu-bulu halus dipermukaan kulit berdiri. Dalam temaramnya ruang audisi, Arka dan Zee tampak saling bertatapan. Entah pandangan seperti apa yang mereka pancarkan, hanya saja tatapan itu sama tajamnya.
“Apakah itu akan berpengaruh terhadap hasil akhir film?” Tanya Arka belum puas.
Ia paham maksud Zee. Selama ini, Arka memang terkenal sebagai seorang aktor yang sering bergonta-ganti pasangan. Bahkan pria itu tidak pernah dikabarkan mengencani seorang wanita lebih lama dari satu tahun. Sepertinya hal itulah yang mengganggu Zee, mengingat karakter Galang merupakan sosok pria religius yang sangat menjaga komitmen. Sungguh citra yang sangat berkebalikan dengan imej yang Arka sandang. Namun, bukankah siapa pun seharusnya bisa memainkan peran apa saja selama bisa menjiwai karakter tersebut?
“Tentu saja. Saya tidak ingin karakter Galang ternodai oleh imej anda yang suka bergonta-ganti pasangan,” jawab Zee tanpa mengendurkan tatapan tajamnya.
“Tapi itu hanya,-”
“Saya, tidak rela anda memainkan peran Galang. Titik,” tukas wanita itu menghentikan protes yang akan Arka layangkan.
Semua orang menghela napas lelah sekaligus kesal. Wanita itu begitu keras kepala dan sulit diajak berkompromi.
“Tidak ada peserta lain ‘kan setelah ini? Bagaimana kalau kita sudahi saja sampai disini?” Tanya Zee ingin segera menutup acara.
Arka terperangah. Belum pernah sebelumnya ia diperlakukan seperti ini oleh orang-orang yang pernah bekerjasama dengannya. Terlebih seorang penulis yang bahkan namanya masih belum bisa disandingkan dengan nama-nama besar lainnya.
Pada akhirnya, semua orang pun setuju untuk menyudahi audisi hari ini, mengingat telah lewat dari jam kerja mereka. Setelah berpamitan singkat pada semua orang, penulis bernama Zee itu segera meninggalkan ruangan, diikuti oleh perwakilan PH dan juga produser. Kini, tersisa sutradara Fauzan yang tersenyum menyesal pada Arka. Aktor itu bahkan masih tampak shock diatas panggung yang telah terang benderang oleh lampu tersebut.
“Penulis itu memang sangat perfeksionis, Ka. Susah pula diajak kerjasama, tapi karyanya memang bagus dan PH suka,” ujar Fauzan sambil mengemasi barang-barangnya.
Arka hanya tersenyum getir serta mencoba menetralkan rasa terkejutnya.
“Coba kalau kamu masih ada waktu, temuin dia secara pribadi. Dia cewek, harusnya kamu paham gimana ngambil hati cewek,” canda Fauzan.
“Yah, Pak. Malah tambah susah nanti dia kalau saja bujuk-bujuk. Orang dianya antipati sama imej saya,” dengus Arka.
“Antipati itukan sama kecocokan karakter Galang. Secara pribadi, kalau kalian gak ada masalah apa-apa harusnya bisalah bujuk, minta kesempatan. Sayang loh kalau sampai peran ini jatuh ke tangan aktor lain,” ungkap Fauzan.
Kekesalan Arka bertambah setelah ia keluar dari ruang audisi dan ditertawakan oleh Baim, managernya. Selama mendampingi perjalanan karir Arka, baru kali ini pria itu melihat talentnya tersebut seperti terkena mental. Sudah harus melalui proses audisi, masih juga ditolak. Benar-benar meremehkan status aktor besar yang disandang oleh Arka.
Akhirnya, menuruti saran yang sutradara Fauzan berikan, keesokan harinya Arka kembali datang ke tempat audisi. Bukan untuk kembali menjalani audisi seperti peserta lain, tetapi ia menunggu audisi itu usai dan ingin bertemu empat mata dengan si penulis judes. Begitulah Arka melabeli wanita itu.
Setelah menunggu hampir satu jam, akhirnya wanita itu lagi-lagi keluar lebih dulu dari ruang audisi. Arka buru-buru menghampirinya hingga membuat Zee terperanjat kaget karena kehadiran Arka yang tiba-tiba.
“Ada apa?” Tanya Zee masih menormalkan detak jantungnya yang berderap sambil mengusap dadanya.
“Saya ingin bicara secara pribadi dengan anda,” ungkap Arka serius.
“Kalau masalah peran Galang, tidak ada yang perlu dibicarakan. Keputusan saya sudah final,” balas Zee tegas.
“Lalu siapa yang menurut anda pantas memainkan peran itu jika disesuaikan dengan imejnya? Aktor baru yang bahkan belum diketahui sepak terjangnya di dunia hiburan? Atau anda sudah memiliki nama sebagai kandidat dan menunggu orang itu untuk melakukan audisi?” Cecar Arka tidak paham.
Mereka yang sebelumnya berbicara sambil berjalan segera berhenti di tepian balkon gedung Maluwa Entertainment, tempat audisi dilangsungkan. Zee mendekap kertas-kertasnya didepan dadaa dan memiringkan kepalanya, menatap datar pada Arka yang tidak terima. Tak ada ekspresi apapun dari wanita itu yang membuat Arka kesulitan membaca emosi seorang Zeanissa.
“Dengar, Bu Zeanissa! Jika anda memang memiliki kandidat secara spesifik, kenapa harus melakukan audisi? Kenapa anda tidak memanggilnya saja dan tidak perlu memberikan harapan untuk aktor lain yang menginginkan peran ini?” Lanjut Arka masih dengan menekan setiap kalimatnya dengan tajam.
Pria itu tidak berniat melakukan bujuk rayu secara halus seperti yang ia lakukan pada wanita-wanita yang pernah mengisi hari-harinya. Arka paham jika tipe seperti Zee tidak akan luluh oleh rayuan picisan seperti itu. Seseorang yang selalu serius dan perfeksionis seperti Zee hanya akan bisa dibujuk dengan alasan-alasan logis dan secara cepat.
“Lalu, anda sendiri kenapa begitu ingin mengambil peran Galang?” Tanya Zee singkat.
“Tidak munafik kalau saya kukuh ingin terlibat dalam proyek ini karena sutradara Fauzan serta PH Maluwa Entertainment. Ditangan mereka, proyek apa pun pasti akan booming. Saya bahkan belum membaca naskah anda saat menginginkannya. Bahkan saya rela ikut audisi juga karena mereka,” jelas Arka.
Zee tersenyum miring, tetapi ia tidak menyela sama sekali dan terus mendengarkan alasan Arka.
“Tapi, setelah saya membaca sebagian dari naskah yang saya dapatkan, saya menyukai karakter Galang yang memang bertolak belakang dengan imej saya. Hanya saja, itu hanyalah imej. Anda tidak pernah tahu saya seperti apa,” pungkas Arka.
“Penonton juga tidak akan tahu bagaimana aslinya anda. Seperti saya, yang mereka tahu hanya cover anda,” kukuh Zee.
“Benar. Tapi, bukankah menurut anda itu akan menjadi daya tarik dalam film ini? Seorang playboy menjadi sosok setia dan tidak pernah melirik wanita lain seumur hidupnya,” terang Arka.
“Tidak! Sama sekali tidak menarik untuk saya,” sahut Zee sambil menggeleng dan tersenyum miring.
Arka menghela napasnya kesal. Susah sekali mengubah pendirian wanita ini. Ia harus memeras sisi otak yang hampir tak pernah digunakannya saat berhadapan dengan seorang wanita.
“Tolong pikirkan sekali lagi, Bu! Tidak ada ruginya membiarkan saya memerankan peran itu. Juri lainnya juga sudah setuju,” pinta Arka penuh harap. “Lagipula, dengan memanfaatkan nama besar saya, itu akan menarik masyarakat untuk menonton film ini. Saya harap anda cukup logis untuk memikirkan pula tentang keuntungan penjualan tiket dan menyingkirkan sisi perfeksionis anda. PH tidak mungkin ingin rugi dan saya bisa menjadi salah satu tiket untuk kesuksesan film ini.”
“Kamu sedang mengajari saya?” Tanya Zee datar.
“Anggap saja seperti itu, mengingat saya sudah lebih dulu berkecimpung dalam dunia seni peran ini,” jawab Arka pasti.
“Kita lihat saja nanti,” tutup Zee seraya berbalik dan meninggalkan Arka sendirian di balkon.
Arka menghela napasnya panjang. Meskipun tidak yakin kalimat-kalimat itu mampu membujuk Zee, tetapi tidak ada salahnya ia menggantungkan harapan. Semoga saja wanita yang terlalu idealis itu luluh dan memberikan kesempatan ini untuknya.